BEI Rilis Daftar Saham HSC, Akhirnya Kabar Baik Datang dari AS & China
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street ditutup menguat pada Selasa atau rabu dini hari wkatu Indonesia. Bursa menguat setelah data inflasi AS bulan Juni lebih rendah dari perkiraan, didorong kenaikan saham-saham semikonduktor.
Indeks S&P 500 naik 0,38% ke 7.543,59, Nasdaq menguat 0,9% ke 26.107,01, sedangkan Dow Jones menanjak 0,02% ke 52.508,27. Kenaikan Dow tertahan oleh anjloknya saham IBM hingga 25% setelah perusahaan memperingatkan laba kuartal II akan lebih rendah dari ekspektasi.
Saham semikonduktor bangkit setelah aksi jual sehari sebelumnya. ETF VanEck Semiconductor naik 2,5%, sementara Applied Materials, Teradyne, Lam Research, Micron Technology, dan STMicroelectronics juga mencatat kenaikan.
Data menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) AS turun 0,4% secara bulanan pada Juni, sehingga inflasi tahunan melambat menjadi 3,5%, lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 3,8%.
Meredanya inflasi membuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed berkurang. Peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Juli turun menjadi 17% dari 42% sehari sebelumnya, meski pasar masih memperkirakan peluang sekitar 60% untuk kenaikan suku bunga pada September.
Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan lonjakan inflasi dalam lima tahun terakhir akan menjadi "masa lalu", namun tetap menegaskan komitmen bank sentral untuk mengendalikan inflasi.
Sementara itu, harga minyak masih menguat setelah AS melancarkan serangan baru ke Iran. Minyak WTI ditutup naik 1,5% di atas US$79 per barel, sedangkan Brent naik 1,7% ke atas US$84 per barel, meski sempat turun dari level tertingginya setelah Presiden Donald Trump membatalkan rencana mengenakan biaya 20% bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Di sektor perbankan, saham Goldman Sachs melonjak 9% usai membukukan laba di atas ekspektasi. Saham JPMorgan Chase dan Bank of America juga naik lebih dari 2% setelah merilis kinerja kuartal II.
(gls/gls) Addsource on Google