MARKET DATA
Newsletter

Bersiaplah: Prabowo Paparkan 'Calon' APBN 2027, BI Rate Naik Hari Ini?

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
20 May 2026 06:26
Presiden Indonesia Prabowo Subianto bersiap menyampaikan Pidato Kenegaraan tahunannya, menjelang Hari Kemerdekaan negara ini, di Jakarta, Indonesia, 15 Agustus 2025. (BAY ISMOYO/Pool via REUTERS)
Foto: Presiden Indonesia Prabowo Subianto bersiap menyampaikan Pidato Kenegaraan tahunannya, menjelang Hari Kemerdekaan negara ini, di Jakarta, Indonesia, 15 Agustus 2025. (via REUTERS/BAY ISMOYO)

Sejumlah agenda besar akan menjadi perhatian pasar hari ini. Dari dalam negeri, pelaku pasar menanti keputusan suku bunga Bank Indonesia, mencermati rilis APBN KITA, serta agenda Presiden Prabowo Subianto di DPR.

Sementara dari luar negeri, fokus tertuju pada pertumbuhan ekonomi Jepang yang lebih kuat dari perkiraan dan kenaikan tingkat pengangguran Inggris.

1. Suku Bunga Bank Indonesia, Akankah Naik?

Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu siang ini (20/5/2026).

Keputusan tersebut menjadi salah satu agenda paling penting yang ditunggu pelaku pasar, terutama di tengah tekanan berat terhadap rupiah dan pasar keuangan domestik.

Berdasarkan polling CNBC Indonesia, dari 15 lembaga/institusi yang berpartisipasi, sebanyak sembilan lembaga memperkirakan BI akan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,00%.

Sementara enam lembaga lainnya memproyeksikan BI masih akan menahan suku bunga acuan di level 4,75%.

Mayoritas pelaku pasar kini melihat kenaikan suku bunga mulai menjadi skenario utama pada RDG kali ini. Tekanan yang kian berat terhadap nilai tukar rupiah, ditambah meningkatnya risiko eksternal, membuat ruang BI untuk tetap menahan suku bunga semakin sempit.

Pada RDG terakhir di April 2026, BI kembali mempertahankan BI Rate di level 4,75%. Suku bunga Deposit Facility juga tetap sebesar 3,75%, sementara Lending Facility dipertahankan di 5,50%.

Keputusan tersebut menjadi kali ketujuh BI menahan suku bunga acuannya secara berturut-turut.

Jika hasil RDG kali ini sesuai dengan mayoritas konsensus, maka ini akan menjadi kenaikan suku bunga pertama dalam dua tahun terakhir. Terakhir kali BI menaikkan suku bunga terjadi pada April 2024, saat bank sentral mengerek BI Rate sebesar 25 basis poin dari 6,00% menjadi 6,25%.

Tekanan terhadap rupiah menjadi salah satu alasan utama pasar mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga.

Mata uang Garuda terus mencetak level terlemah baru terhadap dolar AS, sementara gejolak eksternal dari perang AS-Iran masih membuat ketidakpastian global tinggi dan menahan harga energi dunia di level yang mahal.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko imported inflation, terutama jika harga minyak terus bertahan tinggi dan rupiah tetap lemah. Di sisi lain, tekanan terhadap pasar keuangan domestik juga masih terlihat dari pergerakan IHSG dan yield SBN.

Salah satu pihak yang memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga adalah Analis NH Korindo Sekuritas, Ezaridho Ibnutama. Menurut dia, pelemahan rupiah yang terus berlanjut menjadi alasan utama BI perlu segera bertindak.

"Naik 25 bps. Rupiah sudah lemah, membentuk all time high baru setiap hari," ujar Ezaridho kepada CNBC Indonesia.

Ezaridho menambahkan, tekanan terhadap rupiah juga berpotensi disertai berlanjutnya arus keluar modal, baik dari investor asing maupun domestik.

"Foreign and domestic capital outflow bisa diasumsikan lanjut," lanjutnya.

Pandangan serupa juga disampaikan Ekonom Bank Danamon Indonesia, Hosianna Situmorang. Dia menilai urgensi kenaikan suku bunga pada bulan ini sudah semakin terlihat, terutama karena depresiasi rupiah yang makin dalam belum mampu ditahan meski instrumen moneter BI telah diperketat.

"Sejujurnya kami melihat ada urgensi bagi BI untuk menaikkan suku bunga bulan ini," kata Hosianna.

2. APBN KITA, Berapa Defisit?

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit Rp164,4 triliun hingga 30 April 2026. Defisit tersebut setara 0,64% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Defisit APBN ini menyempit dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang mencapai Rp240,1 triliun. Penurunan defisit ditopang oleh penerimaan perpajakan yang tumbuh dua digit.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan posisi defisit APBN saat ini masih terjaga, terukur, dan sesuai dengan desain APBN 2026. Pembiayaan anggaran juga disebut tetap dikelola secara prudent, efisien, dan fleksibel mengikuti dinamika pasar keuangan.

"Kemarin waktu Maret 0,93%, sekarang kalau 0,64% bulan April. Kalau dikali empat setahun kira-kira 1,8%, tapi kalau cara analis gak gitu. Ini belum nari-nari," kata Purbaya dalam konferensi APBN KITA, Selasa (19/5/2026).

Dari sisi keseimbangan primer, APBN masih mencatat surplus Rp28 triliun hingga akhir April 2026. Sementara itu, realisasi pendapatan negara mencapai Rp918,4 triliun atau tumbuh 13,3%.

Kenaikan pendapatan negara terutama ditopang oleh penerimaan pajak. Realisasi pajak tercatat mencapai Rp646,3 triliun, tumbuh 16,1%. Purbaya juga optimistis pertumbuhan penerimaan perpajakan dapat berlanjut dan mendekati 20% ke depan.

Di sisi belanja, realisasi belanja pemerintah pusat tercatat sudah mencapai 34,4% dari total anggaran tahun ini. Dengan demikian, belanja pemerintah pusat mencapai Rp1.082 triliun hingga akhir April 2026.

Data APBN ini menjadi perhatian pasar karena dirilis di tengah tekanan pasar keuangan domestik, pelemahan rupiah, dan kenaikan yield SBN.

3.Prabowo Akan Hadiri Sidang Paripurna DPR

Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan hadir dalam sidang paripurna DPR pada hari ini. Sidang Paripurna ke-19 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 tersebut akan digelar pukul 09.00 WIB.

Wakil Ketua DPR Saan Mustopa mengonfirmasi rencana kehadiran Presiden Prabowo dalam sidang tersebut.

"Ya rencananya seperti itu," kata Saan.

Salah satu agenda utama dalam sidang paripurna tersebut adalah penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal atau KEM PPKF dalam RAPBN 2027.

Berbeda dari biasanya, penyampaian KEM PPKF yang umumnya dilakukan oleh Menteri Keuangan akan disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo.Sebagai catatab, KEM PPKF adalah draft awal atau "bayi" buat pengembangan RAPBN 2027. 

Biasanya presiden baru akan menyerahkan langsung draft APBN yang sudah dalam bentuk Nota Keuangan dan RAPBN pada 16 Agustus.

"Diagendakan Presiden langsung yang menyampaikan," kata Saan.

Agenda ini menjadi perhatian pasar karena KEM PPKF akan memberi gambaran awal mengenai arah kebijakan fiskal pemerintah untuk 2027. Pelaku pasar akan mencermati asumsi makro, arah belanja, target defisit, hingga strategi pembiayaan pemerintah ke depan.

Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan Pidato Kenegaraan tahunannya, menjelang Hari Kemerdekaan negara ini, di Jakarta, Indonesia, 15 Agustus 2025. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana/Pool)Foto: Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan Pidato Kenegaraan tahunannya, menjelang Hari Kemerdekaan negara ini, di Jakarta, Indonesia, 15 Agustus 2025. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)

Selain agenda KEM PPKF, sidang paripurna DPR juga akan memuat laporan Badan Legislasi DPR RI atas evaluasi perubahan kedua Program Legislasi Nasional atau Prolegnas RUU Prioritas 2026, yang dilanjutkan dengan pengambilan keputusan.

DPR juga akan mendengarkan pendapat fraksi atas RUU usul inisiatif Komisi III tentang perubahan atas UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebelum dilanjutkan pengambilan keputusan menjadi RUU usul DPR RI.

4. Ekonomi Jepang Tumbuh 2,1%

Ekonomi Jepang mencatat pertumbuhan lebih kuat dari perkiraan pada kuartal I-2026.

Data awal dari Cabinet Office Japan menunjukkan ekonomi Jepang tumbuh 2,1% secara tahunan (yoy) pada kuartal I-2026.

Angka tersebut lebih tinggi dari ekspektasi pasar yang memperkirakan ekonomi Jepang tumbuh 1,7%. Pertumbuhan ini juga meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 1,3%, atau dalam data revisi lain disebut tumbuh 0,8% pada kuartal IV-2025.

Secara kuartalan (quarter to quarter/qtq), ekonomi Jepang tumbuh 0,5% pada kuartal I-2026.

Realisasi ini juga lebih baik dari perkiraan pasar sebesar 0,4% dan meningkat dari pertumbuhan 0,3% pada akhir 2025. Jika dibandingkan secara tahunan, produk domestik bruto atau PDB Jepang tumbuh 0,6% year on year/yoy.

Pertumbuhan tersebut menjadi yang tercepat dalam enam kuartal terakhir. Kinerja ekonomi Jepang ditopang oleh konsumsi swasta yang membaik dan ekspor yang masih kuat.

Ekspor Jepang pada Maret 2026 tumbuh 11,5% yoy, lebih tinggi dari perkiraan. Kenaikan ini sebagian ditopang oleh lonjakan pengiriman peralatan semikonduktor sebesar 29,3%.

Selain itu, investasi publik juga kembali meningkat kuat untuk pertama kalinya dalam tiga kuartal. Kenaikan ini didorong oleh belanja infrastruktur dan pengeluaran terkait rekonstruksi. Belanja pemerintah juga naik untuk kuartal kedua berturut-turut, meski laju pertumbuhannya melambat tajam dibandingkan periode sebelumnya.

Namun, tidak semua komponen menunjukkan penguatan. Belanja modal atau capital expenditure masih tumbuh, tetapi momentumnya melambat signifikan. Biaya pinjaman yang tinggi dan kepercayaan bisnis yang melemah mulai menekan minat investasi korporasi.

Meski data kuartal I terlihat solid, angka tersebut belum sepenuhnya menangkap dampak perang Iran yang dimulai pada akhir Februari. Risiko dari kenaikan harga energi masih menjadi perhatian besar bagi Jepang, mengingat negara tersebut sangat bergantung pada impor energi.

"Meski PDB Jepang tumbuh sehat 0,5% pada kuartal I, kami menilai data kuartal I ini sudah menjadi cerita lama. Ke depan, ekonomi Jepang kemungkinan mulai merasakan tekanan dari tingginya biaya energi," kata Norihiro Yamaguchi, lead Japan economist di Oxford Economics, dikutip dari CNBC International.

Menurut Yamaguchi, dorongan dari ekspor, terutama karena permintaan teknologi informasi yang masih kuat, dapat memberikan dukungan dalam jangka pendek.

Namun, harga energi yang tinggi dan ketidakpastian yang masih besar berpotensi mulai menekan konsumsi dan investasi ke depan.

5. Tingkat Pengangguran Inggris Melonjak

Pasar tenaga kerja Inggris menunjukkan tekanan baru. Tingkat pengangguran Inggris naik menjadi 5,0% dalam periode tiga bulan hingga Maret 2026.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar 4,9% dan juga berada di atas ekspektasi pasar. Data ini menjadi perhatian karena mencerminkan kondisi bulan pertama sejak perang AS-Iran dimulai, yang ikut menambah tekanan terhadap biaya bisnis dan kondisi perekrutan tenaga kerja.

Meski tingkat pengangguran naik, jumlah pengangguran justru turun sebanyak 77.000 orang menjadi 1,806 juta orang. Penurunan ini terutama berasal dari kelompok yang menganggur hingga enam bulan dan kelompok yang menganggur antara enam hingga 12 bulan.

Namun, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, jumlah pengangguran Inggris masih naik 192.000 orang. Kenaikan terjadi di seluruh durasi pengangguran.

Di sisi lain, jumlah orang yang bekerja masih bertambah. Total employment naik 148.000 orang menjadi 34,392 juta orang. Kenaikan ini lebih tinggi dari ekspektasi pasar yang memperkirakan tambahan 107.000 orang.

Secara tahunan, jumlah pekerja juga meningkat 416.000 orang, ditopang oleh kenaikan pekerja penuh waktu dan paruh waktu, baik dari kelompok karyawan maupun pekerja mandiri.

Sementara itu, jumlah pekerja yang memiliki pekerjaan kedua turun menjadi 1,275 juta orang pada kuartal terbaru. Angka ini setara dengan 3,7% dari total penduduk yang bekerja.

6. Obligasi Masih Diobral

Pasar obligasi AS semakin tertekan karena kekhawatiran inflasi, mendorong imbal hasil Treasury 30-tahun ke 5,2%, tertinggi sejak 2007. Lonjakan ini dipicu oleh perang di Iran, kondisi keuangan pemerintah yang lemah, dan ketakutan kenaikan suku bunga, sehingga investor melepas obligasi.

Perang di Iran memicu guncangan energi global, dengan harga minyak dan gas mencapai level tertinggi empat tahun, memengaruhi harga makanan dan tarif penerbangan. Imbal hasil Treasury 10-tahun, acuan untuk suku bunga hipotek, naik ke 4,67%, menunjukkan investor menuntut kompensasi lebih untuk risiko inflasi.

Kenaikan imbal hasil meningkatkan biaya pinjaman bagi rumah tangga dan bisnis serta menjadi tekanan bagi pasar saham. Dampaknya tidak hanya di AS; investor global juga menjual obligasi karena kekhawatiran inflasi, dengan imbal hasil UK dan Jepang mencatat level tertinggi sejarah.



Para analis memperingatkan aksi jual obligasi akan terus berlanjut karena kondisi fiskal memburuk, inflasi tinggi, dan bank sentral belum mengambil langkah tegas. Sejak awal perang dengan Iran 80 hari lalu, pasar saham sempat jatuh tapi pulih, sedangkan pasar obligasi tetap tertekan. Lonjakan biaya pinjaman ini menambah kekhawatiran volatilitas pasar global dan bisa membuat investor berpindah dari saham ke obligasi.

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features