MARKET DATA
Newsletter

Huru-Hara IHSG & Rupiah Tak Kunjung Usai, Investor Menanti Kebangkitan

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
05 June 2026 06:22
Nah Lho! 2 Negara Ini Diramal Kena Krisis Ekonomi di 2024
Foto: Infografis/ Nah Lho! 2 Negara Ini Diramal Kena Krisis Ekonomi di 2024/ Ilham Restu
  • Pasar keuangan Indonesia babak belur pada perdagangan kemarin, IHSG dan rupiah ambruk
  • Wall Street berakhir beragam, Dow Jones fekor
  • Data ekonomi dan perkembangan terbaru kebijakan pemerintah akan menjadi penggerak pasar keuangan hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri kembali babak belur pada perdagangan kemarin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah sama-sama melemah.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen pasar keuangan Indonesia bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Pada Kamis (4/6/2026) di awal perdagangan IHSG sempat turun 5% ke level 5.644,23. Kemudian pada akhir sesi 1, IHSG turun 3,48% ke level 5.734,26.

Menjelang pukul 15.00 WIB, IHSG memangkas koreksi dengan signifikan hingga akhirnya menutup perdagangan di level 5.839,78 atau -1,7%.

IHSG kembali ditutup melemah di tengah tekanan jual yang meluas.

Sebanyak 625 saham berada di zona merah, sementara hanya 106 saham menguat dan 85 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp25,11 triliun dengan volume 39,7 miliar saham dalam 2,29 juta kali transaksi, sedangkan kapitalisasi pasar tercatat Rp10.284 triliun.

Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 1,27 triliun.

 

Pelemahan indeks terutama dipicu oleh saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Central Asia (BBCA), dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) meski sebagian tekanan berhasil ditahan oleh penguatan PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM

Koreksi berkelanjutan tersebut membawa IHSG kembali ke level terendah dalam setahun terakhir. Tekanan pasar dipengaruhi oleh akumulasi sentimen negatif, mulai dari dampak penurunan outlook Danantara Investment Management, pelemahan rupiah yang telah menembus Rp18.000 per dolar AS, hingga kekhawatiran menjelang publikasi Market Accessibility Review dan Classification Review MSCI pada 19 dan 24 Juni mendatang.

Rumor mengenai potensi penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market turut memperburuk sentimen, meski Bursa Efek Indonesia menegaskan informasi tersebut tidak benar dan status Indonesia di MSCI hingga saat ini masih berada dalam kategori emerging market.

 

Beralih ke pasar valas, Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Mata uang Garuda kembali mencatatkan level terburuk sepanjang sejarah.

Melansir data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,45% ke level Rp18.020/US$. Posisi ini sekaligus menegaskan bahwa rupiah telah menembus level psikologis baru di Rp18.000/US$.

Tekanan terhadap rupiah sudah terlihat sejak awal perdagangan. Rupiah dibuka melemah 0,11% di level Rp17.960/US$. Namun, hanya beberapa menit setelah pembukaan, mata uang Garuda langsung ambruk menembus Rp18.000/US$ dan bertahan di atas level tersebut hingga penutupan perdagangan.

Pelemahan rupiah yang semakin dalam turut direspons oleh pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pemerintah telah mengucurkan dana lebih dari Rp8 triliun untuk stabilisasi pasar obligasi.

Langkah tersebut dilakukan untuk membantu Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Caranya dengan membeli kembali atau buyback Surat Utang Negara (SUN) yang dilepas investor asing.

Dengan strategi tersebut, pemerintah berupaya menjaga stabilitas imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) di pasar obligasi.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melesat ke 6, 8% atau posisi tertinggi sejak 18 Mei 2026. Imbal hasil yang tinggi  menandai adanya penurunan harga SBN karena ada aksi jual masif.

Dari bursa saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street berakhir beragam pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.

Indeks saham Dow Jones Industrial Average melonjak ke rekor tertinggi sementara Nasdaq Composite justru tertinggal karena investor tampak mulai mengalihkan dana dari saham-saham chip ke sektor non-teknologi.

Dow Jones yang berisi 30 saham unggulan melonjak 874,86 poin atau 1,73% dan ditutup di level tertinggi sepanjang masa 51.561,93. Sementara itu, Nasdaq turun 0,09% ke 26.830,96, sedangkan S&P 500 naik 0,41% ke 7.584,31.

Saham UnitedHealth memimpin penguatan Dow dengan kenaikan lebih dari 5%. JPMorgan Chase dan Walmart turut mendorong kenaikan indeks dengan masing-masing naik 3% dan hampir 1%. Di luar sektor teknologi, saham seperti Costco dan Eli Lilly juga menguat sekitar 1% dan lebih dari 4%.



Perputaran dana ini dipicu oleh aksi jual pada saham Broadcom, yang membuat investor mengurangi eksposur terhadap saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI). Produsen chip tersebut anjlok lebih dari 12% setelah melaporkan pendapatan kuartal fiskal kedua yang berada di bawah ekspektasi pasar.

Saham-saham semikonduktor yang sebelumnya menjadi motor utama reli pasar ke level rekor ikut tertekan. VanEck Semiconductor ETF (SMH) turun lebih dari 1%. Sementara itu, Arm Holdings merosot lebih dari 4%, dan Micron Technology jatuh hampir 8%.

"Setelah musim laporan keuangan yang luar biasa, tema investasi AI masih tetap kuat. Namun reli ini mulai kehilangan tenaga setelah melonjak tajam selama lebih dari dua bulan," kata Chief Investment Officer Montis Financial, Dennis Follmer, dikutip dari CNBC International.

Ia menambahkan, ketidakpastian yang masih berlanjut di Selat Hormuz berpotensi membuat pasar saham bergerak stagnan untuk sementara waktu.

"Pergerakan hari Kamis menunjukkan fase awal rotasi sektor. Ini juga menjadi pengingat bahwa tidak semua saham AI memiliki karakteristik yang sama dan setiap saham memiliki ekspektasi pasar yang berbeda," ujarnya.

Kenaikan Dow terjadi sehari setelah Wall Street mengalami tekanan akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas.

Iran melancarkan serangan ke Bandara Internasional Kuwait pada Rabu dini hari.

Sehari sebelumnya, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan berhasil menggagalkan sejumlah rudal balistik dan drone Iran, serta melakukan serangan balasan yang disebut sebagai aksi pertahanan diri di Pulau Qeshm di Teluk Persia. Menurut CENTCOM, langkah tersebut dilakukan sebagai respons atas upaya serangan yang dilakukan Teheran.

Hari ini akan menjadi perdagangan terakhir pada pekan yang penuh gejolak ini. Setelah babak belur pada Kamis kemarin, IHSG dan rupiah akan dihadapkan pada sejumlah sentimen hari ini, baik dari dalam ataupun luar negeri.

1. Perkembangan Perang

Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada para penasihatnya bahwa gencatan senjata yang telah berlangsung selama beberapa pekan dengan Iran masih bertahan meskipun sesekali terjadi bentrokan, menurut sumber pejabat AS yang tidak disebutkan namanya kepada The Wall Street Journal.

Trump juga menyatakan akan mempertimbangkan mengakhiri gencatan senjata tersebut jika Iran menewaskan personel militer Amerika, kata para pejabat tersebut.

Gedung Putih menolak berkomentar mengenai laporan itu saat dimintai tanggapan oleh CNBC. Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa meskipun Trump "selalu lebih memilih solusi diplomatik, ia telah menjelaskan konsekuensinya jika Iran menolak mencapai kesepakatan."

Gencatan senjata itu sempat berada di ambang kegagalan awal pekan ini setelah media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran menghentikan pembicaraan dengan AS akibat kampanye militer Israel di Lebanon. Iran diketahui mendukung kelompok militan Hezbollah, yang telah meluncurkan serangan rudal ke Israel.

Milisi Hezbollah yang didukung Iran menolak usulan gencatan senjata baru di Lebanon, sementara Israel menegaskan tidak akan menarik pasukannya dari wilayah tersebut. Kondisi ini menjadi pukulan bagi upaya Presiden AS Donald Trump untuk menghentikan konflik dan membuka jalan menuju kesepakatan damai dengan Iran.

Iran menjadikan gencatan senjata di Lebanon sebagai syarat utama dalam negosiasi dengan Washington. Namun pemimpin Hezbollah Naim Qassem menolak kesepakatan yang dimediasi AS.

Di tengah situasi tersebut, bentrokan masih terjadi di Lebanon, Gaza, Israel utara, dan Kuwait. Iran dan AS juga kembali saling menyerang di kawasan Teluk, termasuk di sekitar Strait of Hormuz, jalur vital bagi perdagangan minyak dunia.

Meski ekspor minyak Iran turun ke level terendah dalam enam tahun, harga minyak dunia justru melemah karena pasar berharap masih ada peluang penyelesaian diplomatik antara AS dan Iran.

Sementara itu, badan pengawas nuklir PBB International Atomic Energy Agency menyatakan program nuklir Iran relatif tidak berubah meski perang telah berlangsung selama tiga bulan.

2. IHSG Berdarah-darah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan hebat pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Di awal sesi, indeks sempat anjlok hingga 5% ke level 5.644,23 sebelum memangkas sebagian besar kerugiannya menjelang penutupan. IHSG akhirnya ditutup di level 5.839,78 atau melemah 1,7%, setelah sebelumnya turun 3,48% pada akhir sesi pertama.

Pergerakan investor asing menjadi sorotan utama. Pada sesi pertama, asing masih mencatatkan beli bersih sebesar Rp179 miliar. Namun situasi berubah drastis menjelang penutupan perdagangan. Data menunjukkan investor asing membukukan total pembelian Rp12,52 triliun dan penjualan Rp13,79 triliun, sehingga berakhir dengan net sell sebesar Rp1,27 triliun di seluruh pasar.

Aksi jual terbesar terkonsentrasi pada saham-saham perbankan jumbo. BBCA dilepas asing senilai Rp475,5 miliar, disusul BBRI Rp451,6 miliar, BMRI Rp164 miliar, dan BBNI Rp106,2 miliar. Secara total, empat bank besar tersebut mencatatkan foreign sell lebih dari Rp1,19 triliun.

Koreksi berkelanjutan ini membuat IHSG kembali menyentuh level terendah dalam setahun terakhir.

Sentimen negatif datang dari berbagai arah, mulai dari penurunan outlook Danantara Investment Management, pelemahan rupiah yang telah menembus Rp18.000 per dolar AS, hingga kekhawatiran pasar terhadap hasil penilaian lembaga pemeringkat dan evaluasi MSCI yang akan diumumkan pada Juni ini. Kondisi tersebut mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di Indonesia.

Di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar, pemerintah berupaya meredam sentimen negatif. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah telah bertemu dengan Standard & Poor's (S&P) Global untuk menjelaskan kondisi ekonomi Indonesia yang dinilai tetap solid. Menurut Airlangga,

inflasi masih terkendali, investasi terus tumbuh, dan program hilirisasi mulai memberikan dampak terhadap peningkatan nilai tambah industri nasional. Pemerintah berharap fundamental ekonomi yang kuat dapat menjaga kepercayaan investor di tengah gejolak pasar keuangan yang masih berlangsung.

3.Dolar Tembus Rp18.000, Istana Minta Tetap Tenang di Tengah Deretan Tekanan ke Rupiah

Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan berat dan untuk pertama kalinya menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Berdasarkan data Refinitiv, rupiah sempat menyentuh Rp18.015/US$, melemah 0,42%.

Pelemahan ini terjadi relatif cepat setelah rupiah menutup perdagangan di atas Rp17.000/US$ pada awal April lalu, sehingga dalam waktu kurang dari dua bulan mata uang Garuda terdepresiasi sekitar Rp1.000 per dolar AS.

Menanggapi pelemahan rupiah, Istana menegaskan pemerintah terus melakukan koordinasi dengan otoritas ekonomi. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan

"Berkenaan dengan masalah Rupiah, kami pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan, kemudian Bank Indonesia, kemudian juga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berkoordinasi secara intens untuk terus memonitor dan kemudian melakukan langkah-langkah." Ia juga menekankan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. "Tetapi yang pasti bisa kami sampaikan bahwa kita harus yakin bahwa sesungguhnya fundamental ekonomi kita yang tergambar dari pertumbuhan ekonomi, kemudian dari inflasi yang masih terjaga, insyaallah sesungguhnya kita memiliki fundamental ekonomi yang cukup kuat gitu," katanya.

4. DPR Sahkan Revisi UU P2SK, Peran BI-OJK Meluas hingga Bursa Mineral dan Kripto

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) resmi mengesahkan revisi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) menjadi undang-undang. Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Paripurna ke-20 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 yang dipimpin Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Pengesahan dilakukan setelah Komisi XI DPR menyelesaikan pembahasan tingkat pertama bersama pemerintah. Wakil Ketua Komisi XI Mohamad Hekal menjelaskan revisi dilakukan untuk mengoptimalkan peran sektor keuangan dalam mendukung perekonomian nasional. Pembahasan aturan ini berlangsung sejak 4 Februari 2026 dan mencakup 1.212 daftar inventaris masalah (DIM), terdiri dari 805 DIM batang tubuh dan 407 DIM penjelasan.

Seluruh fraksi di DPR menyetujui revisi UU P2SK untuk disahkan menjadi undang-undang. Regulasi anyar ini memuat 17 topik utama yang menyentuh berbagai aspek sektor keuangan, mulai dari perbankan, pasar modal, asuransi, hingga aset digital.

 

Salah satu perubahan penting adalah perluasan mandat Bank Indonesia. Ke depan, BI tidak hanya bertugas menjaga stabilitas nilai rupiah, tetapi juga didorong untuk berperan lebih aktif dalam mendukung penciptaan lapangan kerja. Revisi ini juga memperkuat perlindungan hukum bagi anggota Dewan Gubernur, pejabat, dan pegawai BI yang menjalankan tugas sesuai peraturan dan itikad baik.

Di sisi lain, kewenangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diperluas. OJK akan mengatur dan mengawasi sektor pasar modal, keuangan derivatif, bursa karbon, bursa mineral dan komoditas strategis, serta pengelolaan dana publik lainnya termasuk dana haji dan tabungan perumahan rakyat.

Aturan baru tersebut juga memberikan ruang lebih besar bagi DPR dalam melakukan evaluasi terhadap kinerja Bank Indonesia, OJK, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Hasil evaluasi dan rekomendasi DPR nantinya bersifat mengikat dan harus ditindaklanjuti oleh masing-masing otoritas serta pemerintah.

Adapun 17 poin utama yang masuk dalam revisi UU P2SK meliputi:

  1. Kelembagaan LPS

  2. Kelembagaan OJK

  3. Kelembagaan BI

  4. Evaluasi kinerja LPS, OJK, dan BI oleh DPR

  5. Perluasan usaha perbankan dan perbankan syariah

  6. Demutualisasi bursa efek

  7. Transfer margin transaksi pasar keuangan

  8. Surat utang Danantara

  9. Asuransi dan asuransi syariah dalam resolusi

  10. Dana pertanggungan wajib kecelakaan lalu lintas

  11. Bursa mineral dan komoditas strategis

  12. Aset kripto

  13. Satgas penanganan pinjaman daring dan judi daring

  14. Pusat Finansial Internasional Indonesia

  15. Penanganan piutang macet UMKM

  16. Penyelidikan dan penyidikan sektor jasa keuangan serta mekanisme keadilan restoratif

  17. Bank dalam penyehatan

Dengan cakupan yang sangat luas, revisi UU P2SK menjadi salah satu perubahan regulasi sektor keuangan terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah berharap aturan ini mampu memperkuat fondasi industri keuangan nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia dalam menghadapi transformasi ekonomi dan perkembangan instrumen keuangan baru.

5. Prabowo Siapkan Perpres Baru, Program PLTS 100 GW Mulai Digeber

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menyiapkan regulasi baru untuk mempercepat realisasi program pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Giga Watt (GW) yang menjadi arahan Presiden Prabowo Subianto.

Payung hukum program tersebut akan dituangkan dalam Peraturan Presiden (Perpres), bersamaan dengan revisi Perpres Nomor 112 Tahun 2022 yang mengatur harga energi baru terbarukan.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan, "Pada saat ini kita sedang membahas penguatan regulasi untuk realisasi program arahan Bapak Presiden yaitu PLTS 100 GW. Kami sedang membuat regulasi PLTS 100 GW dalam bentuk Peraturan Presiden dan juga melakukan revisi perubahan dari Perpres 112 tahun 2022 yaitu mengenai harga energi baru terbarukan." Pernyataan itu disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR RI, Kamis (4/6/2026).

 

Menurut Eniya, pengembangan PLTS 100 GW akan mencakup berbagai skema, mulai dari PLTS yang terhubung ke jaringan PLN (on-grid), PLTS atap, hingga program dedieselisasi yang dipadukan dengan sistem baterai. Pemerintah juga menggandeng Kementerian Pekerjaan Umum untuk memanfaatkan bendungan dan waduk sebagai lokasi PLTS terapung.

"Di dalamnya kami juga melakukan kolaborasi dengan Kementerian PU untuk pengembangan PLTS terapung dan PLTA. PLTS apung merupakan salah satu upaya kita untuk merealisasikan PLTS 100 GW. Selain itu PLTS off-grid juga menjadi komponen yang bisa mendukung realisasi 100 GW," ujar Eniya.

Selain menyiapkan pasokan listrik dari energi surya, pemerintah juga menyusun strategi peningkatan permintaan listrik agar kapasitas yang dibangun dapat terserap optimal. 

6. Preskon APBN KiTa dan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan


Menteri Keuangan  Purbaya Yudhi Sadewa hari ini akan menggelar konferensi pers APBN KiTA untuk memaparkan knerja APBN per akhir Mei 2026. Menarik disimak sejauh mana realisasi belanja dan pendapatan hingga utang pemerintah hingga bulan ke lima.

Sebagai catatan, isu defisit sempat membuat pasar keuangan cemas di akhir Maret lalu.

OJK hari ini juga akan menggelar rapat bulanan Mei untuk memaparkan kondisi terbaru sektor keuangan di Indonesia, mulai dari bank hingga asuransi.

7. Data PHK Di AS

Perusahaan-perusahaan di AS mengumumkan 97.006 pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Mei 2026, naik dari 83.387 pada April dan menjadi yang tertinggi sejak Januari. Angka ini juga merupakan jumlah PHK Mei terbesar sejak 2020 serta menandai kenaikan selama tiga bulan berturut-turut.

Kecerdasan buatan (AI) menjadi alasan utama PHK untuk bulan ketiga berturut-turut. Sektor teknologi memimpin dengan 38.242 PHK, disusul transportasi (6.909), jasa (6.288), dan fintech (5.731). Menurut Challenger, Gray & Christmas, banyak perusahaan juga melakukan restrukturisasi akibat merger, akuisisi, dan penyesuaian menuju ekonomi berbasis AI.

Sementara itu, klaim tunjangan pengangguran baru di AS naik 13.000 menjadi 225.000 pada pekan terakhir Mei atau per 29 Mei 2026, lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 212.000 dan menjadi level tertinggi sejak awal Februari.

Namun, jumlah penerima tunjangan pengangguran berkelanjutan turun 8.000 menjadi 1,777 juta, menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih relatif stabil meski mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan.

8. Non-Farm Payrolls (NFP) AS Mei 2026

Beralih ke sentimen global, Paman Sam akan merilis beberapa data penting pada hari ini.

Ekonomi Amerika Serikat menambahkan 115.000 pekerjaan pada April 2026, menyusul revisi ke atas sebesar 185.000 pada Maret. Realisasi ini berada jauh di atas perkiraan pasar sebesar 62.000 pekerjaan.

Penambahan pekerjaan terbesar terjadi di layanan kesehatan, transportasi dan pergudangan, serta perdagangan eceran. Pekerjaan pemerintah federal terus menurun, diiringi penurunan di sektor informasi dan manufaktur.

Angka ini menunjukkan moderasi dalam perekrutan sekaligus menandai peningkatan bulanan berturut-turut pertama dalam lapangan kerja dalam hampir satu tahun terakhir.

Hal ini memperkuat sinyal bahwa pasar tenaga kerja Amerika Serikat secara bertahap mendingin tetapi tetap berjalan secara tangguh. Data NFP untuk bulan Mei 2026 diperkirakan akan mencatat penambahan di kisaran 96.000 hingga 102.000 pekerjaan.

9. Tingkat Pengangguran AS Mei 2026

Hari ini AS juga akan mengumumkan data pengangguran Mei 2026. Tingkat pengangguran Amerika Serikat bertahan di angka 4.3% pada April 2026, yang berjalan sejalan dengan ekspektasi pasar. Namun demikian, jumlah pengangguran naik sebanyak 134.000 menjadi 7.37 juta orang, sementara total kesempatan kerja turun sebanyak 226.000 menjadi 162.62 juta orang.

Angkatan kerja menyusut 92.000 menjadi 170.0 juta, mendorong tingkat partisipasi angkatan kerja turun 0.1 poin persentase menjadi 61.8%. Tingkat ini merupakan level terendah sejak Oktober 2021.

Tingkat kesempatan kerja juga menurun menjadi 59.1% dari sebelumnya 59.2%. Tingkat pengangguran U-6 yang mencakup pekerja yang putus asa dan setengah pengangguran meningkat menjadi 8.2% dari 8.0%. Angka pengangguran untuk bulan Mei 2026 diproyeksikan akan tetap stabil pada kisaran 4.3% hingga 4.4%.

 

Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan menyelenggarakan Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan Mei 2026

  • Konferensi Pers APBN KiTa Edisi Juni 2026 di Aula Djuanda, Gedung Djuanda I Lantai Mezzanine, Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat

  • Press Conference Peluncuran Sustainability Report Telkomsel 2025 yang akan diselenggarakan di Pidari Longue, Hutan Kota by Plataran, Senayan, Jakarta Pusat.

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

RUPS PT Inti Bangun Sejahtera Tbk

RUPS PT Selamat Sempurna Tbk

RUPS PT Bali Towerindo Sentra Tbk.

RUPS PT Indonesia Fibreboard Industry Tbk

RUPS PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk.

RUPS PT Morenzo Abadi Perkasa Tbk

RUPS PT Graha Mitra Asia Tbk.

RUPS PT Idea Indonesia Akademi Tbk

RUPS PT Haloni Jane Tbk

RUPS PT Hassana Boga Sejahtera Tbk

RUPS PT Ateliers Mecaniques D Indonesie Tbk.

RUPS PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk

RUPS PT Kirana Megatara Tbk.

RUPS PT BSA Logistics Indonesia Tbk

RUPS PT Tempo Scan Pacific Tbk

RUPS PT Semacom Integrated Tbk

RUPS PT Pan Brothers Tbk

RUPS PT Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk

RUPS PT Siantar Top Tbk

RUPS PT Bank Victoria International Tbk

RUPS PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk

RUPS PT Itama Ranoraya Tbk.

RUPS PT Topindo Solusi Komunika Tbk.

RUPS PT Energi Mega Persada Tbk

RUPS PT Wahana Inti Makmur Tbk

RUPS PT Phapros Tbk

RUPS PT Indosat Tbk

RUPS PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Total Bangun Persada Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Cikarang Listrindo Tbk.

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Tigaraksa Satria Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Superkrane Mitra Utama Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai Malindo Feedmill Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai Asiaplast Industries Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai Merck Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai PT Mastersystem Infotama Tbk.

Tanggal cum Dividen Tunai Millennium Pharmacon International Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai Malindo Feedmill Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai Malindo Feedmill Tbk



Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:



Riset CNBC Indonesia

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.




(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Rupiah & IHSG Masih Suram, Sulit Bangkit Karena "Dihadang" Trump


Most Popular
Features