Amerika Ditinggal Perusahaan Sendiri, Ramai-Ramai Pakai Produk China

Redaksi,  CNBC Indonesia
15 July 2026 10:55
Ilustrasi logo deepseek. (AP Photo/Andy Wong)
Foto: Ilustrasi logo deepseek. (AP Photo/Andy Wong)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia bisnis teknologi global sedang menyaksikan pergeseran tak terduga. Perusahaan-perusahaan besar di Amerika Serikat mulai meninggalkan model kecerdasan buatan (AI) buatan negeri sendiri dan beralih ke produk asal China. Alasan utamanya sederhana yaitu biaya yang jauh lebih murah, tetapi dengan kualitas yang setara.

Biaya penggunaan AI yang terus melonjak membuat banyak perusahaan mempertanyakan biaya mahal yang dibanderol oleh model AI terkemuka AS. China padahal menawarkan kemampuan setara dengan harga jauh lebih terjangkau.

Seperti dilaporkan Financial Times, nama-nama besar seperti DoorDash, Airbnb, hingga raksasa teknik Jerman, Siemens kini mulai mengadopsi alat AI buatan China. Selain biaya yang lebih murah, model asal China umumnya menggunakan pendekatan open-weight, yaitu membuka parameter dan nilai penggunaan ke pengguna. Pendekatan ini membuat perusahaan pengguna dapat menyesuaikan penggunaan sesuai kebutuhan masing-masing.

Data dari OpenRouter, platform yang menyediakan akses ke berbagai model AI sekaligus memantau penggunaannya, menunjukkan bahwa model terkemuka China seperti DeepSeek dan Z.ai kini melampaui pemakaian pesaing AS seperti Claude milik Anthropic dan ChatGPT buatan OpenAI. Di tengah persaingan geopolitik yang memanas, efisiensi biaya ternyata menjadi faktor penentu utama.

"Model Tiongkok kini menjadi hal yang tak terelakkan," ujar Eugene Cheah, CEO platform AI Featherless AI. "Perusahaan mulai sadar, 'Hei, kita tidak perlu model terbaik, kita bisa pakai yang lebih cepat dan murah namun tetap memadai'."

Selama ini model AI AS dianggap sebagai yang paling canggih. Namun, pandangan itu perlahan berubah. Peluncuran GLM-5.2 dari perusahaan rintisan China, Z.ai bulan lalu memicu perbincangan hangat di kalangan teknologi Barat. Tokoh-tokoh utama Silicon Valley mengakui kemampuannya setara atau hampir setara sistem AS, meskipun biaya pemakaiannya jauh lebih rendah.

Momen ini datang pada waktu yang pas.

Selama setahun terakhir, perusahaan raksasa di seluruh dunia telah berinvestasi besar-besaran dalam penerapan AI untuk meningkatkan produktivitas. Namun, banyak yang terbebani tagihan yang membengkak.

Salah satu perusahaan diberitakan menghabiskan US$500 juta hanya dalam sebulan untuk pemakaian Claude. Meskipun itu angka yang tidak biasa, Indeks Ramp AI mencatat bahwa perusahaan yang paling giat menerapkan AI menghabiskan rata-rata US$7.500 per karyawan setiap bulannya.

Jika skala pemakaian tidak bisa dikurangi, pilihan terbaik adalah mencari alternatif yang lebih murah. Andy Fang, salah satu pendiri DoorDash, mengungkapkan bahwa perusahaannya memangkas biaya secara signifikan dengan memindahkan "pekerjaan tingkat dasar" ke model buatan Moonshot AI, sebuah startup China lainnya.

Sementara itu, startup asal San Francisco, Lindy telah sepenuhnya berhenti menggunakan model buatan Anthropic dan beralih ke DeepSeek V4.

"Perusahaan punya alasan kuat untuk memindahkan sebagian beban kerja ke model yang lebih hemat. Mengapa harus membayar mahal untuk Anthropic atau OpenAI, jika untuk banyak tugas yang dibutuhkan model China sudah cukup memadai?" ujar Sam Bresnick, peneliti di Pusat Keamanan dan Teknologi Berkembang Universitas Georgetown.

Biaya bukan satu-satunya alasan. Model open source memberi kendali lebih besar bagi perusahaan dalam memproses data sensitif, serta memudahkan penyesuaian dengan kebutuhan bisnis. Selain itu, kepercayaan terhadap AS sebagai pemimpin tata kelola AI mulai menurun, terutama setelah pemerintahan Trump menangguhkan akses ke model Mythos milik Anthropic bagi pengguna luar negeri.

"Penangguhan akses Mythos adalah peristiwa yang paling nyata dampaknya. Hal ini menampakkan risiko jika hanya bergantung pada satu pihak saja untuk seluruh kebutuhan operasional," kata Aidan Gomez, CEO kelompok AI Kanada Cohere.

Fenomena ini juga berpotensi berdampak besar bagi ekosistem teknologi di Indonesia dan Asia Tenggara. Menurut TechRT's, pengguna di Indonesia berkontribusi sekitar 4% dari total download aplikasi DeepSeek di seluruh dunia.

(dem/dem) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Ramai-Ramai Tinggalkan Amerika Pindah ke China, Terungkap Alasannya


Most Popular
Features