MARKET DATA

Kredit Bank Melesat, Tak Disangka Sektor Ini Jadi Mesin Utama

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
24 June 2026 14:05
Ilustrasi kartu kredit (Freepik)
Foto: Ilustrasi kartu kredit (Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penyaluran kredit perbankan kembali menembus pertumbuhan dua digit pada Mei 2026. Setelah dalam beberapa bulan terakhir lebih sering tumbuh single digit, kredit bank akhirnya kembali melaju lebih kencang.

Berdasarkan laporan perkembangan uang beredar Bank Indonesia (BI) yang baru saja diumumkan pada Selasa (23/6/2026), kredit yang disalurkan perbankan pada Mei 2026 tercatat sebesar Rp8.759,0 triliun. Angka ini tumbuh 10,8% secara tahunan (year on year/yoy).

Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang sebesar 9,4% yoy. Capaian Mei 2026 juga menjadi pertumbuhan kredit tertinggi sejak Agustus 2024 atau dalam dua tahun terakhir, ketika kredit perbankan tumbuh 10,9% yoy.

Kredit perbankan sempat melaju cukup kuat sepanjang 2024. Namun, memasuki akhir 2024 hingga 2025, pertumbuhannya mulai melambat. Kredit bahkan lebih sering bergerak di bawah 10%, sebelum kembali menyentuh dua digit pada Januari 2026, lalu kembali turun pada Februari hingga April.

Kini, laju kredit kembali naik. Pertanyaannya, kredit tersebut mengalir ke mana?

Jika dilihat berdasarkan jenis penggunaan, pertumbuhan kredit pada Mei 2026 terutama ditopang oleh kredit investasi. Dari tiga kelompok utama, kredit investasi menjadi yang paling kencang dengan pertumbuhan 20,5% yoy.

Kredit investasi adalah kredit yang biasanya dipakai untuk kebutuhan jangka panjang, seperti pembangunan aset, pembelian mesin, ekspansi usaha, pembangunan pabrik, proyek pembangunan properti, hingga infrastruktur pendukung usaha.

Sementara itu, kredit modal kerja tumbuh 7,9% yoy. Kredit jenis ini biasanya dipakai perusahaan untuk kebutuhan operasional harian, seperti membeli bahan baku, membayar biaya produksi, atau menjaga arus kas usaha.

Adapun kredit konsumsi tumbuh lebih rendah, yakni 5,8% yoy yang bahkan mengalami penurunan dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya. Kredit konsumsi mencakup kredit yang lebih dekat dengan rumah tangga, seperti kredit pemilikan rumah, kendaraan bermotor, kartu kredit, dan kredit multiguna.

Dengan komposisi tersebut, kenaikan kredit pada Mei 2026 tidak hanya ditopang oleh konsumsi masyarakat. Dorongan terbesarnya justru datang dari pembiayaan investasi, yang biasanya berkaitan dengan ekspansi usaha dan pembangunan aset produktif.


Kredit Investasi Konstruksi Melonjak 65%

Lonjakan paling signifikan dalam kredit investasi terlihat pada sektor konstruksi. Pada Mei 2026, kredit investasi ke sektor ini tumbuh 65,1% yoy. Dengan outstanding kredit tercatat sebesar Rp292,6 triliun atau mengalami kenaikan tajam dibandingkan Mei 2025 yang sebesar Rp177,3 triliun. Artinya, dalam setahun ada tambahan kredit investasi konstruksi sekitar Rp115,3 triliun.

Kenaikan tersebut membuat sektor konstruksi menjadi salah satu penopang utama kredit investasi perbankan. 

Lonjakan kredit investasi sektor konstruksi sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru. Pada era Presiden Joko Widodo, kredit ke sektor ini juga sempat tumbuh kuat karena didorong oleh masifnya pembangunan proyek infrastruktur strategis nasional.

Saat itu, dorongan utamanya datang dari proyek-proyek besar yang terlihat jelas secara fisik, mulai dari jalan Tol Trans Jawa, Jalan Tol Trans Sumatera, proyek jalan di Kalimantan, hingga pembangunan infrastruktur di Papua. Dengan skala proyek sebesar itu, kebutuhan pembiayaan untuk konstruksi ikut meningkat.

Namun, pola pada 2026 tampaknya berbeda. Lonjakan kredit investasi konstruksi kali ini tidak serta-merta mencerminkan kembalinya pembangunan jalan tol besar-besaran seperti pada periode sebelumnya.

Di era Presiden Prabowo Subianto, arah program pemerintah lebih banyak bergeser ke proyek yang menyebar ke daerah dan berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat maupun aktivitas ekonomi lokal. Bentuknya tidak hanya jalan, tetapi juga bisa berupa perumahan, gudang, gerai usaha, fasilitas logistik, kawasan produksi, hingga bangunan pendukung program pemerintah.

Karena itu, pertumbuhan kredit investasi konstruksi yang melonjak 65,1% yoy pada Mei 2026 lebih tepat dibaca sebagai tanda bergeraknya proyek-proyek baru. Bukan lagi semata-mata infrastruktur jalan skala besar, tetapi pembangunan fasilitas yang lebih tersebar dan dekat dengan aktivitas ekonomi di daerah.

Pertumbuhan sektor konstruksi juga tidak hanya terlihat dari kredit investasi. Kredit modal kerja ke sektor konstruksi ikut tumbuh tinggi, yakni sebesar 26,6% yoy pada Mei 2026.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan pembiayaan di sektor konstruksi tidak hanya datang dari pembangunan aset atau proyek jangka panjang, tetapi juga dari kebutuhan operasional proyek yang sedang berjalan. Kredit modal kerja biasanya digunakan untuk kebutuhan harian perusahaan, seperti pembelian material bangunan, pembayaran tenaga kerja, biaya pengerjaan proyek, hingga kebutuhan kas kontraktor.

Secara nominal, kredit modal kerja konstruksi naik dari Rp229,7 triliun pada Mei 2025 menjadi Rp290,7 triliun pada Mei 2026. Artinya, dalam setahun ada tambahan sekitar Rp61,0 triliun.

Bukan Tol, Koperasi Desa Diperkirakan Jadi Pendorong Baru

Perbedaan arah program ini membuat sumber pertumbuhan kredit konstruksi pada 2026 lebih beragam. Salah satu yang patut dicermati adalah program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Program ini memiliki kebutuhan pembangunan yang cukup besar. Bukan hanya pembentukan kelembagaan koperasi, tetapi juga pembangunan gerai, pergudangan, dan fasilitas pendukungnya di banyak daerah.

Dalam PMK Nomor 15 Tahun 2026, pemerintah mengatur penyaluran DAU/DBH atau Dana Desa untuk percepatan pembangunan fisik gerai, pergudangan, dan kelengkapan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Aturan ini berlaku mulai 1 April 2026.

Program tersebut pun sudah mulai terlihat realisasinya. Hingga 16 Mei 2026, sebanyak 9.294 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih telah terbangun. Dari jumlah tersebut, 1.061 koperasi mulai dioperasionalkan secara serentak.

Operasionalisasi itu dipusatkan di Koperasi Desa Merah Putih Desa Nglawak, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Sebanyak 1.061 koperasi yang mulai beroperasi tersebut terdiri dari 530 unit di Jawa Timur dan 531 unit di Jawa Tengah.

Skalanya pun juga masih akan bertambah. Pemerintah menyebut sekitar 25.000 KDKMP masih dalam proses pembangunan di seluruh Indonesia. Targetnya, 30.000 koperasi selesai dibangun dan beroperasi penuh hingga 16 Agustus 2026.

Besarnya realisasi dan target pembangunan ini membuat program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih relevan dikaitkan dengan bergeraknya kredit konstruksi. Sebab, pembangunan gerai, gudang, dan fasilitas pendukung koperasi membutuhkan kontraktor, material bangunan, tenaga kerja, serta pembiayaan.

Salah satu program prioritas pemerintahan Prabowo-Gibran adalah Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) terus dipercepat pengerjaan fisiknya. Di salah satu desa terpencil di Jawa Barat Selatan, Desa Padasuka, Kecamatan Cibinong, progres fisik sudah tahap finisihing. (CNBC Indonesia/Suhendra)Salah satu program prioritas pemerintahan Prabowo-Gibran adalah Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) terus dipercepat pengerjaan fisiknya. Di salah satu desa terpencil di Jawa Barat Selatan, Desa Padasuka, Kecamatan Cibinong, progres fisik sudah tahap finisihing. (CNBC Indonesia/Suhendra) Foto: Salah satu program prioritas pemerintahan Prabowo-Gibran adalah Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) terus dipercepat pengerjaan fisiknya. Di salah satu desa terpencil di Jawa Barat Selatan, Desa Padasuka, Kecamatan Cibinong, progres fisik sudah tahap finisihing. (CNBC Indonesia/Suhendra)

Selain itu, program 3 juta rumah juga berpotensi menjadi pendorong lain bagi sektor konstruksi.

Program ini membutuhkan pembangunan hunian dalam skala besar, sehingga ikut menggerakkan kebutuhan pembiayaan untuk pengembang, kontraktor, material bangunan, hingga sektor pendukung lainnya.

Dorongan dari sektor perumahan juga terlihat dari kredit properti yang masih tumbuh tinggi. Pada Mei 2026, penyaluran kredit properti tumbuh 17,2% yoy. Pertumbuhan ini didorong oleh kredit KPR dan KPA, kredit konstruksi, serta kredit real estat.

Jadi, jika sebelumnya kredit konstruksi banyak dikaitkan dengan proyek jalan dan infrastruktur besar, kali ini dorongannya lebih menyebar ke pembangunan perumahan, gudang, gerai usaha, fasilitas logistik, dan bangunan pendukung program pemerintah.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular