MARKET DATA

Rencana Kenaikan Tarif Transjakarta: Begini Kondisi Keuangannya

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
09 June 2026 12:15
Bus TransJakarta melintas di depan halte bus Bundaran Senayan, Jakarta, Selasa, (30/5/2023). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Bus TransJakarta melintas di depan halte bus Bundaran Senayan, Jakarta, Selasa, (30/5/2023). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah mempertimbangkan kenaikan tarif bus Transjakarta untuk kawasan Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek).

Salah satu yang dipertimbangkan adalah tarif Transjabodetabek rute Blok M-Bandara Soekarno-Hatta akan segera naik setelah masa promo berakhir pada 12 Juni 2026. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menilai tarif Rp3.500 yang berlaku saat ini tidak realistis untuk menopang operasional jangka panjang, mengingat tarif moda transportasi lain dengan rute serupa umumnya sudah menembus Rp100.000.

Meski belum mengungkapkan besaran tarif baru, Pramono memastikan Pemprov DKI tengah menghitung skema tarif yang lebih rasional dengan tetap mempertimbangkan keterjangkauan masyarakat dan keberlanjutan layanan. Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno sempat menyebut tarif berpotensi berada di kisaran Rp10.000-Rp15.000.

Sebagai catatan, Transjakarta resmi diluncurkan dan beroperasi pada 15 Januari 2004. Tarif awal adalah Rp 3.500 untuk semua perjalanan. Hingga 2026 atau lebih dari 22 tahun, tarif Transjakarta tidak pernah naik.

 

Tarif Rp 3.500 yang telah berlaku sejak tahun 2005 dinilai sudah tidak mencerminkan biaya operasional aktual, perluasan jaringan koridor, serta peningkatan kualitas integrasi antarmoda yang terus berjalan.

Rencana penyesuaian ini pada dasarnya difokuskan untuk memperkuat postur keuangan daerah tanpa mengurangi kualitas layanan transportasi publik.

Beban Subsidi dan Urgensi Penyesuaian Tarif

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara konsisten menanggung beban subsidi yang signifikan untuk menjaga agar tarif transportasi umum tetap terjangkau. Merujuk pada postur anggaran saat ini, alokasi subsidi transportasi pada APBD mencapai Rp 4,77 triliun.

Dari jumlah tersebut, porsi terbesar disalurkan khusus untuk operasional Transjakarta dengan nilai mencapai Rp 3,75 triliun. Alokasi ini secara jelas merepresentasikan tingginya tingkat ketergantungan kelangsungan operasional Transjakarta pada suntikan dana dari pemerintah daerah.

Kondisi struktural ini dipertegas oleh keterangan Pramono yang menjelaskan bahwa subsidi tiket untuk Transjakarta mencapai Rp 401 miliar pada tahun lalu. Tingginya akumulasi subsidi tiket tersebut menjadi salah satu landasan empiris mengapa kenaikan tarif dipandang perlu untuk segera direalisasikan.

Dengan hitungan tersebut, setiap penumpang saat ini mendapat subsidi rata-rata Rp12.258 per perjalanan, dengan tarif layanan masih Rp3.500 u

Langkah rasionalisasi tarif ini diproyeksikan dapat mengurangi beban pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), sehingga kapabilitas ruang fiskal dapat dialokasikan untuk sektor krusial lainnya.

Berikut adalah rincian rekapitulasi pertumbuhan pendapatan, laba bersih, dan subsidi Transjakarta selama periode 2021 hingga 2025:

Kinerja Keuangan di Tengah Ekspansi Volume Penumpang

Berdasarkan laporan kinerja keuangan konsolidasian, Transjakarta mencatatkan tren pertumbuhan pendapatan secara nominal. Pada pembukuan tahun 2025, total pendapatan menyentuh angka Rp 4,98 triliun, yang merepresentasikan pertumbuhan sebesar 11,38% secara tahunan (YoY) dibandingkan pencapaian tahun 2024.

Sejalan dengan pencapaian tersebut, laba bersih tahun berjalan juga mencatat pertumbuhan sebesar 3,58% YoY menjadi Rp 207,75 miliar pada 2025.

Kendati demikian, analisis rasio keuangan menunjukkan bahwa tingkat profitabilitas perusahaan sangat bergantung pada komponen Subsidi Angkutan Pelayanan Publik yang terus mengalami eskalasi. Pada tahun 2025, realisasi subsidi mencapai Rp 4,03 triliun, atau naik 11,35% YoY.

Jika meninjau indikator laju pertumbuhan majemuk tahunan (CAGR) periode 2021-2025, beban pokok pendapatan tumbuh sebesar 12,46%, melampaui pertumbuhan total pendapatan yang berada di level 10,22%.

Kesenjangan pertumbuhan antara beban operasional dan arus kas masuk ini merupakan indikasi bahwa struktur biaya perusahaan semakin berat seiring dengan lonjakan volume penumpang, yang melesat dari 98,88 juta pada 2021 menjadi 413 juta penumpang pada 2025.

Keseimbangan Fiskal dan Layanan Publik

Merespons dinamika ini, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, memaparkan bahwa penyesuaian tarif bukanlah instrumen kebijakan yang bersifat hitam-putih.

Reformasi tarif merupakan komponen vital dalam ekosistem makro perkotaan yang menuntut akurasi perhitungan. Kebijakan ini harus mendesain titik temu yang presisi antara upaya penyehatan postur fiskal daerah dengan jaminan keadilan sosial bagi seluruh lapisan masyarakat.

Dengan cakupan wilayah operasional yang terus berekspansi, struktur tarif Rp 3.500 dinilai memiliki deviasi yang terlalu jauh dari tingkat harga keekonomian. Oleh karena itu, penyesuaian tarif dipandang sebagai strategi penyelarasan yang krusial.

Kenaikan tarif yang terukur akan memberikan likuiditas fiskal yang lebih responsif bagi pemerintah daerah, sekaligus memastikan kapasitas Transjakarta dalam mempertahankan standar keandalan operasional sebagai tulang punggung mobilitas masyarakat.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular