Bikin Cemas! Deretan 7 Kabar Genting yang Bisa Guncang RI Pekan Ini
- Pasar keuangan RI ditutup menguat, IHSG melesat dan rupiah naik ke level terbaik dalam lebih dari dua pekan
- Wall Street melemah sepekan, ditekan aksi jual saham teknologi dan semikonduktor
- Keputusan suku bunga BI, LPR China, inflasi Jepang, dan suku bunga ECB menjadi penggerak utama pasar pekan ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berhasil menutup perdagangan pekan lalu dengan penguatan pada Jumat (17/7/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat kencang, rupiah menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS), meski imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun kembali naik.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan bergerak volatil pada perdagangan hari ini, Senin (20/7/2026).
Pelaku pasar akan mencermati keberlanjutan penguatan IHSG dan rupiah, arah dolar AS, serta perkembangan sentimen global dan domestik. Selengkapnya mengenai sentimen pasar hari ini hingga sepekan kedepan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG kembali melesat kencang pada perdagangan Jumat lalu. Penguatan indeks kali ini terutama didorong oleh saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.
IHSG ditutup naik 67,32 poin atau 1,1% ke level 6.173,53. Penguatan tersebut juga diikuti oleh lebih banyak saham yang bergerak di zona hijau.
Tercatat sebanyak 363 saham menguat, 274 saham melemah, dan 328 saham tidak bergerak.
Pasar juga kembali ramai dengan saham perbankan menjadi perhatian utama investor. Total nilai transaksi mencapai Rp16,32 triliun, melibatkan 24,04 miliar saham dalam 1,99 juta kali transaksi.
Kapitalisasi pasar ikut naik menjadi Rp10.749 triliun.
Sebagai perbandingan, pada perdagangan-perdagangan sebelumnya, nilai transaksi cukup sulit melampaui Rp15 triliun. Rata-rata nilai transaksi bahkan hanya berada di sekitar Rp10 triliun.
Mengutip Refinitiv, sektor finansial menjadi penopang utama IHSG dengan kenaikan 3,2%. Penguatan sektor ini sejalan dengan kenaikan saham-saham bank jumbo.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) secara total menyumbang 54,7 poin terhadap penguatan IHSG.
Analis Panin Sekuritas Elandry Pratama mengatakan penguatan saham-saham perbankan belakangan ini didorong oleh kombinasi beberapa faktor. Menurutnya, sektor perbankan sedang mengalami technical rebound setelah sebelumnya mendapat tekanan cukup signifikan.
Kondisi tersebut membuat investor mulai kembali melakukan akumulasi, terutama pada saham bank besar yang memiliki fundamental dan likuiditas tinggi.
Selain itu, tekanan arus keluar dana asing atau foreign outflow mulai terlihat lebih terbatas dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi ini memberikan ruang bagi investor untuk kembali masuk ke saham-saham big caps perbankan dan memperbaiki sentimen pasar.
Adapun investor asing tercatat melakukan pembelian bersih atau net buy sebesar Rp638,57 miliar pada perdagangan Jumat.
Dari pasar valuta asing, nilai tukar rupiah ditutup menguat tajam terhadap dolar AS pada perdagangan jelang akhir pekan.
Melansir data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan di posisi Rp17.885/US$, menguat 0,53%. Posisi tersebut menjadi level terkuat rupiah dalam lebih dari dua pekan, atau sejak 30 Juni 2026, sekaligus membawanya semakin jauh dari level psikologis Rp18.000/US$.
Rupiah konsisten bergerak di zona hijau sejak awal perdagangan. Mata uang Garuda dibuka pada posisi Rp17.980/US$, kemudian terus menguat hingga penutupan.
Penguatan rupiah sejalan dengan pelemahan dolar AS di pasar global.
Greenback juga berada di jalur penurunan secara mingguan setelah data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan meredakan kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Data ekonomi lainnya memang menunjukkan perekonomian AS masih cukup kuat, terutama dengan kondisi pasar tenaga kerja yang relatif stabil. Namun, ekonom memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini setelah inflasi konsumen AS melandai pada Juni.
Pejabat The Fed masih bersikap hati-hati karena perbaikan inflasi baru terlihat dalam satu bulan, setelah sebelumnya bergerak naik selama beberapa bulan. Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga apabila inflasi tidak menunjukkan perbaikan lebih lanjut.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Juli kini berada di level 11%, turun dari 25% pada pekan lalu.
Pasar juga memperkirakan kenaikan suku bunga sekitar 26 basis poin hingga Desember, lebih rendah dibandingkan 44 basis poin pada awal pekan ini.
Dari pasar obligasi, yield SBN tenor 10 tahun naik 0,41% ke level 7,267% pada perdagangan Jumat kemarin.
Kenaikan yield menunjukkan harga SBN sedang turun. Kondisi ini biasanya mencerminkan adanya tekanan jual di pasar obligasi, karena imbal hasil dan harga obligasi bergerak berlawanan arah.
(evw/evw) Add
source on Google