MARKET DATA

Tak Cuma Odyssey! Ini Epos & Kisah Heroik yang Mengubah Sejarah Dunia

Aisha Mayra,  CNBC Indonesia
17 July 2026 20:00
Odyssey. (Dok. bintangpusnas.perpusnas.go.id)
Foto: Odyssey. (Dok. bintangpusnas.perpusnas.go.id)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sudah hampir tiga milenium sejak The Odyssey pertama kali diceritakan. Namun, menjelang perilisan film terbaru garapan Christopher Nolan, nama Odysseus kembali memenuhi perbincangan publik.

Rasa penasaran pun bermunculan. Apakah Odysseus benar-benar pernah hidup? Benarkah Perang Troya terjadi? Perlukah membaca The Odyssey sebelum menonton filmnya?

Di balik pertanyaan-pertanyaan itu, ada satu fakta yang sering luput diperhatikan. The Odyssey bukanlah satu-satunya kisah kepahlawanan besar yang diwariskan dunia. Jauh sebelum novel modern lahir, berbagai peradaban telah memiliki epos mereka sendiri.

Sebagian ditulis pada masa kuno.

Sebagian lain diwariskan secara lisan selama berabad-abad sebelum akhirnya dibukukan. Hingga kini, banyak di antaranya masih terus diterjemahkan, diadaptasi menjadi novel, komik, serial, maupun film.

Timur Tengah & Mediterania

Kawasan ini melahirkan sejumlah epos yang paling berpengaruh dalam sejarah sastra dunia. Mulai dari kisah raja Mesopotamia, perang Troya, hingga lahirnya Romawi, karya-karya ini menjadi fondasi bagi banyak cerita modern.

Gilgamesh - Mesopotamia

Dianggap sebagai epos tertua yang masih bertahan hingga kini, Epic of Gilgamesh ditulis menggunakan aksara paku (cuneiform) di atas lempengan tanah liat. Kisahnya mengikuti Raja Gilgamesh dan sahabatnya, Enkidu, sebelum kematian sang sahabat mengubah pencarian sang raja menjadi perenungan tentang hidup, kematian, dan makna keabadian.

Tema tersebut membuat Gilgamesh tetap relevan ribuan tahun kemudian. Alih-alih sekadar kisah petualangan, epos ini juga berbicara tentang kehilangan dan batas kehidupan manusia.

Salah satu kutipan paling terkenal berbunyi:

"How can I keep silent? How can I stay quiet? My friend, whom I loved, has turned to clay..."

Adaptasi modern:

  • trilogi ilustrasi untuk pembaca muda;

  • novelisasi karya Emily H. Wilson;

  • berbagai edisi bergambar yang memperkenalkan kisah ini kepada pembaca baru.

    GilgameshGilgamesh Foto: britishmuseumshoponline.org

Homer - Yunani

Nama Homer hampir selalu identik dengan

dua epos terbesar Yunani kuno: The Iliad dan The Odyssey. Keduanya sama-sama terdiri atas 24 buku, tetapi menceritakan dua kisah yang berbeda.

The Iliad

The Iliad berfokus pada hari-hari terakhir Perang Troya. Cerita utamanya bukan seluruh perang selama 10 tahun, melainkan konflik antara Achilles dan Agamemnon yang berujung pada kematian Patroclus dan balas dendam terhadap Hector.

Pembukaan puisinya menjadi salah satu baris paling terkenal dalam sastra dunia:

"Sing, goddess, the anger of Peleus' son Achilles..."

Hingga kini, The Iliad masih menjadi rujukan utama untuk memahami mitologi Yunani maupun konsep kepahlawanan dalam sastra Barat.

Adaptasi modern:

  • Black Ships Before Troy karya Rosemary Sutcliff dengan ilustrasi Alan Lee;

  • novel grafis karya Gareth Hinds.

The Odyssey

Jika The Iliad adalah kisah perang, The Odyssey adalah kisah perjalanan pulang.

Epos ini mengikuti Odysseus yang membutuhkan waktu 10 tahun untuk kembali ke Ithaca setelah Perang Troya berakhir. Dalam perjalanannya, ia menghadapi Cyclops, monster laut, badai, hingga campur tangan para dewa seperti Athena, Circe, dan Calypso.

Baris pembukanya juga menjadi salah satu kutipan sastra paling dikenal:

"Tell me, Muse, of the man of many ways..."

Perilisan film The Odyssey garapan Christopher Nolan kembali mengangkat karya ini ke perhatian publik global. Meski film tersebut merupakan adaptasi sinematik, kisah aslinya telah menjadi salah satu karya sastra paling banyak diterjemahkan selama hampir 3.000 tahun.

Adaptasi modern:

  • novel grafis Gareth Hinds;

  • The Usborne Illustrated Odyssey untuk pembaca muda;

  • berbagai adaptasi panggung, serial televisi, hingga film layar lebar.

The Aeneid - Romawi

Jika Yunani memiliki Odysseus, Romawi memiliki Aeneas.

The Aeneid ditulis penyair Virgil untuk menceritakan perjalanan Aeneas, salah satu penyintas Perang Troya, menuju Italia yang kelak menjadi cikal bakal berdirinya Romawi. Karya ini sering dipandang sebagai epos nasional Romawi sekaligus upaya menghubungkan asal-usul bangsa Romawi dengan legenda Yunani.

Pembukaannya berbunyi:

"I sing of arms and of a man..."

Selain menjadi karya sastra klasik, The Aeneid juga memperlihatkan bagaimana cerita kepahlawanan digunakan untuk membangun identitas sebuah peradaban.

Adaptasi modern:

Shahnameh - Iran

Dikenal sebagai Book of Kings, Shahnameh merupakan epos nasional Persia yang disusun penyair Abolqasem Ferdowsi sekitar tahun 980-1010.

Karya yang terdiri atas sekitar 50.000 bait itu merangkum sejarah dan mitologi Iran pra-Islam, mulai dari kisah penciptaan hingga penaklukan Persia oleh bangsa Arab pada abad ketujuh.

Salah satu kutipannya berbunyi:

"I turn to right and left, in all the earth I see no signs of justice..."

Selain menjadi karya sastra terbesar Persia, Shahnameh berperan penting menjaga bahasa dan identitas budaya Persia selama berabad-abad.

Adaptasi modern:

  • terjemahan prosa karya Dick Davis yang menjadi rujukan utama pembaca berbahasa Inggris;

  • edisi ilustrasi yang memperkenalkan kisah para raja Persia melalui seni visual.

shahnamehshahnameh Foto: shahnameh.fitzmuseum.cam.ac.uk/ibrary/Chris Lee

Eropa

Berbeda dengan epos Mediterania yang banyak berkisah tentang para dewa dan lahirnya peradaban, karya-karya dari Eropa lebih banyak mengangkat sosok pejuang, raja, dan klan yang mempertahankan kehormatan. Sebagian besar memang baru ditulis pada Abad Pertengahan, tetapi kisahnya berasal dari tradisi lisan yang jauh lebih tua.

Beowulf

Beowulf merupakan puisi epik berbahasa Inggris Kuno yang diperkirakan ditulis antara tahun 975-1025 M, tetapi berlatar Skandinavia pada abad ke-5 hingga ke-6. Tokohnya adalah Beowulf, seorang pejuang yang menghadapi monster Grendel, ibu Grendel dalam pertarungan bawah air, hingga seekor naga yang akhirnya merenggut nyawanya.

Pembukaan puisinya menjadi salah satu bagian paling terkenal dalam sastra Inggris:

"So. The Spear-Danes in days gone by and the kings who ruled them had courage and greatness."

Selain dianggap sebagai karya sastra tertua berbahasa Inggris, Beowulf juga menjadi fondasi banyak cerita fantasi modern yang mengangkat tema monster, naga, dan kepahlawanan.

Adaptasi modern:

  • edisi ilustrasi untuk pembaca muda;

  • terjemahan Seamus Heaney yang dilengkapi dokumentasi arkeologi dan artefak era Anglo-Saxon.

Volsunga Saga

Jika kisah naga identik dengan Eropa Utara, sumber utamanya adalah The Saga of the Volsungs atau Volsunga Saga. Naskah prosa dari akhir abad ke-13 ini mengikuti perjalanan klan Volsung, terutama Sigurd yang dikenal karena membunuh naga Fáfnir.

Meski ditulis dalam bentuk prosa, kisahnya berasal dari legenda Nordik yang jauh lebih tua dan kemudian ikut menginspirasi berbagai karya sastra hingga opera Richard Wagner.

Salah satu penggalan prolognya berbunyi:

"Hearken, and marvel how it might be so..."

Adaptasi modern:

  • kompilasi Ultimate Norse and Germanic Mythology Collection yang memuat The Prose Edda, The Poetic Edda, Volsunga Saga, dan Beowulf lengkap dengan ilustrasi.

The Táin

Sering dijuluki sebagai "Iliad dari Irlandia", Táin Bó Cúailnge atau The Táin berakar dari tradisi lisan Irlandia sebelum akhirnya dituliskan pada Abad Pertengahan.

Ceritanya berawal dari perebutan seekor banteng legendaris yang berkembang menjadi perang besar. Di tengah konflik itu, hanya seorang pahlawan muda, Cú Chulainn, yang mampu mempertahankan kerajaannya karena seluruh pasukan terkena kutukan.

Salah satu kutipannya berbunyi:

"I stand here in the long cold hours, alone against every foe."

Adaptasi modern:

  • versi bergambar karya Alan Titley;

  • film pendek animasi yang merangkum kisah The Cattle Raid of Cooley.

Kalevala

Bagi Finlandia, Kalevala memiliki posisi yang hampir setara dengan epos nasional. Karya ini disusun Elias Lönnrot pada abad ke-19 dari berbagai lagu rakyat dan cerita lisan masyarakat Finlandia dan Karelia.

Isinya mencakup kisah penciptaan dunia, peperangan antarkerajaan, hingga pencarian Sampo, mesin mitologis yang diyakini mampu menghasilkan kemakmuran tanpa henti.

Pembukaannya langsung mengajak pembaca memasuki tradisi lisan Finlandia:

"I am wanting, I am thinking to arise and go forth singing."

Adaptasi modern:

  • versi prosa bergambar karya Kirsti Mäkinen dan ilustrator Pirkko-Liisa Surojegin yang mempertahankan sebagian bait puisi aslinya.

    Ilustrasi KalevalaIlustrasi Kalevala Foto: fennougria.ee

Asia

Asia menyimpan sejumlah epos terpanjang sekaligus paling berpengaruh di dunia. Sebagian masih hidup melalui pertunjukan, ritual keagamaan, hingga adaptasi film dan serial modern. Di Indonesia sendiri, beberapa di antaranya bahkan telah menjadi bagian dari budaya populer.

Ramayana

Di Indonesia, nama Rama, Sinta, dan Rahwana mungkin jauh lebih dikenal dibandingkan Homer atau Achilles. Namun tidak semua orang menyadari bahwa Ramayana merupakan salah satu epos tertua di dunia.

Ditulis dalam bahasa Sanskerta dan secara tradisional dikaitkan dengan Walmiki (Valmiki), Ramayana mengisahkan perjalanan Pangeran Rama-avatar ketujuh Dewa Wisnu-yang harus menjalani pengasingan, kehilangan istrinya Sita yang diculik Rahwana, hingga akhirnya memimpin perang besar untuk merebutnya kembali.

Bagi banyak pembaca modern, daya tarik Ramayana bukan hanya pertarungan antara kebaikan dan kejahatan, tetapi juga soal kesetiaan, pengorbanan, dan tanggung jawab seorang pemimpin.

Salah satu penggalannya berbunyi:

"O Ayodhya! Architects designed you to be beautiful, gracious and strong."

Adaptasi modern:

  • The Ramayana: A New Retelling of Valmiki's Ancient Epic karya Linda Egenes yang menggunakan prosa modern namun tetap mempertahankan nuansa puitis cerita aslinya.

Mahabharata

Jika Ramayana berpusat pada satu perjalanan, Mahabharata jauh lebih luas.

Sering disebut sebagai puisi epik terpanjang di dunia, karya yang secara tradisional dikaitkan dengan Vyasa ini berkembang selama berabad-abad sejak sekitar abad ke-3 SM. Ceritanya mengikuti konflik antara Pandawa dan Kurawa yang berujung pada Perang Kurukshetra.

Di dalamnya terselip ratusan tokoh, intrik politik, filsafat, hingga ajaran moral yang kemudian melahirkan Bhagavad Gita, salah satu teks terpenting dalam tradisi Hindu.

Pembukaan adaptasi modern karya Carole Satyamurti berbunyi:

"This is the tale of a tragic dynasty; a narrative of hatred, honor, courage..."

Adaptasi modern:

  • Mahabharata: A Modern Retelling karya Carole Satyamurti;

  • novel prosa karya Ramesh Menon;

  • drama audio karya Sudipta Bhawmik.

Mahabharata. (Dok. Istimewa)Mahabharata. (Dok. Istimewa) Foto: Mahabharata. (Dok. Istimewa)

The Epic of King Gesar

Tidak banyak yang menyadari bahwa Tibet memiliki salah satu epos terpanjang di dunia.

The Epic of King Gesar diwariskan secara lisan selama berabad-abad dan kini mencapai sekitar 120 jilid. Ceritanya mengikuti Raja Gesar dari Ling, seorang pejuang berkekuatan luar biasa yang bertempur melawan berbagai kerajaan demi menyatukan negerinya.

Selain sastra, epos ini juga menjadi bagian dari tradisi musik, ritual, hingga pertunjukan rakyat Tibet.

Salah satu baitnya berbunyi:

"The white smoke of the juniper rises... rides the ever great and youthful conqueror, Gesar, King of Ling."

Adaptasi modern:

  • The Warrior Song of King Gesar karya Douglas Penick;

  • terjemahan beberapa jilid awal yang diterbitkan Shambhala Publications.

The Epic of King Gesar. (Dok. Istimewa)The Epic of King Gesar. (Dok. Istimewa) Foto: The Epic of King Gesar. (Dok. Istimewa)

Darangen

Dari Asia Tenggara, Filipina memiliki Darangen, kumpulan epos masyarakat Maranao di Mindanao yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda.

Karya ini terdiri atas sekitar 72.000 baris puisi yang terbagi dalam 17 siklus. Dalam tradisi aslinya, seluruh cerita dapat dipentaskan melalui lagu dan tarian selama hampir sepekan.

Tokoh utamanya adalah Pangeran Bantugan dari Kerajaan Bembaran, sementara kisahnya dipenuhi perang, diplomasi, perjalanan, dan hubungan antarkerajaan.

Pembukaan ceritanya berbunyi:

"And now I shall commence my tale, beginning with the enthronement of the first ruler..."

Adaptasi modern:

  • belum banyak tersedia dalam bentuk novel modern;

  • sejumlah rekaman pertunjukan tradisional telah didokumentasikan UNESCO sebagai upaya pelestarian budaya.

Di luar empat karya tersebut, Asia sebenarnya masih memiliki tradisi epik lain yang sama kayanya. Namun hingga kini, tidak semuanya telah diterjemahkan secara luas ke dalam bahasa Inggris, sehingga akses pembaca internasional masih relatif terbatas.

Afrika

Tidak semua epos besar lahir dalam bentuk buku. Di Afrika, banyak di antaranya hidup sebagai tradisi lisan yang dipentaskan melalui nyanyian, tarian, dan pertunjukan selama berabad-abad sebelum akhirnya didokumentasikan.

Mwindo

The Mwindo Epic berasal dari masyarakat Nyanga di Republik Demokratik Kongo. Selama berabad-abad, kisah ini disampaikan oleh seorang pendongeng yang diiringi alat musik sederhana, sementara penonton ikut bernyanyi dan berpartisipasi dalam pertunjukan.

Tokoh utamanya, Mwindo, digambarkan memiliki kekuatan luar biasa sejak lahir. Ia bahkan disebut sudah bisa berjalan dan berbicara sebagai bayi. Setelah menjadi sasaran ayahnya sendiri, Mwindo menjalani serangkaian petualangan yang membawanya melintasi dunia manusia hingga alam roh.

Salah satu kutipannya berbunyi:

"I am Mwindo, the one born walking, the one born talking."

Adaptasi modern:

  • The Magic Flyswatter: A Superhero Tale of Africa karya Aaron Shepard yang mengemas kisah Mwindo dalam bentuk prosa modern untuk pembaca muda;

  • terjemahan akademik yang lebih lengkap mengenai epos Nyanga.

     

    The Mwindo epic. (Dok. Istimewa)The Mwindo epic. (Dok. Istimewa) Foto: The Mwindo epic. (Dok. Istimewa)

Sundiata

Jika Mwindo berakar pada mitologi, The Epic of Sundiata lebih dekat dengan sejarah.

Epos ini mengisahkan perjalanan Sundiata Keita, pendiri Kekaisaran Mali yang wafat sekitar 1255. Ceritanya diwariskan secara lisan oleh para griot-penyair sekaligus penjaga sejarah Afrika Barat-sebelum akhirnya dituliskan.

Meski berasal dari Abad Pertengahan, Sundiata tetap dianggap sebagai salah satu karya paling penting dalam tradisi sastra Afrika karena memperlihatkan bagaimana sejarah, kepemimpinan, dan identitas suatu bangsa diwariskan melalui cerita.

Adaptasi modern:

  • berbagai edisi prosa berbahasa Inggris yang diterjemahkan dari tradisi lisan para griot Afrika Barat.

Amerika

Dibandingkan kawasan lain, jumlah epos kuno yang masih bertahan dari benua Amerika memang jauh lebih sedikit. Salah satu yang paling berpengaruh adalah Popol Vuh, kitab suci sekaligus epos masyarakat Maya.

Popol Vuh

Popol Vuh berawal dari tradisi lisan bangsa Maya selama berabad-abad sebelum akhirnya dituliskan pada abad ke-16 sebagai upaya menyelamatkan warisan budaya setelah penaklukan Spanyol.

Kisahnya mencakup penciptaan alam semesta, para dewa, petualangan Hero Twins, hingga asal-usul Kerajaan K'iche'. Karena memadukan kosmologi, mitologi, dan sejarah, banyak sejarawan menyebut Popol Vuh sebagai salah satu dokumen terpenting dalam peradaban Mesoamerika.

Pembukaannya langsung menggambarkan dunia sebelum segala sesuatu tercipta:

"This is the account of when all is still silent and placid... There is not yet one person, one animal, bird, fish, crab, tree, rock..."

Adaptasi modern:

  • Popol Vuh: A Retelling karya Ilan Stavans dengan ilustrasi Gabriela Larios;

  • terjemahan Allen J. Christenson yang menjadi salah satu rujukan akademik paling banyak digunakan.

Popol Vuh. (Dok. theimasonline.org)Popol Vuh. (Dok. theimasonline.org) Foto: Popol Vuh. (Dok. theimasonline.org)

Benarkah The Odyssey Berdasarkan Kisah Nyata?

Sejak trailer terbaru film The Odyssey garapan Christopher Nolan dirilis, satu pertanyaan yang paling banyak dicari adalah: benarkah kisah Odysseus pernah benar-benar terjadi?

Jawaban singkatnya, tidak.

Namun, kisah ini juga tidak sepenuhnya lahir dari imajinasi.

Sejarawan menilai The Odyssey kemungkinan besar merupakan perpaduan antara legenda, tradisi lisan, dan sejumlah peristiwa yang memang pernah terjadi di dunia nyata. Itulah yang membuat epos karya Homer ini terus menjadi bahan perdebatan hingga sekarang.

Yang paling jelas adalah Kota Troya memang pernah ada. Para arkeolog telah mengidentifikasi situs kota kuno tersebut di wilayah barat laut Turki modern. Begitu pula Ithaca, kerajaan tempat Odysseus berasal, yang merujuk pada gugusan pulau di Laut Ionia dan masih dapat ditemukan di peta Yunani saat ini.

Namun keberadaan tempat-tempat itu bukan berarti seluruh ceritanya merupakan sejarah.

 

Di dalam The Odyssey, Odysseus digambarkan menghadapi Cyclops bermata satu, monster laut Scylla yang berkepala enam, penyihir Circe, nimfa Calypso, hingga campur tangan langsung Dewi Athena. Unsur-unsur mitologis seperti itu membuat mayoritas sejarawan menganggap kisah tersebut sebagai legenda, bukan catatan sejarah.

Meski demikian, para ahli tidak menutup kemungkinan bahwa Perang Troya sendiri terinspirasi dari konflik nyata pada Zaman Perunggu sekitar 1600-1200 SM. Cerita mengenai perang itu diyakini diwariskan secara lisan selama ratusan tahun sebelum akhirnya ditulis dalam bentuk puisi epik.

Begitu pula dengan Odysseus. Hingga kini belum ada bukti sejarah yang menunjukkan bahwa Raja Ithaca itu benar-benar pernah hidup. Sejumlah arkeolog memang menemukan situs yang diduga menyerupai istananya, beserta koin dan artefak yang menampilkan nama maupun sosok Odysseus.

Namun temuan tersebut lebih banyak dipahami sebagai bukti bahwa masyarakat Yunani kuno menghormatinya sebagai pahlawan legendaris, bukan sebagai tokoh sejarah yang dapat dipastikan keberadaannya.

Mengapa Epos Kuno Terus Bertahan?

Popularitas film The Odyssey bukan sekadar kebangkitan karya Homer.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa hampir setiap peradaban besar memiliki satu kisah yang menjadi fondasi identitas mereka.

Mesopotamia memiliki Gilgamesh. Yunani mengenal The Iliad dan The Odyssey. Persia mempunyai Shahnameh. India mewariskan Ramayana dan Mahabharata. Finlandia memiliki Kalevala. Filipina menyimpan Darangen. Sementara bangsa Maya meninggalkan Popol Vuh.

Meski lahir dari tempat dan zaman yang berbeda, benang merahnya hampir sama. Epos menjadi medium untuk menjelaskan asal-usul suatu bangsa, menggambarkan sosok pahlawan ideal, merekam nilai budaya, sekaligus menunjukkan bagaimana manusia memaknai hubungan dengan alam, takdir, maupun para dewa.

Itu sebabnya karya-karya tersebut tidak pernah benar-benar selesai.

 

Masing-masing generasi menerjemahkannya kembali. Ada yang mengubahnya menjadi novel, komik, pertunjukan teater, gim, hingga film layar lebar.

Kini giliran Christopher Nolan membawa The Odyssey ke bioskop. Hampir tiga milenium setelah pertama kali dilantunkan para penyair Yunani, perjalanan pulang Odysseus kembali menemukan penontonnya. Bukan karena semua orang percaya kisah itu pernah terjadi, melainkan karena cerita-cerita besar memang selalu menemukan cara untuk tetap hidup.

 

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular