Harga Emas & Perak Naik Ugal-Ugalan, Warga India Diminta Tak Membeli

mae, CNBC Indonesia
Selasa, 12/05/2026 06:50 WIB
Foto: Reuters

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas berbalik menguat tipis sementara perak melonjak. Kenaikan harga ini terjadi di tengah sikap investor yang mencermati perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran serta menanti data inflasi penting Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Senin (11/5/2026) ditutup di US$ 4734,09 per troy ons, atau menguat 0,42%. Penguatan ini memperpanjang tren positif emas dengan menguat 1,04% dalam dua hari terakhir.

Harga emas masih menguat pada hari ini. Pada Selasa (12/5/2026) pukul 06.29 WIB, harga emas ada di posisi US$ 4751,7 atau naik 0,37%.

"Ada aksi bargain hunting dan penyesuaian posisi menjelang rilis data inflasi AS minggu ini," kata Jim Wyckoff, analis pasar di American Gold Exchange, dikutip dari Refinitiv.

Fokus pasar tertuju pada data Consumer Price Index (CPI) AS yang akan dirilis Selasa dan Producer Price Index (PPI) yang dijadwalkan terbit pada Rabu.

Dari sisi geopolitik, penolakan cepat Presiden Donald Trump terhadap respons Iran atas proposal perdamaian AS memicu kekhawatiran bahwa konflik yang telah berlangsung 10 minggu akan berlanjut. Kondisi ini juga terus mengganggu pelayaran melalui Strait of Hormuz dan mendorong harga minyak lebih tinggi.

"Kebuntuan ini membuat waktu tercapainya gencatan senjata semakin tidak pasti dan menjaga risiko inflasi tetap tinggi, sehingga memperkuat narasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama yang selama ini membebani emas," tulis analis ING.

ING memperkirakan harga emas masih berpotensi naik ke US$5.000 per troy ons pada akhir tahun, meskipun mandeknya perundingan damai meningkatkan ketidakpastian jangka pendek.

Sejumlah lembaga broker global juga mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga AS. Proyeksi kini terbelah antara kemungkinan pelonggaran terbatas dan skenario tidak ada pemangkasan suku bunga sama sekali pada 2026.

Meski dikenal sebagai aset safe haven, emas tetap rentan tertekan saat suku bunga tinggi karena biaya peluang untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil menjadi lebih besar.

Pasar juga mencermati kunjungan dua hari Presiden AS Donald Trump ke China pekan ini, di mana ia dijadwalkan bertemu Presiden Xi Jinping untuk membahas Iran, Taiwan, kecerdasan buatan, dan senjata nuklir.

Warga India Diminta Kurangi Pembelian Emas 

Di tempat lain, saham-saham peritel perhiasan di India jatuh setelah Perdana Menteri Narendra Modi mengimbau masyarakat menunda pembelian emas selama satu tahun demi menjaga cadangan devisa negara. India merupakan konsumen emas terbesar kedua di dunia.

India mengimpor hampir 85% kebutuhan minyak mentahnya. Setiap kali harga minyak melonjak tajam, India harus mengeluarkan jauh lebih banyak dolar AS untuk membeli energi dari luar negeri.

Pada saat yang sama, India juga merupakan salah satu importir emas terbesar di dunia. Artinya, negara tersebut secara bersamaan mengimpor dua komoditas yang sangat mahal-minyak dan emas-dan membayar keduanya dalam dolar AS.

Di sinilah peran Indian Rupee (rupee India) menjadi sangat penting.

Rupee India telah berada di bawah tekanan besar akibat kenaikan harga minyak mentah dan kekhawatiran bahwa tagihan impor India akan membengkak lebih jauh jika krisis di Asia Barat semakin memburuk. Mata uang tersebut baru-baru ini melemah mendekati level terendah sepanjang masa dan diperdagangkan di kisaran 94,9 per dolar AS pada Senin, di tengah kekhawatiran atas harga minyak dan ketidakpastian global.


(mae/mae) Add as a preferred
source on Google
Pages