MARKET DATA

Rekor Terlemah Baru! 1 Dolar Singapura Rp14.000, 1 Ringgit Rp4.500

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
29 May 2026 10:26
Petugas menjunjukkan mata uang Dolar Singapura dan Rupiah di VIP Money Changer, Jakarta, Kamis (25/9/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan mata uang Dolar Singapura dan Rupiah di VIP Money Changer, Jakarta, Kamis (25/9/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah resmi menembus level terlemah sepanjang masa serta level psikologis baru terhadap dolar Singapura. 

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda melemah 0,52% di level Rp14.000/SGD. Ini menjadi pertama kali nya dalam sejarah rupiah menyentuh level tersebut. 

Tekanan rupiah terhadap dolar Singapura juga terlihat dalam beberapa waktu terakhir. Pada akhir 2025, kurs SGD/IDR masih berada di level Rp12.957,64/SGD. Artinya, sepanjang tahun berjalan, rupiah sudah melemah sekitar 7,97% terhadap dolar Singapura.

Tak hanya dengan SGD, rupiah juga terpantau makin tak beradaya dengan mata uang negara tetangga lainnya yakni ringgit Malaysia. 

Melansir data Refinitiv, per pukul 09.47 WIB, rupiah melemah 1,01% terhadap ringgit Malaysia. Kurs rupiah kini berada di level Rp4.502,95/MYR.

Posisi tersebut membuat rupiah menembus level psikologis Rp4.500/MYR untuk pertama kalinya. Level ini sekaligus menjadi posisi terlemah rupiah terhadap ringgit Malaysia sepanjang sejarah.

Pelemahan mata uang Garuda terhadap mata uang Negeri Jiran sejatinya sudah terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Sepanjang tahun ini saja, rupiah sudah melemah sekitar 9,91% terhadap ringgit Malaysia. Pada akhir 2025, kurs posisi rupiah masih berada di level Rp4.097,04/MYR.

Tekanan juga terlihat semakin kuat sepanjang Mei 2026. Pada 1 Mei 2026, kurs masih berada di level Rp4.343,24/MYR. Dalam kurang dari 30 hari, rupiah sudah terdepresiasi sekitar 3,68% terhadap ringgit Malaysia.



Kenapa Ringgit Bisa Menguat?

Penguatan ringgit terhadap rupiah tidak lepas dari kondisi neraca perdagangan Malaysia yang masih cukup sehat.

Berdasarkan data Department of Statistics Malaysia (DOSM), total perdagangan Malaysia pada Maret 2026 tumbuh 9,3% secara tahunan menjadi MYR273,0 miliar atau setara sekitar Rp1.188 triliun dengan asumsi kurs Rp4.352/MYR.

Angka tersebut naik dari MYR249,8 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan perdagangan Malaysia ditopang oleh pertumbuhan ekspor dan impor yang sama-sama meningkat.

Ekspor Malaysia naik 8,3% menjadi MYR148,8 miliar, sementara impor tumbuh lebih tinggi, yakni 10,4% menjadi MYR124,2 miliar. Meski demikian, Malaysia masih mencatat surplus perdagangan sebesar MYR24,6 miliar pada Maret 2026, walaupun sedikit menyempit 0,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Surplus perdagangan ini menjadi salah satu faktor penting bagi ringgit. Ketika ekspor masih kuat dan arus perdagangan tetap sehat, pasokan devisa ke dalam negeri cenderung lebih terjaga. Kondisi ini dapat membantu menopang stabilitas mata uang.

Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd, Mohd Afzanizam Abdul Rashid, menilai ekonomi Malaysia masih menunjukkan daya tahan yang kuat. Estimasi awal menunjukkan pertumbuhan produk domestik bruto atau PDB Malaysia pada kuartal I-2026 berada di atas 5%.

Ia juga menyebut data perdagangan internasional terbaru menunjukkan ekspor nominal Malaysia tumbuh 12,7% pada kuartal I-2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 11,0% pada kuartal sebelumnya.

"Dengan demikian, ekonomi Malaysia berada dalam posisi yang kuat untuk menghadapi tantangan saat ini akibat lonjakan harga minyak karena perang di Iran," kata Mohd Afzanizam, dikutip dari Bernama.

Di saat ekonomi Malaysia masih menunjukkan kinerja yang cukup solid, ringgit juga mendapat tambahan tenaga dari kepercayaan investor asing yang relatif terjaga.

Kondisi ini berbeda dengan Indonesia. Di dalam negeri, pasar masih menghadapi sejumlah tantangan yang beririsan langsung dengan persepsi investor dan pelaku pasar terhadap prospek ekonomi nasional.

Salah satu sorotan utama datang dari kekhawatiran terhadap pengelolaan fiskal. Beban sejumlah program pemerintah yang dinilai besar membuat pelaku pasar mencermati lebih ketat arah belanja negara dan kemampuan pemerintah menjaga disiplin fiskal.

Apalagi, posisi defisit APBN pada 2025 tercatat mencapai 2,92% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka ini sudah sangat dekat dengan batas maksimal defisit yang diatur dalam undang-undang, yakni 3% terhadap PDB.

Kondisi tersebut membuat pasar semakin sensitif terhadap arah kebijakan fiskal Indonesia. Di tengah tekanan global yang masih tinggi, kepercayaan investor menjadi faktor penting bagi stabilitas rupiah.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular