MARKET DATA
Newsletter

Perang Mereda: Jepang, China & The Fed Malah Bikin RI Ketar-Ketir

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
17 June 2026 06:22
Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh, menyampaikan pidato pada hari upacara pelantikannya, di Ruang Timur Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 22 Mei 2026. (REUTERS/Evelyn Hockstein)
Foto: Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh, menyampaikan pidato pada hari upacara pelantikannya, di Ruang Timur Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 22 Mei 2026. (REUTERS/Evelyn Hockstein)

Pergerakan pasar keuangan pada pertengahan pekan ini terus mencerna serangkaian rilis data ekonomi esensial dari ranah domestik maupun global. Di tengah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang mengerek harga energi dan menciptakan volatilitas pada rantai pasok, investor kini telah mengantongi sejumlah indikator makroekonomi kunci.

Berikut adalah data-data penting yang sudah dirilis dan juga akan rilis pada hari ini:

Perkembangan Perang


Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan sementara selama 60 hari untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.

Dalam kesepakatan tersebut, AS akan mencabut blokade pelabuhan Iran dan mengizinkan Teheran kembali menjual minyak, sementara Iran akan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Presiden Donald Trump menegaskan Iran tidak akan memiliki senjata nuklir, meski isu program rudal balistik dan dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok bersenjata regional belum masuk agenda negosiasi. Kesepakatan ini berpotensi memberikan manfaat ekonomi besar bagi Iran melalui pelonggaran sanksi dan pencairan aset yang dibekukan.

Meski demikian, posisi Israel yang tidak terlibat langsung dalam perundingan menimbulkan ketidakpastian terhadap keberlangsungan gencatan senjata. Merespons kabar tersebut, harga minyak dunia kembali jatuh ke level terendah dalam tiga bulan karena pasar memperkirakan pasokan minyak Iran akan kembali meningkat.

Utang Luar Negeri Indonesia Tumbuh di Tengah Rekor Denominasi Yuan

Pada Senin (15/6/2026) kemarin, Bank Indonesia merilis Statistik Utang Luar Negeri Indonesia periode April 2026 yang tercatat mencapai US$439,7 miliar.

Posisi tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 1,9% secara tahunan, bergerak lebih tinggi apabila dibandingkan dengan pertumbuhan pada Maret yang berada di level 1,0%.

Pertumbuhan ini utamanya ditopang oleh utang luar negeri sektor publik, di mana utang pemerintah mencatatkan angka US$216,4 miliar atau tumbuh 3,7% secara tahunan.

Kenaikan pada sektor publik ini berbanding terbalik dengan utang luar negeri sektor swasta yang masih melanjutkan fase kontraksi sebesar 0,7% menjadi US$193,2 miliar.

Stabilitas pada surat berharga negara yang mencatatkan aliran modal masuk bersih turut mencerminkan masih terjaganya kepercayaan investor asing terhadap fundamental perekonomian domestik.

Aktivitas Manufaktur China Melaju di Atas Ekspektasi Pasar

Dari kawasan regional, Biro Statistik Nasional China merilis data aktivitas industri periode Mei 2026 pada Selasa kemarin yang memberikan indikasi pemulihan pada sisi pasokan.

Produksi industri China mengalami akselerasi dengan pertumbuhan sebesar 4,5% secara tahunan, melampaui angka bulan sebelumnya yang berada di level 4,1% serta lebih tinggi dari konsensus pasar yang memproyeksikan angka 4,3%.

Pemulihan aktivitas pabrik ini sangat ditopang oleh sektor manufaktur yang tumbuh 4,4%, dipimpin oleh lonjakan signifikan pada industri peralatan komputer dan komunikasi sebesar 17,0% serta industri otomotif yang naik 8,3%.

Di sisi lain, tidak seluruh sektor industri mencatatkan performa positif. Produksi produk mineral non-logam mengalami penurunan sebesar 5,6%, sementara sektor pertambangan secara umum mengalami moderasi pertumbuhan dari 3,8% menjadi 2,3%.

Bagi pasar domestik, stabilitas aktivitas industri di China ini memberikan sentimen yang cukup krusial.

Sebagai negara tujuan ekspor utama bagi Indonesia, geliat pabrik di China diharapkan dapat menjaga serapan permintaan terhadap bahan baku industri dan komoditas andalan nasional seperti batu bara, produk hilirisasi nikel, hingga minyak sawit mentah.

Konsumsi Domestik China Kehilangan Momentum

Berbanding terbalik dengan pencapaian sektor industrinya, rilis data penjualan ritel China pada Selasa kemarin justru memberikan sinyal pelemahan yang nyata dari sisi permintaan domestik.

Penjualan ritel pada bulan Mei secara mengejutkan terkontraksi sebesar 0,6% secara tahunan. Penurunan ini merupakan yang pertama kalinya terjadi sejak Desember 2022, sekaligus mematahkan ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan penjualan ritel akan stagnan tanpa pertumbuhan.

Momentum libur Hari Buruh pada awal bulan Mei ternyata gagal menstimulasi belanja masyarakat, khususnya untuk barang-barang diskresioner yang bernilai besar.

Pelemahan konsumsi di China terlihat paling mencolok pada anjloknya penjualan kendaraan bermotor yang menyusut hingga 16,1%. Sektor lain yang juga tertekan cukup dalam meliputi penjualan peralatan rumah tangga dan perangkat audiovisual yang turun 15,6%, serta bahan bangunan yang terkoreksi 13,6%.

Bank of Japan Kerek Suku Bunga ke Level Tertinggi Sejak 1995

Masih pada hari Selasa kemarin, Bank of Japan (BoJ) mengambil langkah pengetatan moneter dengan menaikkan suku bunga acuan jangka pendek sebesar 25 basis poin menjadi 1,0%.

Keputusan BoJ ini bisa berdampak ke Indonesia mengingat Jepang adalah salah satu investor terbesar di surat utang Indonesia, termasuk Samurai Bond.

Kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) menjadi 1,0% berpotensi menekan rupiah dan memicu arus keluar modal dari pasar saham maupun obligasi Indonesia karena aset Jepang menjadi lebih menarik bagi investor.

Kondisi ini dapat mendorong kenaikan yield SBN dan menambah tantangan bagi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Meski demikian, kenaikan suku bunga juga mencerminkan membaiknya ekonomi Jepang yang berpotensi mendukung ekspor dan investasi Jepang di Indonesia dalam jangka panjang. Namun, dampaknya terhadap Indonesia tetap lebih kecil dibandingkan kebijakan suku bunga The Fed AS.

Keputusan BoJ kemarin diambil melalui pemungutan suara dengan hasil 7-1 ini sejalan dengan ekspektasi pasar, sekaligus membawa biaya pinjaman di Jepang ke level tertingginya sejak September 1995.

Otoritas moneter Jepang secara eksplisit menyatakan bahwa intervensi kebijakan ini diperlukan untuk meredam risiko lonjakan inflasi yang lebih luas akibat guncangan harga energi global, yang dipicu oleh berlanjutnya eskalasi konflik yang melibatkan Iran.

Dewan kebijakan Bank of Japan mencatat bahwa inflasi inti memiliki potensi untuk terakselerasi melewati target 2% di tengah tren kenaikan biaya energi dan barang impor.

Meskipun terdapat satu anggota dewan yang menolak kenaikan suku bunga karena khawatir akan risiko perlambatan produksi dan lapangan kerja, bank sentral menegaskan bahwa kondisi finansial secara umum akan tetap dijaga pada tingkat yang akomodatif guna tidak mematikan laju aktivitas ekonomi domestik.

Daya Beli Konsumen Amerika Serikat Tetap Solid

Memasuki hari ini, Rabu (17/6/2026) perhatian pelaku pasar beralih ke rilis data penjualan ritel Amerika Serikat periode April 2026 yang menunjukkan tingkat resiliensi ekonomi di tengah tekanan inflasi.

Penjualan ritel berhasil mencatatkan peningkatan sebesar 0,5% secara bulanan, sebuah angka yang sejalan dengan prediksi konsensus.

Faktor pendorong utama pertumbuhan ini berasal dari stasiun pengisian bahan bakar yang melonjak 2,8% sebagai konsekuensi langsung dari tren kenaikan harga minyak mentah dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Selain energi, pertumbuhan penjualan juga ditopang oleh sektor perangkat elektronik serta perlengkapan olahraga dan hobi. Di sisi lain, sektor penjualan furnitur dan pakaian mengalami penyusutan.

Namun, apabila komponen otomotif, bahan bangunan, dan bahan bakar dikeluarkan untuk keperluan penghitungan produk domestik bruto, penjualan ritel inti tetap menunjukkan kenaikan sebesar 0,5%.

Rapat The Fed

Federal Open Market Committee (FOMC) akan mengumumkan kebijakan suku bunga pada Rabu Waktu AS atau Kamis dini hari Waktu Indonesia (17/6/2026) setelah menggelar rapat pada Selasa dan Rabu.

Keputusan suku bunga diumumkan pada Kamis dan dilanjutkan konferensi pers Ketua The Fed, Kevin Warsh.


Pasar menantikan sejumlah hal penting, mulai dari keputusan suku bunga yang diperkirakan tetap di kisaran 3,50%-3,75%, proyeksi ekonomi terbaru (Summary of Economic Projections), proyeksi jalur suku bunga (dot plot), hingga pandangan The Fed mengenai inflasi, harga minyak, dan dampak konflik Timur Tengah. Bagi Indonesia, perhatian utama tidak hanya tertuju pada keputusan suku bunga, tetapi juga nada pernyataan The Fed.


Sikap yang lebih hawkish berpotensi menekan rupiah, IHSG, dan pasar obligasi domestik, sementara sinyal yang lebih dovish dapat menjadi sentimen positif bagi aset berisiko dan pasar negara berkembang.

Hari Pertama Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia Menjadi Fokus

Agenda paling krusial dari dalam negeri pada hari ini adalah dimulainya hari pertama pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia.

Pertemuan bulanan ini akan menjadi momen bagi otoritas moneter untuk mengevaluasi secara komprehensif perkembangan indikator makroekonomi domestik, kondisi likuiditas perbankan, laju inflasi, serta posisi nilai tukar rupiah di tengah kuatnya dinamika perekonomian global.

Pasar sangat menantikan hasil asesmen bank sentral mengenai dampak rambatan dari harga komoditas global dan suku bunga negara maju terhadap stabilitas keuangan nasional.

Rapat hari ini akan menjadi landasan rumusan keputusan suku bunga acuan yang akan diumumkan kepada publik pada Kamis besok.

Sebelumnya, pada 9 Juni  Bank Indonesia secara mendadak mengambil langkah strategis berupa kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5,5% guna memberikan bantalan terhadap nilai tukar rupiah dari tekanan eksternal.

(gls/gls) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features