Warga Eropa Murka, Semua Berawal dari Tagihan Sewa Rumah yang Mencekik
Jakarta, CNBCÂ Indonesia-Â Beban warga Eropa makin berat. Banyak dari warganya yang bahkan tengah kebingungan harus tinggal di mana.
Di Barcelona, apartemen kosong kini seperti barang lelang. Agen properti Bourgeois Fincas mengaku kepada The Economist, bahwa satu unit flat bisa menerima 200 pertanyaan hanya dalam waktu satu jam setelah dipasang di internet.
Dalam sehari, unit itu biasanya sudah berpindah tangan. Situasi ini terjadi di distrik Eixample, kawasan elegan yang selama puluhan tahun menjadi simbol kelas menengah kota Barcelona. Kini, persaingan datang dari mana-mana seperti pekerja asing, digital nomad, pemburu rumah kedua, sampai warga lokal yang berebut kamar sempit di pinggiran kota.
Â
Fenomena itu bukan kasus tunggal. Melansir The Economist, hampir seluruh kota besar di Eropa sedang menghadapi tekanan perumahan yang berat. Harga rumah di Uni Eropa melonjak sekitar 60% sepanjang 2015-2025. Kenaikannya jauh melampaui pertumbuhan pendapatan rumah tangga.
Di banyak kota, biaya sewa sudah memakan lebih dari 40% gaji rata-rata pekerja. Batas ini dalam ekonomi sering dianggap titik rawan finansial karena ruang konsumsi rumah tangga mulai menyempit.
Foto: The Economist |
Di Spanyol dan Belanda, survei menunjukkan perumahan kini menjadi kekhawatiran publik terbesar. Banyak analis mulai menghubungkan kenaikan dukungan partai kanan populis dengan frustrasi generasi muda yang gagal memperoleh rumah. Di sejumlah kota Eropa, pekerja muda dengan penghasilan stabil tetap kesulitan menyewa apartemen sederhana.
Uni Eropa sendiri mulai bergerak. Tahun lalu, Komisi Eropa untuk pertama kalinya menunjuk komisaris khusus bidang perumahan. Brussel juga mulai membuka ruang agar negara anggota bisa memperbesar investasi publik di sektor rumah murah serta memperketat apartemen wisata seperti Airbnb.
Meski begitu, akar persoalannya jauh lebih rumit dibanding sekadar harga sewa mahal.
Persoalan terbesar berada pada pasokan rumah yang tertinggal sangat jauh dari permintaan. Spanyol menjadi contoh paling ekstrem. Bank Sentral Spanyol memperkirakan negara itu kekurangan sekitar 700 ribu unit rumah. Jumlah rumah tangga melonjak 1,2 juta sejak 2021, terutama akibat arus imigrasi besar-besaran. Sementara pembangunan rumah baru bahkan belum mencapai 90 ribu unit per tahun.
Â
Tekanan tambahan datang dari pembeli asing. Di sejumlah wilayah pesisir Spanyol, warga asing menyumbang hampir seperlima pembelian rumah. Banyak properti berubah fungsi menjadi aset investasi atau rumah musim panas.
Jerman menghadapi masalah serupa. Negara itu membutuhkan sekitar 400 ribu unit rumah baru setiap tahun, tetapi pembangunan riil hanya mencapai separuhnya. Di Prancis, kebutuhan rumah baru diperkirakan sekitar 520 ribu unit per tahun. Tahun ini pembangunan diproyeksikan hanya sekitar 300 ribu unit.
Urbanisasi memperburuk keadaan. Penduduk terus bergerak ke kota besar untuk mencari pekerjaan dan akses layanan. Sementara banyak rumah kosong justru berada di desa kecil atau wilayah yang ekonominya lesu. Sensus Spanyol 2021 menemukan sekitar 3,8 juta rumah kosong. Sebagian besar berada di lokasi yang memang tidak diminati pasar.
Pemerintah Eropa kemudian memilih jalur intervensi harga. Kontrol sewa kembali menjadi senjata utama.
Belanda memperluas pembatasan tarif sewa untuk sektor swasta sejak 2024. Spanyol mengesahkan undang-undang yang memungkinkan pemerintah daerah membatasi kenaikan sewa. Catalonia bahkan sudah menerapkan kebijakan serupa sejak 2020.
Dengan tujuan menahan lonjakan biaya hidup. Namun hasil di lapangan mulai memunculkan masalah baru.
Â
Penelitian José GarcÃa Montalvo dari Pompeu Fabra University menemukan kontrol sewa di Catalonia memang menurunkan harga sewa sekitar 5% bagi penyewa lama. Namun jumlah kontrak sewa baru turun sekitar 10%. Banyak pemilik rumah memilih menahan properti mereka karena ketidakpastian aturan.
Di Belanda, fenomena yang sama mulai terlihat. Pemilik apartemen memilih menjual unit dibanding menyewakannya dengan tarif yang dibatasi pemerintah. Akibatnya stok rumah sewa semakin menyusut. Tekanan akhirnya berpindah ke kelompok paling rentan: pendatang baru, pekerja muda, dan masyarakat berpendapatan rendah.
Ekonom di Esade Business School, Jorge Galindo, menggambarkan kebijakan kontrol sewa seperti "mengatur antrean tanpa memperpendek antreannya." Orang yang sudah memperoleh rumah terlindungi. Orang yang belum mendapat rumah justru semakin tersingkir.
Karena itu beberapa negara mulai mencari pendekatan berbeda. Portugal menurunkan pajak pendapatan sewa rumah terjangkau dari 25% menjadi 10%. Pemerintah Spanyol juga menawarkan insentif pajak bagi pemilik rumah yang tidak menaikkan harga sewa.
Tetapi pada akhirnya, Eropa tetap kembali pada satu kenyataan lama: rumah harus dibangun lebih banyak.
Masalahnya, membangun rumah di Eropa sekarang sangat lambat dan mahal.
Di Catalonia, proses izin pembangunan bisa memakan waktu hingga 12 tahun. Pemerintah daerah menguasai sebagian besar lahan pembangunan dan banyak wilayah menolak proyek baru karena kekhawatiran kepadatan penduduk.
Â
Sektor konstruksi pun kekurangan tenaga kerja. Setelah gelembung properti Spanyol pecah pada 2008, banyak pekerja bangunan migran pulang ke negara asal atau pindah ke sektor pariwisata yang dianggap lebih ringan.
Kini kapasitas konstruksi Spanyol diperkirakan hanya cukup membangun sekitar 100 ribu rumah per tahun. Padahal kebutuhan aktual jauh di atas angka tersebut.
Biaya material bangunan juga naik tajam dalam beberapa tahun terakhir. Konflik geopolitik ikut memperumit rantai pasok konstruksi Eropa. Industri bangunan di kawasan itu masih dipenuhi perusahaan kecil dengan produktivitas rendah.
Pemerintah mulai mencoba berbagai solusi teknis. Stockholm mengembangkan proyek rumah publik dengan komponen standar untuk memangkas biaya. Spanyol menyiapkan dana €1,3 miliar guna memperbesar produksi modular housing. Portugal berencana memangkas PPN konstruksi rumah terjangkau dari 23% menjadi 6%.
Namun belanja bantuan sosial masih jauh lebih besar dibanding pembangunan rumah baru. Di Jerman, pengeluaran tunjangan perumahan kini empat kali lebih tinggi dibanding investasi proyek rumah baru.
Bagi banyak warga Eropa, tagihan sewa kini berubah menjadi simbol kegagalan ekonomi modern pekerjaan ada, pendapatan ada, tetapi rumah makin terasa di luar jangkauan.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb) Addsource on Google
Foto: The Economist