MARKET DATA
Newsletter

Yield Surat Utang Dunia Tiba-Tiba Meledak, IHSG & Rupiah dalam Bahaya

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
19 May 2026 06:24
Rupiah & IHSG Jeblok
Foto: Infografis / Rupiah & IHSG Jeblok / Aristya Rahadian K

Pelaku pasar perlu mencermati sejumlah sentimen penting pada hari ini. Dari dalam negeri, fokus utama tertuju pada dimulainya Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia di tengah tekanan berat terhadap rupiah dan pasar saham.

Sementara dari luar negeri, data ekonomi China menjadi perhatian setelah penjualan ritel melambat tajam, meski tingkat pengangguran mulai turun.

Lonjakan imbal hasil surat utang global kini juga menjadi "hantu" baru bagi pasar keuangan dunia, termasuk Indonesia.

Selain itu, hasil rapat DPR dengan BI juga masih menjadi sorotan karena memperlihatkan tekanan besar terhadap bank sentral untuk menjaga stabilitas rupiah, terutama setelah dolar AS menembus kisaran Rp17.600/US$.

1. Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia Dimulai

Bank Indonesia (BI) akan memulai Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada hari ini, Selasa (19/5/2026). Agenda ini akan berlangsung selama dua hari hingga Rabu (20/5/2026), sekaligus menjadi salah satu fokus utama pelaku pasar pekan ini.

Dalam RDG tersebut, BI akan mengumumkan keputusan terbaru mengenai arah suku bunga acuan. Keputusan ini menjadi semakin penting karena berlangsung di tengah tekanan berat terhadap pasar keuangan domestik, terutama nilai tukar rupiah dan pasar saham.

Pada RDG sebelumnya, yakni 21-22 April 2026, BI kembali mempertahankan BI Rate di level 4,75%. Suku bunga Deposit Facility juga tetap di 3,75%, sementara suku bunga Lending Facility dipertahankan di 5,50%.

Keputusan April tersebut sekaligus menjadi keputusan ketujuh secara beruntun bagi BI untuk menahan suku bunga acuan.

Kondisi saat ini membuat ruang pemangkasan suku bunga semakin sempit. Rupiah masih berada di level yang sangat lemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sementara tekanan dari luar negeri belum mereda.

Dolar AS masih kuat, inflasi AS kembali memanas, dan harga minyak masih tinggi akibat perang AS-Iran. Kombinasi tersebut membuat risiko imported inflation dan tekanan terhadap stabilitas rupiah tetap besar.

2.Utang Luar Negeri RI Tembus Rp7.627 Triliun

Bank Indonesia melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada kuartal I-2026 tumbuh melambat. Posisi ULN Indonesia tercatat sebesar US$433,4 miliar atau sekitar Rp7.627 triliun dengan asumsi kurs Rp16.700/US$.

Secara tahunan, ULN Indonesia tumbuh 0,8% year on year (yoy). Pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan kuartal IV-2025 yang sebesar 1,9% yoy.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan perkembangan posisi ULN tersebut dipengaruhi oleh ULN sektor publik dan sektor swasta.

Dari sisi pemerintah, posisi ULN pada kuartal I-2026 tercatat sebesar US$214,7 miliar. Angka tersebut tumbuh 3,8% yoy, melambat dibandingkan kuartal IV-2025 yang tumbuh 5,5% yoy.

"Perkembangan ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh aliran modal masuk asing pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional seiring dengan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia," kata Denny dalam siaran pers, Senin (18/5/2026).

BI menjelaskan, ULN pemerintah masih diarahkan untuk mendukung belanja prioritas dan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah antara lain dimanfaatkan untuk sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial, administrasi pemerintahan, jasa pendidikan, konstruksi, serta transportasi dan pergudangan.

Sementara itu, ULN swasta justru menurun. Posisi ULN swasta pada kuartal I-2026 tercatat sebesar US$191,4 miliar, turun dari posisi kuartal IV-2025 sebesar US$194,2 miliar. Secara tahunan, ULN swasta mengalami kontraksi 1,8% yoy.

"Penurunan posisi ULN terjadi pada kelompok peminjam lembaga keuangan dan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan, yang secara tahunan masing-masing tercatat kontraksi sebesar 3,6% yoy dan 1,3% yoy," kata Denny.

Menurut BI, ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian. Keempat sektor tersebut mencakup 80,4% dari total ULN swasta.

Meski nilai ULN Indonesia masih besar, BI menilai struktur ULN tetap sehat. Hal ini tercermin dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang turun menjadi 29,5% pada kuartal I-2026, dari 30,0% pada kuartal IV-2025.

Selain itu, ULN Indonesia masih didominasi utang jangka panjang dengan pangsa 85,4% dari total ULN.

"Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," ujar Denny.

3. Imbal Hasil Surat Utang Dunia Melonjak

Aksi jual obligasi jangka panjang mengguncang pasar global. Kondisi ini mendorong imbal hasil (yield) ke level tertinggi baru dalam beberapa dekade, meredam reli saham berbasis kecerdasan buatan (AI), memperketat kondisi keuangan bagi perusahaan, dan menambah kekhawatiran terhadap inflasi serta perlambatan permintaan.

Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 30 tahun sempat naik menjadi 4,17% kemarin, level tertinggi sejak tenor tersebut pertama kali diterbitkan pada 1999.

Yield Bund Jerman tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2011, dan yield gilt Inggris tenor 30 tahun naik ke level tertinggi sejak 1998.

Imbal hasil US Treasury juga melonjak ke level tertinggi sejak 2007.

Ketika yield naik, biaya pinjaman menjadi lebih mahal dan investor menggunakan "discount rate" yang lebih tinggi yaitu suku bunga yang digunakan untuk menghitung nilai keuntungan masa depan dalam nilai uang saat ini yang dapat menekan harga saham.

Penyebab pergerakan obligasi ini cukup kompleks yakni kekhawatiran bahwa inflasi akan tetap tinggi karena guncangan energi dan keterbatasan pasokan bercampur dengan kekhawatiran fiskal, artinya pemerintah mungkin perlu menerbitkan lebih banyak utang pada saat investor menuntut yield yang lebih tinggi.

Sektor yang bergantung pada keuntungan jauh di masa depan cenderung paling terdampak ketika yield jangka panjang melonjak, karena discount rate yang lebih tinggi mengurangi nilai saat ini dari arus kas masa depan tersebut.

Kenaikan imbal hasil Jepang mencerminkan ekspektasi bahwa otoritas Jepang dapat mempercepat kenaikan suku bunga karena harga minyak yang lebih tinggi memicu inflasi dan belum ada tanda-tanda meredanya ketegangan di Timur Tengah.

 

Seruan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi untuk anggaran tambahan guna mengatasi kenaikan biaya bahan baku akibat perang di Timur Tengah juga turut mendorong yield obligasi jangka sangat panjang ke rekor tertinggi.

Yield obligasi pemerintah Jepang jangka panjang yang lebih tinggi menandakan kemungkinan kenaikan suku bunga kebijakan, langkah yang dapat membebani pasar saham.

Sementara itu, Departemen Keuangan Amerika Serikat telah menjual obligasi pemerintah tenor 30 tahun senilai US$25 miliar dengan yield 5,046%, menandai pertama kalinya sejak 2007 utang Treasury jangka panjang menembus ambang 5%.

Penjualan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi, data harga produsen yang lebih kuat dari perkiraan, dan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Federal Reserve ke depan.

Lelang ini mendapat perhatian besar karena kenaikan yield obligasi jangka panjang dapat memengaruhi pasar keuangan secara luas, termasuk suku bunga hipotek, biaya pinjaman korporasi, dan sentimen investor.

Hasil tersebut juga menunjukkan bahwa investor menuntut kompensasi lebih tinggi untuk memegang utang pemerintah AS jangka panjang karena tekanan inflasi masih tinggi dan kebutuhan pembiayaan fiskal terus meningkat.

Secara historis, yield Treasury jangka panjang sering dijadikan acuan untuk menentukan harga berbagai produk keuangan, termasuk hipotek, utang korporasi, dan pembiayaan jangka panjang.

 

Fakta bahwa obligasi tenor 30 tahun mencapai level yang tidak terlihat sejak 2007 langsung memunculkan perbandingan dengan periode sebelum krisis keuangan global, meskipun kondisi pasar saat ini sangat berbeda.

Berbeda dengan kondisi sebelum krisis keuangan, kekhawatiran saat ini lebih berfokus pada inflasi yang bertahan tinggi, tingginya pinjaman pemerintah, dan ketidakpastian geopolitik, bukan ketidakstabilan pasar perumahan.

4. Penjualan Ritel China Melambat

China baru saja merilis data penjualan ritel untuk periode April 2026 pada Senin kemarin. Hasilnya menunjukkan konsumsi masyarakat di Negeri Tirai Bambu masih sangat lemah.

Berdasarkan data National Bureau of Statistics of China, penjualan ritel China hanya tumbuh 0,2% secara tahunan/year on year (yoy) pada April 2026. Angka ini melambat tajam dibandingkan Maret 2026 yang masih tumbuh 1,7% yoy.

Realisasi tersebut juga jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan penjualan ritel bisa tumbuh 2,0% yoy. Pertumbuhan April menjadi yang terlemah sejak Desember 2022.

Pelemahan konsumsi terutama terlihat pada pembelian barang bernilai besar. Penjualan mobil anjlok 15,3%, disusul peralatan rumah tangga yang turun 15,1%, bahan bangunan turun 13,8%, dan furnitur melemah 10,4%.

Namun, sejumlah kategori masih mencatatkan pertumbuhan. Penjualan tembakau dan alkohol naik 11,7%, peralatan komunikasi tumbuh 6,2%, produk biji-bijian, minyak, dan makanan naik 4,1%, sementara kosmetik tumbuh 4,7%.

Dari sisi segmen, jasa masih lebih kuat dibandingkan barang. Pendapatan katering tumbuh 2,2%, sementara penjualan barang ritel turun tipis 0,1%. Jika tidak memasukkan penjualan mobil, penjualan ritel China masih tumbuh 1,8%.

Secara bulanan/month to month (mtm), penjualan ritel China turun 0,5% pada April 2026, lebih dalam dibandingkan penurunan 0,1% pada Maret. Sementara itu, sepanjang Januari-April 2026, penjualan ritel China masih tumbuh 1,9%.

Data ini menjadi perhatian pasar karena China merupakan salah satu motor utama ekonomi global. Lemahnya konsumsi domestik dapat menambah kekhawatiran terhadap prospek pemulihan ekonomi China, terutama di tengah tekanan perang Iran, pelemahan permintaan barang besar, dan meningkatnya ketidakpastian global.

5. Tingkat Pengangguran China Turun

Selain penjualan ritel, China juga merilis data tingkat pengangguran perkotaan untuk periode April 2026. Data ini menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja China sedikit membaik dibandingkan bulan sebelumnya.

Tingkat pengangguran perkotaan yang disurvei turun ke level 5,2% pada April 2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan Maret 2026 yang berada di 5,4%, yang sebelumnya merupakan level tertinggi dalam lebih dari satu tahun.

Realisasi tersebut juga lebih baik dari ekspektasi pasar yang memperkirakan tingkat pengangguran berada di 5,3%. Dengan posisi ini, tingkat pengangguran China berada di level terendah sejak Januari 2026.

Jika dilihat lebih rinci, tingkat pengangguran untuk tenaga kerja dengan registrasi lokal turun tipis menjadi 5,3%, dari sebelumnya 5,4% pada Maret.

Sementara itu, tingkat pengangguran untuk pekerja migran turun lebih dalam ke 5,0%, dari 5,3% pada bulan sebelumnya. Di dalam kelompok pekerja migran, mereka yang memiliki registrasi rumah tangga pertanian mencatat tingkat pengangguran 5,0%, turun dari 5,7% pada Maret.

Di 31 kota besar, tingkat pengangguran perkotaan yang disurvei juga turun tipis menjadi 5,2%, dari sebelumnya 5,3%. Sementara itu, rata-rata jam kerja karyawan perusahaan secara nasional tercatat 48 jam per minggu.

Untuk periode Januari-April 2026, rata-rata tingkat pengangguran perkotaan yang disurvei berada di level 5,3%.

6. DPR dan BI Bahas Rupiah

Rapat kerja Komisi XI DPR dengan Bank Indonesia (BI) pada Senin kemarin juga menjadi salah satu agenda penting yang perlu dicermati pelaku pasar. Rapat ini berlangsung di tengah tekanan berat terhadap rupiah, setelah dolar AS menembus kisaran Rp17.600/US$.

Dalam rapat tersebut, Komisi XI DPR meminta BI lebih serius menjaga stabilitas rupiah. Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun meminta BI mengupayakan agar rupiah bisa kembali ke level Rp16.000-an per dolar AS.

DPR juga mengingatkan BI bahwa rupiah pernah mampu berbalik menguat tajam saat krisis. Salah satu sorotan yang muncul adalah pengalaman pada era Presiden BJ Habibie, ketika rupiah pernah kembali ke kisaran Rp6.000-an per dolar AS.

Dari sisi BI, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah tidak semata-mata dilihat dari level kurs terhadap dolar AS. Menurut Perry, mandat BI adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, bukan mempertahankan rupiah di level tertentu.

Dengan kata lain, rupiah yang melemah tidak otomatis dinilai tidak stabil, selama pelemahannya masih berlangsung dalam volatilitas yang terkendali. Perry menjelaskan bahwa BI melihat stabilitas dari seberapa besar gejolak pergerakan nilai tukar dalam periode tertentu.

"Kita bicara stabilitas nilai tukar rupiah, bukan level nilai tukar rupiah. Yang dijaga adalah stabilitasnya," ujar Perry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (18/5/2026).

Perry juga menyebut volatilitas rupiah secara year to date masih relatif terjaga. Menurutnya, volatilitas rupiah berada di sekitar 5,4% dan masih dapat dikategorikan stabil di tengah tekanan global yang juga menghantam banyak mata uang negara lain.

"Year to date sekarang sekitar 5,4% dan itu masih relatif stabil. Mandat undang-undang adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," kata Perry.

Selain itu, Perry menegaskan bahwa tekanan rupiah pada periode April hingga Juni memiliki pola musiman. Menurut BI, kebutuhan valas biasanya meningkat pada periode tersebut, antara lain karena pembayaran dividen, repatriasi, dan kebutuhan korporasi.

Perry menyebut rupiah berpeluang kembali menguat pada Juli-Agustus 2026, seiring meredanya tekanan musiman tersebut.

"Tapi bulan Juli, Agustus akan menguat," ujar Perry.

BI juga masih meyakini nilai tukar rupiah akan bergerak lebih baik hingga akhir tahun. Perry memperkirakan rupiah dapat kembali berada di kisaran Rp16.200-Rp16.800/US$ pada akhir 2026.

"Sehingga the whole year kami masih meyakini nilai tukar akan di dalam kisaran Rp16.200-Rp16.800," tutur Perry.

BI juga menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari arus keluar dana asing dari pasar keuangan domestik. Perry menyebut kondisi perang yang semakin memanas ikut memperbesar tekanan terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Untuk menarik kembali aliran dana asing, BI antara lain mengandalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI. Kenaikan imbal hasil SRBI diharapkan dapat membuat instrumen rupiah lebih menarik bagi investor asing.

"Kenapa karena perangnya semakin ganas. Kenapa kami perlu naikkan suku bunga SRBI agar inflow," kata Perry.

Di sisi lain, Perry meminta agar pelemahan rupiah tidak dikaitkan dengan anggapan BI membiarkan kurs melemah demi menaikkan penerimaan dari pengelolaan aset valas. Pernyataan ini muncul setelah Komisi XI menyoroti hasil pengelolaan aset valas BI yang disebut tumbuh 212,25% menjadi Rp66,65 triliun.

"Jangan kami dinilai ingin menaikkan penerimaan," kata Perry.

Dengan demikian, rapat DPR dan BI memperlihatkan meningkatnya tekanan terhadap bank sentral untuk menjaga rupiah. Perdebatan tidak hanya menyangkut seberapa lemah posisi rupiah saat ini, tetapi juga bagaimana BI menjelaskan ukuran stabilitas nilai tukar di tengah gejolak pasar global.

Pasar akan mencermati apakah keyakinan BI terhadap penguatan rupiah pada paruh kedua tahun ini akan diikuti langkah kebijakan yang lebih agresif, terutama menjelang keputusan RDG BI pada 19-20 Mei 2026.

7. Perkembangan Perang

Presiden AS Donald Trump mengatakan ia menunda rencana serangan terhadap Iran untuk memberi kesempatan pada negosiasi damai setelah Teheran mengirim proposal baru ke Washington.

Trump menyebut militer AS tetap siap melancarkan serangan besar kapan saja jika kesepakatan tidak tercapai. Proposal Iran berfokus pada penghentian perang, pembukaan kembali Selat Hormuz, dan pelonggaran sanksi.

Meski begitu, Iran tetap memperingatkan AS agar tidak melakukan "kesalahan strategis" dan menyatakan pasukannya siap merespons jika ada serangan baru.

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features