MARKET DATA

Perang Teluk Bikini Asia Kapok, Tak Mau Lagi Jadi Sandera Energi

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia
18 May 2026 15:05
Kapal dan perahu di Selat Hormuz, Musandam, Oman, 22 April 2026. (REUTERS/Stringer)
Foto: Kapal dan perahu di Selat Hormuz, Musandam, Oman, 22 April 2026. (REUTERS/Stringer)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang yang terjadi di Iran mulai menimbulkan guncangan besar terhadap ekonomi Asia, terutama negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi dari kawasan Teluk.

Lonjakan harga minyak dan gas membuat banyak pemerintah di Asia terpaksa menggelontorkan subsidi besar-besaran demi menjaga harga energi tetap stabil.

Namun di balik krisis tersebut, muncul perubahan besar dalam strategi energi kawasan, mulai dari diversifikasi pemasok hingga penguatan kerja sama antarnegara Asia.

Krisis Energi Mulai Ganggu Ekonomi dan Pasokan Pangan

Sejumlah negara Asia mulai menghadapi tekanan berat akibat lonjakan harga energi.

Dampaknya juga mulai terasa pada sektor pangan. Harga pupuk urea yang banyak diproduksi di kawasan Teluk naik sekitar 50% sejak perang dimulai. Kenaikan biaya pupuk dan solar membuat banyak petani padi di Asia mengurangi rencana tanam mereka.

Dr Alisher Mirzabaev dari International Rice Research Institute memperingatkan bahwa krisis ini tidak lagi sekadar persoalan keuntungan petani, melainkan berpotensi berkembang menjadi ancaman ketahanan pangan apabila konflik terus berlanjut.

Industri Asia Tertekan, Pemerintah Mulai Tekor

 

Lonjakan harga energi juga mulai menghantam sektor manufaktur Asia.

Tekanan tersebut membuat pemerintah harus menggelontorkan subsidi dalam jumlah besar. India disebut menghabiskan sekitar US$150 juta per hari untuk menjaga harga BBM tetap stabil, sementara Indonesia mengeluarkan sekitar US$60 juta per hari untuk subsidi energi.

Namun para analis memperingatkan kebijakan tersebut sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Pemerintah Asia kini menghadapi dilema besar antara menjaga stabilitas fiskal atau menghindari gejolak sosial akibat kenaikan harga energi dan pangan.

Asia Mulai Cari Jalan Keluar, China Diuntungkan

Krisis energi akibat perang Iran mulai mendorong negara-negara Asia mengubah strategi energi mereka, termasuk negara-negara ASEAN.

Pada KTT ASEAN ke-48 yang diselenggarakan di Cebu beberapa minggu lalu, para pemimpin Asia Tenggara membahas pembentukan cadangan bahan bakar bersama guna memperkuat ketahanan energi kawasan.

Sementara itu, Asian Development Bank berjanji menggelontorkan dana US$50 miliar hingga 2035 untuk mendukung integrasi jaringan listrik antarnegara di Asia.

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular