Fenomena Baru: 2 Krisis Terakhir, IHSG Bangkit Tanpa Ditopang Asing
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan dinamika yang fluktuatif sekaligus menarik perhatian para pelaku pasar dalam sepekan terakhir.
Setelah mengalami tekanan hebat hingga terperosok ke level terendah atau bottom di angka 5.317,91 pada perdagangan Senin (8/6/2026), indeks secara mengejutkan mencatatkan pembalikan arah yang agresif.
Puncaknya terjadi pada Selasa (9/6/2026), di mana IHSG membukukan lonjakan luar biasa sebesar 7,57%. Angka ini mencatatkan sejarah sebagai salah satu rekor kenaikan harian tertinggi sejak Era Reformasi pada tahun 2000-an.
Momentum pemulihan ini terus berlanjut hingga penutupan sesi pertama hari perdagangan Jumat (12/6/2026), di mana IHSG berhasil merangsek naik dan kembali bertengger di level 6.043,55.
Pemulihan cepat dari level 5.310-an ke atas batas psikologis 6.000 mengindikasikan adanya dorongan akumulasi beli yang masif sesuai dengan penjelasan di Newsletter ketika IHSG berhasil bertengger di level 5.800 ketika penutupan perdagangan Rabu (10/6/2026).
Sinyal Kebijakan dan Intervensi Pemerintah
Lonjakan signifikan yang dimulai pada Selasa (9/6/2026) tersebut tidak lepas dari respons cepat para pemangku kebijakan. Pada hari yang sama, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengumpulkan jajaran direktur bank Himbara, Ketua BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria, serta Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
Pertemuan tingkat tinggi ini secara khusus membahas upaya menstabilkan pasar saham yang sedang bergejolak, termasuk rencana strategis untuk melakukan pembelian kembali (buyback) saham perbankan pelat merah yang valuasinya sudah sangat terdiskon akibat kepanikan pasar.
Langkah responsif ini memperlihatkan munculnya kepekaan terhadap krisis (sense of crisis) dari pemerintah guna menjaga ketahanan pasar modal nasional.
Upaya tersebut sejalan dengan langkah preventif yang telah diambil oleh Bank Indonesia melalui keputusan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) guna meredam dampak volatilitas sentimen global dan mengamankan stabilitas moneter domestik.
Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco bertemu pimpinan Bank Himbara. (CNBC Indonesia/Romys Bhinekasari) Foto: Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco bertemu pimpinan Bank Himbara. (CNBC Indonesia/Romys Bhinekasari) |
Dominasi Domestik di Tengah Arus Keluar Asing
Kondisi yang menjadikan fase rebound IHSG kali ini sebagai sebuah anomali adalah absennya partisipasi pemodal asing. Ketika indeks melesat tajam dari dasar 5.317 ke level 6.043, investor asing justru terpantau terus mendistribusikan portofolio mereka secara masif.
Berdasarkan data perdagangan pada Selasa (9/6/2026), di saat IHSG melambung 7,57%, asing mencatatkan nilai jual bersih (net outflow) sebesar Rp2,44 triliun.
Tekanan tersebut berlanjut pada Rabu (10/6/2026) dengan aliran dana keluar menyentuh Rp3,12 triliun, dan perlahan mereda pada Kamis (11/6/2026) di angka Rp252,64 miliar. Hari ini di tengah perdagangan mengalami
Jika diakumulasikan sejak awal tahun (year-to-date), total arus modal asing yang keluar dari bursa saham Indonesia telah membengkak hingga Rp67,63 triliun.
Fakta ini menegaskan bahwa puluhan triliun pasokan saham yang dibuang oleh investor asing pasca IHSG menyentuh level bottom sepenuhnya diserap dan ditampung oleh kekuatan likuiditas investor ritel maupun institusi domestik.
Pola Historis Bottoming Pasar Saham
Perpindahan kepemilikan aset berskala besar dari asing ke investor lokal pada level valuasi bawah sering kali menjadi konfirmasi fundamental dari pembentukan harga bottoming.
Berdasarkan rekam jejak historis, dominasi jual asing di titik terendah indeks merupakan anomali yang pernah terjadi pada beberapa siklus krisis sebelumnya. Berikut adalah data historis pergerakan aliran dana asing dua pekan setelah IHSG menyentuh level bottom:
Tabel di atas menunjukkan bahwa pasca IHSG menyentuh bottom pada 8 April 2025, investor asing masih mencatatkan outflow lanjutan sebesar Rp20,19 triliun.
Kondisi serupa terjadi setelah bottom 24 Maret 2020, dengan tekanan jual asing tersisa sebesar Rp1,61 triliun. Karakteristik ini sangat kontras dengan siklus pemulihan pada 29 September 2015, 28 Agustus 2013, dan 28 Oktober 2008 yang pembalikannya langsung ditandai oleh aliran dana masuk (net buy).
Sinyal Bull Market: Kenaikan 20% dari Titik Terendah
Untuk mengonfirmasi apakah tren pemulihan berjalan solid, pelaku pasar kerap mengacu pada indikator teknis bull market, yaitu fase ketika indeks telah mencatatkan akumulasi kenaikan sebesar 20% dari level bottom.
Pada fase transisi krusial menuju konfirmasi bull market ini, pergerakan dana asing kerap menunjukkan perubahan pola akumulasi. Berikut adalah data pergerakan asing selama periode dua pekan sebelum bull market resmi terjadi:
Merujuk pada paparan data historis di atas, terlihat jelas sebuah pola mayoritas di mana arus dana asing mulai berbalik masuk (net buy) menjelang konfirmasi bull market.
Pada transisi tahun 2025, 2016, 2013, dan 2008, asing telah mencatatkan akumulasi beli yang berkisar antara Rp1,39 triliun hingga Rp5,98 triliun. Namun, anomali nyata terjadi pada fase pemulihan 27 Maret 2020.
Kala itu, pasar tetap berhasil menembus konfirmasi bull market meskipun asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp2,74 triliun dalam dua pekan sebelumnya.
Dengan mempertimbangkan analisis empiris tersebut, daya tahan likuiditas domestik yang saat ini menopang IHSG hingga melambung ke 6.043 memberikan sinyal awal dari tahapan bottoming yang solid.
Penyerapan pasokan saham puluhan triliun oleh investor lokal adalah fondasi krusial pada fase awal ini. Kemampuan ini tidak terlepas dari pergeseran struktural demografi investor di bursa yang memicu anomali pada dua krisis terakhir.
Sebagai gambaran, total komposisi transaksi investor asing di bursa pada tahun 2019 berada di angka 32%, dengan total Single Investor Identification (SID) hanya mencapai sekitar 2,48 juta.
Perubahan perilaku investasi yang masif mulai terjadi pada pandemi 2020, sejalan dengan melonjaknya jumlah investor sebesar 56% menjadi 3,87 juta. Peningkatan tajam ini didominasi oleh gelombang investor domestik berusia di bawah 30 tahun yang menyumbang porsi 54,79% dari total investor.
Tren inklusi ini tereskalasi pesat hingga pada tahun 2025, di mana total SID meroket menyentuh 20,32 juta, dengan komposisi transaksi investor asing berada di level 36%.
Transformasi demografis inilah yang menjadi penggerak pivot utama dalam dua krisis terakhir di IHSG. Kekuatan likuiditas domestik membuktikan bahwa pasar saat ini memiliki determinasi penuh untuk merangsek naik dan mengonfirmasi siklus bull market baru, terlepas dari ada atau tidaknya partisipasi modal asing di awal fase pembalikan arah.
Jika berkaca pada sejarah, dominasi fondasi lokal ini kelak justru akan memikat kembali masuknya modal asing sebagai katalis penguat lanjutan di pasar modal Indonesia.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls) Add
source on Google
