MARKET DATA
Newsletter

Bangkit dari Tekanan, IHSG-Rupiah Hari Ini Diuji 10 Sentimen Besar

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
03 June 2026 06:24
Keterangan Pers Mensesneg, Seskab dan Kepala Bakom, Ruang Sidang Kabinet, Selasa (2/6/2026). (Tangkapan layar youtube Setpres RI)
Foto: Keterangan Pers Mensesneg, Seskab dan Kepala Bakom, Ruang Sidang Kabinet, Selasa (2/6/2026). (Tangkapan layar youtube Setpres RI)

Sejumlah sentimen baik dari dalam dan luar negeri akan membayangi IHSG dan rupiah. Setelah sama-sama menguat pada perdagangan Selasa kemarin, pasar keuangan Indonesia kembali diuji pada hari ini.

Berikut sejumlah sentimen pasar keuangan hari ini:

1. PMI Manufaktur

Aktivitas manufaktur Indonesia mengalami perbaikan meski tidak signifikan.

Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global hari ini, Selasa (2/6/2026) menunjukkan PMI Indonesia berada di 50,0 pada Mei 2026. Angka ini merupakan perbaikan setelah PMI mencatat kontraksi pada April 2026 (49,1).

Kenaikan tersebut didorong oleh membaiknya permintaan domestik. Pesanan baru tumbuh untuk bulan kedua berturut-turut dengan laju tercepat sejak Februari.

Namun, kinerja pasar ekspor masih menjadi titik lemah. Pesanan dari luar negeri turun untuk bulan ketiga beruntun dan mencatat penurunan terdalam sejak Agustus 2021, seiring berlanjutnya gangguan perdagangan akibat konflik di Timur Tengah.

Aktivitas produksi masih menyusut, walaupun tidak sedalam bulan sebelumnya, sementara keterbatasan bahan baku membuat perusahaan mengurangi pembelian input produksi.

Di sisi lain, tekanan biaya semakin meningkat. Harga bahan baku melonjak sehingga inflasi biaya produksi mencapai level tertinggi kedua sepanjang sejarah survei S&P Global.

Kondisi tersebut mendorong perusahaan menaikkan harga jual dengan laju tercepat sejak Oktober 2013. Gangguan rantai pasok juga masih terlihat dari keterlambatan pengiriman pemasok dan meningkatnya tumpukan pekerjaan yang belum terselesaikan.

Meski jumlah tenaga kerja kembali berkurang untuk bulan ketiga berturut-turut, pelaku industri mulai menunjukkan optimisme yang sedikit lebih baik terhadap prospek usaha dalam beberapa bulan mendatang.

2. Neraca Perdagangan

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 surplus US$ 90 juta. Surplus ini menyusut dibanding catatan pada Maret 2026 yang senilai US$ 3,32 miliar.

Kondisi surplus itu disebabkan nilai ekspor sebesar US$ 25,30 miliar, sedangkan impor US$ 25,21 miliar. Sebagai catatan ini adalah surplus dalam 72 bulan beruntun sejak Mei 2020.

"Pada April 2026 nilai impor mencapai 25,21 miliar US dolar atau meningkat 22,49%," kata Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini saat konferensi pers di kantor pusat BPS, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Secara kumulatif pada Januari-April 2026 neraca perdagangan RI mencapai surplus US$ 5,64 miliar atau turun dibanding catatan pada periode yang sama tahun lalu US$ 11,07 miliar.

3. Inflasi Mei

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi pada Mei 2026 sebesar 0,28% secara bulanan atau month to month (mtm). Adapun, inflasi tahun kalender mencapai 1,35% dan inflasi tahunannya mencapai 3,08%.

Tekanan inflasi yang tercatat dalam Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan itu tercatat lebih tinggi dibanding kondisi April 2026 yang mengalami inflasi 0,13% mtm.

BPS mencatat kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi terbesar ialah sektor transportasi dengan nilai 0,61%. Kelompok pengeluaran ini memberikan andil inflasi 0,07%.

"Terjadi inflasi sebesar 0,28%," kata Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini saat konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Sebagai informasi, konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 10 institusi memperkirakan IHK pada Mei 2026 akan mengalami inflasi 0,19% secara bulanan (month-to-month/mtm) dengan median inflasi tahunan 2,93% (year-on-year/yoy). Sementara itu, inflasi inti pada Mei 2026 diperkirakan berada di level 2,46% yoy.

Sebagai catatan, pada April 2026 Indonesia mengalami inflasi 0,13% (mtm), sementara secara tahunan inflasi tercatat 2,42% (yoy) dan inflasi inti mencapai 2,44% (yoy).

4. Kepala BGN Diganti

Presiden Prabowo Subianto mengangkat Nanik Sudaryati Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional. Nanik, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil kepala, menggantikan Dadan yang diberhentikan oleh Prabowo.

Keputusan itu disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam keterangan pers di Ruang Sidang Kabinet, Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa (2/6/2026).

"Bapak Presiden memutuskan mengangkat Saudari Nanik S. Deyang sebagai kepala BGN yang baru," ujar Prasetyo.

Dalam kesempatan yang sama, dia juga mengumumkan pengangkatan dua wakil kepala BGN yang baru. Mereka adalah Agustina Arumsari dan Mayor Jenderal TNI Trenggono. Mereka menggantikan Lodewijk Pusung dan Sony Sanjaya yang juga diberhentikan Prabowo.

5. 

5. Undisbursed Loan Tinggi

Jumlah kapasitas pembiayaan yang telah disetujui perbankan namun belum dicairkan kepada dunia usaha (undisbursed loan) alias kredit nganggur mencapai Rp2.527 triliun per Maret 2026. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa sebagian pelaku usaha masih menahan ekspansinya.

Wakil Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Nixon Napitupulu mengatakan, nilai undisbursed loan perbankan memang mengalami kenaikan sebesar 7,35% secara tahunan pada Maret 2026. Menurutnya, terdapat berbagai alasan yang membuat fasilitas kredit yang telah disetujui belum dicairkan oleh nasabah.

Ia mengungkapkan pertumbuhan undisbursed loan terbesar justru terjadi pada kelompok bank besar. Sementara itu, kelompok bank KBMI 1 dan KBMI 2 menjadi segmen yang paling banyak mengalami penurunan nilai undisbursed loan.

Rinciannya, undisbursed loan pada kelompok bank KBMI 3 tumbuh sebesar 12,5% dan KBMI 4 naik 12,24% secara tahunan. Pertumbuhan kedua kelompok bank tersebut berada di atas rata-rata industri yang tercatat sebesar 7,35%.

6. Perkembangan Perang

Iran sedang meninjau usulan kesepakatan dengan AS untuk menghentikan perang mereka, tetapi belum berkomunikasi dengan Washington selama beberapa hari terakhir, menurut media Iran pada Selasa. Namun Presiden AS Donald Trump mengatakan negosiasi terus berlangsung tanpa henti.

Lebih dari tiga bulan setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, konflik masih menemui jalan buntu, dengan gencatan senjata rapuh tetap berlaku sementara Selat Hormuz yang sangat penting masih sebagian besar tertutup bagi lalu lintas maritim.

Iran belum memberikan tanggapan terhadap rancangan akhir kesepakatan sementara tersebut, dan mengambil pendekatan "tegas" karena sejarah ketidakpatuhan AS serta ketidakpercayaan yang sudah berlangsung lama, menurut sumber yang dikutip kantor berita Mehr.

Kantor berita semi-resmi Fars, yang juga mengutip sumber, mengatakan pesan mengenai kemungkinan kesepakatan atau nota kesepahaman itu telah terhenti beberapa hari terakhir. Pesan terakhir adalah pesan jelas Teheran terkait Lebanon, di mana Iran ingin menghentikan serangan Israel terhadap sekutunya, Hezbollah.

Presiden AS Donald Trump menyebut laporan tersebut "salah dan keliru" dan menegaskan pembicaraan kedua pihak terus berjalan tanpa jeda.

Trump juga mengatakan pada Senin bahwa kesepakatan akan tercapai dalam pekan depan untuk memperpanjang gencatan senjata yang disepakati awal April dan membuka kembali selat tersebut.

Sejak pertengahan Maret, Trump berulang kali mengatakan dirinya hampir mencapai kesepakatan yang akan menunda isu sensitif seperti masa depan program nuklir Iran. Gencatan senjata sebagian besar bertahan sejak awal April, meski Iran dan AS beberapa kali saling menyerang dalam sepekan terakhir.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Iran telah setuju membahas beberapa aspek program nuklirnya yang sebelumnya enggan dibicarakan, tetapi belum ada jaminan negosiasi akan menghasilkan kesepakatan.

7. Jolts- Tertinggi Sejak November

Lowongan pekerjaan di Amerika Serikat melonjak 731.000 posisi menjadi 7,618 juta pada April 2026, level tertinggi sejak November 2024 dan jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 6,88 juta. Data ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih cukup tangguh meskipun tekanan biaya energi meningkat akibat konflik Iran.

Kenaikan terbesar terjadi di sektor jasa profesional dan bisnis yang bertambah 668.000 lowongan. Sebaliknya, sektor keuangan dan asuransi mencatat penurunan 135.000 lowongan. Secara wilayah, jumlah lowongan meningkat di kawasan Timur Laut (+133.000), Selatan (+171.000), dan Barat (+439.000), sementara kawasan Midwest mengalami penurunan tipis sebesar 11.000 lowongan.

Di sisi lain, aktivitas perekrutan dan pemutusan hubungan kerja sama-sama melambat. Jumlah pekerja yang direkrut turun menjadi 5,1 juta orang, sedangkan total pekerja yang keluar dari pekerjaan mencapai 5 juta orang.

Dalam komponen pemisahan kerja tersebut, jumlah pekerja yang mengundurkan diri secara sukarela (quits) berada di 3 juta orang, sementara PHK dan pemutusan kerja lainnya tercatat 1,7 juta orang, relatif tidak berubah dibanding bulan sebelumnya.

 

Sementara itu, jumlah pekerja yang secara sukarela mengundurkan diri dari pekerjaannya turun menjadi 2,977 juta orang pada April 2026 dari 3,160 juta orang pada Maret setelah revisi. Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 3,144 juta orang dan menjadi yang terendah sejak pertengahan 2020.

Tingkat pengunduran diri (quits rate) turun menjadi 1,9% dari sebelumnya 2,0%, sekaligus menjadi level terendah sejak 2020. Kondisi ini mengindikasikan semakin sedikit pekerja yang merasa cukup percaya diri untuk meninggalkan pekerjaannya dan mencari peluang baru.

Penurunan jumlah pekerja yang mengundurkan diri terutama terjadi di sektor perdagangan ritel (-48.000), jasa profesional dan bisnis (-31.000), transportasi, pergudangan dan utilitas (-30.000), layanan kesehatan dan bantuan sosial (-23.000), serta keuangan dan asuransi (-22.000). Secara regional, penurunan terbesar terjadi di kawasan Timur Laut (-94.000), Midwest (-57.000), dan Selatan (-37.000), sementara kawasan Barat mencatat kenaikan tipis sekitar 5.000 orang.

8. Inflasi Kawasan Euro Mei 2026

Inflasi di kawasan Zona Euro kembali menunjukkan tren kenaikan pada Mei 2026 dan semakin menjauh dari target Bank Sentral Eropa (ECB).

Berdasarkan data awal, inflasi tahunan mencapai 3,2%, naik dari 3,0% pada April dan sesuai dengan ekspektasi pasar. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak September 2023, atau sekitar dua setengah tahun terakhir, sekaligus berada jauh di atas target inflasi ECB sebesar 2%.

Lonjakan harga energi menjadi pendorong utama kenaikan inflasi. Biaya energi melonjak 10,9% dibandingkan tahun sebelumnya, mencatat kenaikan tercepat sejak Februari 2023. Tekanan ini terutama dipicu gangguan pasokan yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah.

Selain energi, inflasi sektor jasa juga meningkat menjadi 3,5% dari 3,0% pada April, sementara harga barang industri non-energi naik 0,9% dari sebelumnya 0,8%. Sebaliknya, laju kenaikan harga makanan, alkohol, dan tembakau sedikit melambat menjadi 2,0% dari 2,4%.

Yang menjadi perhatian adalah inflasi inti (core inflation), yang tidak memasukkan komponen energi dan pangan, turut naik menjadi 2,5% dari 2,2% pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan tekanan harga mulai menyebar ke berbagai sektor ekonomi, bukan hanya berasal dari energi.

Di antara negara-negara utama Zona Euro, inflasi meningkat di Spanyol menjadi 3,6%, Belanda 3,4%, Italia 3,3%, dan Prancis 2,8%. Sementara itu, Jerman menjadi satu-satunya ekonomi besar yang mencatat perlambatan inflasi, dari 2,9% menjadi 2,7%. Kondisi ini berpotensi memperumit langkah ECB dalam menentukan arah kebijakan suku bunga ke depan.

9. PMI Manufaktur China Mei 2026

Hari ini China akan mengumumkan data The RatingDog China General Services PMI  untuk Mei 2026. 

Aktivitas sektor jasa China diperkirakan masih bertahan di zona ekspansi pada Mei 2026, meski lajunya sedikit melambat dibanding bulan sebelumnya. Berdasarkan konsensus pasar, indeks PMI Jasa Rating Dog diperkirakan berada di level 52,3, lebih rendah dari 52,6 pada April. Meski demikian, angka tersebut masih menunjukkan pertumbuhan yang solid karena berada di atas level 50, batas yang memisahkan ekspansi dan kontraksi.

Pada April, sektor jasa China menunjukkan ketahanan yang cukup kuat. PMI Jasa RatingDog naik menjadi 52,6 dari 52,1 pada Maret dan melampaui ekspektasi pasar. Permintaan baru tumbuh selama 40 bulan berturut-turut, menjadi salah satu periode ekspansi terpanjang dalam sejarah survei tersebut.

Permintaan domestik tetap menjadi mesin utama pertumbuhan, sementara penjualan ke luar negeri masih tertekan dan mencatat penurunan untuk bulan kedua beruntun, meski laju pelemahannya mulai mereda.

Di balik kuatnya aktivitas bisnis, tekanan biaya mulai meningkat. Inflasi harga input mencapai level tertinggi sepanjang 2026, didorong kenaikan harga minyak dan bahan bakar akibat konflik yang berkecamuk di Timur Tengah. Namun perusahaan masih kesulitan meneruskan seluruh kenaikan biaya kepada konsumen. Harga jual justru turun untuk keempat kalinya dalam lima bulan terakhir, meski penurunannya relatif tipis. Di sisi tenaga kerja, perusahaan jasa masih berhati-hati sehingga jumlah pekerja kembali menyusut untuk bulan ketiga berturut-turut.

Gambaran yang lebih luas menunjukkan ekonomi China masih menjaga momentum pertumbuhan. PMI Komposit RatingDog, yang menggabungkan sektor manufaktur dan jasa, naik menjadi 53,1 pada April dari 51,5 pada Maret. Kenaikan ini mencerminkan percepatan aktivitas bisnis di kedua sektor utama ekonomi. Pesanan baru meningkat lebih kuat, sementara pekerjaan yang belum terselesaikan terus bertambah selama tiga bulan berturut-turut, menandakan permintaan masih cukup kokoh.

Meski pasar tenaga kerja belum sepenuhnya pulih, laju penurunan lapangan kerja terbilang sangat terbatas.

Di sisi lain, tekanan inflasi semakin terlihat. Biaya input melonjak dengan kecepatan tertinggi sejak April 2022, terutama berasal dari sektor manufaktur yang menghadapi kenaikan harga bahan baku dan energi. Untuk menjaga profitabilitas, perusahaan mulai menaikkan harga jual, mendorong inflasi harga output ke level tertinggi dalam 31 bulan terakhir.

 

Data Mei yang akan dirilis pagi ini akan menjadi petunjuk penting mengenai seberapa besar dampak kenaikan harga energi global terhadap aktivitas ekonomi China. Jika PMI jasa dan komposit mampu bertahan di atas ekspektasi pasar, hal itu akan memperkuat pandangan bahwa permintaan domestik masih menjadi penopang utama ekonomi Negeri Tirai Bambu di tengah ketidakpastian perdagangan global dan gejolak geopolitik yang terus berlangsung.

10. ISM Jasa AS

Hari ini, AS akan mengumumkan data ISM Jasa untuk Mei 2026. Aktivitas sektor jasa Amerika Serikat diperkirakan masih bertahan di zona ekspansi pada Mei 2026, meski lajunya sedikit melambat. Konsensus pasar memperkirakan indeks ISM Services PMI berada di level 53,8, lebih rendah dibandingkan realisasi April yang mencapai 53,6.

Sementara itu, proyeksi jangka lebih panjang menunjukkan indeks berpotensi bergerak ke kisaran 53. Angka tersebut tetap mengindikasikan ekspansi karena berada di atas level 50 yang menjadi batas antara pertumbuhan dan kontraksi aktivitas bisnis.

Menjelang rilis data Mei, sektor jasa AS menunjukkan ketahanan yang cukup kuat terhadap gejolak global. Pada April, indeks aktivitas bisnis dan produksi naik dua poin menjadi 55,9, mencerminkan bahwa perusahaan jasa masih mampu menjaga operasional meskipun perang di Timur Tengah memicu lonjakan biaya energi. Aktivitas produksi bahkan meningkat ketika perusahaan mulai mengurangi tumpukan pesanan yang belum terselesaikan. Namun, pertumbuhan pesanan baru mulai kehilangan momentum setelah indeksnya turun tajam 7,1 poin menjadi 53,5.

Pasar tenaga kerja juga menunjukkan sinyal yang beragam. Indeks ketenagakerjaan memang naik dibandingkan bulan sebelumnya, tetapi masih berada di bawah level 50 untuk bulan kedua berturut-turut. Kondisi tersebut mengindikasikan perusahaan jasa masih cenderung berhati-hati dalam melakukan perekrutan, sejalan dengan sejumlah indikator ketenagakerjaan AS yang belakangan menunjukkan perlambatan.

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features