MARKET DATA
Newsletter

Siap-Siap! 10 'Bom Waktu' Kepung RI Pekan Ini, Inflasi-Pidato The Fed

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
29 June 2026 06:20
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini saat konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (2/6/2026). (CNBC Indonesia/Robertus Andrianto)
Foto: Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini saat konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (2/6/2026). (CNBC Indonesia/Robertus Andrianto)

Pasar keuangan akan memasuki pekan yang padat sentimen dengan sederet data ekonomi penting dari dalam maupun luar negeri.

Fokus pelaku pasar dalam beberapa hari ke depan tertuju pada data inflasi Indonesia, neraca perdagangan, hingga laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang berpotensi mengubah ekspektasi arah suku bunga global.

Perkembangan perang juga akan tetap menjadi perhatan investor.

Investor juga akan mencermati aktivitas manufaktur China, inflasi kawasan Eropa, serta pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh. Rangkaian data tersebut diperkirakan menjadi penentu utama pergerakan rupiah, IHSG, pasar obligasi, hingga harga komoditas sepanjang pekan ini.

1. Perkembangan Perang

Iran meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain pada Minggu dini hari (28/6/2026) tak lama setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menghancurkan kepemimpinan Iran jika Teheran melanggar perjanjian damai sementara.

Militer AS kemudian kembali menyerang Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Washington menyebut serangan itu menargetkan fasilitas militer Iran yang digunakan untuk mengganggu pelayaran komersial.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim serangan ke pangkalan AS merupakan balasan atas pelanggaran gencatan senjata oleh Washington. Meski demikian, pejabat AS mengatakan tidak ada korban jiwa maupun kerusakan besar di fasilitas militernya.

Di saat yang sama, Israel kembali menyerang militan Hezbollah di Lebanon, sehari setelah kedua pihak menyepakati gencatan senjata baru. Iran menilai penghentian operasi militer Israel di Lebanon merupakan bagian dari kesepakatan damai yang lebih luas.

Konflik juga terus berpusat di Selat Hormuz, jalur pengiriman sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Meski ketegangan masih tinggi, lalu lintas kapal mulai pulih dan harga minyak kembali mendekati level sebelum perang.

2. Data Lowongan Pekerjaan JOLTs Amerika Serikat

Biro Statistik Tenaga Kerja AS akan merilis data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTs) Mei 2026 pada Selasa (30/6/2026).

Pada April, jumlah lowongan kerja melonjak menjadi 7,618 juta, jauh di atas ekspektasi 6,88 juta dan menjadi yang tertinggi sejak November 2024. Untuk Mei, konsensus memperkirakan jumlah lowongan turun ke kisaran 7,28-7,4 juta.

Meski diperkirakan melandai, angka tersebut masih mencerminkan pasar tenaga kerja AS yang relatif kuat. Data ini akan menjadi salah satu indikator penting bagi pasar untuk mengukur apakah tekanan di sektor ketenagakerjaan mulai mereda atau masih cukup kuat menopang kebijakan suku bunga tinggi The Fed.

3. RatingDog China Manufacturing PMI

S&P Global akan merilis RatingDog China Manufacturing PMI pada Rabu (1/7/2026). Sebelumnya, indeks manufaktur Mei berada di level 51,8, sedikit turun dari 52,2 pada April, tetapi masih melampaui ekspektasi pasar. Aktivitas manufaktur tetap ditopang permintaan domestik meski pertumbuhan pesanan baru mulai melambat.

Pelaku pasar akan mencermati apakah sektor manufaktur China mampu mempertahankan ekspansi di tengah perlambatan global. Hasilnya akan menjadi petunjuk mengenai prospek permintaan komoditas, termasuk dari negara-negara eksportir seperti Indonesia.

4 PMI Manufaktur Indonesia

S&P Global akan mengumumkan data PMI Manufaktur Indonesia pada Rabu pagi (1/7/2026). Sebagai catatan, data Purchasing Managers' Index (PMI) menunjukkan PMI Indonesia berada di 50,0 pada April 2026. Angka ini merupakan perbaikan setelah PMI mencatat kontraksi pada April 2026 (49,1).

PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi.

S&P menjelaskan biaya operasional manufaktur Indonesia melonjak pada Mei 2026 dan mencatat kenaikan tercepat kedua sepanjang sejarah survei S&P Global. Perusahaan banyak mengaitkan kondisi ini dengan kenaikan harga bahan baku dan penurunan produksi yang terus berlanjut

Lonjakan harga bahan baku dan gangguan pasokan terus menekan produksi pabrik yang sudah turun selama tiga bulan beruntun.

Meski demikian, permintaan domestik masih cukup kuat. Pesanan baru naik untuk bulan kedua berturut-turut, meski ekspor mengalami kontraksi lebih dalam.

5. Inflasi Indonesia Juni 2026 & Neraca Perdagangan Indonesia

Badan Pusat Statistik akan mengumumkan inflasi Juni pada Rabu (1/7/2026). Inflasi tahunan pada Mei tercatat 3,08%, naik dari 2,42% pada April akibat kenaikan harga pangan dan sejumlah kelompok pengeluaran lainnya. Konsensus memperkirakan inflasi Juni meningkat tipis menjadi sekitar 3,1%.

Meski bergerak naik, inflasi masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia sebesar 1,5%-3,5%. Data ini akan menjadi acuan penting dalam menilai ruang kebijakan moneter BI pada paruh kedua tahun ini.

Masih pada Rabu, BPS juga akan merilis neraca perdagangan Mei 2026. Surplus perdagangan pada April menyusut tajam menjadi hanya US$90 juta akibat lonjakan impor, meski ekspor masih tumbuh hampir 22% secara tahunan.

Untuk Mei, pasar memperkirakan surplus kembali melebar hingga sekitar US$4 miliar. Jika terealisasi, hal ini dapat memperkuat fundamental eksternal Indonesia sekaligus menjadi sentimen positif bagi rupiah.

6. B50 Meluncur 1 Juli, Pemerintah Beri Masa Transisi 3 Bulan

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan peluncuran bahan bakar biodiesel B50 pada 1 Juli 2026. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan, peluncuran campuran 50% solar dan 50% biodiesel berbasis minyak sawit tersebut rencananya akan dilakukan langsung oleh Presiden.

Meski diluncurkan pada awal Juli, implementasi B50 tidak akan berlangsung serentak. Pemerintah akan menghabiskan lebih dulu stok B40 yang masih beredar di pasar, sehingga masa transisi menuju penggunaan penuh B50 diperkirakan berlangsung sekitar tiga bulan.

Terkait harga, pemerintah belum menetapkan besaran harga jual B50. Namun, pemerintah memastikan mekanisme penetapan harganya akan mengikuti formula yang selama ini digunakan untuk minyak solar, sehingga tidak ada skema perhitungan baru khusus bagi B50.

Laode Sulaeman, Selasa (24/6/2026) menyampaikan "B50, berdasarkan informasi terakhir yang kami terima, itu nanti akan di-launching oleh Pak Presiden sendiri. Rencananya sih tanggal 1 Juli"

Mengacu pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 10 Tahun 2024, harga eceran solar dihitung berdasarkan harga dasar yang mencakup biaya perolehan, distribusi, penyimpanan, dan margin, kemudian ditambah PPN dan PBBKB serta dikurangi subsidi. Perhitungan tersebut menggunakan rata-rata harga indeks pasar dan nilai tukar rupiah selama satu bulan sebagai dasar penetapan harga untuk bulan berikutnya.

7. Inflasi Zona Euro

Eurostat akan merilis estimasi awal inflasi Juni pada Selasa malam waktu Eropa. Pada Mei, inflasi kawasan Euro mencapai 3,2%, tertinggi sejak September 2023, terutama dipicu lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah. Konsensus memperkirakan inflasi turun tipis menjadi 3,1%.

Data ini akan menjadi pertimbangan penting bagi Bank Sentral Eropa (ECB) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Inflasi yang tetap tinggi berpotensi mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama.

8. Pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh

Pasar juga akan mencermati pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh pada Rabu. Pernyataannya dinilai penting setelah serangkaian data ekonomi AS menunjukkan inflasi masih tinggi sementara pasar tenaga kerja tetap solid.

Warsh akan berbicara dalam Forum Bank Sentral Eropa (ECB) tentang Perbankan Sentral 2026 yang diselenggarakan di Sintra, Portugal pada Rabu (1/7/2026).

Investor akan mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed, terutama apakah bank sentral masih akan mempertahankan suku bunga tinggi atau mulai membuka peluang pelonggaran pada beberapa pertemuan mendatang.

9. Data Non-Farm Payrolls Amerika Serikat & Tingkat Pengangguran Amerika Serikat

Laporan Non-Farm Payrolls (NFP) Juni akan dirilis Kamis. Pada Mei, ekonomi AS menambah 172.000 lapangan kerja, jauh di atas ekspektasi pasar. Untuk Juni, konsensus memperkirakan penambahan tenaga kerja melambat ke kisaran 110.000-114.000.

Meski diperkirakan melambat, angka tersebut masih akan menjadi indikator utama kekuatan ekonomi AS. Hasil yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama.

Bersamaan dengan NFP, AS juga akan merilis tingkat pengangguran Juni. Pada Mei, tingkat pengangguran bertahan di 4,3%, sementara tingkat partisipasi angkatan kerja berada di 61,8%. Konsensus memperkirakan tingkat pengangguran tetap stabil di level tersebut.

Stabilnya pasar tenaga kerja memberi ruang bagi The Fed untuk tetap fokus menghadapi inflasi yang masih tinggi. Karena itu, kombinasi data ketenagakerjaan dan inflasi akan menjadi penentu utama arah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS.

10. LPS Naikkan Bunga Penjaminan Bank Umum, Apa Dampaknya?

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menaikkan tingkat bunga penjaminan (TBP) untuk simpanan rupiah di bank umum menjadi 3,75%.

Kenaikan TBP tersebut berlaku untuk periode 1 Juli hingga 30 September 2026. Keputusan ini ditetapkan dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) LPS Juni 2026.

Selain simpanan rupiah di bank umum, LPS juga menetapkan TBP untuk simpanan valuta asing di bank umum sebesar 2,00%. Sementara itu, TBP simpanan rupiah di Bank Perekonomian Rakyat (BPR) juga dinaikkan menjadi 6,25%.

"Penyesuaian TBP tersebut merupakan langkah antisipatif dan dalam menjaga kredibilitas tingkat bunga penjaminan sebagai acuan suku bunga wajar di perbankan sekaligus meningkatkan efektivitas kebijakan program penjaminan simpanan," kata Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu dalam konferensi pers Penetapan TBP LPS periode sewaktu-waktu secara virtual, Kamis (25/6/2026).

Anggito menjelaskan, TBP akan terus dievaluasi secara berkala dan dapat disesuaikan sewaktu-waktu jika terjadi perubahan signifikan pada kondisi perekonomian, pasar keuangan, maupun perbankan.

Kenaikan TBP LPS menjadi perhatian karena terjadi di tengah tren kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia dan tekanan pada nilai tukar rupiah. Dengan bunga penjaminan yang lebih tinggi, perbankan memiliki acuan baru dalam menjaga suku bunga simpanan tetap berada pada tingkat yang wajar, sekaligus menjaga kepercayaan deposan terhadap sistem perbankan.

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features