MARKET DATA

Dunia Mesti Bersiap, Badai El Nino Bakal Kirim Krisis Energi Baru

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
28 April 2026 17:40
Ilustrasi el nino. (Foto: Tangkapan layar web noaa.gov)
Foto: Ilustrasi el nino. (Foto: Tangkapan layar web noaa.gov)

Jakarta, CNBC Indonesia- Jalur pengiriman minyak dan gas global masih terguncang setelah penutupan Selat Hormuz serta kerusakan infrastruktur energi di Timur Tengah. Di saat pasar belum tenang, ancaman lain muncul dari langit.

El Nino berpotensi menguat mulai bulan depan. Jika pola cuaca ini benar terjadi, tekanan terhadap harga listrik, batu bara, dan gas dunia bisa bertambah dalam waktu bersamaan.

Reuters melaporkan sebagian besar lembaga meteorologi utama kini memperkirakan fase El Nino kuat mulai terbentuk pada Mei. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebut model iklim saat ini bergerak searah dan memberi keyakinan tinggi bahwa El Nino akan muncul lalu menguat dalam beberapa bulan berikutnya. Suhu permukaan Samudra Pasifik bahkan telah menembus 21 derajat Celsius, salah satu level tertinggi sejak pencatatan era 1980-an.

Bagi pasar energi, El Nino punya rekam jejak mendorong gelombang panas di Asia, mengganggu curah hujan, dan menekan musim monsun.

 

Penampakan El NinoFoto: Reuters

 

Saat udara makin panas, konsumsi listrik melonjak karena pendingin ruangan bekerja lebih lama. Asia menjadi titik paling krusial karena kawasan ini menyerap sekitar 53% kebutuhan listrik global, menurut lembaga energi Ember.

Masalahnya, mesin listrik Asia masih ditopang batu bara. Reuters mencatat pembangkit berbasis batu bara memasok sekitar 70% listrik India dan 55% di China. Secara regional, proporsinya juga masih dominan. Artinya, ketika suhu naik dan AC menyala massal, permintaan batu bara berpeluang ikut terdorong.

Sebagai eksportir batu bara terbesar dunia, Indonesia berpotensi menikmati kenaikan permintaan dari Asia. Sepanjang 2026, ekspor batu bara Indonesia ke negara-negara Asia sempat turun sekitar 7% dibanding periode sama tahun lalu.

Penyebabnya kombinasi naiknya energi bersih dan lemahnya konsumsi industri seperti semen. Namun jika El Nino membawa musim panas panjang, arah itu bisa berbalik cepat.

Harga energiFoto: Reuters

 

Gas alam cair atau LNG sebenarnya juga berpotensi ikut dicari. Namun harga saat ini jauh lebih mahal dibanding batu bara.

Reuters mencatat LNG Asia melonjak dari sekitar US$550 per ton metrik sebelum perang Iran menjadi sekitar US$868 per ton. Sebagai pembanding, harga acuan ekspor batu bara Indonesia berada di kisaran US$104 per ton, sementara batu bara Australia sekitar US$126 per ton. Dengan selisih sebesar itu, banyak pembangkit listrik Asia diperkirakan tetap memilih batu bara demi efisiensi biaya.

Eropa menghadapi cerita berbeda. Negara seperti Spanyol dan Italia kerap terkena gelombang panas saat El Nino. Jika suhu melonjak, impor LNG dapat naik untuk menjaga pasokan listrik. Italia menjadi sorotan karena hampir separuh listriknya masih berasal dari gas.

Amerika Utara justru berpotensi lebih sejuk dari normal. Jika itu terjadi, konsumsi listrik musim panas bisa lebih rendah dan lebih banyak gas tersedia untuk ekspor. Amerika Latin serta Afrika juga harus waspada karena El Nino sering mengganggu curah hujan dan menekan produksi PLTA, sehingga negara-negara di sana perlu mencari sumber listrik pengganti.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular