Mau Gaji Naik? Jangan Cuma Pindah Kerja, Tapi Pindah Kota!
Jakarta, CNBCÂ Indonesia - Pekerja yang ingin pindah demi gaji lebih tinggi tidak cukup hanya melihat rata-rata upah di suatu kota. Tingginya upah bisa disebabkan oleh banyaknya pekerja berkeahlian tinggi yang memang bergaji besar.
Kota yang paling menguntungkan untuk dituju adalah kota yang mampu meningkatkan produktivitas dan upah hampir semua pekerja melalui efek aglomerasi, bukan sekadar mengumpulkan talenta terbaik.
Dua orang bisa bekerja di industri yang serupa, memiliki pengalaman yang mirip, bahkan mengerjakan pekerjaan yang sama. Namun gajinya bisa berbeda cukup jauh hanya karena mereka tinggal di kota yang berbeda.
Selama ini banyak orang menganggap selisih tersebut sepenuhnya ditentukan kemampuan individu. Namun, lokasi tempat seseorang bekerja ternyata ikut memainkan peran besar.
Sebaran gaji premium Foto: Economist |
Tempat Tinggal Ternyata Punya "Harga"
Penelitian yang dipimpin Gaurav Khanna dari University of California San Diego berupaya memisahkan pengaruh kemampuan individu dengan pengaruh kota tempat seseorang bekerja.
Caranya bukan membandingkan rata-rata gaji antarkota, melainkan mengikuti perpindahan pekerja dari satu kota ke kota lain. Dengan metode itu, peneliti dapat melihat seberapa besar kenaikan atau penurunan gaji yang benar-benar berasal dari perubahan lokasi, bukan karena pekerjanya berbeda.
Di dalam satu negara, sekitar 45%-73% perbedaan upah antarkota dijelaskan oleh lokasi itu sendiri. Sisanya berasal dari karakteristik individu, seperti kemampuan, pengalaman, atau pendidikan.
Kota-kota denga gaji premium Foto: Economist |
Ketika perbandingan dilakukan antarnegara, pengaruh lokasi menjadi jauh lebih dominan. Setelah memperhitungkan daya beli dan inflasi, sekitar 93% kesenjangan upah berasal dari tempat seseorang bekerja.
Artinya, kota menjadi faktor yang ikut menentukan nilai ekonomi seorang pekerja.
Kenapa Kota Bisa Bikin Gaji Naik?
Kota yang mampu memberi tambahan upah (location premium) umumnya bukan sekadar kota dengan biaya hidup tinggi atau gedung pencakar langit lebih banyak. Yang membedakan adalah tingkat produktivitasnya.
Ketika banyak perusahaan berkumpul di satu kawasan, aktivitas bisnis menjadi lebih efisien. Perusahaan lebih mudah mencari tenaga kerja, pekerja memiliki lebih banyak pilihan pekerjaan, pemasok berada lebih dekat, sementara ide dan inovasi lebih cepat berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain.
Â
Efisiensi tersebut pada akhirnya meningkatkan produktivitas. Saat perusahaan mampu menghasilkan lebih banyak nilai, mereka juga memiliki ruang untuk membayar pekerja dengan upah yang lebih tinggi.
Hambatan Justru Datang dari Kota Itu Sendiri
Namun manfaat itu tidak selalu muncul, terutama di negara berkembang.
Penelitian menemukan kota-kota besar sering kali menghadapi hambatan yang justru mengurangi keuntungan dari aktivitas ekonomi yang padat. Harga rumah yang mahal, transportasi yang macet, hingga pasokan listrik yang belum andal membuat biaya menjalankan bisnis ikut meningkat.
Â
Dampaknya tidak hanya dirasakan pekerja. Perusahaan paling produktif juga menjadi lebih sulit berkembang karena menghadapi berbagai kendala operasional.
Akibatnya, lapangan kerja justru lebih banyak tercipta di perusahaan yang produktivitasnya lebih rendah. Perusahaan-perusahaan ini memang mampu menyerap tenaga kerja, tetapi umumnya menawarkan upah yang lebih rendah dibanding perusahaan yang lebih efisien.
Perbaikan Kota Bisa Langsung Terasa di Slip Gaji
Peneliti kemudian mensimulasikan apa yang terjadi jika hambatan tersebut berkurang.
Hasilnya menunjukkan, jika kota-kota paling produktif di India mampu menampung proporsi pekerja sebesar kota-kota produktif di Amerika Serikat, rata-rata upah nasional diperkirakan meningkat sekitar 2,3%.
Dampaknya menjadi lebih besar jika pekerja juga berpindah ke perusahaan-perusahaan paling produktif. Dalam skenario tersebut, kenaikan rata-rata upah di India diperkirakan mencapai 4,3%.
Efek serupa juga terlihat di negara lain. Simulasi menunjukkan rata-rata upah berpotensi meningkat sekitar 5% di Meksiko dan 8% di Nigeria melalui distribusi tenaga kerja dan perusahaan yang lebih efisien.
Ini menunjukkan kenaikan pendapatan tidak selalu harus datang dari peningkatan keterampilan atau jam kerja. Dalam kondisi tertentu, perbaikan tata kota dan alokasi tenaga kerja saja sudah mampu meningkatkan produktivitas sekaligus pendapatan masyarakat.
Â
(mae/mae) Addsource on Google

