MARKET DATA

Mata Uang Asia Kebakaran Hebat, Rupiah Paling Babak Belur

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
18 May 2026 11:15
Karyawan menghitung uang di tempat penukaran uang di money Changer Valuta Artha Mas, Mall Ambasador, Kuningan, Jakarta, (21/6/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Karyawan menghitung uang di tempat penukaran uang di money Changer Valuta Artha Mas, Mall Ambasador, Kuningan, Jakarta, (21/6/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia kompak tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Senin (18/5/2026). Tekanan terjadi seiring penguatan dolar AS di pasat global.

Merujuk Refinitiv per pukul 10.10 WIB, 10 mata uang Asia terpantau seluruhnya melemah terhadap greenback.

Rupiah menjadi mata uang dengan tekanan paling besar pagi ini. Mata uang Garuda berada di level Rp17.660/US$ setelah melemah 1,15%. Level tersebut sekaligus menjadi level intraday terlemah baru rupiah sepanjang masa.

Tekanan besar juga dialami ringgit Malaysia yang berada di level MYR 3,975/US$ setelah melemah 0,71%. Won Korea menyusul di posisi KRW 1.505,2/US$ atau turun 0,50%.

Peso Filipina juga melemah 0,26% ke PHP 61,693/US$, disusul dolar Taiwan yang berada di TWD 31,662/US$ setelah terkoreksi 0,19%. Baht Thailand turun 0,18% ke THB 32,72/US$.

Sementara itu, yuan China berada di level CNY 6,8162/US$ setelah melemah 0,10%.

Yen Jepang dan dolar Singapura sama-sama turun 0,09%, masing-masing ke JPY 158,92/US$ dan SGD 1,281/US$. Dong Vietnam juga melemah tipis 0,02% ke VND 26.335/US$.

Pergerakan mata uang Asia hari ini masih sangat dipengaruhi oleh arah dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS (DXY) per pukul 10.10 WIB terpantau menguat 0,07% ke level 99,353.

Dolar AS menguat karena tekanan inflasi di AS kembali meningkat, terutama akibat konflik di Timur Tengah. DXY bahkan naik ke atas level 99,3 dan menyentuh posisi terkuat dalam enam pekan.

Sentimen pasar juga masih dibayangi ketidakpastian hubungan AS-Iran.

Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran agar segera bergerak atau menghadapi konsekuensi, setelah kunjungannya ke China tidak menghasilkan terobosan besar dalam perdagangan maupun kemajuan berarti untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.


Data inflasi AS terbaru juga ikut memperkuat posisi dolar. Data Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) AS pekan lalu menunjukkan bahwa lonjakan harga energi mulai merembet ke inflasi yang lebih luas.

Kondisi ini membuat pelaku pasar semakin yakin bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) belum akan memangkas suku bunga tahun ini. Bahkan, ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun mulai meningkat.

Investor kini menunggu risalah rapat FOMC terbaru dan data awal Purchasing Managers' Index (PMI) AS untuk mencari petunjuk tambahan soal arah kebijakan moneter dan kondisi ekonomi AS.

Dalam kondisi seperti ini, dolar AS masih berpeluang tetap kuat.

Ketika dolar AS menguat, mata uang negara lain, termasuk mata uang Asia, cenderung lebih mudah tertekan. Karena itu, selama inflasi AS masih panas dan konflik Timur Tengah belum mereda, tekanan terhadap mata uang kawasan termasuk rupiah masih berpotensi berlanjut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular