Dolar AS Ditendang di Mana-Mana, Ringgit Perkasa, Rupiah Tetap Ambruk
Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia mayoritas menguat pada hari ini, Selasa (9/6/2026).
Merujuk Refinitiv, won Korea memimpin penguatan dengan menanjak 0,51% disusul dengan ringgit yang menguat 0,27%.
Namun, rupiah dan yen justru ambruk. Rupiah masih melemah 0,03% setelah sempat menguat di awal perdagangan.
Penguatan mata uang Asia ini ditopang oleh melemahnya dolar Amerika Serikat(AS). Indeks dolar hari ini sudah turun ke level 99, setelah dua hari bertengger di level 100.
Pelemahan indeks ini menandai investor tengah menjual dolar AS dan beralih ke investasi lain.
Pelemahan indeks, terutama ditopang oleh melemahnya harga minyak dunia. Dengan harga minyak dunia yang turun, inflasi diperkirakan sedkit mereda.
Harga minyak dunia bergerak melemah pada perdagangan Selasa (9/6/2026) pagi WIB setelah pelaku pasar mencermati perkembangan terbaru di Timur Tengah.
Meredanya serangan langsung antara Iran dan Israel mengurangi sebagian premi risiko geopolitik yang sempat mengerek harga energi dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut data Refinitiv pada pukul 09.15 WIB, harga minyak Brent berada di US$93,64 per barel, turun 0,65% dibandingkan penutupan sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 0,70% ke US$90,66 per barel. Pelemahan tersebut terjadi setelah sehari sebelumnya Brent ditutup di US$94,25 per barel dan WTI di US$91,30 per barel.
source on Google