6 Kabar Genting Menghantui RI Pekan Ini, MSCI & Stimulus Jadi Sorotan
Bursa saham global bergerak melemah pada perdagangan Jumat (19/6/2026), dengan mayoritas bursa Eropa dan Asia-Pasifik ditutup di zona merah. Pelaku pasar masih mencermati keberlanjutan kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dimediasi Washington.
Sementara itu, bursa saham dan pasar obligasi AS tutup pada Jumat karena libur nasional Juneteenth. Perdagangan futures tetap berlangsung, tetapi dengan jam yang terbatas.
Sentimen global masih dibayangi perkembangan terbaru dari kesepakatan AS-Iran. Wakil Presiden AS JD Vance pada Kamis membela kesepakatan sementara Presiden Donald Trump dengan Iran. Dia menegaskan bahwa bantuan ekonomi untuk Teheran hanya akan diberikan jika Iran mematuhi seluruh isi kesepakatan.
"Amerika Serikat tidak memberikan satu sen pun uang kepada Iran. Satu-satunya cara Iran mendapatkan sumber daya ini adalah jika mereka sepenuhnya mematuhi ketentuan kesepakatan," ujar Vance dikutip dari CNBC International.
Dari pihak Iran, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei juga menggambarkan kesepakatan tersebut sebagai perjanjian bersyarat. Dia mengatakan telah menyetujui memorandum tersebut setelah menerima jaminan bahwa hak-hak Iran dan "front perlawanan" tetap dilindungi.
Di Eropa, bursa saham ditutup melemah setelah pasar merespons negatif penundaan pembicaraan antara Teheran dan Washington. Indeks pan-European Stoxx 600 ditutup turun 0,2%.
Bursa Inggris FTSE 100 melemah 0,35%, sementara indeks CAC 40 Prancis turun 0,55%. Adapun DAX Jerman berakhir stagnan.
Dari sisi sektoral, saham minyak dan gas menjadi penopang utama. Sebaliknya, saham pertambangan dan perjalanan menjadi pemberat indeks yang lebih luas.
Di Inggris, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik lebih dari 7 basis poin ke level 4,8247%. Kenaikan terjadi setelah data resmi menunjukkan pinjaman pemerintah mencapai level tertinggi untuk bulan Mei sejak 2019, dengan defisit anggaran sebesar 23,3 miliar poundsterling atau sekitar US$30,8 miliar.
Sentimen politik Inggris juga ikut menjadi perhatian. Perdana Menteri Keir Starmer menghadapi potensi tantangan kepemimpinan dari rival Partai Buruh, Andy Burnham, yang akan kembali ke parlemen Inggris setelah memenangkan pemilihan khusus pada Kamis.
Dari Asia-Pasifik, pergerakan bursa juga cenderung melemah. Indeks Nikkei 225 Jepang masih mampu menguat 0,28% ke level 71.250,06 setelah sempat menyentuh rekor tertinggi pada Kamis. Namun, indeks Topix turun 0,57% dan berakhir di 4.044,96.
Bursa Korea Selatan juga melemah. Indeks Kospi turun 0,13% ke level 9.052,42 setelah sehari sebelumnya sempat menembus level 9.000 untuk pertama kalinya. Sementara itu, indeks Kosdaq yang berisi saham-saham berkapitalisasi kecil terkoreksi tajam 3,43%.
Saham Samsung Electronics berbalik melemah 2,34% setelah sebelumnya sempat menguat. Sebaliknya, saham SK Hynix masih naik 2,94%.
Di Australia, indeks S&P/ASX 200 turun 0,92% dan menutup perdagangan di level 8.828,7.
Sejumlah pasar utama Asia juga tidak beroperasi karena libur. Pasar saham China, Hong Kong, dan Taiwan tutup pada Jumat lalu.
Meski Wall Street libur pada Jumat, kontrak berjangka indeks saham AS bergerak melemah. Futures S&P 500 turun 0,4%, Nasdaq 100 futures melemah 0,5%, sementara kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average turun 0,3% pada pukul 05.41 waktu AS Timur.
Sebelum libur Juneteenth, Wall Street menutup perdagangan pekan pendek di zona hijau pada Kamis. Tiga indeks utama AS menguat setelah The Federal Reserve memberi sinyal masih terbukanya peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini, meski sebelumnya sinyal tersebut sempat memicu tekanan di pasar saham.
Indeks S&P 500 naik 1,08% dan ditutup di level 7.500,58. Nasdaq Composite melesat 1,91% ke 26.517,93. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average menguat 72,15 poin atau 0,14% dan berakhir di level 51.564,70.
(evw/evw) Addsource on Google