MARKET DATA

Tak Hanya di Venezuela, AS Menggila di Asia: Rupiah - Won Kebakaran

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
05 January 2026 09:57
Mata uang Rupiah, Yuan, dan Won. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Mata uang Rupiah, Yuan, dan Won. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas nilai tukar mata uang Asia mengalami tekanan dari dolar Amerika Serikat (AS), seiring meningkatnya tensi geopolitik pasca serangan militer AS ke Venezuela. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar beralih ke aset aman (safe haven) sehingga memperkuat posisi dolar AS di pasar global.

Merujuk data Refinitiv, pada perdagangan pagi ini, Senin (5/1/2025) per pukul 09.15 WIB, dari 10 mata uang Asia tercatat delapan mata uang berada di zona pelemahan terhadap dolar AS, sementara hanya dua mata uang yang masih mampu bergerak menguat.

Pelemahan mata uang kawasan dipimpin oleh won Korea Selatan yang terdepresiasi sebesar 0,33% ke posisi KRW 1.447,4/US$.

Tepat di bawahnya, ringgit Malaysia ikut melemah sebesar 0,25% ke level MYR 4,062/US$. Peso Filipina juga bergerak tertekan dan tercatat berada di posisi PHP 58,873/US$ atau melemah 0,15%, sementara dolar Singapura turun 0,14% ke level SGD 1,2875/US$.

Tekanan pada mata uang Asia juga terjadi pada yen Jepang yang terkoreksi 0,10% ke posisi JPY 156,97/US$, disusul dong Vietnam yang turun 0,05% ke VND 26.282/US$ serta dolar Taiwan yang melemah tipis 0,04% ke TWD 31,372/US$.

Di saat yang sama, nilai tukar rupiah ikut berada di zona pelemahan dengan depresiasi 0,09% ke level Rp16.730/US$.

Di antara mata uang kawasan, hanya yuan China dan baht Thailand yang mampu bergerak menguat terhadap dolar AS. Yuan tercatat menguat 0,16% ke posisi CNY 6,9819/US$, sedangkan baht Thailand terapresiasi 0,06% ke level THB 31,45/US$.

Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat 0,19% ke posisi 98,615, mencerminkan masih tingginya permintaan terhadap dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Penguatan indeks dolar AS terjadi seiring sentimen pasar yang kembali berhati-hati setelah operasi militer Amerika Serikat di Venezuela pada akhir pekan lalu, Sabtu (3/1/2025) yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Aksi tersebut memicu kekhawatiran geopolitik baru, meskipun hingga saat ini dampaknya terhadap pasar keuangan global masih relatif terbatas. Di tengah situasi tersebut, pelaku pasar cenderung meningkatkan eksposur terhadap dolar AS sebagai aset aman, sehingga mendorong pergerakan DXY ke level tertinggi dalam dua pekan terakhir.

Selain faktor geopolitik, penguatan dolar AS juga dipengaruhi oleh fokus pelaku pasar terhadap serangkaian rilis data ekonomi penting Amerika Serikat yang akan keluar sepanjang pekan ini.

Data ketenagakerjaan menjadi perhatian utama, mulai dari laporan pembukaan lapangan kerja (JOLTS), data ketenagakerjaan versi ADP, hingga laporan non-farm payrolls (NFP) untuk periode Desember yang akan dirilis pada Jumat.

Pasar juga mencermati rilis indeks aktivitas manufaktur dan jasa ISM, serta survei sentimen konsumen University of Michigan, yang dinilai akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai ketahanan ekonomi AS.

Hasil data-data tersebut dipandang berpotensi mempengaruhi arah kebijakan moneter The Federal Reserve ke depan.

Saat ini, pelaku pasar masih menilai kemungkinan terjadinya dua kali pemangkasan suku bunga acuan tahun ini, meskipun proyeksi resmi The Fed sejauh ini hanya mengisyaratkan satu kali pemangkasan. Ketidakpastian ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga turut menjaga permintaan terhadap dolar AS.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular