MARKET DATA
Newsletter

Pekan Berat untuk RI, Badai Data dari China dan AS Siap Menghantam

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
13 July 2026 06:25
bendera as china
Foto: bendera as china

Memasuki pekan perdagangan minggu ini, pelaku pasar global dan domestik akan memfokuskan perhatian pada serangkaian rilis data makroekonomi esensial.

Data-data ini diproyeksikan akan memberikan indikasi lanjutan terkait arah kebijakan moneter dari bank sentral utama, efektivitas langkah pemulihan ekonomi, serta dampak dari eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap stabilitas harga komoditas global.

Indikator yang akan dirilis mencakup kinerja perdagangan, inflasi tingkat konsumen dan produsen, pertumbuhan ekonomi, hingga posisi utang luar negeri. Berikut adalah rincian jadwal rilis data ekonomi yang perlu dipantau oleh para pelaku pasar pada minggu ini.

Perkembangan Perang

Pasukan Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling melancarkan serangan rudal dan drone pada Minggu. Iran menyerang fasilitas militer AS di sejumlah negara Teluk sekaligus mengumumkan kembali penutupan Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dan LNG dunia sebelum perang.

Serangan Iran meluas hingga Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA), sementara AS membalas dengan serangan baru terhadap target-target militer Iran. Presiden AS Donald Trump mengatakan operasi militer tersebut berhasil. "Kami sedang menghajar mereka," ujarnya kepada Reuters.

Media Iran melaporkan ledakan di Bandar Abbas dan Pulau Qeshm. Di sisi lain, CENTCOM menyatakan telah menyerang lebih dari 300 target militer Iran dalam tiga hari terakhir untuk melemahkan kemampuan Teheran menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.

Blokade Iran terhadap Selat Hormuz terus memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Ketegangan juga mengancam kesepakatan sementara AS-Iran yang ditandatangani bulan lalu untuk membuka kembali selat tersebut dan melanjutkan perundingan damai.

Qatar, Bahrain, Oman, Yordania, Kuwait, dan UEA melaporkan serangan atau ancaman rudal dan drone dari Iran. Sementara itu, Iran menegaskan tidak akan lagi menerima "kesepakatan sepihak" dan memperingatkan AS untuk menepati komitmennya atau menghadapi konsekuensi.

Neraca Perdagangan China Juni 2026

Pada Selasa (14/7/2026), otoritas kepabeanan China akan mempublikasikan data neraca perdagangan untuk periode Juni 2026. Sebagai catatan, pada Mei 2026, China mencatatkan pelebaran surplus perdagangan menjadi US$ 105,43 miliar dari US$ 102,72 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Angka tersebut melampaui konsensus pasar yang memperkirakan surplus di level US$ 92,1 miliar, dan merupakan pencapaian tertinggi sejak bulan Januari.

Kenaikan surplus tersebut didorong oleh pertumbuhan ekspor yang terakselerasi sebesar 19,4% secara tahunan, mencapai US$ 376,78 miliar.

Pertumbuhan ini tercatat lebih tinggi dari bulan April (14,1%) dan berada di atas estimasi analis (15%). Peningkatan aktivitas ekspor ini sejalan dengan langkah korporasi global yang membangun inventaris untuk mengantisipasi tekanan harga energi akibat konflik Timur Tengah.

Sementara itu, impor China mengalami kenaikan 27,4% yoy menjadi US$ 271,35 miliar, melampaui ekspektasi 25%, yang mengindikasikan upaya pemerintah dalam menstimulasi konsumsi domestik.

Surplus perdagangan China dengan Amerika Serikat juga meningkat menjadi US$ 26,02 miliar pada bulan Mei. Untuk rilis data bulan Juni, konsensus pasar memproyeksikan surplus berada pada kisaran US$ 110 miliar.

Inflasi Konsumen Amerika Serikat Juni 2026

Masih pada Selasa (14/7/2026), Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat akan merilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) periode Juni 2026.

Pada bulan sebelumnya, laju inflasi tahunan AS mencatatkan kenaikan ke level 4,2% dari 3,8% di bulan April. Angka ini merupakan level tertinggi sejak April 2023 dan menunjukkan akselerasi inflasi headline selama tiga bulan berturut-turut.

Faktor utama pendorong inflasi ini adalah peningkatan biaya energi yang mencapai 23,5%, sebagai dampak langsung dari guncangan harga energi imbas konflik dengan Iran.

Harga bensin tercatat naik 40,5%, dan bahan bakar minyak meningkat 58,9%. Selain komponen energi, inflasi juga terlihat pada sektor perumahan (3,4%) dan makanan (3,1%).

Secara bulanan, CPI AS mengalami kenaikan 0,5%, dengan sektor energi menyumbang lebih dari 60% dari total kenaikan tersebut. Untuk inflasi inti (core inflation), laju tahunannya mencapai 2,9%, sedikit meningkat dari 2,8% di bulan April. Rilis data CPI bulan Juni ini diproyeksikan oleh konsensus akan berada di level 3,9%.

Pernyataan Ketua The Fed

Setelah data inflasi dirilis, pasar akan memperhatikan kesaksian Ketua The Fed di hadapan Kongres pada Selasa dan Rabu (14-15/7/2026)

Investor akan mencari sinyal mengenai arah suku bunga, risiko inflasi akibat harga energi, serta kemungkinan perubahan kebijakan pada pertemuan September. Ekspektasi kenaikan suku bunga meningkat setelah inflasi AS mencapai level tertinggi dalam tiga tahun dan The Fed menyampaikan sikap hawkish pada rapat Juni.

Walaupun sikap Kevin Warsh sangat berhati-hati pada pernyataan-pernyataannya, dua hari ini menjadi hari sangat penting karena apapun yang keluar dari mulut Ketua The Fed yang baru ini, market akan dengan mudah bereaksi ke pasar domestik maupun internasional.

New U.S. Federal Reserve Chairman Kevin Warsh holds a press conference following a two-day meeting of the Federal Open Market Committee (FOMC), at the U.S. Federal Reserve in Washington, D.C., U.S. June 17, 2026. REUTERS/Eric LeeNew U.S. Federal Reserve Chairman Kevin Warsh holds a press conference following a two-day meeting of the Federal Open Market Committee (FOMC), at the U.S. Federal Reserve in Washington, D.C., U.S. June 17, 2026. REUTERS/Eric Lee Foto: REUTERS/Eric Lee

PDB China Kuartal II-2026

Pada hari Rabu, Biro Statistik Nasional China akan mengumumkan data Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kuartal kedua tahun 2026.

Pada kuartal pertama sebelumnya, ekonomi China mencatatkan ekspansi sebesar 5,0% yoy, melampaui estimasi sebesar 4,8% dan lebih tinggi dari kuartal keempat tahun sebelumnya (4,5%). Pertumbuhan ini didukung oleh stabilitas kinerja ekspor di tengah tantangan konflik geopolitik.

Walaupun China mampu meredam volatilitas dengan cadangan minyak dan diversifikasi energi, beberapa indikator menunjukkan momentum ekonomi yang belum sepenuhnya merata.

Pertumbuhan output industri tercatat melebihi ekspektasi, namun belanja konsumen belum menunjukkan penguatan yang proporsional, sementara investasi aset tetap tumbuh pada tingkat yang lebih lambat.

Konsensus pasar saat ini mengestimasikan PDB China untuk kuartal kedua akan mencatatkan pertumbuhan di level 4,6%.

Penjualan Ritel China Juni 2026

Bersamaan dengan data PDB, data penjualan ritel China untuk bulan Juni juga akan dipublikasikan. Pada bulan Mei 2026, penjualan ritel mencatatkan kontraksi sebesar 0,6% yoy, yang merupakan penurunan pertama sejak Desember 2022.

Angka ini berada di bawah ekspektasi pasar yang memproyeksikan pembacaan stagnan (0,0%).

Penurunan pengeluaran konsumen terlihat paling signifikan pada sektor otomotif yang turun 16,1%. Koreksi juga terjadi pada penjualan peralatan rumah tangga (-15,6%), material bangunan (-13,6%), perhiasan emas dan perak (-8,9%), furnitur (-8,7%), dan produk olahraga (-8,0%).

Peningkatan penjualan hanya terjadi secara selektif pada kategori minuman (6,1%), tembakau dan alkohol (4,8%), serta obat-obatan (4,0%).

Rilis data penjualan ritel bulan Juni akan menjadi indikator penting mengenai tren daya beli konsumen, dengan konsensus memperkirakan pertumbuhan tipis di level 0,2%.

PPI Amerika Serikat Juni 2026

Data inflasi dari sisi produsen (PPI) di Amerika Serikat untuk bulan Juni juga dijadwalkan rilis pada Rabu (15/7/2026).

Pada bulan Mei 2026, PPI tahunan AS terakselerasi menjadi 6,5%, menandai kenaikan selama empat bulan berturut-turut dan mencapai tingkat tertinggi sejak November 2022.

Angka tersebut melampaui revisi bulan April yang berada di 5,7% serta di atas proyeksi pasar sebesar 6,4%. Untuk bulan Juni, analis memperkirakan indeks PPI akan berada pada level 6,3%.

SULNI Mei 2026

Pada Rabu (15/7/2026), Bank Indonesia (BI) dijadwalkan akan merilis laporan Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) untuk periode Mei 2026 pada hari Rabu Publikasi ini merupakan indikator penting dalam mengevaluasi stabilitas eksternal makroekonomi Indonesia.

Merujuk pada data historis terdekat, posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada April 2026 tercatat sebesar US$ 439,8 miliar. Secara tahunan, posisi tersebut tumbuh sebesar 1,9% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan Maret 2026 yang sebesar 1,0% (yoy).

Peningkatan tersebut bersumber dari kenaikan pada sektor publik. Secara rinci, ULN pemerintah pada bulan April 2026 mencapai US$ 216,4 miliar, tumbuh 3,7% (yoy).

Struktur utang pemerintah didominasi oleh portofolio jangka panjang (99,99%) dengan alokasi sektoral terbesar pada jasa kesehatan (22,0%), administrasi publik (20,5%), pendidikan (16,2%), dan konstruksi (11,5%).

Penjualan Ritel Amerika Serikat Juni 2026

Pada hari Kamis, pasar akan memperhatikan data penjualan ritel AS untuk bulan Juni. Pada Mei 2026, penjualan ritel AS mencatatkan peningkatan sebesar 6,9% yoy, sebuah akselerasi dari pertumbuhan 4,8% di bulan April.

Kenaikan tahunan tertinggi sejak Januari 2023 ini didorong secara dominan oleh lonjakan 26,5% pada penerimaan stasiun pengisian bahan bakar akibat kenaikan biaya energi.

Konsensus analis memperkirakan penjualan ritel AS pada bulan Juni akan tumbuh pada kisaran 6,7%.

Inflasi Zona Euro Juni 2026

Menutup rangkaian data minggu ini, tingkat inflasi konsumen kawasan Zona Euro untuk periode Juni 2026 akan dirilis pada hari Jumat. Data pendahuluan (preliminary) menunjukkan inflasi turun menjadi 2,8% di bulan Juni dari 3,2% di bulan Mei, berada di bawah ekspektasi pasar (3,0%).

Faktor utama penurunan inflasi ini adalah koreksi pada inflasi energi, yang turun dari 10,8% menjadi 8,7%. Penurunan tingkat harga juga dicatatkan oleh sektor jasa (3,2%) dan kebutuhan pangan (1,6%), sementara harga barang industri non-energi tercatat stabil pada 0,9%.

Inflasi inti Zona Euro juga turun dari 2,6% menjadi 2,4%. Namun, tingkat inflasi secara keseluruhan masih berada di atas target European Central Bank (ECB) yang sebesar 2,0%.

Rilis data final ini akan menjadi bahan pertimbangan bagi ECB dalam mengevaluasi arah kebijakan suku bunga di kawasan tersebut.

(gls/gls) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features