Ini Alasan Dolar Singapura Perkasa, Libas Rupiah Tanpa Ampun
Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar Singapura menjadi salah satu mata uang Asia yang menunjukkan kinerja solid sepanjang tahun ini. Mata uang Negeri Singa itu bukan hanya mampu menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), tetapi juga perkasa melawan sejumlah mata uang kawasan, termasuk rupiah.
Merujuk data Refinitiv, pada perdagangan Jumat (29/5/2026), dolar Singapura berada di level SGD1,277/US$ atau melemah tipis 0,12% terhadap dolar AS. Meski begitu, jika ditarik sejak awal tahun atau secara year to date, dolar Singapura masih mampu menguat 0,65% terhadap greenback.
Kinerja SGD terhadap rupiah bahkan jauh lebih moncer. Pada perdagangan intraday Jumat ini, kurs dolar Singapura sempat menembus level Rp14.000/SGD.
Level tersebut menjadi posisi terlemah rupiah sepanjang masa terhadap dolar Singapura, sekaligus menandai posisi terkuat SGD terhadap mata uang Garuda.
Penguatan dolar Singapura ini menunjukkan bahwa SGD bukan hanya diuntungkan oleh pelemahan rupiah.
Mata uang tersebut memang sedang menunjukkan daya tahan yang kuat di tengah tekanan global, terutama ketika banyak mata uang Asia masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, lonjakan harga energi, dan arus modal yang lebih berhati-hati.
Lantas, kenapa dolar Singapura bisa sekuat itu?
Jawabannya tidak lepas dari tiga faktor utama, yakni kebijakan moneter Singapura yang memang berbasis nilai tukar, status dolar Singapura sebagai safe haven di Asia, serta fundamental ekonomi Singapura yang dinilai solid oleh investor global.
Bank Sentral Membiarkan Dolar Singapura Menguat
Salah satu alasan utama dolar Singapura begitu kuat adalah kebijakan bank sentralnya, Monetary Authority of Singapore (MAS).
Berbeda dengan banyak bank sentral lain yang mengendalikan inflasi lewat suku bunga, Singapura menggunakan nilai tukar sebagai instrumen utama kebijakan moneter.
MAS mengelola pergerakan dolar Singapura terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang utama melalui mekanisme yang disebut Singapore dollar nominal effective exchange rate (S$NEER).
Dengan sistem ini, dolar Singapura tidak dibiarkan bergerak bebas sepenuhnya. MAS mengatur pergerakannya dalam sebuah rentang kebijakan yang tidak diumumkan secara terbuka ke publik.
Bank sentral Singapura bisa mengubah arah kebijakan dengan tiga cara, yakni mengatur kemiringan jalur apresiasi mata uang, menggeser titik tengah rentang kebijakan, atau memperlebar dan mempersempit ruang gerak dolar Singapura.
Pada 14 April 2026, MAS memperketat kebijakan moneternya untuk pertama kali sejak 2022. MAS menaikkan kemiringan jalur apresiasi S$NEER. Artinya, bank sentral Singapura memberi ruang bagi dolar Singapura untuk menguat lebih cepat.
Langkah ini diambil setelah lonjakan harga minyak dan gas alam akibat perang Iran meningkatkan risiko inflasi impor di Singapura.
SGD Kuat untuk Menahan Inflasi Impor
Singapura adalah negara kecil dengan ekonomi yang sangat terbuka. Banyak kebutuhan domestiknya berasal dari impor, mulai dari energi, bahan pangan, barang konsumsi, hingga berbagai input produksi.
Karena itu, ketika harga minyak, gas, dan barang impor naik, Singapura sangat rentan terkena inflasi dari luar negeri.
Di sinilah dolar Singapura yang kuat menjadi penting.
Dengan mata uang yang lebih kuat, biaya impor bisa ditekan. Barang dari luar negeri menjadi relatif lebih murah dalam dolar Singapura, sehingga tekanan inflasi tidak langsung melonjak terlalu tinggi ke konsumen.
MAS sendiri menaikkan proyeksi inflasi 2026. Inflasi umum dan inflasi inti diperkirakan berada di kisaran 1,5% hingga 2,5%, naik dari proyeksi sebelumnya 1% hingga 2%.
MAS juga menyebut biaya energi impor Singapura sudah naik. Harga berbagai barang dan jasa impor lain juga diperkirakan meningkat dalam beberapa kuartal ke depan. Karena itu, inflasi inti Singapura diperkirakan akan naik dan bertahan tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
Dengan kondisi tersebut, penguatan dolar Singapura bukan sekadar hasil pergerakan pasar. Penguatan SGD juga menjadi bagian dari strategi kebijakan MAS untuk meredam dampak lonjakan harga impor.
Dolar Singapura Jadi Safe Haven Asia
Selain karena kebijakan MAS, dolar Singapura juga mendapat dukungan dari reputasi Singapura sebagai negara yang sangat stabil dan aman.
Di tengah ketidakpastian global, investor biasanya mencari aset yang dianggap lebih aman. Selama ini dolar AS masih menjadi safe haven utama dunia. Namun di kawasan Asia, dolar Singapura juga kerap dipandang sebagai salah satu alternatif safe haven.
Singapura memiliki sistem keuangan yang kredibel, tata kelola yang kuat, cadangan devisa besar, dan peringkat kredit tertinggi. Faktor-faktor ini membuat investor lebih nyaman untuk memegang dolar Singapura ketika pasar global bergejolak. Seperti kondisi baru-baru ini dengan adanya konflik di Timur Tengah.
Ketika harga energi naik dan risiko geopolitik meningkat, banyak mata uang negara berkembang menjadi lebih rentan tertekan. Di saat yang sama, dolar Singapura justru relatif lebih tangguh karena ditopang reputasi stabilitas dan risiko yang lebih rendah.
Singapura Juga Menarik Arus Modal
Posisi Singapura sebagai pusat keuangan global ikut menopang dolar Singapura.
Sebagai salah satu financial hub terbesar di Asia, Singapura sering menjadi tujuan arus modal ketika investor mencari tempat yang lebih aman dan stabil. Dalam situasi ketegangan geopolitik, arus modal yang keluar dari kawasan berisiko bisa mengalir ke negara yang dinilai lebih aman.
Singapura juga memiliki daya tarik tambahan dari sisi pertumbuhan sektor-sektor bernilai tinggi. Sebelum perang Iran memanas, ekonomi Singapura sudah mendapat dukungan dari sektor yang berkaitan dengan produk berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence, serta sektor jasa.
Pertumbuhan di sektor-sektor tersebut ikut meningkatkan permintaan terhadap dolar Singapura. Ketika aktivitas bisnis, investasi, dan transaksi keuangan meningkat, kebutuhan terhadap SGD juga ikut terdorong.
Kekuatan dolar Singapura juga tidak lepas dari cara MAS mengelola pasar valuta asing.
MAS mengendalikan pergerakan SGD dengan membeli dan menjual dolar AS. Tujuannya adalah menjaga nilai tukar perdagangan tertimbang atau S$NEER tetap berada dalam rentang kebijakan yang ditetapkan bank sentral.
Jika MAS ingin menahan tekanan inflasi, bank sentral bisa membiarkan dolar Singapura menguat lebih cepat. Sebaliknya, jika ekonomi membutuhkan dukungan lebih besar, MAS dapat melonggarkan kebijakan nilai tukarnya.
Pada kebijakan terbaru, MAS menyatakan akan sedikit meningkatkan laju apresiasi jalur kebijakan S$NEER. Artinya, dolar Singapura diberi ruang untuk menguat lebih cepat dari sebelumnya.
Kebijakan ini memberi dukungan langsung terhadap SGD. Selama risiko inflasi impor masih tinggi, ruang bagi dolar Singapura untuk tetap kuat juga masih terbuka.
Rupiah Jadi Makin Berat Melawan SGD
Kombinasi antara kebijakan MAS, status safe haven, dan fundamental Singapura membuat dolar Singapura menjadi salah satu mata uang paling tangguh di kawasan.
Namun bagi rupiah, tekanan yang muncul bukan hanya karena dolar Singapura sedang kuat. Mata uang Garuda juga sedang menghadapi tekanan besar dari dalam negeri, terutama karena pelaku pasar masih mencermati arah pengelolaan fiskal Indonesia.
Sentimen negatif ini menguat setelah defisit APBN 2025 tercatat mencapai 2,92% terhadap produk domestik bruto (PDB). Posisi tersebut sudah sangat dekat dengan batas maksimal defisit yang diatur dalam undang-undang, yakni 3% terhadap PDB.
Kondisi ini membuat pasar semakin sensitif terhadap arah belanja negara, terutama di tengah banyaknya program pemerintah yang dinilai membutuhkan biaya besar. Pelaku pasar khawatir ruang fiskal pemerintah menjadi semakin terbatas jika belanja terus meningkat, sementara penerimaan negara tidak tumbuh secepat kebutuhan pembiayaan.
Kekhawatiran terhadap fiskal Indonesia juga datang dari lembaga pemeringkat global.
Fitch dan Moody's menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif pada awal tahun ini. Penurunan outlook tersebut mencerminkan kekhawatiran terhadap ketidakpastian arah kebijakan pemerintah, termasuk beban program-program besar yang berpotensi menambah tekanan terhadap APBN.
Dengan kondisi tersebut, rupiah menjadi semakin rentan. Di satu sisi, dolar Singapura mendapat dukungan dari kebijakan moneter MAS yang memberi ruang penguatan SGD, statusnya sebagai alternatif safe haven di Asia, serta fundamental ekonomi Singapura yang solid.
Di sisi lain, rupiah masih harus menghadapi tantangan domestik yang berkaitan dengan kepercayaan investor. Selama kekhawatiran terhadap fiskal belum mereda, pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati terhadap aset rupiah.
Kondisi ini pada akhirnya bisa membuat sebagian pelaku pasar lebih memilih menempatkan dananya dalam bentuk dolar Singapura dibandingkan rupiah
Situasi ini perlu segera diantisipasi pemerintah. Bila ingin rupiah kembali lebih kuat, pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan intervensi di pasar valuta asing atau menjaga indikator makro di atas kertas. Pemerintah juga perlu mendengarkan kekhawatiran pelaku pasar, terutama terkait arah belanja negara, keberlanjutan fiskal, serta kejelasan pembiayaan program-program besar ke depan.
Sebab, pergerakan nilai tukar tidak hanya dipengaruhi oleh fundamental ekonomi. Rupiah juga sangat ditentukan oleh persepsi pasar terhadap kebijakan pemerintah.
Ketika pelaku pasar melihat kebijakan fiskal lebih kredibel, terukur, dan disiplin, kepercayaan terhadap rupiah berpeluang pulih. Namun jika kekhawatiran terhadap APBN terus membesar, tekanan terhadap mata uang Garuda bisa tetap berat, termasuk saat berhadapan dengan dolar Singapura.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google