Hitung-Hitungan Harga BBM per 1 Februari 2026: Naik atau Tetap?
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi diperkirakan naik atau stagnan per 1 Februari 2026 seiring dengan harga minyak dunia yang mulai naik.
Harga minyak mentah dunia di sepanjang Januari 2026 mengalami kenaikan, ditambah lagi kondisi nilai tukar rupiah yang turut melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Kedua indikator ini cukup penting dalam menentukan kenaikan atau penurunan harga BBM non-subsidi di Indonesia.
Melansir data Refinitiv, rata-rata harga minyak brent berada di level US$64,73 per barel pada Januari 2026, naik 5,03% dibandingkan harga rata-rata di bulan sebelumnya yang berada di level US$61,72 per barel.
Sementara, harga rata-rata minyak West Texas Index (WTI) sebesar US$60,22 per barel di Januari 2026 atau juga mengalami kenaikan sebesar 4,07% dibandingkan rata-rata Desember 2025 yang sebesar US$57,89 per barel.
Penindakan terhadap gelombang protes besar di Iran telah memunculkan kembali kekhawatiran tentang stabilitas pasokan dari salah satu produsen utama OPEC. Laporan yang menyebut korban tewas telah melampaui ratusan orang membuat pasar mulai memasukkan skenario yang lebih serius, termasuk kemungkinan terganggunya produksi dan ekspor minyak Iran.
Analis menilai pasar belum sepenuhnya melakukan price in risiko jika konflik di Iran melebar. Bukan hanya karena potensi gangguan produksi, tetapi juga karena implikasinya terhadap jalur pengiriman energi global, terutama Selat Hormuz, yang menjadi pintu keluar utama minyak dari kawasan Teluk.
Dari sisi tenaga kerja, tekanan juga muncul. Ada seruan agar pekerja di sektor minyak Iran ikut berhenti bekerja sebagai bagian dari protes. Jika ini benar-benar terjadi, pasokan sekitar 1,9 juta barel per hari berpotensi terdampak angka yang cukup besar untuk mengubah keseimbangan pasar dalam waktu singkat.
Meski demikian, reli harga tidak bergerak tanpa rem. Pasar juga sedang memperhitungkan perkembangan di Venezuela.
Pemerintahan AS memberi sinyal untuk membuka kembali aliran ekspor minyak Venezuela dengan rencana mengalihkan hingga 50 juta barel minyak yang sebelumnya diblokir ke pasar Amerika Serikat. Perusahaan energi sudah mulai menyiapkan kapal dan logistik untuk menarik minyak dari pelabuhan-pelabuhan Venezuela.
Masuknya pasokan tambahan dari Venezuela inilah yang menahan harga agar tidak melonjak lebih jauh. Ketika risiko Iran mendorong pasar ke atas, prospek minyak Venezuela berfungsi sebagai penyeimbang.
Sementara itu, nilai tukar rupiah bergerak melemah di sepanjang Januari ini. Rupiah mengalami penurunan terhadap greenback sebesar 0,66% sejak awal bulan hingga penutupannya di perdagangan Jumat (30/1/2026) di posisi Rp16.780/US$.
Bagaimana Harga BBM Januari 2026?
Sebagai catatan, pemerintah menentukan harga BBM berdasarkan formulasi tertentu. Dua variabel akan dipakai yakni rata-rata harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah mengingat besarnya impor.
Berdasarkan keputusan Menteri ESDM Nomor 19 K/10/MEM/2019 tentang Formula Harga Dasar dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak menjelaskan formula harga menggunakan rata-rata harga publikasi Mean of Platts Singapore (MOPS) dengan satuan USD/barel periode tanggal 25 pada 2 bulan sebelumnya sampai dengan tanggal 24, 1 bulan sebelumnya untuk penetapan bulan berjalan.
Merujuk data Refinitiv, rata-rata harga minyak brent pada dua bulan terakhir (Januari 2026 - Desember 2025) adalah sebesar US$62,96 per barel. Harga tersebut lebih tinggi jika dibandingkan rata-rata dua bulan sebelumnya (Desember - November 2025) yang sebesar US$62,69 per barel.
Sementara itu, Rata-rata harga minyak WTI pada dua bulan terakhir (Januari 2026 - Desember 2025) sebesar US$58,87 per barel. Naik dibandingkan pada dua bulan sebelumnya (Desember - November 2025) yang sebesar US$58,64 per barel.
Rata-rata Januari 2026 - Desember 2025 lebih tinggi dibandingkan Desember - November 2025 karena harga minyak dunia yang lebih tinggi di sepanjang Januari 2026.
Begitu pula dengan nilai tukar rupiah yang mengalami pelemahan yang akan berdampak pada mahalnya biaya impor minyak.
Pergerakan nilai tukar rupiah yang menunjukkan pelemahan dan harga minyak dunia yang mengalami kenaikan maka harga BBM berpotensi naik atau stagnan per 1 Februari 2026.
Sebagai catatan, pemerintah menaikan sebagain harga BBM non subsidi pada pada Oktober- November 2025 dan mengalami kenaikan lagi pada Desember 2025. Namun, memasuki awal 2026, harga BBM mengalami penurunan pada Januari.
Sejumlah badan usaha penyedia BBM seperti PT Pertamina (Persero), Shell Indonesia, BP-AKR dan juga PT Vivo Energy Indonesia kompak menurunkan harga produk BBM non subsidi di awal Januari.
Penyesuaian harga tersebut berlaku sejak 1 Januari 2026.
Sebagai contoh Pertamina, untuk Harga BBM Pertamax ron 92 turun menjadi Rp12.350 per liter dari harga sebelumnya Rp12.750 per liter.
Lalu, harga BBM, Pertamax Turbo juga turun menjadi Rp13.750 per liter dari harga sebelumnya Rp13.400 per liter.
Kemudian, harga Pertamax Green 95 juga turun menjadi Rp 13.150 per liter dari sebelumnya Desember 2025 Rp 13.500 per liter.
Adapun harga BBM Dexlite turun menjadi Rp 13.500 per liter dari sebelumnya Rp 14.700 per liter. Selain itu, harga BBM Pertamina Dex turun menjadi Rp 13.600 per liter dari Rp 15.000 per liter.
Sementara itu, harga BBM RON 92 di semua SPBU swasta mengalami penurunan dari awalnya Rp13.000 per liter, turun menjadi Rp12.700 per liter di SPBU Shell dan Vivo. Sementara itu, harga di BP-AKR turun menjadi Rp12.500 per liter.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)