MARKET DATA
Newsletter

Siaga 1! Trump Kenakan Tarif 10% ke RI - Harga Minyak Tembus US$100

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
24 July 2026 06:35
Papan di atas lantai perdagangan menunjukkan angka penutupan indeks industri Dow Jones di Bursa Efek New York, Jumat, 2 Agustus 2024. Saham anjlok pada hari Jumat karena kekhawatiran ekonomi AS dapat terpuruk akibat beban suku bunga tinggi yang dimak
Foto: Infografis/ Tarif Dagang Trump/ Edward Ricardo Sianturi

Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.

Bursa ambles dipicu lonjakan harga minyak akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Di saat yang sama, investor juga mencermati laporan keuangan dua perusahaan terbesar dunia, dengan prospek belanja modal Alphabet yang memicu kekhawatiran akan meningkatnya pengeluaran untuk kecerdasan buatan (AI).

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 506,93 poin atau 0,97% ke 51.711,65. S&P 500 melemah 1,21% ke 7.408,30, sementara Nasdaq Composite anjlok 2,15% ke 25.137,69. Pelemahan Nasdaq dipicu oleh jatuhnya saham Alphabet sebesar 7% dan Tesla sebesar 14% setelah keduanya merilis laporan keuangan.

Harga minyak semakin membebani pasar saham setelah kelompok militan Houthi di Yaman yang didukung Iran mengklaim menyerang dua kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah.

Serangan tersebut memicu kekhawatiran konflik di Timur Tengah akan semakin meluas. Harga minyak juga terdorong naik setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan membombardir infrastruktur Iran.

"Dari titik ini dan seterusnya, setiap kali Republik Islam Iran menembaki kapal di Selat Hormuz, baik dengan rudal, roket, drone, atau senjata apa pun, Amerika Serikat akan membombardir dan menghancurkan SATU JEMBATAN ATAU PEMBANGKIT LISTRIK, termasuk yang berada di dekat atau di ibu kota Teheran," tulis Trump di media sosial Truth Social.

Beberapa jam kemudian, Axios melaporkan Trump mengatakan dirinya sedang mempertimbangkan serangan besar-besaran terhadap Iran.

Ia menyebut serangan tersebut akan lebih besar dari sebelumnya dan menambahkan bahwa dirinya hampir mengambil keputusan serta seluruh persiapan telah dilakukan. Namun, Trump belum memberikan batas waktu kapan keputusan itu akan diumumkan.

Kontrak berjangka minyak Brent melonjak 7% dan ditutup di US$100,69 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 6% menjadi US$92,19 per barel.

Keduanya berada di level tertinggi sejak sebelum AS dan Iran mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang mereka pada bulan lalu.

 

Kenaikan harga minyak turut mendorong lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil (yield) obligasi tenor 10 tahun sempat menembus 4,7%, tertinggi sejak Januari 2025. Sementara itu, yield obligasi tenor dua tahun sempat menyentuh 4,37%.

Ross Mayfield, ahli strategi investasi di Baird, mengatakan pergerakan yield obligasi dua tahun lebih penting bagi pasar karena mencerminkan ekspektasi arah suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan perdagangan kontrak berjangka suku bunga, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada September kini mencapai lebih dari 80%, naik dari 52% sepekan sebelumnya menurut CME FedWatch.

"Sulit untuk mengabaikan konflik ini, bukan hanya karena harga minyak, tetapi juga tekanan yang terjadi di seluruh kurva imbal hasil," ujar Mayfield kepada CNBC International.

Fundamental ekonomi sebenarnya masih cukup kuat untuk menopang pasar dalam jangka menengah. Namun, untuk dua hingga tiga bulan ke depan, perhatian pasar akan kembali tertuju pada Iran.

Selain tekanan dari harga minyak, pasar saham juga dibebani oleh anjloknya saham Alphabet.

Induk Google tersebut menaikkan proyeksi belanja modal (capital expenditure/capex) tahun 2026 menjadi US$195 miliar-US$205 miliar, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya sebesar US$180 miliar-US$190 miliar.

Kenaikan ini mencerminkan tingginya permintaan terhadap AI, tetapi sekaligus memicu kekhawatiran investor mengenai besarnya pengeluaran perusahaan teknologi untuk mengembangkan teknologi tersebut.

Saham perusahaan teknologi raksasa lainnya seperti Meta Platforms, Microsoft, dan Amazon juga ditutup melemah pada perdagangan Kamis.

Sementara itu, saham Tesla anjlok setelah produsen mobil listrik tersebut melaporkan laba kuartal II yang jauh di bawah ekspektasi. Beban operasional Tesla juga meningkat lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatannya selama periode tersebut.

Baik Tesla maupun Alphabet sama-sama membukukan arus kas bebas negatif pada kuartal II.

Menurut Sameer Samana, Senior Global Market Strategist Wells Fargo Investment Institute, investor perlu tetap berhati-hati karena ketegangan di Timur Tengah berpotensi terus mendorong kenaikan harga minyak, menekan daya beli konsumen, mempersulit upaya bank sentral mengendalikan inflasi, dan meningkatkan volatilitas pasar.

"Harga minyak dan bensin yang lebih tinggi akan melemahkan konsumsi dan ekonomi sekaligus menyulitkan bank sentral dalam memerangi inflasi. Mereka mungkin harus menaikkan suku bunga lebih cepat dan lebih agresif dibandingkan jika situasi di Timur Tengah mereda," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pihaknya telah bersikap hati-hati menjelang periode musiman yang biasanya lemah bagi pasar saham pada musim gugur serta menjelang pemilu paruh waktu AS.

Menurutnya, berlanjutnya konflik menjadi alasan tambahan bagi investor untuk menyeimbangkan kembali portofolio dan menyimpan sebagian dana tunai sebagai antisipasi jika terjadi koreksi pasar yang lebih dalam.

Samana masih merekomendasikan saham-saham berkapitalisasi besar di AS, terutama sektor keuangan, teknologi, material, dan utilitas. Sebaliknya, ia menyarankan mengurangi eksposur pada sektor properti dan barang konsumsi pokok.

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features