Banyak Kebijakan & Aturan Baru di Juni, Bisakah IHSG & Rupiah Bangkit?
Memasuki pekan pertama bulan Juni 2026, pelaku pasar akan mencermati sejumlah rilis data makroekonomi utama baik dari dalam maupun luar negeri.
Selain itu, terdapat beberapa implementasi kebijakan domestik strategis dan dinamika geopolitik global yang patut diperhatikan. Berikut adalah rangkuman data dan sentimen penggerak pasar untuk pekan ini.
1. Era Baru Devisa RI Dimulai, Ekspor Satu Pintu, Dolar Makin Diperketat
Mulai 1 Juni 2026, pemerintah menjalankan serangkaian kebijakan baru yang menyasar pengelolaan devisa ekspor dan stabilitas pasar valas. Salah satu yang paling menonjol adalah pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) sebagai pengelola mekanisme ekspor satu pintu untuk tiga komoditas strategis, yakni batu bara, kelapa sawit, dan ferro alloy. Ketiga komoditas tersebut menyumbang ekspor senilai US$66,13 miliar pada 2025 atau sekitar 23,4% dari total ekspor nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kebijakan ini merupakan bagian dari upaya memperbaiki tata kelola sumber daya alam sekaligus memperkuat pengawasan transaksi ekspor.
"Sehingga nilai ekspor yang tercatat menggambarkan transaksi yang sebenarnya," ujarnya. Pemerintah akan melakukan evaluasi setiap tiga bulan selama masa transisi sebelum implementasi penuh pada 1 Januari 2027.
Pada saat yang sama, pemerintah juga mulai memberlakukan aturan baru terkait Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) melalui PP Nomor 21 Tahun 2026. Eksportir sektor nonmigas kini diwajibkan menempatkan 100% DHE pada rekening khusus di dalam negeri selama minimal 12 bulan.
Untuk sektor migas, kewajiban penempatan ditetapkan sebesar 30% selama sedikitnya tiga bulan. Pemerintah juga membatasi konversi devisa ke rupiah maksimal 50% serta menyiapkan insentif perpajakan berupa tarif Pajak Penghasilan yang lebih rendah bagi eksportir yang patuh. Kebijakan ini diharapkan memperkuat cadangan devisa domestik sekaligus meningkatkan manfaat ekspor terhadap sistem keuangan nasional.
Dukungan terhadap stabilitas rupiah juga datang dari sisi moneter. Bank Indonesia mempersempit batas pembelian dolar AS tanpa dokumen underlying menjadi maksimal US$25.000 per pelaku per bulan, turun jauh dari batas US$100.000 yang berlaku sebelumnya.
Di sisi lain, bank sentral justru memberikan relaksasi pada instrumen lindung nilai dengan menaikkan batas transaksi derivatif tanpa underlying hingga US$10 juta per transaksi.
BI juga terus mendorong penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT) dalam perdagangan internasional yang hingga April 2026 telah mencatat volume transaksi sebesar US$22,61 miliar. Secara keseluruhan, rangkaian kebijakan yang berlaku mulai Juni ini menunjukkan fokus pemerintah untuk memperketat pengelolaan devisa, memperbaiki tata kelola ekspor, dan menjaga stabilitas nilai tukar di tengah dinamika global yang masih bergejolak.
2. Inflasi Mei 2026
Pada hari ini Selasa (2/7/2025) Badan Pusat Statistik akan mengumumkan data inflasi Mei 2026 dan neraca perdagangan ekspor/impor Mei 2026.
Inflasi Indonesia diperkirakan kembali menanjak pada Mei 2026. Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 10 institusi memperkirakan inflasi mencapai 0,19% secara bulanan (mtm) dan 2,93% secara tahunan (yoy), lebih tinggi dibanding April yang tercatat 0,13% mtm dan 2,42% yoy. Inflasi inti juga diproyeksikan naik tipis menjadi 2,46% yoy.
Kenaikan inflasi diperkirakan berasal dari kombinasi faktor musiman dan tekanan biaya.
Momentum Idul Adha mendorong permintaan sejumlah bahan pangan dan tiket pesawat, sementara pelemahan rupiah sebesar 3,28% sepanjang Mei- terburuk sejak Oktober 2024 membuat harga barang impor semakin mahal.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyebut bawang merah dan beras menjadi komoditas yang paling banyak memberi tekanan pada inflasi bulan lalu, meski harga telur dan daging ayam justru mengalami penurunan.
Dari sisi energi, kenaikan harga BBM non-subsidi pada awal Mei turut menjadi faktor yang diperhitungkan pasar. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai inflasi Mei lebih banyak dipicu tekanan dari sisi pasokan ketimbang lonjakan permintaan masyarakat. PIHPSN melaporkan harga beras rata-rata naik menjadi Rp15.959 per kilogram dan bawang merah mencapai Rp47.773 per kilogram sepanjang Mei.
Pada saat yang sama, kenaikan harga BBM seperti Pertamax Turbo dan Dexlite berpotensi mendorong biaya transportasi serta logistik, sehingga menambah tekanan terhadap harga barang dan jasa.
3. Neraca Perdagangan Indonesia April 2026
Hari ini, BPS juga akan mengumumkan data neraca dagang. Sebagai catatan, surplus perdagangan Indonesia mengalami penurunan menjadi US$3.32 miliar pada Maret 2026 dari US$4.33 miliar pada bulan yang sama tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh penurunan ekspor sementara impor mengalami kenaikan.
Impor tumbuh 1.51% secara tahunan, melambat dari 10.85% pada bulan Februari, dengan impor minyak dan gas naik 1.34% menjadi US$3.17 miliar. Impor non-migas naik 1.54% menjadi US$16.04 miliar.
Di sisi lain, ekspor turun 3.1% secara tahunan, yang menandai penurunan pertama sejak November tahun lalu di tengah gangguan logistik global. Ekspor non-migas turun 2.52%, sedangkan ekspor migas anjlok 11.84% akibat penurunan tajam pada minyak mentah dan produk minyak.
Berdasarkan negara tujuan, ekspor non-migas menurun terutama ke mitra dagang utama seperti Amerika Serikat, India, dan Uni Eropa, sementara ekspor ke China melonjak 16.22%.
Untuk kuartal pertama 2026, Indonesia membukukan surplus perdagangan sebesar US$5.55 miliar. Rilis data perdagangan untuk bulan April 2026 diproyeksikan akan berada di angka US$0.5 miliar.
4. Pembatasan Pembelian Dolar AS Menjadi US$25.000
Bank Indonesia terus mengkalibrasi instrumen peraturannya di pasar valuta asing untuk menjaga kelancaran stabilitas nilai tukar Rupiah.
Melalui Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 7 Tahun 2026, bank sentral resmi menurunkan batasan transaksi pembelian dolar tanpa dokumen underlying dari sebelumnya US$100.000 menjadi US$50.000 per April 2026, dan kembali dipersempit menjadi US$25.000 per pelaku per bulan yang berlaku mulai awal Juni 2026.
Kebijakan disiplin pencatatan dasar transaksi di pasar tunai ini dibarengi dengan perluasan relaksasi pada pasar derivatif, di mana batas transaksi tanpa underlying instrumen seperti forward jual dan swap ditingkatkan menjadi US$10 juta per transaksi.
Pelaku pasar juga akan terus didorong untuk beralih memanfaatkan skema Local Currency Transaction dalam perdagangan bilateral yang volumenya telah menyentuh pencapaian US$22.61 miliar hingga April 2026.
5. PMI Manufaktur RI
Hari ini S&P akan mengumumkan data manufaktur Indonesia. sebagai catatan, data Purchasing Managers' Index (PMI) menunjukkan PMI Indonesia berada di 49,1 pada April 2026 atau mengalami kontraksi. Angka ini adalah yang terendah sejak Juli 2025 atau sembilan bulan terakhir.
Kontraksi pada April juga mengakhiri periode ekspansif selama delapan bulan sebelumnya.
6. Pembukaan Lapangan Kerja (JOLTS) AS April 2026
Dari luar, negeri Paman Sam akan mengumumkan Pembukaan Lapangan Kerja (JOLTS) AS April 2026 pada hari ini.
Sebelumnya, pembukaan lapangan kerja di Amerika Serikat turun sebanyak 56.000 menjadi 6.866 juta pada Maret 2026. Angka ini tercatat sedikit lebih tinggi dari ekspektasi pasar yang berada di 6.84 juta.
Jumlah pembukaan pekerjaan mengalami penurunan pada sektor layanan profesional dan bisnis sebanyak 318.000 pekerjaan, tetapi meningkat di sektor keuangan dan asuransi sebanyak 98.000 pekerjaan.
Secara regional, pembukaan pekerjaan turun di wilayah Selatan, Midwest, dan Barat, namun naik di wilayah Timur Laut. Tingkat perekrutan meningkat menjadi 5.6 juta dengan total pemisahan tenaga kerja sedikit berubah di angka 5.4 juta.
Rilis data pembukaan lapangan kerja untuk bulan April 2026 diproyeksikan konsensus akan berada di kisaran 6.87 juta pekerjaan.
7 Tingkat Pengangguran AS dan Non-Farm Payroll
AS akan mengumumkan data pengangguran dan non-farm payroll atau lapangan kerja untuk Mei pada Jumat pekan ini (5/6/2026).
Sebagai catatan, tingkat pengangguran Amerika Serikat bertahan di angka 4.3% pada April 2026, yang berjalan sejalan dengan ekspektasi pasar. Namun demikian, jumlah pengangguran naik sebanyak 134.000 menjadi 7.37 juta orang, sementara total kesempatan kerja turun sebanyak 226.000 menjadi 162.62 juta orang.
Angkatan kerja menyusut 92.000 menjadi 170.0 juta, mendorong tingkat partisipasi angkatan kerja turun 0.1 poin persentase menjadi 61.8%. Tingkat ini merupakan level terendah sejak Oktober 2021.
Tingkat kesempatan kerja juga menurun menjadi 59.1% dari sebelumnya 59.2%. Tingkat pengangguran U-6 yang mencakup pekerja yang putus asa dan setengah pengangguran meningkat menjadi 8.2% dari 8.0%. Angka pengangguran untuk bulan Mei 2026 diproyeksikan akan tetap stabil pada kisaran 4.3% hingga 4.4%.
Dari non-farm payroll sebelumnya, ekonomi Amerika Serikat menambahkan 115.000 pekerjaan pada April 2026, menyusul revisi ke atas sebesar 185.000 pada Maret. Realisasi ini berada jauh di atas perkiraan pasar sebesar 62.000 pekerjaan.
Penambahan pekerjaan terbesar terjadi di layanan kesehatan, transportasi dan pergudangan, serta perdagangan eceran. Pekerjaan pemerintah federal terus menurun, diiringi penurunan di sektor informasi dan manufaktur.
Angka ini menunjukkan moderasi dalam perekrutan sekaligus menandai peningkatan bulanan berturut-turut pertama dalam lapangan kerja dalam hampir satu tahun terakhir.
Hal ini memperkuat sinyal bahwa pasar tenaga kerja Amerika Serikat secara bertahap mendingin tetapi tetap berjalan secara tangguh. Data NFP untuk bulan Mei 2026 diperkirakan akan mencatat penambahan di kisaran 96.000 hingga 102.000 pekerjaan.
8.PMI Manufaktur China Mei 2026
Indeks Manajer Pembelian Manufaktur Caixin China turun menjadi 51.8 pada bulan Mei 2026 dari level tertinggi lima tahun di 52.2 pada April lalu, namun realisasi ini masih tercatat berada di atas perkiraan konsensus yang mematok di level 51.4.
Pertumbuhan pesanan baru dan produksi mulai termoderasi namun secara keseluruhan tetap berada di area ekspansif. Laju ini didukung oleh permintaan domestik, penambahan pelanggan baru, serta peningkatan lini produk, sementara pesanan ekspor sedikit mengalami penurunan.
Produksi pabrik naik secara solid dan merupakan salah satu yang tertinggi sejak akhir 2024. Penyerapan tenaga kerja masuk ke kontraksi marginal, dan waktu pengiriman pemasok memanjang selama tiga bulan berturut-turut seiring dengan pembelian input yang lebih tinggi. Tekanan inflasi pada sektor produksi terlihat mulai mereda pada periode ini.
source on Google