Vietnam Sudah Untung Besar dari Kerja Sama Inggris, Yakin RI Gak Iri?
Perkembangan kerja sama Vietnam dan Inggris dengan cepat meningkatkan volume ekspor dan impor karena adanya sejumlah kemudahan dan insentif.
Dalam perjanjian UKFTA, Inggris lebih cepat menurunkan tarif, dengan banyak produk langsung 0%.
Kesepakatan tersebut langsung mengamankan penghapusan 65% dari seluruh tarif yang telah dihapus sejak Perjanjian Perdagangan Bebas UE–Vietnam (EVFTA) mulai berlaku. Angka ini akan meningkat menjadi 99% dari tarif setelah jadwal penghapusan selama 6–9 tahun.
Perjanjian diberlakukan dengan perlakuan khusus. Untuk barang yang diekspor oleh eksportir Inggris ke Vietnam, ketentuannya adalah sebagai berikut:
a. Sebanyak 48,5% dari pos tarif telah dihapus pada 01 Januari 2021
b. Sebanyak 91,8% dari pos tarif akan dihapus pada 01 Januari 2027
c. Sebanyak 98,3% dari pos tarif akan dihapus pada 01 Januari 202
Sebanyak 1,7% dari pos tarif diliberalisasi sebagian melalui kuota tarif (tarif kuota sesuai dengan komitmen WTO Vietnam dan tarif dalam kuota akan dihapus pada 2031) atau tidak berhak mendapatkan perlakuan preferensial.
Sementara itu, ketentuan untuk barang yang diimpor oleh importir Inggris dari Vietnam:
a. Sebanyak 85,6% dari pos tarif telah dihapus pada 01 Januari 2021
b. Sebanyak 99,2% dari pos tarif akan dihapus pada 01 Januari 2027
Sebanyak 0,8% dari pos tarif diliberalisasi sebagian melalui kuota tarif (dengan tarif preferensial 0% untuk produk dalam kuota).
Perjanjian dagang bebas UKVFTA memberi keuntungan besar bagi sejumlah komoditas unggulan kedua negara. Produk yang paling diuntungkan umumnya adalah barang yang sebelumnya dikenakan tarif tinggi, memiliki permintaan besar, dan daya saing kuat di pasar global.
Dari sisi Vietnam, sektor tekstil dan garmen menjadi salah satu pemenang utama. Penurunan tarif membuat produk pakaian Vietnam semakin kompetitif di pasar Inggris yang dikenal sebagai salah satu pusat industri fashion dunia.
Selain itu, alas kaki juga mendapat dorongan besar. Vietnam merupakan salah satu produsen sepatu terbesar dunia, sehingga penghapusan tarif berpotensi meningkatkan margin dan ekspor.
Produk seafood seperti udang, ikan pangasius, dan tuna juga menikmati peluang besar karena Inggris merupakan pasar besar untuk makanan laut impor. Tak ketinggalan kopi, kacang mete, dan rempah-rempah yang mendapat permintaan tinggi dari konsumen Inggris, terutama di segmen specialty food.
Sementara dari sisi Inggris, produk minuman alkohol mendapat keuntungan besar dari UKFTA. Sebab, tarif impor sebelumnya cukup tinggi, sementara pasar premium di Vietnam terus tumbuh.
Selain minuman beralkohol, sektor farmasi Inggris juga diuntungkan mengingat Vietnam membutuhkan pasokan obat-obatan dan produk kesehatan berkualitas tinggi. Produk mesin dan peralatan industri turut mendapat momentum seiring percepatan industrialisasi Vietnam.
Secara keseluruhan, UKVFTA menunjukkan bahwa perjanjian dagang bebas bukan hanya soal ekspor-impor barang, tetapi juga membuka peluang besar bagi industri bernilai tambah tinggi di kedua negara.
Vietnam dan Inggris sudah membuktikan bisa mendapat keuntungan besar dari UKFTA. Indonesia yang memiliki komoditas ekspor mirip dengan Vietnam dan kebutuhan investasi besar bisa meniru langka Vietnam dengan mencari kesepakatan dagang dengan Inggris.
Kesepakatan kerja sama yang komprehensif tak hanya meningkatkan keuntungan ekonomi tapi posisi strategis Indonesia di kawasan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(mae/mae) Add
source on Google