MARKET DATA

Kapitalisme Amerika Masuk Fase 'Akhir Zaman', Kiamat Jadi Modal Jualan

Aisha Mayra,  CNBC Indonesia
04 June 2026 19:30
Bersiaplah Hadapi Kiamat Lapangan Kerja & Gejolak Politik Akibat AI
Foto: Infografis/ Bersiaplah Hadapi Kiamat Lapangan Kerja & Gejolak Politik Akibat AI/ Ilham Restu

Jakarta, CNBC Indonesia - Kapitalisme Amerika dinilai memasuki fase baru yang dipenuhi narasi kiamat dan perubahan besar.

Mulai dari Elon Musk dengan ambisi kolonisasi Mars, perusahaan kecerdasan buatan seperti Anthropic dan OpenAI yang memperingatkan risiko AI, hingga perusahaan pertahanan yang mengantisipasi konflik global.

Banyak pelaku bisnis kini membangun strategi dan menarik investasi dengan menjual visi tentang masa depan yang penuh ancaman.

Di Wall Street, kekhawatiran akan krisis, gelembung aset, hingga perubahan ekonomi akibat AI semakin mendominasi. Ironisnya, di tengah berbagai ketakutan tersebut, pasar saham AS tetap berada di level tinggi karena investor justru berlomba menanamkan modal pada perusahaan yang mengklaim akan menjadi pemenang dalam perubahan besar yang diyakini akan datang.

Dulu perusahaan menjual mimpi.

Mereka menjanjikan perjalanan yang lebih cepat, komunikasi yang lebih mudah, atau hidup yang lebih nyaman. Masa depan hampir selalu digambarkan sebagai sesuatu yang lebih baik dari hari ini.

Sekarang nadanya mulai berbeda.

AI disebut bisa menggantikan jutaan pekerjaan. Krisis iklim digambarkan sebagai ancaman eksistensial. Konflik antara Amerika Serikat dan China terus dibahas sebagai risiko terbesar ekonomi global. Bahkan sebagian tokoh teknologi berbicara terbuka tentang kemungkinan kepunahan manusia.

Anehnya, semakin besar ancaman yang diceritakan, semakin besar pula perhatian yang datang. Investor masuk. Valuasi naik. Modal mengalir.

Dalam kapitalisme modern, ketakutan tampaknya telah menjadi salah satu cerita yang paling laku dijual.

Ketika Ancaman Menjadi Pitch Deck

Fenomena itu terlihat jelas di industri teknologi.

Elon Musk berbicara tentang Mars sebagai cara menjaga keberlangsungan peradaban manusia. OpenAI dan Anthropic berkali-kali mengingatkan publik tentang potensi AI yang bisa mengubah dunia secara fundamental. Di saat yang sama, mereka juga berada di antara perusahaan yang paling agresif mengumpulkan modal.

Tentu mereka menjual teknologi. Tetapi mereka juga menjual sebuah narasi.

Bukan sekadar bahwa produk mereka berguna, melainkan bahwa dunia sedang menuju perubahan besar dan mereka berada di pusat perubahan tersebut.

Bagi investor, cerita seperti itu sulit diabaikan.

Pertumbuhan 5% terdengar biasa. Mengubah masa depan manusia terdengar jauh lebih menarik.

Perang yang Belum Terjadi

Pola yang sama muncul di luar Silicon Valley.

Perusahaan seperti Palantir dan Anduril berkembang di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang keamanan global. Ancaman konflik di Taiwan, perlombaan senjata, hingga ketergantungan dunia terhadap mineral kritis menjadi bagian dari argumen bisnis mereka.

Yang menarik, sebagian besar nilai ekonominya muncul sebelum konflik itu benar-benar terjadi.

Pasar tidak sedang membiayai perang hari ini. Pasar membiayai kemungkinan perang di masa depan. Risiko yang belum terwujud sudah lebih dulu menciptakan peluang bisnis.

Wall Street dan Obsesi pada Krisis

Ketakutan juga menjadi bagian dari budaya pasar keuangan.

Tahun lalu, salah satu buku yang paling banyak dibaca di Wall Street berjudul 1929, merujuk pada tahun kejatuhan pasar saham yang memicu Great Depression. Tahun ini perhatian bergeser ke 1873, tahun yang identik dengan salah satu krisis keuangan terbesar abad ke-19.

Para trader juga gemar melihat masa kini lewat lensa bencana masa lalu.

 

Apakah pasar sedang mengulang 1999? Akankah berakhir seperti 2000? Atau justru menyerupai 2008?

Pasar selalu berusaha membaca masa depan. Tetapi sering kali yang dicari bukan hanya peluang berikutnya, melainkan kemungkinan krisis berikutnya.

Ketakutan yang Menghasilkan Uang

Jika ditarik lebih jauh, hampir semua cerita besar yang sedang mendominasi pasar memiliki pola yang mirip.

Semuanya berangkat dari satu premis yang sama: dunia sedang menuju perubahan besar.

Bagi investor, itu bukan sekadar ancaman. Itu juga peluang.

Jika sebuah perusahaan berhasil meyakinkan pasar bahwa dunia akan berubah secara drastis, maka perusahaan tersebut juga bisa meyakinkan investor bahwa mereka adalah bagian penting dari masa depan yang sedang dibentuk.

Semakin besar perubahan yang dijanjikan, semakin mudah menjelaskan mengapa modal dibutuhkan sekarang.

Dalam logika seperti itu, ketakutan bukan lawan investasi. Ia justru bisa menjadi bahan bakarnya.

Mengapa Cerita Ini Begitu Laku?

Tentu tidak semua ancaman dibuat-buat. Sebagian memang nyata. Sebagian lainnya masih berupa kemungkinan.

Namun pasar modal memiliki satu karakter yang tidak pernah berubah: ia menyukai cerita besar.

Investor mencari pertumbuhan luar biasa. Media memberi perhatian lebih pada skenario ekstrem. Perusahaan berlomba menunjukkan bahwa mereka berada di pusat perubahan terbesar abad ini.

Dan tidak ada cerita yang lebih besar daripada gagasan bahwa dunia tidak akan lagi sama seperti sekarang. Narasi itu membuat keputusan investasi terasa harus diambil hari ini, bukan besok.

Ketika Ketakutan Menjadi Aset

Selama berabad-abad, pengusaha mengumpulkan modal dengan menjanjikan dunia yang lebih baik. Kini semakin banyak yang melakukannya dengan menggambarkan dunia yang jauh lebih buruk.

Ironisnya, hasilnya sering sama. Investor tetap datang.

Kapitalisme modern masih hidup dari keyakinan terhadap masa depan. Hanya saja masa depan yang dijual hari ini semakin sering berbentuk peringatan, bukan harapan. Dan sejauh ini, pasar tampaknya tidak keberatan.



(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular