Tolong! Gen Z Jadi Susah Jalan-Jalan Karena IHSG Jatuh, Porto Terbakar
Jakarta, CNBC Indonesia -Â Pasar saham terus mengalami guncangan sepanjang tahun ini. Indeks Harga Konsumen (IHSG) bahkan jatuh
Sebagai catatan, IHSG sudah ambruk 41% sepanjang 2026. Kejatuhan ini adalah yang terdalam sejak Krisis 2008.
Anloknya IHSGÂ ini tidak hanya berdampak pada pergerakan indeks acuan bursa, melainkan juga berpotensi memberikan tekanan lanjutan terhadap daya beli masyarakat.
Korelasi ini menjadi semakin rasional apabila dianalisis melalui lensa wealth effect, terutama dengan meninjau pergeseran demografi investor pasar modal Indonesia yang saat ini didominasi oleh kelompok usia muda.
Mekanisme Psikologis 'Wealth Effect'
Kejatuhan IHSG bukan sekadar menggerus nilai portofolio investor, tetapi juga berpotensi mengguncang rasa aman finansial generasi muda yang tengah membangun kekayaan. Saat nilai investasi menyusut, mereka bisa menahan belanja, menunda pembelian besar, hingga mengalihkan uang untuk memperkuat tabungan.
Fenomena ini dikenal sebagai wealth effect yakni ketika kekayaan meningkat, konsumsi cenderung terdorong. Sebaliknya, saat nilai aset merosot, keinginan belanja bisa ikut melemah. Jika tekanan pasar berlangsung lama, dampaknya berpotensi meluas dari layar portofolio ke keputusan keuangan sehari-hari generasi muda.
Secara teori, wealth effect adalah kondisi di mana fluktuasi nilai aset yang dimiliki seseorang memengaruhi tingkat pengeluarannya. Sebagai ilustrasi, mari asumsikan seorang investor bernama Martya.
Martya mengalokasikan dananya pada sebuah instrumen saham di harga 1.000.
Ketika saham tersebut mengalami apresiasi ke level 1.500, timbul unrealized gain (potensi keuntungan). Secara psikologis, Martya merasa kekayaannya bertambah, sehingga ia memiliki kecenderungan untuk meningkatkan tingkat belanjanya.
Sebaliknya, ketika pasar saham terkoreksi dan nilai portofolio Martya turun menjadi Rp750, muncul unrealized loss (kerugian yang belum direalisasikan).
Walaupun kerugian tersebut belum dicairkan, penurunan indikator kekayaan secara virtual ini akan memicu respons defensif secara mental. Martya akan menahan keinginan berbelanjanya. Penyesuaian psikologis inilah yang menekan daya beli secara agregat.
Dominasi Pemodal Muda dan Kesenjangan Aset
Dampak psikologis dari unrealized loss ini bertransformasi menjadi isu makro yang krusial akibat struktur demografi pemodal saat ini.
Merujuk pada data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 2025, dari total sekitar 27 juta investor pasar modal pada saat itu-di mana pemodal lokal mendominasi lebih dari 60% sebanyak 54,33% merupakan investor individu berusia di bawah 30 tahun atau Gen Z.
Padahal, generasi ini diharapkan menjadi salah satu motor konsumsi karena tengah hobi jalan-jalan atau membeli barang untuk hobi.
Berdasarkan latar belakang profesi, pegawai swasta, PNS, dan guru mendominasi sebesar 33-34%, disusul oleh kelompok pemuda/pelajar sebesar 24-27%.
Dalam perkembangan terbaru, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan investor pasar modal tembus 31,14 juta investor per Agustus 2026. Bahkan data terbaru disebut jumlah investor sudah tembus 32 juta.
Dari sisi demografi, Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Efek OJK, Edi Broto Suwarno merincikan per Agustus, sekitar 55,25% investor individu berusia 30 tahun ke bawah. Bahkan, jika digabung dengan kelompok usia 31 hingga 40 tahun, proporsinya mencapai lebih dari 80,64%.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Mei 2026 juga menegaskan besarnya basis populasi usia muda di Indonesia dari total penduduk yang mencapai 284,43 juta jiwa. Namun, tingginya adopsi investasi pada Generasi Z dan kelompok usia di bawah 30 tahun ini berbanding terbalik dengan nilai aset riil yang dikelola.
Kelompok usia ini tercatat hanya mengelola aset di C-BEST sekitar Rp42,54 triliun. Secara kontras, konsentrasi kekayaan justru berpusat pada investor kelompok usia di atas 60 tahun yang menguasai aset sebesar Rp905,94 triliun, meskipun mereka hanya merepresentasikan 2,96% dari total investor.
Sebagai perbandingan berikut adalah total populasi Indonesia saat ini berdasarkan usia:
Implikasi Terhadap Perekonomian Riil
Tingginya keterlibatan demografi muda di pasar modal menciptakan kerentanan berlapis. Ketika IHSG dan mayoritas saham mengalami tren bearish, efek unrealized loss pada layar portofolio secara langsung mereduksi kesediaan mereka untuk berkonsumsi.
Situasi ini menjadi lebih problematik mengingat struktur ekonomi kelompok muda rentan terhadap stabilitas pendapatan. Tingkat pekerja gig economy yang tinggi serta bayang-bayang tingkat pengangguran pada usia produktif membuat mereka tidak memiliki bantalan finansial sekuat generasi di atasnya.
Pada akhirnya, penurunan nilai portofolio pada demografi yang berjumlah masif ini bukan sekadar siklus teknikal di bursa saham, melainkan sebuah variabel pemicu yang berisiko memperlambat laju perputaran ekonomi dan daya beli di sektor riil.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)