MARKET DATA
Newsletter

Bersiaplah: Prabowo Paparkan 'Calon' APBN 2027, BI Rate Naik Hari Ini?

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
20 May 2026 06:26
Ilustrasi Bursa. (CNBC Indonesia)
Foto: Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat menyampaikan Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan Januari 2025 dengan Cakupan Triwulanan pada Rabu (15/1/2025). (REUTERS/Willy Kurniawan)

Bursa saham AS, Wall Street, ditutup melemah pada Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.

Indeks S&P 500 mencatatkan penurunan untuk sesi ketiga berturut-turut, karena lonjakan imbal hasil obligasi mengancam pasar bullish.

Pelaku pasar memantau pasar minyak setelah Presiden Donald Trump membatalkan serangan yang direncanakan terhadap Iran.

S&P 500 ditutup turun 0,67% pada 7.353,61, sementara Nasdaq Composite berakhir lebih rendah 0,84% pada 25.870,71. Dow Jones Industrial Average kehilangan 322,24 poin, atau 0,65%, untuk ditutup pada 49.363,88.

Volatilitas di pasar obligasi menambah tantangan baru bagi pasar bullish. Imbal hasil Treasury 30-tahun sempat menembus 5,19% pada hari Selasa, level tertinggi dalam hampir 19 tahun.

Sementara itu, imbal hasil Treasury 10-tahun yang menjadi tolok ukur penting untuk kredit pemilikan rumah, pinjaman mobil, dan utang kartu kredit naik menjadi 4,687% pada satu titik, menandai level tertinggi sejak Januari 2025.

Kenaikan suku bunga ini terjadi setelah serangkaian laporan pekan lalu menunjukkan inflasi mulai meningkat kembali seiring perang di Iran yang mendorong harga minyak naik. 

Tingginya suku bunga pada hal-hal seperti kartu kredit dan KPR bisa membatasi pengeluaran konsumen. Sementara itu, kenaikan suku bunga juga bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi jangka panjang dan menyoroti valuasi yang sangat tinggi pada beberapa saham chip belakangan ini.

"Para vigilante obligasi sedang bermain sekarang," kata Will McGough, kepala investasi di Prime Capital Financial, kepada CNBC International.

"Semua orang menyadari harga energi tetap tinggi, yang bisa memicu inflasi yang sedikit tertinggal dari kurva."imbuhnya,

Vigilante obligasi adalah investor institusi yang menjual obligasi pemerintah untuk menunjukkan ketidaksetujuan mereka terhadap kebijakan moneter AS yang memicu inflasi.

McGough menambahkan bahwa investor mungkin sedang mengirim pesan bahwa Federal Reserve tertinggal dalam menangani inflasi menjelang pelantikan Kevin Warsh sebagai ketua bank sentral pada hari Jumat.

"Ada narasi bahwa ketua Fed baru cenderung diuji oleh pasar. Anda bisa melihat para vigilante obligasi jelas sedang mengujinya di sini, jika Anda mempercayai tema itu," kata McGough kepada CNBC.

Harga minyak sedikit turun pada Selasa setelah Presiden Donald Trump mengumumkan pada Senin malam bahwa dia membatalkan rencana menyerang Iran setelah kepala tiga kekuatan regional di Timur Tengah memintanya untuk menunda.

Kontrak berjangka West Texas Intermediate AS untuk pengiriman Juni turun 0,82% menjadi $107,77 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka Brent internasional untuk pengiriman Juli turun 0,73% dan ditutup pada $111,28 per barel.

Kemudian dalam sesi tersebut, AS dilaporkan menyita sebuah kapal tanker minyak yang terkait dengan Republik Islam di Samudra Hindia, menurut tiga pejabat AS yang berbicara dengan The Wall Street Journal.

Nvidia, yang akan melaporkan pendapatan kuartal pertama fiskalnya setelah bel penutupan pada Rabu, ditutup turun hampir 1%. Qualcomm menutup sesi dengan penurunan hampir 4%, sementara Broadcom turun 2%.

"Ini adalah jeda yang layak setelah reli epik," kata Jed Ellerbroek, manajer portofolio di Argent Capital Management, kepada CNBC.

Menurutnya sekarang ini adalah waktu yang menarik untuk pembalikan, datang hanya beberapa hari perdagangan sebelum saham chip terbesar di dunia melaporkan pendapatan dan panduan yang akan luar biasa.

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features