MARKET DATA

Harga Emas Ambles 2 Hari Beruntun, Inflasi AS Jadi Biang Kerok!

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
14 May 2026 08:15
Pekerja menata perhiasan emas di toko emas Kawasan Pasar Ciputat, Tangerang Selatan, Jumat (11/3/2022). Harga emas dunia bergerak melemah pada perdagangan hari ini.  (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)
Foto: Ilustrasi Perhiasan Emas (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia masih tertekan seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat perang Iran. Kondisi ini membuat harapan pemangkasan suku bunga Amerika Serikat (AS) semakin memudar dan menekan daya tarik logam mulia.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Rabu (13/5/2026) ditutup di US$ 4.687,44 per troy ons atau melemah 0,56%. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif emas menjadi dua hari beruntun, setelah pada Selasa (12/5/2026) emas juga melemah 0,43%.

Meski demikian, harga emas menguat tipis pada pagi ini. Pada Kamis (14/5/2026) pukul 06.15 WIB, harga emas berada di US$ 4.701,54 per troy ons atau naik 0,30%.

Tekanan terhadap emas datang setelah data inflasi produsen AS naik lebih tinggi dari perkiraan pada April. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar sejak awal 2022 dan menjadi sinyal terbaru bahwa inflasi kembali meningkat di tengah perang Iran.

Peter Grant, Vice President and Senior Metals Strategist di Zaner Metals, mengatakan inflasi yang masih tinggi memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama.

"Inflasi masih lengket sehingga ekspektasi suku bunga lebih tinggi untuk waktu lebih lama semakin menguat, dan itulah yang menekan emas dalam dua hari terakhir," ujar Grant dikutip dari Reuters.

Emas memang sering dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, suku bunga yang lebih tinggi biasanya menekan logam mulia karena emas tidak memberikan imbal hasil.

Data ekonomi AS terbaru menunjukkan inflasi konsumen AS kembali meningkat pada April. Secara tahunan, inflasi AS naik menjadi 3,8%, menjadi kenaikan terbesar dalam tiga tahun terakhir atau sejak Mei 2023.

Kondisi ini membuat pelaku pasar kini sebagian besar telah menghapus ekspektasi pemangkasan suku bunga AS tahun ini, merujuk CME Group's FedWatch.

Di luar faktor inflasi dan suku bunga, pasar juga mencermati kunjungan Trump ke China. Trump tiba di China dengan agenda untuk mendorong sejumlah kesepakatan, menjaga gencatan dagang yang masih rapuh dengan ekonomi terbesar kedua dunia, serta menopang tingkat persetujuan publiknya yang tertekan oleh perang dengan Iran.

Pertemuan Trump dan Xi Jinping menjadi perhatian penting karena dapat memengaruhi arah sentimen risiko global.

Jika pembicaraan menghasilkan perkembangan positif, permintaan terhadap aset safe haven seperti emas bisa tertahan. Sebaliknya, jika ketegangan dagang atau konflik geopolitik kembali meningkat, emas masih berpeluang mendapat dukungan.

Tekanan tambahan bagi emas juga datang dari India. Pemerintah India menaikkan tarif impor emas dan perak menjadi 15% dari sebelumnya 6%. Kebijakan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya menekan pembelian logam mulia dari luar negeri dan meredakan tekanan terhadap cadangan devisa India.

India merupakan konsumen logam mulia terbesar kedua di dunia. Karena itu, kenaikan tarif impor tersebut berpotensi menekan permintaan emas.

Add logo_svg as a preferred
source on Google

Berbeda dengan emas yang masih dibayangi tekanan inflasi dan suku bunga, harga perak dalam beberapa hari terakhir justru masih menunjukkan reli kuat.

harga perak pada perdagangan Rabu (13/5/2026) ditutup di US$ 87,98 per troy ons atau melesat 1,66%. Kenaikan ini melanjutkan penguatan pada Selasa (12/5/2026), ketika perak naik 0,53% ke US$ 86,54 per troy ons.

Dalam enam hari perdagangan terakhir, harga perak sudah melonjak sekitar 20,81%.

Namun, harga perak terkoreksi tipis pada pagi ini. Pada Kamis (14/5/2026) pukul 06.15 WIB, harga perak berada di US$ 87,64 per troy ons atau melemah 0,38%.

Kenaikan perak dalam beberapa waktu terakhir ditopang oleh ekspektasi defisit pasokan yang semakin melebar di tengah meningkatnya permintaan fisik. Analis SP Angel menyebut harga perak melonjak karena pasar memperkirakan defisit pasokan akan semakin besar.

Permintaan industri yang terus meningkat juga ikut menopang prospek perak. Logam putih ini masih menjadi komponen penting dalam produksi panel surya, elektronik, hingga suku cadang otomotif.

Selain itu, kenaikan harga minyak juga dapat mendorong permintaan kendaraan listrik. Kondisi ini berpotensi meningkatkan kebutuhan perak untuk panel surya dan teknologi energi terbarukan lainnya.

 

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]



Most Popular
Features