MARKET DATA

Ribuan Kapal Nelayan China Bentuk Formasi Misterius, Pasukan Rahasia?

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
22 July 2026 20:10
Ilustrasi bendera China. (REUTERS/Tyrone Siu)
Foto: (REUTERS/Tyrone Siu)

Misteri Formasi Raksasa di Laut China Timur

China juga memiliki sengketa wilayah di Laut China Timur dengan Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Namun, anggota milisi maritim secara historis tidak terlalu agresif di kawasan tersebut.

Mereka lebih sering menjalankan tugas sipil, seperti membantu penanganan keadaan darurat setelah topan.

Laut China Timur juga memiliki luas kurang dari seperempat Laut China Selatan. Klaim Beijing di kawasan tersebut lebih terpusat pada wilayah tertentu, termasuk Kepulauan Senkaku yang dikuasai Jepang dan disebut China sebagai Diaoyu.

Karena cakupan sengketanya lebih terbatas, penjaga pantai China seharusnya mampu melakukan patroli dan menghadapi kapal negara lain tanpa bantuan kapal nelayan sipil.

Kondisi tersebut membuat kemunculan formasi besar kapal nelayan baru-baru ini semakin misterius. IngeniSPACE, perusahaan riset yang melacak pergerakan kapal-kapal tersebut, mencatat sedikitnya lima formasi muncul dalam waktu kurang dari enam bulan.

Lebih dari 1.000 Kapal Membentuk Formasi Sepanjang 450 Kilometer

Formasi pertama muncul sekitar Hari Natal 2025. Lebih dari 1.000 kapal berkumpul membentuk dua barisan sejajar yang secara keseluruhan membentang sekitar 450 kilometer.

Pola pergerakan kapal terlihat menyerupai huruf L di perairan antara pesisir timur China dan kawasan utara Taiwan.

Kapal MilitiaKapal Militia Foto: The Economist

Kapal Bertahan Lebih dari 30 Jam

Formasi berikutnya terbentuk pada Januari 2026. Dalam pergerakan kali ini, sebagian kapal bertahan di lokasi selama lebih dari 30 jam.

Hanya beberapa hari sebelumnya, militer China menggelar latihan perang berskala besar di sekitar Taiwan.

Kapal MilitiaKapal Militia Foto: The Economist

Formasi Bergeser Mendekati Pulau Jeju

Pada akhir Maret 2026, formasi baru muncul sekitar 100 kilometer lebih ke timur dibandingkan posisi sebelumnya.

Pergerakan tersebut membuat kumpulan kapal berada lebih dekat dengan Pulau Jeju, Korea Selatan.

Kapal MiliatKapal Miliat Foto: The Economist

Kembali Berkumpul Menjelang Larangan Menangkap Ikan

Kapal-kapal kembali berkumpul membentuk formasi pada April 2026. Lokasinya berada di garis bujur yang sama dengan formasi sebelumnya.

Pergerakan itu terjadi tidak lama sebelum dimulainya larangan menangkap ikan tahunan selama musim panas di China.

Kapal MilitiaKapal Militia Foto: The Economist

China Bisa Mengendalikan Ribuan Kapal

Mengatur begitu banyak kapal agar tetap berada dalam satu formasi selama berjam-jam bukan pekerjaan yang mudah. Tantangannya bukan hanya teknis, tetapi juga politis.

Gregory Poling dari CSIS mengatakan banyak negara bahkan kesulitan meminta nelayan untuk terus menyalakan perangkat pelacak dan menyiarkan posisi mereka. Sebagian nelayan sengaja menyembunyikan lokasi agar kawasan penangkapan ikan terbaik mereka tidak diketahui pihak lain.

China justru mampu menggerakkan armada sipil dalam jumlah sangat besar secara serentak.

Menurut Poling, Beijing telah menunjukkan "tingkat kontrol politik yang tidak dapat diklaim oleh negara lain di dunia" terhadap armada sipilnya.

Kemampuan tersebut dapat digunakan dalam berbagai skenario apabila konflik mengenai Taiwan pecah. Milisi maritim bisa membantu angkatan laut untuk menjalankan pengintaian atau mengangkut kebutuhan logistik.

Kapal-kapal milisi juga pernah dituduh memutus kabel komunikasi bawah laut. Kabel tersebut menjadi bagian penting dari jaringan internet dan komunikasi antara Taiwan dengan wilayah lain.

Apabila China melancarkan invasi amfibi, ratusan atau bahkan ribuan kapal nelayan bisa digunakan untuk membanjiri perairan dengan banyak sasaran sekaligus. Kondisi ini dapat menyulitkan lawan membedakan kapal sipil, kapal milisi, dan kapal yang terlibat langsung dalam operasi militer.

Armada nelayan dalam jumlah besar juga berpotensi mengambil peran lebih penting apabila China mencoba memberlakukan blokade penuh terhadap Taiwan atau menjalankan "karantina" yang lebih terbatas dengan hanya menghalangi barang-barang tertentu.

Kapal-kapal tersebut bisa ditempatkan di sekitar pelabuhan untuk mengganggu arus pelayaran dan lalu lintas barang menuju maupun keluar dari Taiwan.

Nelayan Zhoushan dan Kenangan Lama soal Taiwan

Hubungan antara masyarakat Zhoushan dan Taiwan juga memiliki sejarah panjang. Pada 1950, Zhoushan menjadi salah satu wilayah terakhir di China yang masih dikuasai Kuomintang setelah kelompok tersebut dikalahkan Partai Komunis China.

Ribuan pria setempat ketika itu dipaksa bergabung untuk menambah kekuatan tentara Kuomintang, kemudian dibawa ke Taiwan. Sebagian warga Zhoushan masih menyimpan kepahitan terhadap peristiwa tersebut.

Meski demikian, tidak semua nelayan ingin terlibat dalam konflik. Seorang kapten kapal berusia lanjut mengatakan perang akan menjadi bencana bagi usahanya. Ia hanya akan membantu apabila pemerintah memerintahkannya.

Seorang nelayan yang lebih muda justru yakin warga setempat akan mengambil bagian jika situasi memanas.

"Kami orang China seperti butiran pasir yang tercerai-berai, tetapi akan bersatu ketika waktunya tiba," ujarnya. "Kami semua akan menjadi milisi."

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google




Most Popular
Features