Harga Minyak Mendidih! Sepekan Meroket 15%
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah kembali meninggi pada perdagangan akhir pekan ini, memperpanjang penguatan di pekan ini karena memanasnya kembali situasi di Timur Tengah setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran meningkatkan serangan di seluruh Teluk dan membuat Selat Hormuz kembali ditutup
Menurut data Refinitiv pada Jumat (17/7/2026), harga minyak jenis Brent berada di US$88,10 per barel, melonjak 4,59%. Sementara minyak jenis light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) melejit 4,48% ke US$82,49 per barel.
Sepanjang pekan ini, minyak Brent terpantau meroket hingga 15,91% dan minyak WTI terbang 15,52% secara point-to-point.
AS-Iran memperluas pertempuran kemarin, dengan AS menyerang jembatan dan bandara di Iran dan Teheran menghantam pabrik listrik dan desalinasi di Kuwait. Iran mengatakan pihaknya meluncurkan lebih banyak serangan terhadap fasilitas AS di Timur Tengah, termasuk serangan langsung pertama di Suriah, setelah malam keenam berturut-turut serangan AS terhadap fasilitas militer Iran.
"Pasar bereaksi terhadap meningkatnya permusuhan antara Iran dan Amerika Serikat yang telah memuncak minggu ini dengan serangan malam terhadap infrastruktur Iran dan pembalasan oleh Iran terhadap infrastruktur tetangganya," kata Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates, dikutip dari Reuters, Sabtu (18/7/2026).
"Jika lebih banyak kapal tanker mendapat tembakan dan rusak, kita akan melihat harga minyak terus naik karena pemilik kapal menolak untuk memasuki Teluk Persia," lanjut Lipow.
Gencatan senjata yang runtuh antara AS dan Iran telah mengakibatkan penurunan tajam dalam aliran minyak di selat itu karena Iran menargetkan kapal-kapal yang transit melaluinya. Sebelum perang Iran, sekitar 20% pasokan minyak global mengalir melalui jalur perairan. Iran telah menekan Houthi untuk menutup rute Laut Merah jika AS menyerang infrastruktur listrik Iran.
"Mengingat bahwa begitu banyak ekspor Arab Saudi telah dialihkan ke pelabuhan Yanbu melalui Pipa Timur-Barat untuk menghindari Hormuz, perkembangan semacam itu memang merupakan ancaman," kata Tamas Varga, analis di PVM Oil Associates, dilansir dari Reuters.
Arab Saudi telah mengalihkan lebih dari 70% ekspor minyak mentah harian normalnya ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah sejak awal perang. Pengiriman dari Yanbu rata-rata 4 juta barel per hari dalam beberapa pekan terakhir, naik dari sekitar 973.000 barel per hari pada periode yang sama tahun lalu.
Kementerian pertahanan Qatar mengatakan angkatan bersenjatanya menggagalkan serangan rudal Iran pada Jumat pagi dan kementerian dalam negeri mengatakan seorang anak terluka oleh pecahan peluru akibat operasi intersepsi.
Di zona konflik yang berbeda, militer Ukraina mengatakan pihaknya menyerang kilang minyak Rusia di wilayah Yaroslavl pada Kamis lalu.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(chd/luc) Addsource on Google