Siaga 1! Trump Kenakan Tarif 10% ke RI - Harga Minyak Tembus US$100
- Pasar keuangan RI kompak melemah, IHSG terkoreksi sementara rupiah kembali tertekan
- Wall Street ambruk berjamaah
- Pasar hari ini akan mencermati data uang beredar RI, kinerja emiten perbankan, konsolidasi MI BUMN oleh Danantara, serta arah suku bunga global setelah bank sentral Eropa menahan suku bunganya.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia kompak melemah pada perdagangan Kamis (23/7/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah, rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), serta imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik tajam.
Menjelang akhir pekan, pasar keuangan diperkirakan masih akan bergerak dinamis pada perdagangan hari ini, Jumat (24/7/2026). Selengkapnya mengenai sentimen pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG kembali melemah di penutupan perdagangan Kamis kemarin, meski sempat melesat kencang pada sesi pertama hingga menembus level 6.400.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup turun 19,16 poin atau 0,30% ke level 6.315,31.
Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di rentang 6.306,65-6.437,20. IHSG sempat menunjukkan tenaga cukup kuat di awal perdagangan, tetapi berbalik arah hingga akhirnya ditutup di zona merah.
Aktivitas perdagangan terpantau cukup ramai. Nilai transaksi mencapai Rp23,94 triliun, dengan volume 63,32 miliar saham dan frekuensi sebanyak 3,19 juta kali transaksi.
Namun demikian, investor asing tercatat melakukan aksi jual atau net sell sebesar Rp1,22 triliun.
Pergerakan rupiah masih dipengaruhi respons pelaku pasar terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) dan perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 21-22 Juli 2026, BI memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Suku bunga Deposit Facility juga tetap sebesar 4,75%, sedangkan Lending Facility dipertahankan di level 6,50%.
Keputusan tersebut diambil setelah BI menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 basis poin sejak Mei 2026 untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global.
Dari eksternal, ketegangan Timur Tengah masih menjadi perhatian. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi sebagai bagian dari blokade laut di kawasan Laut Merah.
Ancaman gangguan kini membayangi dua jalur penting perdagangan minyak dunia sekaligus, yakni Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb. Sejumlah kapal tanker juga mulai mengubah rute untuk menghindari kawasan tersebut.
Ketegangan yang berlanjut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dan inflasi global. Kondisi ini ikut menopang permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman dan menahan laju rupiah.
Sementara itu, pasar SBN kembali mengalami tekanan pada perdagangan Kamis kemarin.
Yield SBN tenor 10 tahun naik 1,06% ke level 7,374%. Kenaikan yield menunjukkan harga SBN sedang turun. Di pasar obligasi, yield bergerak berlawanan arah dengan harga. Saat yield naik, harga obligasi cenderung melemah.
(evw/evw) Add
source on Google