MARKET DATA

Vietnam Sudah Untung Besar dari Kerja Sama Inggris, Yakin RI Gak Iri?

mae,  CNBC Indonesia
02 June 2026 20:40
Bendera Vietnam berkibar di atas balai kota di belakang patung Ho Chi Minh di Kota Ho Chi Minh, Vietnam, Jumat, 12 Januari 2024. (AP Photo/Jae C. Hong/File Foto)
Foto: Bendera Vietnam berkibar di atas balai kota di belakang patung Ho Chi Minh di Kota Ho Chi Minh, Vietnam, Jumat, 12 Januari 2024. (AP/Jae C. Hong/File Foto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perjanjian Perdagangan Bebas Inggris-Vietnam (UKVFTA) menunjukkan kesepakatan dan kerja sama yang komprehensif bisa mendatangkan banyak manfaat ekonomi secara signifikan dalam waktu relatif singkat. Indonesia bisa meniru Vietnam melalui langkah serupa.

Vietnam dan Singapura adalah dua negara di ASEAN yang sudah menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan Inggris. Perjanjian perdagangan bebas Vietnam-Inggris ditandatangani pada 29 Desember 2020 dan berlaku efektif 1 Januari 2021.

Perjanjian ini memberikan keunggulan kompetitif bagi barang-barang Vietnam dibandingkan eksportir regional lainnya seperti Malaysia, Thailand, dan Indonesia yang memiliki andalan produk ekspor hampir sama.

Setelah empat tahun diberlakukan, Perjanjian Perdagangan Bebas Inggris-Vietnam (UKVFTA) terbukti memberikan dampak nyata.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (GDC), perdagangan Vietnam dan Inggris mencapai lebih dari US$9,38 miliar pada 2025, melonjak 41% dibandingkan pada 2019 (US$ 6,61 miliar) di mana UKFTA belum ditandatangani.

Kementerian Industri dan Perdagangan (MoIT) mencatat bahwa pertumbuhan perdagangan Vietnam dengan Inggris pada 2024 melampaui rata-rata pertumbuhan perdagangan Vietnam dengan Uni Eropa (16,8%), Eropa secara keseluruhan (17,2%), dan pasar global (15,4%).

Pada 2025 ekspor Vietnam ke Inggris mencapai US$8,39 miliar atau naik 11,8%.

 Sejumlah komoditas mencatat kenaikan nilai ekspor yang signifikan. Di antaranya, mainan, peralatan olahraga, dan komponennya naik 60,5%, kopi meningkat 55,3%; kacang mete melonjak 42,5%, ekspor sayur dan buah melesat 50,7%; serta ekspor lada naik 61,5%.

 

Sementara itu, impor Vietnam dari Inggris mencapai US$ 991,36 juta pada 2025 atau naik 12% dibandingkan 2024 (US$ 883,51 juta). Produk paling banyak diimpor adalah farmasi dan plastik.

Saat ini Inggris merupakan mitra dagang terbesar ketiga Vietnam di Eropa, sedangkan Vietnam adalah mitra utama Inggris di Asia Tenggara.

Perjanjian UKVTA Menguntungkan Siapa?
Dari kaca mata Inggris, kesepakatan dagang dengan Vietnam membuka pintu baru ke ASEAN demikian sebaliknya. Yang menarik, lonjakan impor dari Vietnam lebih cepat dibandingkan kiriman barang dari Inggris ke Vietnam.

Merujuk data UK Department for Business and Trade, impor Inggris dari Vietnam melonjak 65% sementara ekspor melesat 40%.


Komoditas utama yang diekspor Inggris ke Vietnam adalah pembangkit tenaga mekanis (barang antara/intermediate goods) di mana menyumbang 26,0% dari total ekspor. Disusul kemudian dengan produk obat-obatan dan farmasi, bubur kertas dan kertas bekas, dan plastik dalam bentuk non-primer.

Dari sisi investasi, terdapat lonjakan penanaman modal Inggris di Vietnam. 

Total nilai investasi langsung yang dilakukan investor Inggris di Vietnam melonjak menjadi £1,327 miliar pada 2023 dari £936 juta pada 2020.

Perkembangan kerja sama Vietnam dan Inggris dengan cepat meningkatkan volume ekspor dan impor karena adanya sejumlah kemudahan dan insentif.

Dalam perjanjian UKFTA, Inggris lebih cepat menurunkan tarif, dengan banyak produk langsung 0%.

Kesepakatan tersebut langsung mengamankan penghapusan 65% dari seluruh tarif yang telah dihapus sejak Perjanjian Perdagangan Bebas UE–Vietnam (EVFTA) mulai berlaku. Angka ini akan meningkat menjadi 99% dari tarif setelah jadwal penghapusan selama 6–9 tahun.

Perjanjian diberlakukan dengan perlakuan khusus. Untuk barang yang diekspor oleh eksportir Inggris ke Vietnam, ketentuannya adalah sebagai berikut:

a. Sebanyak 48,5% dari pos tarif telah dihapus pada 01 Januari 2021

b. Sebanyak 91,8% dari pos tarif akan dihapus pada 01 Januari 2027

c. Sebanyak 98,3% dari pos tarif akan dihapus pada 01 Januari 202

Sebanyak 1,7% dari pos tarif diliberalisasi sebagian melalui kuota tarif (tarif kuota sesuai dengan komitmen WTO Vietnam dan tarif dalam kuota akan dihapus pada 2031) atau tidak berhak mendapatkan perlakuan preferensial.

Sementara itu, ketentuan untuk barang yang diimpor oleh importir Inggris dari Vietnam:

a. Sebanyak 85,6% dari pos tarif telah dihapus pada 01 Januari 2021

b. Sebanyak 99,2% dari pos tarif akan dihapus pada 01 Januari 2027

Sebanyak 0,8% dari pos tarif diliberalisasi sebagian melalui kuota tarif (dengan tarif preferensial 0% untuk produk dalam kuota).

 

Perjanjian dagang bebas UKVFTA memberi keuntungan besar bagi sejumlah komoditas unggulan kedua negara. Produk yang paling diuntungkan umumnya adalah barang yang sebelumnya dikenakan tarif tinggi, memiliki permintaan besar, dan daya saing kuat di pasar global.

Dari sisi Vietnam, sektor tekstil dan garmen menjadi salah satu pemenang utama. Penurunan tarif membuat produk pakaian Vietnam semakin kompetitif di pasar Inggris yang dikenal sebagai salah satu pusat industri fashion dunia.

Selain itu, alas kaki juga mendapat dorongan besar. Vietnam merupakan salah satu produsen sepatu terbesar dunia, sehingga penghapusan tarif berpotensi meningkatkan margin dan ekspor.

Produk seafood seperti udang, ikan pangasius, dan tuna juga menikmati peluang besar karena Inggris merupakan pasar besar untuk makanan laut impor. Tak ketinggalan kopi, kacang mete, dan rempah-rempah yang mendapat permintaan tinggi dari konsumen Inggris, terutama di segmen specialty food.

Sementara dari sisi Inggris, produk minuman alkohol mendapat keuntungan besar dari UKFTA. Sebab, tarif impor sebelumnya cukup tinggi, sementara pasar premium di Vietnam terus tumbuh.

Selain minuman beralkohol, sektor farmasi Inggris juga diuntungkan mengingat Vietnam membutuhkan pasokan obat-obatan dan produk kesehatan berkualitas tinggi. Produk mesin dan peralatan industri turut mendapat momentum seiring percepatan industrialisasi Vietnam.

Secara keseluruhan, UKVFTA menunjukkan bahwa perjanjian dagang bebas bukan hanya soal ekspor-impor barang, tetapi juga membuka peluang besar bagi industri bernilai tambah tinggi di kedua negara.

Vietnam dan Inggris sudah membuktikan bisa mendapat keuntungan besar dari UKFTA. Indonesia yang memiliki komoditas ekspor mirip dengan Vietnam dan kebutuhan investasi besar bisa meniru langka Vietnam dengan mencari kesepakatan dagang dengan Inggris. 
Kesepakatan kerja sama yang komprehensif tak hanya meningkatkan keuntungan ekonomi tapi posisi strategis Indonesia di kawasan.

 CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

 


(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Vietnam Resmi Masuk Klub Elite "Ibu Industri" Dunia, RI Kalah


Most Popular
Features