MARKET DATA

Simak! Begini Ramalan Lembaga Dunia Soal Harga Emas & Perak Pekan Ini

mae,  CNBC Indonesia
29 June 2026 06:30
Penjual menunjukan perhiasan emas di salah satu Toko di Pasar Minggu , Jakarta, Jumat (1/11/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Penjual menunjukan perhiasan emas di salah satu Toko di Pasar Minggu , Jakarta, Jumat (1/11/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dan perak diperkirakan masih sulit bangkit pada pekan ini. Pelaku pasar akan mencermati perkembangan konflik AS-Iran, pergerakan harga minyak dunia, serta sederet data ekonomi penting yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Fokus investor akan tertuju pada rilis PMI manufaktur dan jasa dari sejumlah negara, inflasi kawasan euro, serta data ketenagakerjaan Amerika Serikat, termasuk Non-Farm Payrolls (NFP) dan tingkat pengangguran. Data-data tersebut diperkirakan menjadi penentu arah pergerakan emas dalam jangka pendek.

Merujuk Refinitif, harga emas pada hari ini, Senin (29/6/2026) pukul 06.15 WIB ada di US$ 4.087,99 per troy ons atau melemah 0,01%.

Pada akhir pekan lalu, Jumat (26/6/2026), harga emas ditutup di posisi US$4088,23 per troy ons atau menguat 1,5%. Kendati demikian, secara keseluruhan, harga emas ambruk 1,73% pada pekan lalu. Artinya, harga emas sudah jatuh empat pekan beruntun.

Harga Emas Pekan Ini, Masih Turun?

Secara teknikal, harga emas masih berada dalam tren bearish setelah menembus garis tren naik. Selama belum mampu kembali ke atas US$4.115 per troy ons., tekanan jual diperkirakan masih berlanjut.

Area US$3.927-3.886  per troy ons menjadi support terdekat. Jika level ini jebol, harga emas berpotensi melorot hingga US$3.650 per troy ons.

Sebaliknya, jika mampu menembus US$4.115 per troy ons., emas berpeluang berbalik menguat dengan target berikutnya di sekitar US$4.248 per troy ons.. Namun untuk saat ini, prospek emas masih cenderung melemah.

Proyeksi Sejumlah Lembaga

Pandangan analis terhadap harga emas ke depan terbelah. ING memangkas proyeksi harga emas karena memperkirakan dolar AS yang kuat dan suku bunga tinggi akan membatasi kenaikan harga.

Namun, JPMorgan tetap optimistis harga emas dapat mendekati US$5.000 per troy ons  pada kuartal IV-2026, bahkan berpotensi menuju US$6.000 per troy ons dalam jangka panjang, didorong kuatnya permintaan dari bank sentral dan investor.

 

ING memangkas proyeksi harga emas karena memperkirakan imbal hasil (yield) obligasi AS yang tinggi, penguatan dolar AS, serta melemahnya permintaan ETF akan terus menekan harga logam mulia lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

ING kini memproyeksikan harga emas rata-rata berada di US$4.300 per troy ons pada kuartal III-2026 dan US$4.600 per troy ons pada kuartal IV-2026, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya masing-masing US$4.850 dan US$5.000 per troy ons.

"Meski pasar semakin khawatir suku bunga akan tetap tinggi lebih lama, ekonom kami untuk AS masih memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuannya.

Namun, imbal hasil obligasi yang masih tinggi serta kuatnya dolar AS diperkirakan tetap menjadi sentimen negatif yang membebani harga emas dalam jangka pendek," tutur Ewa Manthey, commodities strategist dari ING, dikutip dari website resmi ING.

Selain itu, ketegangan geopolitik belum mampu memicu lonjakan permintaan aset safe haven seperti yang terjadi pada periode-periode sebelumnya. Pelaku pasar justru lebih fokus pada dampak konflik terhadap inflasi dan arah kebijakan moneter.

Faktor lain yang menekan emas adalah melemahnya permintaan dari exchange traded fund (ETF).

Setelah menjadi pendorong utama reli emas pada awal tahun, investor mulai melakukan aksi ambil untung sejak Maret seiring berubahnya ekspektasi terhadap kebijakan The Fed. Saat ini, kepemilikan emas global di ETF tercatat sekitar 1,5% lebih rendah dibandingkan awal tahun.

Meski demikian, pembelian emas oleh bank sentral masih menjadi penopang utama harga.

Pada kuartal I-2026, bank sentral di seluruh dunia menambah sekitar 244 ton emas, dengan Polandia dan China menjadi pembeli terbesar. China bahkan telah menambah cadangan emas selama 19 bulan berturut-turut.

 

Survei World Gold Council (WGC) juga menunjukkan 84% bank sentral memperkirakan porsi emas dalam cadangan devisa global akan meningkat dalam lima tahun ke depan, sementara hampir 90% memperkirakan kepemilikan emas resmi akan terus bertambah dalam 12 bulan mendatang.

"Permintaan emas yang tetap tinggi dari bank sentral mencerminkan upaya berkelanjutan untuk mendiversifikasi cadangan devisa. Kondisi ini diperkirakan akan menjadi penopang harga emas, meski permintaan dari investor masih berada di bawah tekanan," jelas Ewa.

Pranav Mer, Wakil Presiden EBG Commodity & Currency Research di JM Financial Services, mengatakan momentum harga emas dan perak masih berada dalam tren turun dan fase koreksi.

"Untuk harga emas dan perak, momentumnya masih berada dalam tren turun dan fase koreksi," demikian dikutip PTI dari Pranav Mer, Wakil Presiden EBG Commodity & Currency Research, JM Financial Services Ltd, dikutip Times of India.

Jateen Trivedi, Wakil Presiden sekaligus Analis Riset Komoditas dan Mata Uang di LKP Securities, mengatakan emas berada di bawah tekanan jual yang kuat sepanjang pekan lalu dan ditutup melemah sekitar 2%. Pelemahan ini memperpanjang tren penurunan mingguan karena penguatan dolar AS yang terus berlanjut masih membebani harga logam mulia.

"Emas berada di bawah tekanan jual yang signifikan sepanjang pekan lalu dan ditutup melemah sekitar 2%, memperpanjang penurunan mingguan karena penguatan dolar AS yang terus berlanjut masih membebani harga logam mulia," kata Jateen Trivedi, Wakil Presiden (Analis Riset) Divisi Komoditas dan Mata Uang di LKP Securities.

ING juga memangkas proyeksi harga perak. Meski pasar perak diperkirakan masih mengalami defisit pasokan, sejumlah faktor pendorong permintaan mulai melemah. Pertumbuhan permintaan dari industri panel surya melambat, sementara efisiensi penggunaan dan substitusi material dalam manufaktur fotovoltaik mengurangi kebutuhan perak di setiap panel.

Selain itu, tingginya imbal hasil obligasi, kuatnya dolar AS, dan melemahnya permintaan investor juga terus membebani harga logam mulia.

ING kini memperkirakan harga perak rata-rata mencapai US$68 per ons pada kuartal III-2026 dan US$74 per ons pada kuartal IV-2026, turun dari proyeksi sebelumnya masing-masing US$79 dan US$84 per ons.

Meski proyeksi diturunkan, ING masih memperkirakan kinerja perak akan sedikit lebih baik dibandingkan emas dalam jangka panjang, didukung oleh defisit pasokan yang masih berlanjut dan meningkatnya kebutuhan logam untuk proses elektrifikasi.

Merujuk Refinitif, harga perak pada hari ini, Senin (29/6/2026) ada di posisi US$ 58,

Pada akhir pekan lalu, Jumat (26/6/2026), harga perak ditutup di posisi US$59,16 per troy ons atau menanjak 2,3%.

Kendati demikian, secara keseluruhan, harga perak jatuh 8,84 % pada pekan lalu. Artinya, harga emas sudah jatuh dua pekan beruntun.

 


(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Peringatan Bahaya! Harga Emas Terjun Bebas ke Level US$ 4.000


Most Popular
Features