Harga BBM RI Juli 2026 Berpotensi Turun atau Ditahan, Ini Hitungannya
Jakarta, CNBC Indonesia -Â Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi berpeluang mengalami penurunan ataupun ditahan pada 1 Juli 2026. Proyeksi ini muncul di tengah harga minyak mentah dunia yang mulai mengalami penurunan, sementara nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Dua faktor ini sejatinya menjadi penentu utama dalam arah penyesuaian harga BBM non subsidi di dalam negeri.
Berdasarkan Refinitiv, rata-rata harga minyak Brent pada Juni 2026 berada di level US$84,4 per barel atau turun tajam 18,62% dibandingkan harga rata-rata Mei lalu.
Sementara itu, harga rata-rata minyak dunia acuan West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$81,58 per barel pada Juni, juga turun cukup dalam sebesar 17,11% dibandingkan rata-rata Mei yang sebesar US$98,42 per barel.
Pergerakan harga minyak dunia di sepanjang Juni ini banyak dipengaruhi oleh meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Tekanan terhadap harga minyak mulai mereda setelah AS dan Iran resmi sepakat berdamai dan mengakhiri perang di Timur Tengah pada Minggu (14/6/2026).
Kesepakatan tersebut menjadi titik penting bagi pasar minyak dunia. Sebab, konflik AS-Iran sebelumnya membuat pelaku pasar mencemaskan keamanan jalur pelayaran di kawasan Teluk, terutama Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia. Banyak kapal tanker pengangkut minyak dari negara-negara Teluk melewati jalur tersebut sebelum dikirim ke berbagai negara. Karena itu, ketika jalur ini terancam terganggu, harga minyak biasanya ikut naik karena pasar khawatir pasokan minyak dunia tersendat.
Dalam kesepakatan damai tersebut, Iran menyatakan teks nota kesepahaman dengan AS telah rampung dan ditandatangani secara resmi di Swiss.
Ada dua poin utama yang langsung menjadi perhatian pasar. Pertama, penghentian permanen dan segera perang di semua front, termasuk Lebanon. Kedua, pencabutan dan penghentian blokade laut yang diberlakukan AS terhadap Iran.
Pencabutan blokade laut menjadi kabar besar. Hal ini membuka peluang arus kapal tanker kembali berjalan lebih lancar melalui Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump juga menyampaikan bahwa kesepakatan dengan Iran telah lengkap. Dia kemudian memerintahkan pencabutan segera blokade oleh kapal perang Angkatan Laut AS dan mengizinkan pembukaan Selat Hormuz.
Kabar pembukaan kembali Selat Hormuz membuat pasar minyak lebih tenang. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan mulai berkurang. Pelaku pasar yang sebelumnya memasukkan premi risiko perang ke harga minyak mulai melepas tekanan tersebut.
Premi risiko adalah tambahan harga yang muncul karena pasar takut terjadi gangguan pasokan. Ketika risiko perang meningkat, harga minyak biasanya ikut terdorong naik. Sebaliknya, ketika perang mereda dan jalur pelayaran kembali dibuka, premi risiko tersebut ikut berkurang.
Sementara itu, rupiah masih bergerak dalam tekanan di sepanjang Juni ini. Namun, pelemahannya jauh lebih kecil dibandingkan periode bulan-bulan sebelumnya.
Nilai tukar rupiah hanya melemah tipis 0,17% sejak awal Juni hingga perdagangan intraday Selasa (30/6/2026) di posisi Rp17.893/US$.
Bagaimana Harga BBM Juli 2026?
Sebagai catatan, pemerintah menentukan harga BBM berdasarkan formulasi tertentu. Dua variabel akan dipakai yakni rata-rata harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah mengingat besarnya impor.
Berdasarkan keputusan Menteri ESDM Nomor 19 K/10/MEM/2019 tentang Formula Harga Dasar dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak menjelaskan formula harga menggunakan rata-rata harga publikasi Mean of Platts Singapore (MOPS) dengan satuan US$ per barel periode tanggal 25 pada 2 bulan sebelumnya sampai dengan tanggal 24, 1 bulan sebelumnya untuk penetapan bulan berjalan.
Rata-rata harga minyak Brent pada dua bulan terakhir, yakni Mei-Juni, adalah US$93,83 per barel. Harga tersebut turun 8,98% dibandingkan rata-rata dua bulan sebelumnya, yakni April-Mei, yang sebesar US$103 per barel.
Sementara itu, rata-rata harga minyak WTI pada dua bulan terakhir juga mengalami penurunan sebesar 8,58%. Rata-rata harga WTI turun dari US$98,24 per barel menjadi US$89,81 per barel.
Penurunan rata-rata harga minyak dalam dua bulan terakhir tentu memberi ruang bagi turunnya biaya impor minyak dalam negeri.
Oleh karena itu, di tengah penurunan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah yang relatif terbatas, harga BBM non subsidi berpotensi mengalami penurunan per 1 Juli 2026.
Meski demikian, peluang pemerintah untuk tetap mempertahankan harga BBM non subsidi, khususnya RON 92 atau Pertamax juga masih terbuka. Sebab, harga BBM non subsidi tersebut sempat ditahan ketika harga minyak acuan global bergerak naik setelah perang AS-Iran pecah pada 28 Februari 2026 lalu, sebelum akhirnya dilakukan penyesuaian pada pertengahan Juni 2026.
Selain itu, kenaikan harga BBM Pertamax pada 10 Juni 2026 lalu menjadi Rp 16.250 per liter dinilai masih di bawah harga keekonomiannya. Adapun harga pasar RON 92 diperkirakan masih di kisaran Rp19.000-Rp20.000-an per liter.
Seperti diketahui, Pertamina melakukan penyesuaian harga BBM non subsidi pada awal Juni 2026. Per 1 Juni 2026, harga Pertamax Turbo RON 98 di DKI Jakarta naik menjadi Rp20.750 per liter dari sebelumnya Rp19.900 per liter.
Namun, penyesuaian harga pada awal Juni tidak seluruhnya berupa kenaikan. Harga BBM diesel non subsidi justru turun. Dexlite turun menjadi Rp23.000 per liter dari sebelumnya Rp26.000 per liter. Sementara itu, Pertamina Dex turun menjadi Rp24.800 per liter dari sebelumnya Rp27.900 per liter.
Untuk Pertamax RON 92, Pertamina saat itu masih menahannya di level Rp12.300 per liter. Begitu juga dengan Pertamax Green 95 yang masih berada di level Rp12.900 per liter.
Penyesuaian kembali terjadi pada pertengahan Juni 2026. Mulai 10 Juni 2026, Pertamina resmi menaikkan harga Pertamax RON 92 menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter. Kenaikan juga terjadi pada Pertamax Green 95. Harga BBM jenis tersebut naik menjadi Rp17.000 per liter dari sebelumnya Rp12.900 per liter.
Ini merupakan penyesuaian perdana harga BBM untuk jenis RON 92 (Pertamax) dan Pertamax Green setelah harga minyak melonjak naik sejak Maret 2026.
Sementara itu, harga Pertamax Turbo tetap berada di level Rp20.750 per liter. Dexlite juga tetap di Rp23.000 per liter, sedangkan Pertamina DEX masih berada di level Rp24.800 per liter. Adapun penyesuaian harga BBM non subsidi jenis Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina DEX ini tetap dilakukan setiap bulannya dan sudah dilakukan sejak pertengahan April 2026 lalu.
Adapun harga BBM subsidi tidak mengalami perubahan. Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter, sementara Solar subsidi tetap berada di level Rp6.800 per liter.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google