Amerika Beri 'Kado' Jelang HUT ke-250, IHSG-Rupiah Bisa Senyum Bareng
- Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam kemarin, rupiah melemah sementara bursa saham menguat
- Wall Street juga ditutup beragam
- Data ekonomi dalam dan luar negeri akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam pada perdagangan kemarin. Rupiah melemah sementara bursa saham menguat tipis.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan kompak menguat pada akhir pekan ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentiment pasar keuangan Indonesia hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memangkas sebagian penguatannya pada akhir perdagangan Kamis (2/7/2026). Setelah sempat melesat lebih dari 1%, IHSG akhirnya ditutup naik 0,87% atau 49,44 poin ke level 5.744,56.
Kenaikan indeks ditopang oleh 395 saham yang menguat, sementara 169 saham melemah dan 219 saham bergerak stagnan. Meski demikian, aktivitas perdagangan masih relatif sepi dengan nilai transaksi Rp11,1 triliun dan volume 20,6 miliar saham dalam 1,49 juta kali transaksi.
Asing mencatat net sell sebesar Rp 237,87 miliar.
Penguatan IHSG terutama ditopang sektor bahan baku yang naik 2,22%, disusul industri 1,78%, konsumer non-primer 1,74%, dan finansial 1,67%.
Saham-saham bank berkapitalisasi besar menjadi motor utama pergerakan indeks. Nilai transaksi Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Central Asia (BBCA), dan Bank Mandiri (BMRI) mencapai Rp5,28 triliun atau hampir separuh total transaksi bursa.Â
Penguatan IHSG terjadi di tengah sejumlah sentimen domestik yang kurang kondusif. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026, defisit pertama sejak April 2020, setelah ekspor sebesar US$23,20 miliar lebih rendah dibanding impor US$24,81 miliar.
Di sisi lain, BPS juga mencatat inflasi Juni 2026 mencapai 0,44% secara bulanan, dengan inflasi tahun kalender sebesar 1,79% dan inflasi tahunan 3,34%, lebih tinggi dibanding inflasi bulanan Mei yang sebesar 0,28%.
Beralih ke pasar valas, rupiah kembali menutup perdagangan di zona merah pada Kamis (2/7/2026), meski dolar Amerika Serikat (AS) justru melemah di pasar global.
Berdasarkan Refinitiv, rupiah ditutup turun 0,32% ke level Rp17.988/US$, semakin mendekati ambang psikologis Rp18.000/US$. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di kisaran Rp17.960-17.995/US$, sementara indeks dolar AS (DXY) melemah 0,21% ke level 101,177.
Tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi sentimen domestik, terutama setelah Badan Pusat Statistik melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026.
Defisit tersebut merupakan yang pertama sejak April 2020, sekaligus mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Defisit terjadi karena ekspor sebesar US$23,20 miliar lebih rendah dibanding impor yang mencapai US$24,81 miliar.
Ekonom Senior Radhika Rao menilai belum adanya penyesuaian harga BBM domestik, tingginya harga minyak global, serta pelemahan rupiah telah membebani neraca perdagangan.
Menurutnya, ekspor turun sekitar 5% secara tahunan akibat melemahnya pengiriman minyak sawit, besi dan baja, serta mesin, meski ekspor nikel masih bertahan kuat. Di sisi lain, meredanya ketegangan geopolitik yang mendorong penurunan harga minyak dunia pada Juni diperkirakan dapat mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan Indonesia mulai kuartal III-2026.
 Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun stagnan di 7,153% pada perdagangan kemarin
Dari bursa saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall treet ditutup beragam pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup pada rekor tertinggi setelah investor merespons laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan. Sementara itu, Nasdaq Composite tertekan akibat aksi jual saham-saham semikonduktor.
Dow Jones melonjak 594,83 poin atau 1,14% dan ditutup di 52.900,07, sekaligus mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa. Indeks ini juga sempat menyentuh level intraday tertinggi baru di 52.903,85.
Sebaliknya, S&P 500 hanya naik tipis kurang dari satu poin ke 7.483,24, sedangkan Nasdaq Composite turun 0,8% ke 25.832,67.
Tekanan terhadap Nasdaq dipicu pelemahan saham-saham semikonduktor untuk hari kedua berturut-turut.
ETF VanEck Semiconductor (SMH) anjlok 4,5%, dipimpin oleh penurunan saham Teradyne sebesar 13,6% dan KLA sebesar 11,5%. Saham Nvidia juga terkoreksi 1,4%, sementara Micron turun 5,5%.
Chief Investment Officer Savvy Wealth, Anshul Sharma, mengatakan pelemahan tersebut mencerminkan rotasi dana dari sektor yang selama beberapa bulan terakhir mengalami reli kuat.
"Ini berpotensi menjadi rotasi keluar dari sektor yang sangat panas dalam beberapa bulan terakhir menuju sektor lain. Saya juga melihat ada proses penilaian ulang terhadap tema investasi AI. Jika perusahaan semakin sensitif terhadap biaya komputasi, apakah itu akan menjadi fokus berikutnya?" ujarnya kepada CNBC International.
Meski demikian, ketiga indeks utama Wall Street tetap mencatat kenaikan sepanjang pekan perdagangan yang dipersingkat oleh libur nasional AS. S&P 500 naik 1,8%, sementara Dow Jones menguat hampir 2% dan Nasdaq bertambah 2,1%.
Data Tenaga Kerja Mengecewakan
Sentimen pasar dipengaruhi laporan ketenagakerjaan AS yang menunjukkan ekonomi hanya menambah 57.000 lapangan kerja pada Juni, jauh di bawah ekspektasi ekonom yang disurvei Dow Jones sebesar 115.000.
Di sisi lain, tingkat pengangguran justru turun menjadi 4,2%, lebih baik dibandingkan perkiraan pasar yang memproyeksikan tetap di 4,3%.
Setelah data dirilis, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun (Treasury 2-year) turun karena investor menilai Federal Reserve kemungkinan akan menunda kenaikan suku bunga dalam kondisi pasar tenaga kerja yang mulai melemah.
Portfolio Manager Janus Henderson Investors, Bradford Smith, mengatakan data tersebut mengurangi tekanan bagi bank sentral untuk segera menaikkan suku bunga.
"Seiring pasar mulai memahami pola kebijakan The Fed di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh, data ini mengurangi tekanan bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat," ujarnya.
Namun, Smith mengingatkan Warsh sebelumnya menyatakan bahwa data ketenagakerjaan baru benar-benar bermakna setelah revisi ketiga sehingga data awal sering kali hanya menjadi "gema sejarah". Menurutnya, dengan inflasi harga minyak yang mulai mereda dan pasar tenaga kerja yang menunjukkan pelemahan, The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga setidaknya hingga pertemuan berikutnya.
Menjelang akhir perdagangan pekan ini, pasar keuangan Indonesia mendapatkan sejumlah kabar baik dari Amerika Serikat yang akan memeringat hari kemerdekaan ke -250 pada besok Sabtu (4/7/2026).
Data tenaga kerja AS terbaru memberikan sinyal campuran, tetapi secara umum memberi sinyal bahwa ekonomi AS mulai mendingin. Kondisi ini membuat The Fed lebih mungkin mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya sambil terus memantau perkembangan inflasi. Jika beberapa bulan ke depan pasar tenaga kerja terus melemah dan inflasi ikut mereda maka ini mengurangi urgensi untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Di sisi lain, indeks dolar AS juga melemah ke 100,856 atau posisi terendahnya sejak 19 Juni 2026. Kondisi ini akan menandai investor tengah melepas dolar sehingga diharapkan berdampak positif ke rupiah.
Kabar ini diharapkan menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan Indonesia.
1. Data Non-Farm Payroll (NFP) Amerika Serikat Juni
Perekonomian Amerika Serikat hanya mampu menciptakan 57.000 lapangan kerja baru pada Juni 2026.
Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan revisi bulan Mei yang mencapai 129.000 serta berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 110.000.
Realisasi tersebut menjadi penambahan lapangan kerja terendah dalam empat bulan terakhir, setelah sebelumnya selama tiga bulan berturut-turut data ketenagakerjaan mampu melampaui perkiraan. Meski demikian, kenaikan tersebut masih relatif sejalan dengan rata-rata pertambahan lapangan kerja selama 12 bulan terakhir yang mencapai sekitar 36.000 per bulan.
Dari sisi sektoral, pertumbuhan lapangan kerja masih ditopang oleh sektor jasa profesional dan bisnis yang menambah sekitar 36.000 pekerja. Sektor bantuan sosial juga mencatat kenaikan sebanyak 25.000 pekerja, diikuti sektor layanan kesehatan dengan tambahan 22.000 tenaga kerja. Hal ini menunjukkan bahwa sektor jasa masih menjadi motor utama penyerapan tenaga kerja di AS.
Sebaliknya, sektor rekreasi dan perhotelan kehilangan sekitar 61.000 pekerjaan. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh perekrutan musiman yang lebih lemah dari biasanya, yang diperkirakan juga berkaitan dengan penyelenggaraan Piala Dunia. Sementara itu, sebagian besar sektor lainnya seperti pertambangan, konstruksi, manufaktur, perdagangan, transportasi, keuangan, hingga pemerintahan mencatat perubahan yang relatif minim sepanjang Juni.
Selain itu, pemerintah AS juga merevisi data ketenagakerjaan April dan Mei secara kumulatif turun sebesar 74.000 pekerjaan. Revisi ini memperkuat sinyal bahwa pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum setelah sempat menunjukkan ketahanan dalam beberapa bulan sebelumnya. Kondisi ini diharapkan membuat The Fed lebih dovish.
2. Tingkat Pengangguran Amerika Serikat Juni 2026
Tingkat pengangguran Amerika Serikat turun menjadi 4,2% pada Juni 2026 dari 4,3% pada Mei. Angka tersebut juga lebih baik dibandingkan perkiraan pasar. Namun, penurunan ini bukan sepenuhnya disebabkan oleh membaiknya kondisi pasar kerja, melainkan karena semakin banyak masyarakat yang keluar dari angkatan kerja.
Jumlah pengangguran berkurang sekitar 213.000 orang menjadi 7,09 juta. Di sisi lain, jumlah penduduk yang bekerja justru menyusut 507.000 orang menjadi 162,26 juta. Bahkan, total angkatan kerja turun lebih besar lagi, yakni 720.000 orang menjadi 169,36 juta, sehingga menekan tingkat pengangguran secara statistik.
Kondisi tersebut tercermin dari tingkat partisipasi angkatan kerja yang turun menjadi 61,5%, level terendah sejak Maret 2021. Sementara itu, employment-population ratio atau rasio penduduk yang bekerja terhadap populasi juga melemah menjadi 59%, posisi terendah dalam lebih dari empat tahun terakhir. Data ini mengindikasikan semakin sedikit masyarakat usia produktif yang aktif bekerja maupun mencari pekerjaan.
Di sisi lain, tingkat pengangguran yang lebih luas atau U-6, yang turut menghitung pekerja paruh waktu karena alasan ekonomi serta mereka yang mulai putus asa mencari pekerjaan, turun menjadi 7,9% dari sebelumnya 8,1%. Meski demikian, pelemahan partisipasi angkatan kerja menunjukkan bahwa kondisi pasar tenaga kerja AS masih menghadapi tantangan di tengah perlambatan ekonomi.
3. Neraca Perdagangan Australia Mei 2026
Australia secara mengejutkan membukukan defisit neraca perdagangan sebesar AU$ 3,02 miliar pada Mei 2026. Padahal, pada bulan sebelumnya negara tersebut masih mencatat surplus yang telah direvisi menjadi AU$ 1,38 miliar, sementara pasar memperkirakan Australia tetap akan membukukan surplus sekitar AU$ 2,2 miliar.
Defisit ini menjadi yang kedua sepanjang tahun 2026 sekaligus yang terbesar sejak Desember 2015. Perubahan tersebut terjadi akibat kombinasi penurunan ekspor dan lonjakan impor.
Nilai ekspor Australia turun 6,9% secara bulanan menjadi AU$ 43,61 miliar, level terendah dalam empat bulan, berbalik arah setelah sempat naik 7,2% pada April. Pelemahan terutama dipicu oleh menurunnya ekspor emas non-moneter, bijih logam, serta berbagai komoditas mineral.
Di sisi lain, impor justru meningkat 2,6% dibandingkan bulan sebelumnya hingga mencapai rekor tertinggi AUD 46,63 miliar. Kenaikan tersebut lebih cepat dibandingkan pertumbuhan April yang direvisi menjadi hanya 0,2%, mencerminkan permintaan domestik yang masih kuat.
Lonjakan impor terutama berasal dari pembelian mobil, pesawat terbang, dan peralatan pusat data (data center). Selain itu, kenaikan harga bahan bakar turut meningkatkan nilai impor Australia. Kombinasi ekspor yang melemah dan impor yang melonjak akhirnya mendorong neraca perdagangan Australia kembali masuk ke zona defisit.
4. Purbaya-DPR Sepakat UU Pusat Finansial Internasional Rampung 20 Hari
Komisi XI DPR bersama pemerintah sepakat menuntaskan pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Pusat Finansial Internasional Indonesia (RUU PFII) pada 20 Juli 2026 di tingkat I, sehingga dapat disahkan dalam Rapat Paripurna DPR pada 21 Juli 2026.
Kesepakatan tersebut dicapai setelah Rapat Paripurna DPR RI ke-23 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 menyetujui usulan pemerintah untuk memasukkan RUU PFII ke dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2026.
"Jadi saya hanya akan menyampaikan bahwa tanggal 21 di tingkat II (kesepakatan Rapat Paripurna), tanggal 20 di tingkat I (kesepakatan Komisi XI), apakah bisa disetujui? setuju. Saya sudah tetapkan ya." ujar Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun di Gedung DPR.
Misbakhun menjelaskan percepatan pembahasan diperlukan karena merupakan amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).
Menurutnya, RUU PFII wajib diselesaikan dalam waktu tiga bulan sejak UU P2SK disahkan pada Juni 2026.
Ia menegaskan, "Ini harus kita selesaikan di masa sidang DPR yang akan berakhir di 22 Juli nanti, ada 20 hari nanti kita harus bisa mengatur pace nya sehingga akan ada pembahasan-pembahasan yang panjang, substansial, mulai dari lobi sampai segala hal nanti kita akan lakukan, demi menjalankan amanat UU P2SK bahwa kita harus selesaikan dalam waktu 3 bulan."
Usai rapat pendahuluan dan penyerahan naskah akademik serta draf RUU PFII oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, pembahasan di tingkat panitia kerja akan langsung dimulai.
Komisi XI telah menunjuk Wakil Ketua Komisi XI dari Fraksi Gerindra Mohamad Hekal sebagai Ketua Panja RUU PFII. Sementara itu, Purbaya menegaskan pentingnya penyelesaian regulasi tersebut sebagai dasar hukum pembangunan pusat finansial internasional di Indonesia. Ia mengatakan, "Pemerintah berharap RUU tentang PFII dapat berlangsung secara konstruktif dan dapat diselesaikan sesuai amanat UU Nomor 4 Tahun 2026."
5. Danantara Akan Merger 7 BUMN Logistik
Badan Pengelola Investasi Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) resmi menggabungkan tujuh BUMN sektor logistik melalui penandatanganan Shareholders Agreement (SHA) dan Akta Penggabungan pada 30 Juni 2026.
Tujuh perusahaan yang dikonsolidasikan yakni Pelindo Sinergi Lokaseva Multiterminal Indonesia, Pelindo Sinergi Lokaseva Prima Indonesia Logistik, Pos Logistics, Pelni Logistics, PT Kawasan Berikat Nusantara, PT Varia Usaha Dharma Segara, dan Krakatau Integrated Logistics.
Senior Director Corporate Strategy Aurelius Altius Rosimin menjelaskan, konsolidasi tersebut merupakan bagian dari strategi transformasi portofolio Danantara Asset Management untuk mendukung RPJPN 2025-2045 dan program Asta Cita pemerintah.
Menurutnya, merger dilakukan guna memangkas fragmentasi antarbadan usaha, mengoptimalkan skala bisnis, serta menghilangkan tumpang tindih layanan yang selama ini mengurangi efisiensi sektor logistik BUMN.
Melalui penggabungan ini, Danantara menargetkan terbentuknya ekosistem logistik nasional yang lebih terintegrasi dari hulu hingga hilir. Sinergi antarbadan usaha diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional, memperbesar skala usaha, menekan biaya logistik, serta memperkuat daya saing layanan logistik Indonesia, mengingat biaya logistik nasional masih relatif lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara ASEAN.
Sementara itu, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia melaporkan seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam ekosistemnya telah menyelesaikan penyusunan laporan keuangan Tahun Buku 2025.
Dari laporan tersebut, sejumlah BUMN mencatatkan perbaikan kinerja yang signifikan, termasuk beberapa perusahaan yang berhasil membalikkan kondisi dari rugi menjadi laba setelah bergabung dalam ekosistem Danantara.
Juru Bicara Danantara Indonesia, Rohan Hafas, mengatakan capaian tersebut mencerminkan ketahanan dan transformasi BUMN di berbagai sektor strategis. "Danantara Indonesia turut menyampaikan sejumlah sorotan atas capaian kinerja sepanjang tahun 2025 yang mencerminkan ketahanan, transformasi, dan kontribusi BUMN di berbagai sektor strategis terhadap perekonomian nasional," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (2/7/2026).
Rohan menjelaskan, setelah seluruh laporan keuangan individual selesai disusun, Danantara kini melanjutkan proses penyusunan laporan keuangan konsolidasian yang masih menunggu penyelesaian audit.
"Laporan Keuangan Konsolidasian 2025 Danantara Indonesia masih berada dalam proses penyelesaian sesuai tahapan audit yang berlaku dan akan disampaikan setelah seluruh proses audit selesai sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan," katanya. Danantara juga mulai merealisasikan mandat investasinya melalui sejumlah proyek strategis yang didanai antara lain dari dividen BUMN tahun 2025, termasuk pengembangan ekosistem Haji dan Umrah Indonesia di Makkah serta proyek Waste-to-Energy (WTE) untuk mendukung pengelolaan sampah berkelanjutan dan transisi ekonomi hijau.
BUMN yang mencatatkan kinerja positif pada periode April 2025-April 2026:
-
Pertamina: laba Rp 24,9 triliun, naik Rp 11 triliun ( 80%).
-
Pupuk Indonesia: laba Rp 4,8 triliun, naik Rp 3,2 triliun ( 202%).
-
Pelindo: laba Rp 1,5 triliun, naik Rp 900 miliar ( 169%).
-
InJourney: laba Rp 300 miliar, naik Rp 74 miliar ( 33%).
-
BRI: laba Rp 21,2 triliun, naik Rp 2,8 triliun ( 15%).
-
Bank Mandiri: laba Rp 21,3 triliun, naik Rp 2,5 triliun ( 13%).
-
BNI: laba Rp 7,2 triliun, naik Rp 381 miliar ( 6%).
-
ADHI Karya: laba Rp 69 miliar, naik Rp 60 miliar ( 667%).
-
Krakatau Steel: berbalik dari rugi Rp 981 miliar menjadi laba Rp 635 miliar.
-
Kimia Farma: berbalik dari rugi Rp 160 miliar menjadi laba Rp 108 miliar.
-
Semen Indonesia: berbalik dari rugi Rp 66 miliar menjadi laba Rp 106 miliar.
Rohan menegaskan seluruh investasi strategis Danantara dijalankan dengan prinsip tata kelola yang baik, disiplin investasi, pengelolaan risiko yang prudent, dan berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang bagi negara dan masyarakat.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
-
Grand Launching DPLK Sinarmas Asset Management di Main Hall Bursa Efek Indonesia. Turut hadir para pejabat OJK & BEI
-
Menteri Keuangan memberikan kuliah umum di Universitas Diponegoro Semarang
-
Peluncuran OPPO Reno16 Series akan berlangsung di Live House Mbloc, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Emdeki Utama Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Trimitra Trans Persada Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Temas Tbk.
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Argha Karya Prima Ind. Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Malacca Trust Wuwungan Tanggal Pembayaran Dividen Tunai FKS Multi Agro Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Hartadinata Abadi Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Kencana Energi Lestari Tbk.
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Jaya Real Property Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Selaras Citra Nusantara Perkasa Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai PT GTS Internasional Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai PT Cahayasakti Investindo Sukses Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai PP London Sumatra Indonesia Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Salim Ivomas Pratama Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai PT Allo Bank Indonesia Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Interim PT Citra Buana Prasida Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Barito Pacific Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai PT Citra Buana Prasida Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai PT Cipta Perdana Lancar Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Catur Sentosa Adiprana Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Delta Djakarta Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai PT Arita Prima Indonesia Tbk.
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
(emb/emb) Add
source on Google Next Article Awal Semester II Bak Neraka! 9 Sentimen Ini Bisa Guncang IHSG & Rupiah