MARKET DATA
Newsletter

8 Sentimen Penentu IHSG & Rupiah Pekan Ini: OPEC+, The Fed - China

mae,  CNBC Indonesia
06 July 2026 06:25
Ilustrasi Trading (Dok MIFX)
Foto: Ilustrasi Trading (Dok MIFX)
  • Pasar keuangan Indonesia kompak menguat pada pekan lalu, saham dan rupiah ada di zona hijau
  • Pasar saham global ditutup positif pada pekan lalu
  • Data ekonomi dalam dan luar negeri diperkirakan akan menjadi penggerak pasar keuangan hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia mengakhiri pekan lalu di zona hijau. Bursa saham dan rupiah menguat meski belum membaik bila dihitung dalam sepekan.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan melanjutkan tren positif pada hari ini dan sepekan ke depan. Selengkapnya mengena proyeksi pasar saham hari ini dan sepekan ke depan bsia dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat lebih dari 2% pada penutupan perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (3/7/2026), meski secara sepekan masih melemah. Reli indeks terutama ditopang saham-saham berkapitalisasi jumbo, sementara likuiditas pasar masih tergolong tipis.

Mengacu data Refinitiv, IHSG ditutup menguat 2,28% atau 131,22 poin ke level 5.875,78. Penguatan berlangsung merata dengan 494 saham menguat, 154 saham melemah, dan 139 saham bergerak stagnan.

Di balik lonjakan indeks, nilai transaksi tercatat baru mencapai Rp10,5 triliun dengan volume 18,2 miliar saham yang diperdagangkan dalam 1,36 juta kali transaksi. Adapun kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia naik menjadi Rp10.287 triliun.

Seluruh sektor berhasil menghijau. Sektor utilitas memimpin penguatan dengan kenaikan 3,61%, disusul sektor bahan baku 3,39% dan teknologi 2,46%.

Reli IHSG kali ini ditopang solidnya kinerja saham-saham perbankan, konglomerasi, pusat data, hingga komoditas. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi kontributor terbesar diikuti PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).

 

Di sisi lain, tekanan terhadap IHSG relatif terbatas. Penekan terbesar datang dari PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) disusul PT Barito Pacific Tbk (BRPT).

Sementara itu, investor asing kembali mencatatkan beli bersih (net buy) Rp 6,04 miliar di seluruh pasar.

Dalam sepekan, IHSG masih melemah 0,35% yang sekaligus memperpanjang tren negatifnya dengan merosot dua pekan beruntun,

Dari pasar mata uang Indonesia, rupiah akhirnya berhasil bangkit pada penutupan perdagangan terakhir pekan lalu setelah tiga hari berturut-turut tertekan. Meski begitu, penguatan tersebut belum cukup untuk menghapus tekanan yang membayangi mata uang Garuda sepanjang pekan.

Mengacu data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,24% ke level Rp17.945/US$ pada perdagangan Jumat (3/7/2026). Namun secara point-to-point, rupiah masih mencatat pelemahan 0,22% dalam sepekan.

Fakta ini menunjukkan tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda. Terlebih, nilai tukar masih bertahan di dekat level psikologis Rp18.000/US$, menandakan dolar AS masih memiliki cengkeraman kuat terhadap mata uang domestik.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) stagnan di 7,153% selama tiga hari beruntun.

Pasar saham global ditutup menguat pada Jumat pekan lalu sementara bursa AS Wall Street ditutup pada Jumat seiring libur Hari Kemerdekaan Amerika Serikat (Independence Day).

Saham-saham di bursa Eropa mengakhiri perdagangan Jumat di zona hijau setelah bergerak bervariasi pada sesi awal perdagangan.

Indeks pan-Eropa Stoxx 600 naik 0,69% saat penutupan perdagangan dan mencetak level tertinggi baru dalam 52 minggu. Indeks acuan tersebut juga mencatat kenaikan mingguan untuk pekan keempat berturut-turut.

Sektor utilitas memimpin penguatan di kawasan Eropa dengan kenaikan 1,78%, seiring investor terus mencari aset yang lebih defensif.

 

Di Frankfurt, indeks DAX Jerman ditutup naik 0,85%, menjadi yang terbaik di antara bursa utama Eropa. Sementara itu, indeks FTSE MIB Italia menguat 0,77%, indeks CAC 40 Prancis naik 0,48%, dan indeks FTSE 100 Inggris bertambah 0,19%.

Pergerakan indeks utama Eropa:

  • CAC 40 (Prancis): 8.508,07 ( 0,39%)
  • FTSE MIB (Italia): 52.818,85 ( 0,75%)
  • FTSE 100 (Inggris): 10.679,03 ( 0,25%)
  • DAX (Jerman): 25.779,31 ( 0,78%)
  • IBEX 35 (Spanyol): 19.852,40 ( 0,92%)
  • STOXX Europe 600: 652,77 ( 0,68%)

Sebelumnya di Asia, indeks acuan Nikkei 225 Jepang memimpin penguatan dengan naik 1,47%, sementara Topix menguat 1,17%. Indeks Kospi Korea Selatan melonjak 5,76%, sedangkan Kosdaq justru turun 1,68%.

Di Australia, indeks S&P/ASX 200 naik 1,37%. Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong menguat 1,28%, indeks CSI 300 China naik 1,15%, dan indeks Taiex Taiwan bertambah tipis 0,2%.

 

Pada perdagangan terakhir pekan lalu, Kamis (3/7/2026) di Amerika Serikat, pasar saham ditutup bervariasi. Dow Jones Industrial Average mencetak rekor penutupan tertinggi setelah laporan ketenagakerjaan AS periode Juni yang lebih lemah dari perkiraan meningkatkan harapan bahwa Federal Reserve (The Fed) akan segera memangkas suku bunga. Di sisi lain, pelemahan saham-saham semikonduktor membebani Nasdaq.

Indeks Dow Jone naik 594,83 poin atau 1,14% ke rekor penutupan 52.900,07. Dow juga sempat menyentuh rekor intraday baru di 52.903,85. Sementara itu, S&P 500 naik kurang dari 1 poin menjadi 7.483,24, sedangkan Nasdaq turun 0,8% ke 25.832,67.

Sektor semikonduktor melemah untuk hari kedua berturut-turut dan menjadi beban bagi S&P 500 maupun Nasdaq. ETF VanEck Semiconductor (SMH) merosot 4,5%, dipimpin oleh penurunan saham Teradyne sebesar 13,6% dan KLA sebesar 11,5%. Saham NVIDIA juga terkoreksi 1,4%, sementara saham Micron Technology turun 5,5%.

 

Sejumlah data ekonomi penting akan menjadi penentu arah pasar keuangan global dan domestic hari ini dan sepanjang pekan ke depan.

Dari Amerika Serikat, investor akan menanti indikator sektor jasa hingga risalah rapat Federal Reserve (The Fed). Sementara dari dalam negeri, perhatian tertuju pada cadangan devisa, keyakinan konsumen, hingga survei penjualan eceran Bank Indonesia.

Data-data keyakinan konsumen dan survei penjualan sangat penting untuk mengukur kekuatan dan daya tahan konsumen Indonesia hingga tengah tahun 2026.

1. OPEC Naikkan Produksi, Apa Dampaknya?

OPEC kembali sepakat menaikkan target produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari (bph) mulai Agustus. Keputusan yang diumumkan pada Minggu (5/7/2026) menambah pasokan global di tengah pelemahan harga minyak dan mulai pulihnya ekspor melalui Selat Hormuz.

Kenaikan tersebut menyusul tambahan kuota dengan besaran yang sama pada Juni dan Juli. Secara kumulatif, tujuh anggota inti OPEC telah menaikkan target produksi hampir 800.000 bph sejak April.

Meski demikian, realisasi produksi belum sepenuhnya meningkat akibat perang AS-Israel-Iran yang sempat mengganggu lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz. Produksi OPEC tercatat turun menjadi 33,13 juta bph pada Mei dari 42,77 juta bph pada Februari, sebelum mulai pulih pada Juni.

Di sisi lain, harga minyak telah kembali ke kisaran US$72 per barel, jauh di bawah puncaknya di atas US$120 per barel. Pelemahan harga dipicu turunnya impor minyak China, meningkatnya pasokan dari produsen di luar Timur Tengah, serta pelepasan cadangan minyak strategis global.

OPEC juga menghadapi tantangan baru setelah Uni Emirat Arab (UEA) keluar dari aliansi dan Irak mendorong kuota produksi yang lebih besar. Menurut perhitungan Reuters, tujuh anggota inti masih memiliki sekitar 379.000 bph pemangkasan produksi yang belum dikembalikan ke pasar. Jika kembali menaikkan produksi pada pertemuan 2 Agustus mendatang, pemangkasan produksi yang disepakati pada 2023 diperkirakan akan sepenuhnya berakhir.

2. ISM Services PMI AS, Seberapa Kencang Sektor Jasa Amerika?

Pekan ini dibuka dengan rilis ISM Services PMI Amerika Serikat periode Juni 2026 pada Senin malam waktu Indonesia (6/7/2026) Konsensus memperkirakan indeks turun tipis ke 54,2 dari 54,5 pada Mei.

Meski diproyeksikan melandai, level tersebut masih mencerminkan ekspansi sektor jasa. Pasar akan mengukur apakah ekonomi AS tetap solid sekaligus mencermati tekanan harga yang masih tinggi sebagai petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed.

3. Cadangan Devisa RI Sorotan, Seberapa Besar Buat Operasi Moneter?

Bank Indonesia akan merilis cadangan devisa Juni 2026 pada Selasa (7/7/2026). Sebelumnya, posisi cadangan devisa turun menjadi US$144,9 miliar akibat pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi stabilisasi rupiah.

Meski demikian, level tersebut masih dinilai sangat aman karena mampu membiayai 5,6 bulan impor. Pasar akan melihat apakah cadangan devisa kembali meningkat di tengah tekanan terhadap rupiah.

4. Indeks Keyakinan Konsumen, Seberapa Besar Warga RI Optimis?

Pada Rabu (8/7/2026), Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan data Indeks Keyakinan Konsumen Juni 2026.

Sebelumnya, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di level 120,9 pada Mei 2026, masih berada di zona optimistis meski sedikit melemah. Data ini menjadi indikator penting untuk mengukur daya tahan konsumsi rumah tangga sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Meski masih berada di atas level 100 yang menandakan konsumen tetap optimistis, penurunan tersebut mengindikasikan kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi mulai terkikis.

Pelemahan terutama berasal dari Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang turun ke 112,2 dari 116,5, menandakan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini semakin hati-hati.

Di sisi lain, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) masih bertahan tinggi di 129,7, sedikit naik dari 129,6 pada bulan sebelumnya. Ini menunjukkan masyarakat masih percaya kondisi ekonomi dalam enam bulan ke depan akan tetap membaik.

5. Laporan Penjualan Ritel, Daya Beli Warga RI Masih Tinggi?

BI akan mengumumkan data Penjualan Ritel Mei pada Kamis (9/7/2026). BI memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Mei 2026 berada di level 225,0, mencerminkan aktivitas belanja yang tetap terjaga meski momentum Ramadan dan Idulfitri telah berlalu.

Secara bulanan, kontraksi penjualan diperkirakan menyempit menjadi 0,9% (month-to-month/mtm), jauh lebih baik dibandingkan penurunan 11,6% pada April. Perbaikan ini ditopang meningkatnya permintaan selama rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), seperti Waisak, Kenaikan Yesus Kristus, dan Iduladha.

Dari sisi tahunan, pertumbuhan penjualan terutama didorong oleh kelompok suku cadang dan aksesori kendaraan, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta barang lainnya.

Sebagai perbandingan, IPR April tercatat 226,9. Meski masih tumbuh secara tahunan, penjualan eceran kala itu terkontraksi cukup dalam secara bulanan akibat normalisasi konsumsi setelah lonjakan belanja selama Ramadan dan Idulfitri.

Data ini akan menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur apakah konsumsi rumah tangga-penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia-masih mampu bertahan di tengah tekanan suku bunga yang tinggi dan ketidakpastian global.

6.  Awas, Risalah FOMC Bisa Guncang Pasar

Agenda terpenting pekan ini datang pada Rabu dini hari (8/7/2026) melalui publikasi risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC)

Investor akan membedah setiap pernyataan pejabat Federal Reserve guna mencari petunjuk mengenai prospek suku bunga. Pasar ingin mengetahui apakah mayoritas pembuat kebijakan masih condong mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer) atau mulai membuka peluang pelonggaran kebijakan dalam beberapa bulan mendatang.

7. Inflasi China, Akankah Memanas?

China akan mengumumkan data inflasi periode Juni 2026 pada Kamis (9/7/2026). Inflasi diperkirakan naik tipis menjadi 1,3% secara tahunan dari 1,2% pada Mei. Angka tersebut akan menjadi barometer kekuatan permintaan domestik ekonomi terbesar kedua di dunia.

Sebagai catatan. inflasi China pada Mei 2026 masih menunjukkan tren yang relatif terkendali. Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) tercatat naik 1,2% secara tahunan (year-on-year/yoy), sama seperti April, meski sedikit di bawah ekspektasi pasar sebesar 1,3%.

Kenaikan harga terutama didorong oleh sektor non-pangan, khususnya transportasi akibat lonjakan harga energi serta kenaikan harga bensin dan jasa.

Namun, laju inflasi masih tertahan oleh penurunan harga pangan, terutama daging babi. Di sisi lain, tekanan harga di tingkat produsen semakin meningkat. Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) melonjak 3,9% yoy, menjadi level tertinggi sejak Juli 2022, seiring kenaikan harga minyak dan komoditas akibat gejolak di Timur Tengah. Kondisi ini menunjukkan tekanan biaya produksi mulai menguat, meski belum sepenuhnya diteruskan ke konsumen.

8. Data Eropa, Apa Saja yang Penting Pekan Ini?

Di Eropa, perhatian pasar akan tertuju pada publikasi risalah rapat kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis. Dalam pertemuan Juni, ECB menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, menjadi kenaikan pertama sejak 2023 dan membawa suku bunga deposito acuan ke level 2,25%.

Dari sisi data ekonomi, penjualan ritel Zona Euro diperkirakan kembali meningkat. Di Jerman, produksi industri diproyeksikan naik untuk bulan kedua berturut-turut, sementara pesanan pabrik diperkirakan pulih. Namun, surplus perdagangan negara tersebut diperkirakan menyusut untuk bulan keempat secara beruntun.

Di Prancis, defisit perdagangan diperkirakan menyempit, sedangkan di Italia, produksi industri diproyeksikan meningkat untuk bulan keempat berturut-turut.

Berikut beberapa agenda ekonomi hari ini:

  • Pertemuan Presiden Republik Indonesia dan Perdana Menteri Singapura di Istana Merdeka, Jakarta Pusat

  • Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat.

  • Rapat Kerja Komisi IX DPR dengan Menteri Ketenagakerjaan dan Kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi di ruang rapat Komisi IX DPR, Senayan, Jakarta Pusat.

  • Pertemuan Menteri Perumahan dengan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan di kantor OJK, Menara Radius Prawiro, Jakarta Pusat.

  • Seminar on Scams: "Strengthening Defenses Against Scams: Addressing AML Vulnerabilities and Compliance in Digital Finance and Virtual Assets" di DoubleTree Hotel, Cikini, Jakarta Pusat. Narasumber: Ketua Dewan Komisioner OJK, Kepala Eksekutif PEPK OJK, dan UN Resident Coordinator in Indonesia.

  • Rapat Dengar Pendapat Komisi VI DPR dengan PT Agrinas Palma Nusantara di ruang rapat Komisi VI DPR, Senayan, Jakarta Pusat

  • RDP Komisi VI DPR dengan Holding BUMN Perkebunan (PTPN III) di ruang rapat Komisi VI DPR, Senayan, Jakarta Pusat

  • RDP Komisi XI DPR dengan Direktur Utama Bank Himbara di ruang rapat Komisi XI DPR, Senayan, Jakarta Pusat

  • Pertemuan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman dengan Ketua Dewan Komisioner OJK di ruang rapat serbaguna Menara Radius Prawiro, Komplek Perkantoran Bank Indonesia, Jakarta Pusat.

Berikut Agenda korporasi hari ini:

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Indonesia Fibreboard Industry Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai Asahimas Flat Glass Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai Ciputra Development Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai PT Transcoal Pacific Tbk.

Tanggal cum Dividen Tunai Trust Finance Indonesia Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai PT Pratama Widya Tbk.

Tanggal cum HMETD PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai PT FAP Agri Tbk

Tanggal cum HMETD PT Panca Global Kapital Tbk.

Tanggal cum Dividen Tunai Indofood CBP Sukses Makmur Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai Indofood Sukses Makmur Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai Asuransi Dayin Mitra Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai PT FAP Agri Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai PT Prime Agri Resources Tbk

Berikut indikator ekonomi terbaru:


(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article IHSG-Rupiah Hari Ini Bertarung Melawan "Panasnya" Ekonomi Amerika


Most Popular
Features