MARKET DATA
Newsletter

IHSG-Rupiah Sudah Berdarah-darah, Hari Ini Bakal Lebih Menegangkan?

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
04 June 2026 06:20
FILE - In this Oct. 14, 2020 file photo, the American Flag hangs outside the New York Stock Exchange in New York.Stocks were posting strong gains in early trading Thursday, May 13, 2021, following three days of losses and the biggest one-day drop in
Foto: Bendera Amerika tergantung di luar Bursa Efek New York di New York (AP/Frank Franklin II)

Dari bursa saham AS, bursa Wall Street ditutup melemah pada Rabu (waktu setempat) atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

Bursa melemah seiring harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS naik di tengah kekhawatiran konflik AS-Iran akan terus mendorong inflasi.

Indeks Dow Jones Industrial Average yang berisi 30 saham unggulan turun 620,72 poin atau 1,21% ke posisi 50.687,07. Indeks S&P 500 melemah 0,74% ke level 7.553,68, sementara Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi turun 0,89% ke 26.853,98.

Harga minyak naik setelah AS dan Iran melancarkan serangan baru. Kontrak minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 2,41% dan ditutup di US$96,02 per barel, sedangkan Brent menguat 1,89% ke US$97,81 per barel.

Presiden Donald Trump mengatakan pada Rabu bahwa Iran telah setuju untuk tidak memiliki senjata nuklir, namun ia menambahkan bahwa mereka bisa berubah pikiran.

Pernyataan Trump muncul setelah konflik di Timur Tengah semakin memanas dan mendorong harga minyak lebih tinggi.

Pada Selasa malam, militer Kuwait mengatakan melalui media sosial bahwa sistem pertahanan udara mereka mencegat target-target musuh.

Komando Pusat AS (U.S. Central Command) kemudian menyatakan pasukan Amerika berhasil menggagalkan serangan rudal balistik dan drone Iran. AS juga melakukan "serangan untuk membela diri" di Pulau Qeshm sebagai respons atas upaya serangan Iran di kawasan Timur Tengah.

Kenaikan harga minyak turut mendorong naik imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun mendekati 4,5%, sementara tenor 30 tahun hampir menyentuh 5%.

Yield naik lebih tinggi setelah data tenaga kerja ADP Mei menunjukkan hasil kuat, serta aktivitas sektor jasa AS yang masih berekspansi meski melambat tipis bulan lalu.

"Apa yang terjadi hari ini adalah koreksi pasar terhadap anggapan bahwa suku bunga akan mudah dipangkas ketika ekonomi justru terlihat semakin menguat," kata Shawn Snyder, ahli strategi ekonomi dari Potomac Fund Management, dikutip dari CNBC International.

The Federal Reserve diperkirakan masih akan menaikkan suku bunga setidaknya seperempat poin persentase hingga akhir tahun, berdasarkan CME FedWatch Tool.

"Anda belum melihat pelemahan permintaan seperti yang sebelumnya diperkirakan sebagian orang," tambah Snyder.

Penurunan saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) juga membebani pasar secara keseluruhan. Saham Nvidia dan Dell Technologies turun lebih dari 3%, sementara Oracle merosot lebih dari 5%. Saham Microsoft juga melemah sekitar 3%.



(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features