MARKET DATA
Newsletter

IHSG-Rupiah Hari Ini Bertarung Melawan "Panasnya" Ekonomi Amerika

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
26 June 2026 06:25
FILE PHOTO: A street sign for Wall Street is seen outside of the New York Stock Exchange (NYSE) in New York City, New York, U.S., June 28, 2021. REUTERS/Andrew Kelly//File Photo
Foto: Bendera Amerika Serikat (AP Photo/Charlie Riedel)

Dari pasar saham Amerika Serikat, bursa Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Kami atau Jumat dini hari waktu Indonesia.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 71,72 poin atau 0,14% menjadi 51.920,62. Indeks S&P 500 turun 0,73 poin atau 0,01% menjadi 7.357,49 dan indeks Nasdaq Composite melemah 118,03 poin atau 0,46% menjadi 25.358,60.

Indeks Nasdaq ditutup melemah pada perdagangan Kamis, terseret penurunan saham-saham raksasa teknologi. Sementara itu, S&P 500 nyaris tidak berubah dan Dow Jones ditutup menguat setelah investor mencermati serangkaian data ekonomi terbaru.

Saham-saham teknologi yang sempat menguat di awal perdagangan berbalik turun.

Hal ini membebani Nasdaq karena investor mulai khawatir terhadap besarnya belanja perusahaan hyperscaler untuk kecerdasan buatan (AI) serta siapa yang akan menanggung biaya investasi tersebut. Kekhawatiran itu mengalahkan sentimen positif dari tingginya permintaan AI yang tercermin dalam kinerja Micron dan Qualcomm.

 

Nasdaq kini berada di jalur menuju penurunan bulanan terbesar sejak Maret 2025.

Saham Apple anjlok 6,1% setelah perusahaan menaikkan harga iPad dan MacBook guna mengimbangi lonjakan biaya chip memori dan penyimpanan. Saham Nvidia, Microsoft, dan Alphabet juga turun antara 0,5% hingga 3,5%.

Di sisi lain, saham Micron melonjak 15,7% setelah laba dan proyeksi perusahaan melampaui ekspektasi Wall Street. Meski demikian, kekhawatiran mengenai belanja AI yang didanai utang oleh para hyperscaler serta potensi sikap Federal Reserve yang lebih agresif (hawkish) tetap membebani pasar sepanjang pekan ini.

"Pasar mulai menyadari bahwa jika satu perusahaan mencatat lonjakan laba dan pendapatan yang luar biasa, berarti ada pihak lain yang harus menanggung biayanya," kata Carol Schleif, Chief Investment Officer BMO Family Office, kepada Reuters,

"Agar Micron bisa menghasilkan laba dan pendapatan sebesar itu, uangnya tentu berasal dari kantong perusahaan lain."

Produsen chip memori Sandisk juga melonjak 22%. Saham Qualcomm, Western Digital, dan Seagate Technology turut mencatat kenaikan tajam.

Enam dari 11 sektor utama di S&P 500 ditutup menguat, dipimpin sektor industri yang naik 2,2%. Sebaliknya, sektor consumer discretionary dan consumer staples menjadi sektor dengan pelemahan terbesar,

Sementara itu, indeks semikonduktor Philadelphia (SOX) melonjak 3,2% dan berada di jalur mencatat kuartal terbaik sepanjang sejarah berdasarkan data LSEG.

Departemen Perdagangan AS merilis sejumlah data ekonomi pada Kamis.

 

Inflasi pengeluaran pribadi warga AS atau PCE kembali meningkat pada Mei dan menembus level 4% untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, didorong kenaikan harga energi. Kondisi ini berpotensi mendorong The Federal Reserve semakin dekat untuk kembali menaikkan suku bunga.

Merespons tekanan inflasi tersebut, pelaku pasar kini memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin sebelum akhir tahun, menurut data LSEG.

Sementara itu, revisi final produk domestik bruto (PDB) kuartal I menunjukkan ekonomi AS tumbuh 2,1%, lebih tinggi dibanding estimasi sebelumnya sebesar 1,6%. Di sisi lain, klaim tunjangan pengangguran juga menunjukkan penurunan yang lebih besar dari perkiraan, menandakan pasar tenaga kerja masih relatif kuat.

"Inflasi memang datang lebih tinggi, seperti yang diperkirakan banyak orang, tetapi belum bisa disebut terlalu panas," ujar Schleif.

"Dengan harga minyak yang mulai turun, ada dugaan inflasi akan terus melandai memasuki musim panas hingga musim gugur."

Harga minyak sendiri telah turun ke bawah level sebelum pecahnya perang pada pekan ini.

Di luar itu, saham Bio-Techne Corp melonjak 11,8% setelah Merck KGaA asal Jerman sepakat mengakuisisi perusahaan bioteknologi tersebut dengan harga US$73 per saham secara tunai, yang mencerminkan nilai perusahaan sekitar US$11,3 miliar.

Di Bursa New York (NYSE), jumlah saham yang naik mengungguli yang turun dengan rasio 1,4 banding 1, dengan 342 saham mencetak rekor tertinggi baru dan 276 saham menyentuh level terendah baru.

Sementara di Nasdaq, sebanyak 2.325 saham menguat dan 2.463 saham melemah, sehingga saham yang turun sedikit lebih banyak dibanding yang naik.

S&P 500 mencatat 55 saham yang mencapai level tertinggi dalam 52 minggu terakhir dan 15 saham yang mencetak level terendah baru. Adapun Nasdaq Composite membukukan 208 saham di level tertinggi baru dan 235 saham di level terendah baru.

Volume perdagangan di seluruh bursa AS mencapai 20,34 miliar saham, lebih rendah dibanding rata-rata 23,04 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features