MARKET DATA

Era Jack Ma Lewat: China Punya Generasi Sultan Baru, Kuasai Masa Depan

Aisha Mayra,  CNBC Indonesia
20 July 2026 13:20
10 Bank dengan Total Aset Terbesar di Dunia, China vs AS Saling Sikut
Foto: Infografis/10 Bank dengan Total Aset Terbesar di Dunia, China vs AS Saling Sikut/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia  - Generasi baru miliarder China kini tampil berbeda dari para pendahulunya.

Jika sebelumnya kekayaan banyak lahir dari sektor properti, manufaktur, atau internet, kini miliarder muda lebih banyak membangun bisnis di bidang kecerdasan buatan (AI), gim, media, hingga produk konsumen yang berorientasi global.

Sosok seperti pendiri DeepSeek, Liang Wenfeng, menjadi simbol perubahan tersebut setelah kekayaannya melonjak seiring valuasi perusahaan AI miliknya. 

Berbeda dengan generasi lama yang identik dengan kedekatan dengan pejabat dan budaya kerja ekstrem, para pengusaha muda ini cenderung lebih tertutup, mengusung gaya kerja yang lebih fleksibel, dan sejak awal menargetkan pasar internasional.

Namun, mereka juga menghadapi tantangan besar akibat perlambatan ekonomi domestik serta hubungan pemerintah China yang semakin ketat terhadap kalangan konglomerat di bawah kebijakan "common prosperity".

Profil Liang Wenfeng Pendiri DeepSeek (X/hosun_chung)Profil Liang Wenfeng Pendiri DeepSeek (X/hosun_chung) Foto: Profil Liang Wenfeng Pendiri DeepSeek (X/hosun_chung)

Nama Liang Wenfeng nyaris tak dikenal hingga awal 2025, ketika DeepSeek mengguncang industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Kini, pendiri DeepSeek itu diperkirakan memiliki kekayaan sekitar US$38 miliar seiring valuasi perusahaan yang mencapai US$71 miliar.

Liang bukan satu-satunya. China diam-diam sedang melahirkan generasi baru miliarder yang lebih muda, lebih global, sekaligus jauh lebih tertutup dibanding para taipan generasi sebelumnya. Mereka membangun perusahaan AI, game, kopi, teh susu hingga mainan koleksi, tetapi nyaris tak pernah tampil di media atau panggung konferensi.

Perubahan itu menunjukkan pergeseran yang lebih besar dari sekadar bertambahnya jumlah orang kaya. Mesin pencetak kekayaan di China kini bergeser dari sektor properti menuju teknologi dan merek konsumen, sementara orientasi bisnisnya semakin mengarah ke pasar global.

Era Baru Miliarder China

Laporan Hurun menunjukkan China memiliki sedikitnya 29 miliarder self-made berusia 40 tahun atau lebih muda pada 2026. Jika Liang Wenfeng yang akan berusia 41 tahun tahun ini ikut dihitung, jumlahnya menjadi 30 orang, naik sembilan dibanding tahun sebelumnya.

Jumlah tersebut menjadi yang terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Namun bukan hanya angkanya yang menarik. Komposisi orang-orang kaya baru ini juga berubah.

 

Generasi baru miliarder China tidak lagi didominasi pengembang properti atau taipan industri berat. Mayoritas justru membangun bisnis berbasis teknologi, merek konsumen, hingga industri hiburan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Miliarder self-made China berusia 40 tahun ke bawah Berdasarkan sektor industri, 2026Miliarder self-made China berusia 40 tahun ke bawah Berdasarkan sektor industri, 2026 Foto: Economist

Bukan Lagi Era Raja Properti

Perjalanan lahirnya miliarder di China mencerminkan perubahan struktur ekonomi negara tersebut.

Pada 1980-an, kekayaan banyak lahir dari restrukturisasi perusahaan milik negara. Salah satu tokohnya adalah Zhang Ruimin yang mengembangkan Haier menjadi produsen peralatan rumah tangga terbesar di dunia.

Memasuki 1990-an, ledakan pasar properti melahirkan taipan seperti Xu Jiayin, pendiri Evergrande.

Gelombang berikutnya datang setelah China bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada awal 2000-an. Saat itu, industri manufaktur berkembang pesat dan melahirkan pengusaha seperti Wang Chuanfu, pendiri BYD.

Era 2010-an kemudian menjadi masa kebangkitan perusahaan internet. Jack Ma membangun Alibaba, Pony Ma mengembangkan Tencent, sementara ByteDance dan Shein muncul beberapa tahun berikutnya.

 

Kini polanya kembali berubah.

Lebih dari dua pertiga miliarder muda dalam daftar Hurun memperoleh kekayaannya dari sektor barang konsumsi (consumer goods) dan media. Tujuh orang membangun perusahaan gim, empat lainnya berasal dari bisnis teh maupun kopi.

Setelah Liang Wenfeng, nama dengan kekayaan terbesar adalah Wang Ning, pendiri Pop Mart, perusahaan di balik boneka koleksi Labubu.

Sebaliknya, tidak ada lagi miliarder muda yang berasal dari sektor properti. Kondisi itu mencerminkan melemahnya industri yang selama bertahun-tahun menjadi mesin pertumbuhan ekonomi China.

Bukan Lagi Budaya Kerja 996

Perubahan generasi pendiri perusahaan di China tidak hanya terlihat dari sektor bisnis yang mereka pilih. Cara mereka membangun perusahaan juga mulai berubah.

Selama lebih dari satu dekade, industri teknologi China identik dengan budaya kerja 996, yakni bekerja pukul 09.00 hingga 21.00 selama enam hari dalam seminggu. Pola itu pernah dipopulerkan Jack Ma dan kemudian diikuti banyak perusahaan teknologi lain.

Budaya tersebut juga menuai kritik. Di Pinduoduo, misalnya, beberapa karyawan muda dilaporkan meninggal setelah mengalami kelelahan akibat bekerja berlebihan.

Pendiri Muda Punya Pendekatan Berbeda

Generasi baru miliarder China justru mengambil pendekatan yang lebih fleksibel.

Liu Wei, miliarder berusia 39 tahun sekaligus salah satu pendiri pengembang gim miHoYo, mendorong budaya kerja yang disebut perusahaan sebagai happy work, steady growth. Fokusnya bukan hanya mengejar pertumbuhan bisnis, tetapi juga menjaga kesehatan mental karyawan.

Pendekatan serupa juga datang dari Liang Wenfeng. Pendiri DeepSeek itu pernah mengatakan otak manusia hanya mampu berkonsentrasi sekitar enam hingga delapan jam dalam sehari. Menurutnya, bekerja terlalu lama justru meningkatkan risiko kesalahan.

 

Namun, perubahan budaya kerja itu belum sepenuhnya menghapus kebiasaan lama. The Economist mencatat seorang karyawan miHoYo juga dilaporkan meninggal akibat komplikasi yang berkaitan dengan kelelahan bekerja. Artinya, mengubah budaya kerja di industri teknologi China tidak semudah mengubah kebijakan perusahaan.

Lahir dari Generasi yang Berbeda

Banyak pengusaha generasi lama membangun bisnis ketika China masih berada dalam fase transformasi ekonomi. Kisah mereka identik dengan kemiskinan, perjuangan, dan perubahan besar setelah era Mao.

Sebaliknya, sebagian besar miliarder muda tumbuh dalam kondisi ekonomi yang jauh lebih mapan.

Hurun mencatat hanya Liang Wenfeng dan Zhang Junjie, pendiri jaringan teh Chagee, yang berasal dari keluarga miskin. Pendiri miHoYo bahkan membangun perusahaan setelah dipertemukan oleh kegemaran yang sama terhadap anime dan gim Jepang.

Pendiri MiniMax, laboratorium AI asal China, juga dikenal sangat menggemari gim Dota 2. Di internal perusahaan, ia bahkan dijuluki "IO", karakter dalam gim tersebut.

 

Perubahan latar belakang itu ikut membentuk karakter generasi baru pendiri perusahaan China. Mereka lebih dekat dengan budaya populer, teknologi, dan produk digital dibanding industri tradisional.

Menjadi Kaya Tidak Lagi Sesederhana Dulu

Di balik kemunculan generasi baru miliarder, lingkungan bisnis di China justru menjadi semakin menantang.

Hubungan pemerintah China dengan para pengusaha besar berubah dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya para konglomerat dipandang sebagai bagian dari pembangunan ekonomi nasional, kini pemerintah memperketat pengawasan terhadap berbagai sektor strategis.

Sektor properti kehilangan momentum setelah pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap utang. Evergrande, yang dulu menjadi simbol ledakan properti China, akhirnya kolaps.

Jack Ma juga mengalami tekanan setelah mengkritik regulator pada 2020. Sejak itu, pemerintah di bawah Presiden Xi Jinping semakin menekankan agenda common prosperity, atau pemerataan kesejahteraan, yang diikuti pengawasan lebih ketat terhadap perusahaan besar.

Ambisi Global Bertemu Risiko Politik

Bagi generasi pendiri baru, tantangannya bukan hanya berasal dari dalam negeri.

Semakin banyak perusahaan China mengandalkan pasar luar negeri. Di saat yang sama, hubungan China dan Amerika Serikat yang memburuk ikut menambah ketidakpastian.

 

Salah satu contohnya adalah Xiao Hong, pendiri Manus. Pengusaha berusia 33 tahun itu diperkirakan sudah menjadi miliarder tahun ini apabila pemerintah China tidak menghentikan rencana penjualan perusahaannya kepada Meta.

Steven Hai dari Xi'an Jiaotong-Liverpool University menilai banyak miliarder muda ingin ikut berkontribusi dalam kebijakan industri nasional. Namun, ruang yang mereka miliki jauh lebih terbatas dibanding generasi sebelumnya.

Semakin Global, Semakin Tertutup

Perubahan itu menjelaskan mengapa generasi baru miliarder China memilih menjauh dari sorotan publik.

Rupert Hoogewerf, pendiri Hurun, mengatakan banyak pendiri perusahaan menyadari bisnis mereka bisa berubah sewaktu-waktu akibat kebijakan baru, baik di China maupun di Amerika Serikat.

Karena itu, banyak yang memilih menjaga profil serendah mungkin. Sebagian besar miliarder muda China belum pernah diwawancarai media asing. Bahkan, banyak pula yang menghindari media domestik.

Liang Wenfeng menjadi contoh paling jelas. Meski kini menjadi salah satu orang terkaya di China berkat DeepSeek, ia hampir tidak pernah tampil di televisi, jarang difoto, dan nyaris tak terlihat di panggung konferensi teknologi.

 

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular