MARKET DATA
Newsletter

IHSG-Rupiah Hari Ini Bertarung Melawan "Panasnya" Ekonomi Amerika

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
26 June 2026 06:25
Ilustrasi LPS. (Dok. LPS)
Foto: Ilustrasi LPS. (Dok. LPS)

Memasuki perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (26/6/2026), pelaku pasar keuangan Tanah Air akan mencermati sejumlah sentimen penting dari dalam dan luar negeri.

Dari Amerika Serikat, perhatian pasar tertuju pada rilis data inflasi PCE dan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026. Sementara dari dalam negeri, LPS resmi menaikkan tingkat bunga penjaminan serta perkembangan mengenai rencana penerbitan Panda Bond Indonesia.

Data ekonomi AS yang masih kuat tercermin dari inflasi PCE, pertumbuhan ekonomi hingga klaim pengangguran yang melemah, bisa membuat The Fed kembali hawkish. Kondisi ini tentu saja merugikan Indonesia.

Inflasi PCE AS Tembus 4%

Inflasi Amerika Serikat (AS) kembali memanas pada Mei 2026. Data personal consumption expenditures atau PCE yang dirilis pada Kamis malam kemarin menunjukkan tekanan harga naik lebih tinggi, terutama akibat lonjakan harga energi imbas konflik Timur Tengah.

Biro Analisis Ekonomi Departemen Perdagangan AS mencatat indeks harga PCE naik 4,1% secara tahunan (yoy) pada Mei 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang sebesar 3,8% (yoy).

Realisasi tersebut menjadi kenaikan terbesar sekaligus pembacaan pertama di atas level 4% sejak April 2023.

Kenaikan inflasi terutama dipengaruhi oleh dampak perang yang dipimpin AS terhadap Iran, yang sempat mendorong harga minyak dan bensin lebih tinggi. Meski harga minyak dan bensin mulai turun dalam beberapa pekan terakhir seiring gencatan senjata yang masih rapuh, ekonom memperkirakan inflasi masih akan bertahan tinggi untuk sementara waktu.

Di luar komponen pangan dan energi yang volatil, core PCE juga masih meningkat. Core PCE naik 3,4% (yoy) pada Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang sebesar 3,3% (yoy).

Secara bulanan, core PCE naik 0,3%, sama seperti kenaikan pada April 2026.

Data PCE menjadi perhatian besar karena indikator ini merupakan acuan inflasi favorit The Federal Reserve dalam mengukur tekanan harga di perekonomian AS. Target inflasi The Fed berada di level 2%, sehingga realisasi PCE dan core PCE terbaru masih jauh di atas sasaran bank sentral.

Pada pekan lalu, The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%-3,75%. Namun, proyeksi kuartalan terbaru menunjukkan para pembuat kebijakan The Fed masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga tahun ini di tengah kekhawatiran inflasi yang kembali meningkat.

Inflasi PCE yang kembali panas dapat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Kondisi ini berpotensi mendorong dolar AS tetap kuat.

Ekonomi AS Direvisi Tumbuh Lebih Kuat

Ekonomi Amerika Serikat juga ternyata tumbuh lebih kuat dari perkiraan sebelumnya pada kuartal I-2026. Data final yang dirilis Biro Analisis Ekonomi AS semalam menunjukkan produk domestik bruto (PDB) AS tumbuh 2,1% secara tahunan.

Realisasi tersebut lebih tinggi dibandingkan estimasi sebelumnya. Sebelumnya, estimasi awal menunjukkan ekonomi AS tumbuh 2,0%, lalu sempat direvisi turun menjadi 1,6% pada pembacaan kedua.

Kenaikan estimasi final terutama dipengaruhi oleh revisi turun pada angka impor periode Januari hingga Maret 2026. Dalam perhitungan PDB, impor menjadi komponen pengurang. Karena itu, ketika angka impor direvisi lebih rendah, pertumbuhan utama PDB terlihat lebih kuat.

Meski angka utama PDB membaik, tidak semua komponen di dalamnya menunjukkan penguatan. Belanja rumah tangga hanya tumbuh 0,5%, menjadi laju pertumbuhan yang sangat lemah dalam setidaknya empat tahun terakhir.

Selain itu, final sales to private domestic purchasers, yang menjadi ukuran permintaan domestik inti karena tidak memasukkan belanja pemerintah, perubahan persediaan, dan arus perdagangan, justru direvisi turun menjadi 1,7% dari sebelumnya 2,4%.

Pada pembacaan kedua sebelumnya, Biro Analisis Ekonomi AS menurunkan estimasi PDB kuartal I-2026 karena investasi dan belanja konsumen lebih lemah. Dari sisi investasi, tekanan utama datang dari penurunan investasi persediaan swasta nonpertanian, terutama di sektor manufaktur dan perdagangan ritel.

Sementara dari sisi konsumsi, revisi turun terjadi pada belanja jasa, terutama layanan kesehatan. Namun, pelemahan tersebut sebagian tertahan oleh belanja barang yang lebih kuat.

Meski begitu, pertumbuhan kuartal I-2026 masih menunjukkan akselerasi dibandingkan kuartal IV-2025, ketika ekonomi AS hanya tumbuh 0,5%.

Data PDB ini akan dibaca bersama inflasi PCE yang kembali panas. Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang masih positif dan inflasi yang tinggi dapat memperkuat pandangan bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Klaim Pengangguran AS Turun

Klaim awal pengangguran Amerika Serikat (AS) turun pada pekan ketiga Juni 2026. Data ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih cukup solid, meski tanda-tanda perlambatan mulai terlihat dari kenaikan klaim lanjutan.

Jumlah warga AS yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran turun 12.000 menjadi 215.000 pada pekan ketiga Juni 2026. Angka tersebut menjadi yang terendah dalam empat pekan terakhir dan lebih rendah dari ekspektasi pasar yang sebesar 225.000.

Meski klaim awal turun, klaim lanjutan atau continuing claims justru naik 21.000 menjadi 1,821 juta pada pekan pertama Juni 2026. Posisi ini menjadi yang tertinggi dalam tiga bulan terakhir.

Klaim awal yang turun menunjukkan jumlah pemutusan hubungan kerja masih relatif rendah. Namun, kenaikan continuing claims mengindikasikan sebagian pencari kerja membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali mendapatkan pekerjaan.

Secara umum, jumlah klaim pengangguran memang lebih tinggi dibandingkan awal kuartal II-2026. Namun, levelnya masih tergolong kuat secara historis dan mencerminkan pola low firing and low hiring, yakni perusahaan tidak banyak melakukan PHK, tetapi juga tidak agresif menambah pekerja baru.

LPS Naikkan Bunga Penjaminan Bank Umum

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menaikkan tingkat bunga penjaminan (TBP) untuk simpanan rupiah di bank umum menjadi 3,75%.

Kenaikan TBP tersebut berlaku untuk periode 1 Juli hingga 30 September 2026. Keputusan ini ditetapkan dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) LPS Juni 2026.

Selain simpanan rupiah di bank umum, LPS juga menetapkan TBP untuk simpanan valuta asing di bank umum sebesar 2,00%. Sementara itu, TBP simpanan rupiah di Bank Perekonomian Rakyat (BPR) juga dinaikkan menjadi 6,25%.

"Penyesuaian TBP tersebut merupakan langkah antisipatif dan dalam menjaga kredibilitas tingkat bunga penjaminan sebagai acuan suku bunga wajar di perbankan sekaligus meningkatkan efektivitas kebijakan program penjaminan simpanan," kata Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu dalam konferensi pers Penetapan TBP LPS periode sewaktu-waktu secara virtual, Kamis (25/6/2026).

Anggito menjelaskan, TBP akan terus dievaluasi secara berkala dan dapat disesuaikan sewaktu-waktu jika terjadi perubahan signifikan pada kondisi perekonomian, pasar keuangan, maupun perbankan.

Kenaikan TBP LPS menjadi perhatian karena terjadi di tengah tren kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia dan tekanan pada nilai tukar rupiah. Dengan bunga penjaminan yang lebih tinggi, perbankan memiliki acuan baru dalam menjaga suku bunga simpanan tetap berada pada tingkat yang wajar, sekaligus menjaga kepercayaan deposan terhadap sistem perbankan.

Panda Bond RI Ditargetkan Terbit Juli

Pemerintah memastikan rencana penerbitan surat utang global berdenominasi yuan atau Panda Bond masih berjalan sesuai jadwal.

Plt. Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (DJSPSK) Kementerian Keuangan Herman Saheruddin mengatakan penerbitan Panda Bond masih ditargetkan sekitar Juli 2026. Namun, tanggal pastinya belum dapat dipastikan.

"Masih sesuai jadwal sih, Insya Allah awal Juli 2026," kata Herman saat ditemui wartawan di kantornya, Kamis (25/6/2026).

Herman menjelaskan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam kunjungannya ke China sudah bertemu dengan Gubernur bank sentral China atau People's Bank of China (PBoC) Pan Gongsheng. Pertemuan tersebut turut membahas perizinan penerbitan Panda Bond Indonesia.

"Kemarin kita sudah ketemu dengan PBoC, karena kan perizinannya harus masuk juga ke PBoC ya. Pak Menteri sudah ketemu dengan gubernur PBoC, beliau berkomitmen, oke kita bersedia untuk membantu, kita bisa cepat-cepat. Tapi kan tetap administrasi harus kita lakukan ya," jelas Herman.

Sebelumnya, Purbaya menyebut kunjungannya ke Beijing menghasilkan respons positif. Dalam kunjungan tersebut, pemerintah bertemu dengan Kementerian Keuangan China, PBoC, Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB), serta para investor.

"Hasilnya cukup baik. Kita bertemu Menteri Keuangan China, People's Bank of China, dan juga para investor di sini. Dukungan yang diberikan kepada Indonesia sangat kuat," ujar Purbaya di Beijing, Kamis (18/6/2026).

Salah satu hasil penting dari kunjungan tersebut adalah dukungan pemerintah China terhadap rencana penerbitan perdana Panda Bond Indonesia di pasar keuangan domestik China.

Purbaya menjelaskan, penerbitan Panda Bond merupakan bagian dari strategi diversifikasi sumber pembiayaan pembangunan nasional. Dengan demikian, pembiayaan pemerintah tidak hanya bergantung pada satu mata uang atau satu pasar keuangan tertentu.

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features