MARKET DATA

Harga Emas Bisa Terbang Pekan Ini, Siap-Siap Pesta Lagi?

mae,  CNBC Indonesia
25 May 2026 06:44
Emas batangan
Foto: Zlaťáky.cz/Pexels

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas pekan ini diramal menguat jika kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait perang bisa tercapai.

Pada awal perdagangan pekan ini, Senin (25/5/2026) pukul 06.35 WIB, harga emas terbang 1,53% ke US$ 4577,64 per troy ons. Kenaikan ini berbanding terbalik pada Jumat.

Harga emas pada perdagangan Jumat ditutup di posisi US$ 4508,73 per troy ons. Harganya ambruk 0,8%. Dalam sepekan, harga emas jatuh 0,65% pekan ini. Artinya, emas sudah ambruk dalam dua pekan terakhir.



Analis FX Street, Lallalit Srijandorn, memperkirakan logam mulia ini menarik minat beli seiring melemahnya dolar AS setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin dekat menuju kesepakatan yang akan membuka kembali Selat Hormuz. Indek dolar melemah ke 98,99 pada Senin pagi ini, posisi terlemah dalam tujuh hari.

Analis senior kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, Rania Gule, mengatakan setiap kesepakatan politik atau ekonomi antara kedua negara akan berdampak langsung terhadap harga minyak, emas, dan perak, bukan hanya dari sisi pasokan dan permintaan, tetapi juga melalui perubahan selera risiko global dan penurunan premi risiko geopolitik.

"Pasar kemungkinan akan membuka perdagangan Senin dengan gap harga yang cukup besar akibat reaksi cepat investor, sebelum harga kembali lebih stabil setelah pasar memahami detail sebenarnya dari kesepakatan tersebut," ujar Rania dikutip dari The Khaleej Times.

Rania Gule memperkirakan kesepakatan damai akan menekan harga minyak karena pasar mengantisipasi kembalinya pasokan minyak Iran ke pasar global. Pelemahan ini juga ikut menekan indeks dolar sehingga membantu permintaan emas.

Dia memperkirakan harga emas berpotensi mengalami aksi ambil untung dan penurunan terbatas karena berkurangnya permintaan aset safe haven seiring meredanya ketegangan politik di kawasan.

Namun, ia menilai penurunan emas akan terbatas karena masih didukung faktor struktural seperti ekspektasi penurunan suku bunga AS, pembelian bank sentral, dan kekhawatiran terhadap utang global. Pelemahan dolar AS juga akan membantu emas

"Saya melihat harga emas berpotensi turun sekitar 2%-5% dalam jangka pendek," kata Rania.

Washington dan Teheran dikabarkan menunjukkan kemajuan dalam pembicaraan untuk mengakhiri perang, meskipun Presiden AS Donald Trump menegaskan dirinya tidak akan "terburu-buru" mencapai kesepakatan.

Pekan lalu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan terdapat tanda-tanda positif menuju kesepakatan damai. Namun, ia memperingatkan bahwa kesepakatan tersebut akan sulit diterapkan apabila Iran berupaya mengendalikan jalur pelayaran secara permanen di Selat Hormuz.

Ketidakpastian terkait kesepakatan AS-Iran memicu kekhawatiran bahwa pembatasan berkepanjangan terhadap pelayaran di Selat Hormuz dapat merusak pertumbuhan ekonomi global.

Pelaku pasar emas pekan ini juga menanti rilis data indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang dijadwalkan terbit Kamis mendatang. Jika inflasi AS kembali memanas, hal itu dapat memperkuat peluang kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS The Fed dan berpotensi menekan harga komoditas berbasis dolar AS.

Add logo_svg as a preferred
source on Google

Pada awal perdagangan pekan ini, Senin (25/5/2026) pukul 06.35 WIB, harga perak melesat 4,3% ke US$ 78,74 per troy ons.

Kenaikan ini berbanding terbalik dengan peemah 1,6% pada Jumat pekan lalu.

Harga perak diperkirakan mengikuti arah emas namun dengan volatilitas lebih tinggi karena perannya sebagai aset investasi sekaligus logam industri.

"Perak kemungkinan turun sekitar 3%-7% pada reaksi awal terhadap potensi kesepakatan sebelum kembali bergerak mengikuti kondisi ekonomi global dan permintaan industri," tambah Gule.

 



Most Popular
Features