14 Kabar Genting Guncang RI Pekan Ini, IHSG-Rupiah Dibuat Gemetar
Bursa Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan hebat pada penutupan perdagangan Jumat, dipicu oleh aksi jual massal yang melanda saham-saham teknologi, khususnya sektor semikonduktor. Indeks Nasdaq Composite yang padat saham teknologi mencatatkan kejatuhan harian tertajam sejak periode gejolak tarif pada April 2025 dengan koreksi sebesar 4,18% ke posisi 25.709,43.
Pelemahan ini juga menyeret indeks S&P 500 yang merosot 2,64% menjadi 7.383,74, serta indeks Dow Jones Industrial Average yang kehilangan 1,35% dan berakhir di level 50.866,78. Padahal, sehari sebelumnya, indeks Dow Jones baru saja mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.
Kejatuhan di akhir pekan ini sekaligus memutus tren positif pasar, di mana S&P 500 mencatatkan pekan negatif pertamanya dalam sepuluh minggu terakhir setelah melemah lebih dari 2%, sementara Nasdaq ambles hingga 4,7% dalam sepekan.
Katalis negatif yang membayangi sektor cip sebenarnya mulai terakumulasi sejak pertengahan pekan. Tekanan awal muncul setelah emiten raksasa Broadcom tidak merevisi naik proyeksi pendapatan dari lini bisnis cip kecerdasan buatan (AI) mereka pada perdagangan Rabu malam. Kondisi ini memicu kekecewaan investor dan membebani pergerakan sektor tersebut pada hari Kamis.
Intensitas aksi jual kemudian mencapai puncaknya pada hari Jumat setelah Biro Statistik Tenaga Kerja AS merilis data nonfarm payrolls bulan Mei yang tumbuh jauh di atas ekspektasi. Lapangan kerja baru tercatat melonjak sebanyak 172.000, melampaui prediksi para ekonom yang memperkirakan penambahan sebesar 80.000 pekerjaan.
Data ketenagakerjaan yang terlampau kuat ini langsung memicu lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS, di mana yield US Treasury tenor 10 tahun naik ke atas 4,5% dan tenor 30 tahun menembus 5%.
Situasi tersebut menghidupkan kembali kekhawatiran pasar mengenai tingginya biaya pinjaman bagi korporasi yang tengah mendanai infrastruktur AI.
Kombinasi makroekonomi ini berdampak destruktif bagi saham semikonduktor utama. iShares Semiconductor ETF mencatatkan hari terburuknya sejak Maret 2020 setelah anjlok 10%, meskipun secara tahun berjalan masih tumbuh 79%.
Kejatuhan dipimpin oleh Marvell Technology yang ambles lebih dari 16%, diikuti oleh produsen memori Micron Technology yang merosot 13% setelah pada hari sebelumnya juga terkoreksi 8%. Saham Intel Corporation dan Advanced Micro Devices (AMD) masing-masing melemah sekitar 11%, sementara saham Broadcom merosot hampir 8%.
Tidak hanya di pasar ekuitas, indikasi adanya likuidasi posisi spekulatif juga merembet ke pasar aset kripto, di mana Bitcoin tersungkur ke bawah level US$ 60.000 untuk pertama kalinya sejak akhir tahun 2024.
Para analis menilai banyak investor mulai melakukan aksi ambil untung demi menyeimbangkan kembali portofolio mereka yang sudah mengalami overweight di sektor teknologi.
Di sisi lain, penurunan tajam sektor teknologi ini juga disinyalir erat kaitannya dengan persiapan pasar menyambut penawaran umum perdana (IPO) berskala raksasa dari SpaceX yang dijadwalkan melantai pekan depan.
Perusahaan kedirgantaraan dan AI milik Elon Musk tersebut bersiap masuk bursa dengan target valuasi mencapai US$ 1,77 triliun. Sejumlah pengamat pasar meyakini bahwa likuidasi massal pada saham cip dan Bitcoin terjadi karena para pengelola dana perlu mengosongkan ruang portofolio guna mengamankan likuiditas untuk membeli saham IPO SpaceX.
Akibat kejatuhan sektor teknologi ini, arus modal di Wall Street terpantau langsung beralih ke sektor yang lebih aman (defensive) seperti layanan kesehatan dan barang konsumsi pokok.
Strategi rotasi portofolio ini berhasil mengangkat performa saham Colgate-Palmolive sebesar 4%, Coca-Cola lebih dari 3%, dan Johnson & Johnson sebesar 2% pada akhir perdagangan.
(gls/gls) Addsource on Google