Bahaya Mengancam: Laut RI Memanas, Ikan Makin Kecil
Jakarta, CNBCÂ Indonesia- Laut selama ini menjadi salah satu penyangga pangan terbesar Indonesia.
Di tengah pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kebutuhan protein, hasil tangkapan nelayan masih menjadi sumber penghidupan bagi jutaan keluarga pesisir sekaligus pemasok bahan pangan bagi masyarakat luas.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melaporkan produksi perikanan tangkap Indonesia mencapai 7,81 juta ton pada 2024. Angka tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan 6,99 juta ton pada 2020. Dalam lima tahun terakhir, volume tangkapan nasional bertambah lebih dari 820 ribu ton. Produksi terbesar berasal dari perairan laut yang menyumbang 7,33 juta ton, sementara perairan darat menghasilkan sekitar 480 ribu ton.
Tongkol menjadi ikan dengan produksi terbesar sepanjang 2024 mencapai 681 ribu ton. Di bawahnya terdapat layang sebanyak 549 ribu ton, cakalang 411 ribu ton, kembung 396 ribu ton, kakap 385 ribu ton, dan tuna 345 ribu ton. Sebagian besar jenis ikan tersebut merupakan komoditas penting bagi konsumsi domestik maupun ekspor.
Sekilas, angka-angka tersebut memberikan kesan bahwa sektor perikanan Indonesia masih berada dalam kondisi yang aman. Sejumlah penelitian terbaru mulai menggambarkan perubahan yang berlangsung di bawah permukaan laut.
Â
Melansir penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science oleh tim peneliti Monash University, perubahan iklim tidak hanya memengaruhi habitat ikan, tetapi juga memengaruhi proses evolusi spesies ikan di berbagai kawasan dunia.
Ketika suhu laut meningkat, ikan cenderung tumbuh lebih cepat dan mencapai kematangan reproduksi pada usia yang lebih muda. Konsekuensinya, ukuran ikan dewasa menjadi lebih kecil dibandingkan kondisi normal.
Peneliti menggunakan model yang diuji terhadap hampir 3.000 spesies ikan dan mencakup 43 kawasan perikanan terbesar dunia. Hasil simulasi mereka memperkirakan setiap kenaikan suhu global akan mengurangi potensi hasil tangkapan perikanan. Dalam sejumlah wilayah, penurunan pendapatan dan volume tangkapan bahkan dapat mencapai 50%.
Berbagai studi internasional mulai menemukan perubahan distribusi ikan akibat pemanasan laut. Melansir Journal of Animal Ecology, arus Eastern Australian Current yang semakin hangat kini membawa spesies ikan tropis menuju wilayah yang sebelumnya terlalu dingin untuk dihuni. Larva ikan yang dahulu sulit bertahan hidup kini mampu tumbuh dan menetap di kawasan beriklim sedang.
Â
Perubahan serupa berpotensi menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Sebagai negara kepulauan yang berada di antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, kondisi perairan nasional sangat dipengaruhi perubahan suhu laut.
Kajian Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang memanfaatkan data satelit Aqua MODIS periode 2007-2016 menemukan suhu permukaan laut Indonesia berada pada kisaran 27 hingga 31 derajat Celsius. Wilayah barat Indonesia seperti perairan Sumatra, Selat Malaka, Laut Jawa, dan Selat Makassar memiliki suhu relatif lebih hangat dibanding kawasan timur seperti Laut Banda dan Laut Arafura. Penelitian tersebut juga menemukan fluktuasi suhu yang kuat mengikuti pola musim dan monsun.
Dalam laporan yang diterbitkan World Bank bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan serta University of British Columbia pada 2024, peningkatan suhu laut diperkirakan akan memengaruhi sejumlah ikan komersial utama Indonesia. Lemuru, selar, kembung, dan cakalang diproyeksikan mengalami penurunan volume tangkapan sebesar 20-30% pada periode 2030-2050.
Â
Risikonya tidak kecil. World Bank mencatat sektor perikanan menyumbang sekitar US$26,9 miliar terhadap perekonomian Indonesia setiap tahun. Sektor ini juga menyediakan lebih dari tujuh juta lapangan kerja dan menjadi sumber sekitar setengah kebutuhan protein nasional.
Tekanan tersebut akan dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan dari KKP jumlah nelayan Indonesia mencapai 3,21 juta orang pada 2023, meningkat dibandingkan 2,74 juta orang pada 2019. Dari jumlah tersebut, sekitar 2,77 juta merupakan nelayan laut dan sekitar 430 ribu bekerja di perairan umum daratan. Pada periode yang sama terdapat sekitar 2,18 juta pembudidaya ikan yang ikut menopang pasokan pangan nasional.
Kenaikan jumlah nelayan terjadi ketika ruang pertumbuhan perikanan tangkap semakin terbatas. Produksi nasional memang masih tinggi, namun sebagian besar perairan produktif telah dieksploitasi selama puluhan tahun. Perubahan iklim menambah tantangan baru karena memengaruhi lokasi, pertumbuhan, reproduksi, hingga pola migrasi ikan.
World Bank memperkirakan keuntungan ekonomi sektor perikanan di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dapat turun 15% dalam skenario emisi rendah dan mencapai 26% dalam skenario emisi tinggi pada 2050.
Perhitungan tersebut belum memasukkan berbagai dampak lanjutan seperti meningkatnya biaya operasional kapal, perubahan musim penangkapan, maupun risiko cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.
Karena itu, tantangan terbesar sektor perikanan Indonesia dalam beberapa dekade mendatang kemungkinan bukan terletak pada habisnya ikan di laut.
Tantangannya adalah menghadapi laut yang sedang berubah. Ikan masih ada, tetapi ukurannya dapat lebih kecil, lokasinya dapat bergeser, dan jumlah yang dapat ditangkap berpotensi semakin berkurang.
Bagi jutaan nelayan Indonesia, perubahan itu akan menentukan kondisi ekonomi pesisir pada masa depan.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/emb) Addsource on Google