MARKET DATA
Newsletter

Pekan Berat untuk RI, Badai Data dari China dan AS Siap Menghantam

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
13 July 2026 06:25
Rupiah dan IHSG
Foto: Ilustrasi/ Rupiah dan IHSG/ Aristya Rahadian
  • Pasar keuangan RI ditutup kompak pada zona penguatan baik IHSG, Rupiah, maupun SBN
  • Wall Street juga kompak di zona penguatan
  • Perkembangan perang hingga beragam data ekonomi akan menjadi penggerak utama pasar pada hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri ditutup kompak menguat pada perdagangan kemarin Jumat (10/7/2026). Bursa saham, rupiah, dan Surat Berharga Negara (SBN) ditutup menguat walaupun perang di Timur Tengah mulai menunjukkan keretakan.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan masih menghadapi tantangan pada hari ini dan satu pekan ke depan di tengah banyaknya pengumuman penting. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan Jumat (10/7/2026), di tengah dominasi sentimen global yang masih dibayangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Merujuk data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada akhir perdagangan sesi kedua IHSG naik 11,92 poin atau 0,20% ke level 5.924,36.

 

Sebanyak 364 saham menguat, 241 saham melemah, dan 185 saham bergerak stagnan, dengan nilai transaksi yang relatif sepi atau hanya mencapai Rp 8,86 triliun dan melibatkan 18,51 miliar saham dalam 1,91 juta kali transaksi.

Pasar juga ditutup tercatat masih mengalami net outflow pada sesi perdagangan tersebut sebesar Rp 421,70 miliar mengindikasikan year to date sebesar Rp 76,15 triliun.

Mengutip data Refinitiv, sektor barang baku, properti, energi dan finansial menguat sedangkan sektor infrastruktur dan teknologi tertekan paling dalam.

IHSG masih bergerak volatil pada perdagangan kemarin di tengah dominasi sentimen global. Memanasnya kembali konflik di Timur Tengah, peringatan Dana Moneter Internasional (IMF) terkait meningkatnya risiko ekonomi global, hingga prospek suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Di sisi lain, pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS) ikut menjadi sentimen positif bagi nilai tukar rupiah. Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada peluncuran mandatori biodiesel B50 oleh Presiden Prabowo Subianto, sementara Bank Indonesia (BI) melaporkan penjualan ritel masih mengalami kontraksi secara bulanan meski menunjukkan perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya.

 

Pelaku pasar juga mencermati data ekonomi AS yang menunjukkan klaim pengangguran tetap rendah, serta langkah Federal Reserve membentuk sejumlah gugus tugas untuk mengevaluasi arah kebijakan moneter ke depan.

Lanjut ke mata uang Rupiah, Mata uang Garuda berhasil menutup perdagangan terakhir pekan lalu dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Penguatan terjadi di tengah pelemahan indeks dolar AS.Melansir data Refinitiv, nilai tukar rupiah ditutup di posisi Rp18.045/US$ atau terapresiasi 0,14% pada perdagangan Jumat (10/7/2026). Penguatan ini sekaligus membalikkan posisi rupiah pada penutupan perdagangan sebelumnya, ketika mata uang Garuda ditutup di level terlemah dalam sebulan terakhir.

Sepanjang perdagangan Jumat kemarin, rupiah sejatinya sudah dibuka menguat pada pagi tadi. Penguatan tersebut berlanjut hingga penutupan perdagangan, dengan rupiah bergerak di rentang Rp18.045-Rp18.075/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per Jumat pukul 15.00 WIB terpantau terkoreksi 0,11% ke level 100,788.

Pergerakan rupiah pada perdagangan kemarin mendapat angin segar dari pelemahan indeks dolar AS di pasar global.

Dolar AS melemah untuk sesi kedua beruntun setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali melancarkan serangan. Meski ketegangan Timur Tengah kembali meningkat, pelaku pasar juga mencermati perkembangan harga minyak dan prospek inflasi global.

Iran disebut melancarkan serangan ke infrastruktur militer AS di negara-negara Teluk setelah AS menyerang wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran. Eskalasi ini kembali menekan kesepakatan gencatan senjata yang baru berjalan sekitar tiga pekan.

 

Namun, harga minyak justru turun dari posisi tertingginya. Minyak mentah AS melemah ke US$71,57 per barel, sementara Brent turun ke US$75,72 per barel.

Pelemahan ini terjadi karena pasar mulai mempertimbangkan risiko bahwa inflasi yang lebih tinggi dapat menekan pertumbuhan global, meski kekhawatiran pasokan energi masih ada.

Selain geopolitik, pasar juga mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed). Risalah rapat The Fed periode 16-17 Juni, yang menjadi rapat pertama di bawah Ketua The Fed Kevin Warsh, menunjukkan kekhawatiran terhadap inflasi masih meningkat di antara para pejabat bank sentral.

Sejumlah pejabat bahkan melihat adanya alasan untuk menaikkan suku bunga segera. Namun, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan 28-29 Juli justru sedikit mereda.

 

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada pertemuan Juli turun menjadi 26,2%, dari 31% pada sesi sebelumnya. Namun, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebesar 18,2% pada pekan lalu.

Sementara di pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun ke 7,221% pada Jumat (10/7/2026), dari hari sebelumnya yang ditutup di 7,281%.

Turunnya nilai imbal hasil ini mengindikasikan bahwa investor mulai membeli obligasi tersebut sehingga harga naik.

Add logo_svg as a preferred
source on Google

Bursa saham Amerika Serikat Wall Street kompak menguat pada perdagangan terakhir pekan lalu.

Indeks S&P500 mengakhiri hari dengan penguatan sebesar 0,42% pada 7.575,39, sementara Nasdaq Composite yang sarat teknologi menanjak 0,29% untuk ditutup pada 26.281,61.

Dow Jones Industrial Average yang terdiri dari 30 saham naik 149,60 poin, atau 0,29%, ditutup pada 52.637,01.

Nvidia mendukung pergerakan naik S&P 500, dengan kenaikan sekitar 4%. Meta Platforms menjadi titik terang lainnya di sektor teknologi, di mana sahamnya melonjak sekitar 6%. Dengan keuntungan hampir 15% minggu lalu, Meta mencatatkan kinerja mingguan terbaiknya sejak awal 2024.

Hal tersebut terjadi setelah Bank of America mempertahankan peringkat belinya untuk saham tersebut dan menyatakan bahwa sebuah memo internal yang ditinjau oleh Reuters menunjukkan bahwa Meta berpotensi memperbaiki struktur biaya kecerdasan buatannya.

S&P 500 mencatatkan kenaikan lebih dari 1% pada minggu lalu. Nasdaq juga mengakhiri periode tersebut lebih tinggi, mencatatkan keuntungan lebih dari 1%. Sebaliknya, Dow turun 0,5% pada minggu lalu.

Pembuat cip asal Korea Selatan, SK Hynix, memulai debutnya di bursa AS pada hari Jumat, dibuka pada harga $170 di Nasdaq dan terakhir diperdagangkan naik sekitar 13%.

Harga American Depository Receipts (ADR) dari perusahaan tersebut, yang melonjak tajam tahun ini akibat tingginya permintaan memori, ditetapkan sebesar $149 masing-masing. Beberapa pedagang khawatir bahwa penawaran baru ini mungkin akan bersaing dalam menarik dana investor dengan saham-saham memori AS seperti Micron Technology.

Menjelang debut hari Jumat, saham-saham Korea Selatan memimpin penguatan di pasar ekuitas Asia-Pasifik. Kospi bertambah 2,5% pada hari Jumat, sementara Nikkei 225 Jepang ditutup 1,2% lebih tinggi.

Indeks CSI 300 di Tiongkok daratan ditutup melemah 1,96%, terseret oleh sektor teknologi dan industri. Di tempat lain, indeks pan-Eropa Stoxx 600 ditutup sedikit di atas batas datar.

Meskipun saham cip mengalami beberapa tekanan baru-baru ini, saham-saham tersebut telah mengalami lonjakan besar sepanjang tahun ini. Pada tahun 2026, Micron telah melonjak lebih dari 200%. Lam Research, Marvell Technology, dan Intel, semuanya telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak awal tahun (year to date).

"Telah terjadi euforia yang begitu besar di sekitar ledakan AI yang merentang kembali ke musim panas 2023," kata Eric Parnell, kepala strategi pasar di Great Valley Advisor Group.

"Kita jelas berada dalam fase ledakan saat ini, namun saya memiliki kekhawatiran nyata mengenai potensi penurunan pada paruh kedua tahun ini."imbuhnya.

Pergerakan ini terjadi setelah saham-saham AS menguat pada hari Kamis, dibantu oleh pendinginan harga minyak setelah Presiden Donald Trump mengatakan bahwa Iran menelepon untuk membuat kesepakatan.

Qatar dan Pakistan sedang berusaha untuk membawa Washington dan Teheran kembali ke meja perundingan, ungkap para pejabat dari negara-negara tersebut kepada MS Now.

Seorang pejabat pemerintahan mengatakan kedua belah pihak akan melanjutkan pembicaraan teknis bahkan setelah serangan udara dari kedua belah pihak, MS Now melaporkan pada hari Kamis, dan menambahkan bahwa AS berkomitmen untuk menemukan solusi bagi konflik Timur Tengah.

Trump telah menyatakan pada awal minggu lalu bahwa gencatan senjata antara AS dan Iran telah berakhir.

Sejauh ini merupakan tahun yang baik bagi portofolio terdiversifikasi Bank of America yang disebut 25/25/25/25, kata ahli strategi Michael Hartnett dalam sebuah catatan pada hari Kamis. Portofolio yang terdiri dari porsi yang sama antara saham AS, obligasi, komoditas, dan uang tunai tersebut memiliki pengembalian tahunan sebesar 16% sejak awal tahun, yang terbaik sejak 2021, tulisnya.

"Diversifikasi alokasi aset menang meskipun ada konsentrasi ekuitas; kami berinvestasi melalui titik-titik infleksi jangka panjang dalam komoditas, pasar berkembang (EM), saham berkapitalisasi kecil, dan (mendatang) saham konsumen," kata Hartnett kepada CNBC International.

Memasuki pekan perdagangan minggu ini, pelaku pasar global dan domestik akan memfokuskan perhatian pada serangkaian rilis data makroekonomi esensial.

Data-data ini diproyeksikan akan memberikan indikasi lanjutan terkait arah kebijakan moneter dari bank sentral utama, efektivitas langkah pemulihan ekonomi, serta dampak dari eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap stabilitas harga komoditas global.

Indikator yang akan dirilis mencakup kinerja perdagangan, inflasi tingkat konsumen dan produsen, pertumbuhan ekonomi, hingga posisi utang luar negeri. Berikut adalah rincian jadwal rilis data ekonomi yang perlu dipantau oleh para pelaku pasar pada minggu ini.

Perkembangan Perang

Pasukan Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling melancarkan serangan rudal dan drone pada Minggu. Iran menyerang fasilitas militer AS di sejumlah negara Teluk sekaligus mengumumkan kembali penutupan Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dan LNG dunia sebelum perang.

Serangan Iran meluas hingga Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA), sementara AS membalas dengan serangan baru terhadap target-target militer Iran. Presiden AS Donald Trump mengatakan operasi militer tersebut berhasil. "Kami sedang menghajar mereka," ujarnya kepada Reuters.

Media Iran melaporkan ledakan di Bandar Abbas dan Pulau Qeshm. Di sisi lain, CENTCOM menyatakan telah menyerang lebih dari 300 target militer Iran dalam tiga hari terakhir untuk melemahkan kemampuan Teheran menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.

Blokade Iran terhadap Selat Hormuz terus memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Ketegangan juga mengancam kesepakatan sementara AS-Iran yang ditandatangani bulan lalu untuk membuka kembali selat tersebut dan melanjutkan perundingan damai.

Qatar, Bahrain, Oman, Yordania, Kuwait, dan UEA melaporkan serangan atau ancaman rudal dan drone dari Iran. Sementara itu, Iran menegaskan tidak akan lagi menerima "kesepakatan sepihak" dan memperingatkan AS untuk menepati komitmennya atau menghadapi konsekuensi.

Neraca Perdagangan China Juni 2026

Pada Selasa (14/7/2026), otoritas kepabeanan China akan mempublikasikan data neraca perdagangan untuk periode Juni 2026. Sebagai catatan, pada Mei 2026, China mencatatkan pelebaran surplus perdagangan menjadi US$ 105,43 miliar dari US$ 102,72 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Angka tersebut melampaui konsensus pasar yang memperkirakan surplus di level US$ 92,1 miliar, dan merupakan pencapaian tertinggi sejak bulan Januari.

Kenaikan surplus tersebut didorong oleh pertumbuhan ekspor yang terakselerasi sebesar 19,4% secara tahunan, mencapai US$ 376,78 miliar.

Pertumbuhan ini tercatat lebih tinggi dari bulan April (14,1%) dan berada di atas estimasi analis (15%). Peningkatan aktivitas ekspor ini sejalan dengan langkah korporasi global yang membangun inventaris untuk mengantisipasi tekanan harga energi akibat konflik Timur Tengah.

Sementara itu, impor China mengalami kenaikan 27,4% yoy menjadi US$ 271,35 miliar, melampaui ekspektasi 25%, yang mengindikasikan upaya pemerintah dalam menstimulasi konsumsi domestik.

Surplus perdagangan China dengan Amerika Serikat juga meningkat menjadi US$ 26,02 miliar pada bulan Mei. Untuk rilis data bulan Juni, konsensus pasar memproyeksikan surplus berada pada kisaran US$ 110 miliar.

Inflasi Konsumen Amerika Serikat Juni 2026

Masih pada Selasa (14/7/2026), Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat akan merilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) periode Juni 2026.

Pada bulan sebelumnya, laju inflasi tahunan AS mencatatkan kenaikan ke level 4,2% dari 3,8% di bulan April. Angka ini merupakan level tertinggi sejak April 2023 dan menunjukkan akselerasi inflasi headline selama tiga bulan berturut-turut.

Faktor utama pendorong inflasi ini adalah peningkatan biaya energi yang mencapai 23,5%, sebagai dampak langsung dari guncangan harga energi imbas konflik dengan Iran.

Harga bensin tercatat naik 40,5%, dan bahan bakar minyak meningkat 58,9%. Selain komponen energi, inflasi juga terlihat pada sektor perumahan (3,4%) dan makanan (3,1%).

Secara bulanan, CPI AS mengalami kenaikan 0,5%, dengan sektor energi menyumbang lebih dari 60% dari total kenaikan tersebut. Untuk inflasi inti (core inflation), laju tahunannya mencapai 2,9%, sedikit meningkat dari 2,8% di bulan April. Rilis data CPI bulan Juni ini diproyeksikan oleh konsensus akan berada di level 3,9%.

Pernyataan Ketua The Fed

Setelah data inflasi dirilis, pasar akan memperhatikan kesaksian Ketua The Fed di hadapan Kongres pada Selasa dan Rabu (14-15/7/2026)

Investor akan mencari sinyal mengenai arah suku bunga, risiko inflasi akibat harga energi, serta kemungkinan perubahan kebijakan pada pertemuan September. Ekspektasi kenaikan suku bunga meningkat setelah inflasi AS mencapai level tertinggi dalam tiga tahun dan The Fed menyampaikan sikap hawkish pada rapat Juni.

Walaupun sikap Kevin Warsh sangat berhati-hati pada pernyataan-pernyataannya, dua hari ini menjadi hari sangat penting karena apapun yang keluar dari mulut Ketua The Fed yang baru ini, market akan dengan mudah bereaksi ke pasar domestik maupun internasional.

New U.S. Federal Reserve Chairman Kevin Warsh holds a press conference following a two-day meeting of the Federal Open Market Committee (FOMC), at the U.S. Federal Reserve in Washington, D.C., U.S. June 17, 2026. REUTERS/Eric LeeNew U.S. Federal Reserve Chairman Kevin Warsh holds a press conference following a two-day meeting of the Federal Open Market Committee (FOMC), at the U.S. Federal Reserve in Washington, D.C., U.S. June 17, 2026. REUTERS/Eric Lee Foto: REUTERS/Eric Lee

PDB China Kuartal II-2026

Pada hari Rabu, Biro Statistik Nasional China akan mengumumkan data Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kuartal kedua tahun 2026.

Pada kuartal pertama sebelumnya, ekonomi China mencatatkan ekspansi sebesar 5,0% yoy, melampaui estimasi sebesar 4,8% dan lebih tinggi dari kuartal keempat tahun sebelumnya (4,5%). Pertumbuhan ini didukung oleh stabilitas kinerja ekspor di tengah tantangan konflik geopolitik.

Walaupun China mampu meredam volatilitas dengan cadangan minyak dan diversifikasi energi, beberapa indikator menunjukkan momentum ekonomi yang belum sepenuhnya merata.

Pertumbuhan output industri tercatat melebihi ekspektasi, namun belanja konsumen belum menunjukkan penguatan yang proporsional, sementara investasi aset tetap tumbuh pada tingkat yang lebih lambat.

Konsensus pasar saat ini mengestimasikan PDB China untuk kuartal kedua akan mencatatkan pertumbuhan di level 4,6%.

Penjualan Ritel China Juni 2026

Bersamaan dengan data PDB, data penjualan ritel China untuk bulan Juni juga akan dipublikasikan. Pada bulan Mei 2026, penjualan ritel mencatatkan kontraksi sebesar 0,6% yoy, yang merupakan penurunan pertama sejak Desember 2022.

Angka ini berada di bawah ekspektasi pasar yang memproyeksikan pembacaan stagnan (0,0%).

Penurunan pengeluaran konsumen terlihat paling signifikan pada sektor otomotif yang turun 16,1%. Koreksi juga terjadi pada penjualan peralatan rumah tangga (-15,6%), material bangunan (-13,6%), perhiasan emas dan perak (-8,9%), furnitur (-8,7%), dan produk olahraga (-8,0%).

Peningkatan penjualan hanya terjadi secara selektif pada kategori minuman (6,1%), tembakau dan alkohol (4,8%), serta obat-obatan (4,0%).

Rilis data penjualan ritel bulan Juni akan menjadi indikator penting mengenai tren daya beli konsumen, dengan konsensus memperkirakan pertumbuhan tipis di level 0,2%.

PPI Amerika Serikat Juni 2026

Data inflasi dari sisi produsen (PPI) di Amerika Serikat untuk bulan Juni juga dijadwalkan rilis pada Rabu (15/7/2026).

Pada bulan Mei 2026, PPI tahunan AS terakselerasi menjadi 6,5%, menandai kenaikan selama empat bulan berturut-turut dan mencapai tingkat tertinggi sejak November 2022.

Angka tersebut melampaui revisi bulan April yang berada di 5,7% serta di atas proyeksi pasar sebesar 6,4%. Untuk bulan Juni, analis memperkirakan indeks PPI akan berada pada level 6,3%.

SULNI Mei 2026

Pada Rabu (15/7/2026), Bank Indonesia (BI) dijadwalkan akan merilis laporan Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) untuk periode Mei 2026 pada hari Rabu Publikasi ini merupakan indikator penting dalam mengevaluasi stabilitas eksternal makroekonomi Indonesia.

Merujuk pada data historis terdekat, posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada April 2026 tercatat sebesar US$ 439,8 miliar. Secara tahunan, posisi tersebut tumbuh sebesar 1,9% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan Maret 2026 yang sebesar 1,0% (yoy).

Peningkatan tersebut bersumber dari kenaikan pada sektor publik. Secara rinci, ULN pemerintah pada bulan April 2026 mencapai US$ 216,4 miliar, tumbuh 3,7% (yoy).

Struktur utang pemerintah didominasi oleh portofolio jangka panjang (99,99%) dengan alokasi sektoral terbesar pada jasa kesehatan (22,0%), administrasi publik (20,5%), pendidikan (16,2%), dan konstruksi (11,5%).

Penjualan Ritel Amerika Serikat Juni 2026

Pada hari Kamis, pasar akan memperhatikan data penjualan ritel AS untuk bulan Juni. Pada Mei 2026, penjualan ritel AS mencatatkan peningkatan sebesar 6,9% yoy, sebuah akselerasi dari pertumbuhan 4,8% di bulan April.

Kenaikan tahunan tertinggi sejak Januari 2023 ini didorong secara dominan oleh lonjakan 26,5% pada penerimaan stasiun pengisian bahan bakar akibat kenaikan biaya energi.

Konsensus analis memperkirakan penjualan ritel AS pada bulan Juni akan tumbuh pada kisaran 6,7%.

Inflasi Zona Euro Juni 2026

Menutup rangkaian data minggu ini, tingkat inflasi konsumen kawasan Zona Euro untuk periode Juni 2026 akan dirilis pada hari Jumat. Data pendahuluan (preliminary) menunjukkan inflasi turun menjadi 2,8% di bulan Juni dari 3,2% di bulan Mei, berada di bawah ekspektasi pasar (3,0%).

Faktor utama penurunan inflasi ini adalah koreksi pada inflasi energi, yang turun dari 10,8% menjadi 8,7%. Penurunan tingkat harga juga dicatatkan oleh sektor jasa (3,2%) dan kebutuhan pangan (1,6%), sementara harga barang industri non-energi tercatat stabil pada 0,9%.

Inflasi inti Zona Euro juga turun dari 2,6% menjadi 2,4%. Namun, tingkat inflasi secara keseluruhan masih berada di atas target European Central Bank (ECB) yang sebesar 2,0%.

Rilis data final ini akan menjadi bahan pertimbangan bagi ECB dalam mengevaluasi arah kebijakan suku bunga di kawasan tersebut.

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • Neraca Perdagangan Turki Mei 2026
  • Inflasi India Juni 2026
  • Neraca Perdagangan Rusia Mei 2026
  • Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat

  • Rapat Dengar Pendapat Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat dengan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan di ruang rapat Komisi V DPR, Senayan, Jakarta Pusat

  • Forum Silaturahmi dan Dialog Perpajakan 2026 dengan tema: "Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global" bertempat di Aula Cakti Buddhi Bhakti, Gedung Marie Muhammad, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Jakarta Selatan

  • Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas mengadakan dialog kebijakan nasional "Kenaikan Muka Air Laut" di kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta Pusat

  • Rapat Panja RUU tentang Pusat Finansial Internasional Indonesia di ruang rapat Komisi XI DPR, Senayan, Jakarta Pusat.

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

  • Pemberitahuan RUPS Rencana Modern Internasional Tbk (MDRN)

  • Tanggal Distribusi HMETD PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk (CASH)

  • Tanggal Distribusi HMETD PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk (RMKO)

  • Tanggal Distribusi HMETD PT Singaraja Putra Tbk (SINI)

  • Tanggal Distribusi HMETD PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC)

  • Tanggal Distribusi HMETD Bakrie & Brothers Tbk (BNBR)

  • Tanggal Distribusi HMETD PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO)

  • Tanggal Distribusi HMETD Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI)

Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]



Most Popular
Features