MARKET DATA
Newsletter

Siaga 1! Gejolak Drama MSCI & Gencatan Senjata Iran AS di Ujung Tanduk

mae,  CNBC Indonesia
12 May 2026 06:20
U.S. President Donald Trump looks on at the White House in Washington, D.C., U.S., May 8, 2026. REUTERS/Elizabeth Frantz
Foto: REUTERS/Elizabeth Frantz

Pelaku pasar perlu memperhatikan sejumlah sentiment pasar hari ini baik dari dalam ataupun luar negeri.

Dari luar negeri, sentiment terbesar akan datang adri erkembangan perang sementara dari dalam negeri datang dari keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI).

1. Perkembangan Perang

Presiden AS Donald Trump mengatakan gencatan senjata dengan Iran kini "di ujung tanduk" setelah Teheran menolak proposal Washington untuk mengakhiri perang.

Iran menuntut penghentian konflik di semua front, termasuk di Lebanon, kompensasi atas kerusakan perang, pencabutan blokade laut AS, jaminan tidak ada serangan lanjutan, dan pemulihan ekspor minyaknya. Teheran juga menegaskan kendalinya atas Strait of Hormuz, jalur yang biasanya mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.

Trump menyebut respons Iran "sama sekali tidak dapat diterima" dan mengatakan gencatan senjata yang berlaku sejak 7 April kini sangat rapuh. Iran menegaskan tuntutannya sah, sementara Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan bahwa militer Iran siap merespons setiap agresi.

Kebuntuan ini mendorong harga minyak Brent Crude naik lebih dari 3% ke atas US$104 per barel. Arus kapal melalui Selat Hormuz menyusut drastis, memaksa produsen memangkas ekspor dan menekan pasokan global.

Di saat yang sama, AS menjatuhkan sanksi baru terhadap pihak-pihak yang membantu Iran mengekspor minyak ke China. Di dalam negeri, dua dari tiga warga Amerika menilai Trump belum menjelaskan secara jelas tujuan perang tersebut.

Trump dijadwalkan bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing pada Rabu, dengan isu Iran diperkirakan menjadi salah satu agenda utama.

2. MSCI

Agenda krusial hari ini adalah siklus rebalancing indeks MSCI. Berdasarkan pengumuman resmi MSCI tertanggal 20 April 2026, lembaga indeks global tersebut memberikan tanggapan atas reformasi transparansi pasar modal yang diinisiasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

MSCI tidak akan melakukan migrasi naik (upward migration) untuk sekuritas dari segmen Small Cap ke Standard. Kebijakan yang paling signifikan adalah keputusan MSCI untuk menghapus atau men-delete sekuritas yang diidentifikasi oleh otoritas Indonesia masuk dalam kerangka High Shareholding Concentration (HSC).

MSCI juga akan menggunakan data pengungkapan pemegang saham 1% untuk menyesuaikan estimasi free float jika diperlukan. Evaluasi lebih lanjut terhadap reformasi ini dijadwalkan akan dikomunikasikan kembali dalam Market Accessibility Review pada Juni 2026 mendatang.

Reformasi tersebut mencakup peningkatan keterbukaan pemegang saham di atas 1%, klasifikasi investor yang lebih rinci, penerapan kerangka High Shareholding Concentration (HSC), serta peta jalan peningkatan batas minimal free float menjadi 15%.

MSCI saat ini sedang mengevaluasi ruang lingkup serta efektivitas dari sumber data baru ini dalam penentuan estimasi saham beredar publik atau free float secara lebih luas.

Untuk tinjauan indeks Mei 2026, MSCI menetapkan perlakuan interim khusus bagi efek asal Indonesia untuk membatasi risiko investabilitas. MSCI akan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta tidak akan melakukan penambahan konstituen baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).

OJK mengantisipasi potensi gejolak di pasar modal menjelang pengumuman hasil tinjauan indeks global MSCI Inc.

Regulator menilai penyesuaian indeks tersebut dapat memicu tekanan jangka pendek, tetapi diyakini akan membawa manfaat besar bagi pasar saham Indonesia dalam jangka panjang.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan pihaknya masih menunggu hasil rebalancing MSCI yang akan diumumkan dalam waktu dekat. Menurutnya, MSCI sebelumnya telah melakukan freeze sehingga tidak ada saham baru yang masuk, namun sejumlah saham lama berpotensi dikeluarkan dari indeks.

"Besok kita tunggu. Namanya rebalancing index, tentu ada kemungkinan saham-saham disesuaikan," ujar perempuan yang akrab disapa Kiki itu saat ditemui di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (11/5/2026).

Kiki menegaskan, reformasi dan penguatan integritas pasar yang dilakukan regulator memang dapat memunculkan tekanan sementara. Namun, langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kepercayaan investor global terhadap pasar keuangan Indonesia.

"Kalaupun ada penyesuaian jangka pendek, kita melihat ini sebagai short term pain, tapi Insya Allah long term gain," katanya.

OJK juga berharap Indonesia tetap dipertahankan dalam kategori emerging market pada evaluasi MSCI berikutnya pada Juni mendatang, dan tidak diturunkan menjadi frontier market.

Menurut Kiki, pengaruh lembaga indeks dan pemeringkat global terhadap pasar keuangan Indonesia sangat besar. Hal itu terbukti ketika pengumuman MSCI pada awal 2026 memicu gejolak di pasar saham, yang kemudian diikuti oleh penyesuaian outlook dari Moody's Corporation dan Fitch Ratings.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir tak khawatir mengenai pengumuman besok, menurutnya Bursa Indonesia juga sudah melakukan penerapan yang diminta sebelumnya.

"Kita tunggu aja besok. Seharusnya kan semua sudah dimasukkan juga, saya udah lihat perkembangannya, bursa bagus kok dari sisi penerapan yang sedang dilakukan. Insyaallah besok baik lah," kata Pandu, di Kantor Kementerian Koordinator bidang Pangan, Senin (11/5/2026).

Menurutnya penurunan Indeks yang terjadi kemarin juga bukan berkaitan dengan sentimen kepatutan pihak bursa dan regulator dalam negeri terhadap apa yang diminta MSCI.

"Hari ini kan lihat kan ada perubahan juga, saya rasa bukan menyangkut soal MSCI kok. Hari ini lebih banyak soal (sentimen) rupiah dan segala macem," katanya.

3. Konsumen RI Masih Optimis Tapi Ekspektasi Jatuh

Bank Indonesia merilis data Survei Konsumen edisi maret 2026 Senin kemarin. Keyakinan konsumen Indonesia pada April 2026 masih berada di zona optimistis. Namun, ada sinyal yang perlu dicermati karena ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan kembali melemah.

Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) yang dirilis Senin (11/5/2026), Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 tercatat sebesar 123,0. Angka ini naik tipis dibandingkan Maret 2026 yang berada di level 122,9.

Keyakinan konsumen pada April terutama ditopang oleh membaiknya persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini. Hal ini tercermin dari Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang naik menjadi 116,5, lebih tinggi dibandingkan Maret 2026 sebesar 115,4.

Dengan posisi tersebut, konsumen Indonesia secara umum masih optimistis karena IKK masih berada di atas level 100. Dalam survei BI, indeks di atas 100 menunjukkan konsumen berada dalam zona optimis.

Namun, kenaikan tipis IKK belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan yang merata. Sebab, komponen ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan justru kembali turun.

Di balik IKK yang masih terjaga, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) pada April 2026 turun ke level 129,6. Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 130,4.

Indeks Ekspektasi Penghasilan (IEP) turun dari 137,7 pada Maret 2026 menjadi 136,9 pada April 2026. Artinya, harapan konsumen terhadap peningkatan penghasilan dalam enam bulan ke depan sedikit melandai.

4. Saling Silang Pendapat Royalti Tambang Purbaya vs Bahlil 

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan aturan penyesuaian tarif royalti perusahaan tambang, seperti batu bara dan nikel, akan mulai berlaku pada awal Juni 2026.
Purbaya mengatakan aturan ini sudah didiskusikan dengan Presiden Prabowo dan akan dirilis peraturan presiden (PP)-nya segera.
"Mungkin mulai berlaku awal Juni. Kalau saya nggak salah, betul nggak Juni? Juni," kata Purbaya kepada pewarta, Senin (11/5/2026).

Purbaya belum bisa merinci komoditas yang akan dikenakan penyesuaian tarif. Namun, dia mengungkapkan kemungkinan besar semua barang tambang akan dikenakan penyesuaian tarif.

"Nanti lihat ya kalau bea keluar. Tapi kalau menurut itu sih, across the board kata Pak bahlil waktu saya ketemu dia kemarin. Across the board itu semua barang tambang," ujarnya.

Adapun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang merancang revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2025 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis PNBP Yang Berlaku pada Kementerian ESDM.

Dalam materi yang dibahas, aturan tersebut nantinya akan menetapkan penyesuaian tarif royalti untuk berbagai komoditas minerba seperti tembaga, emas, perak, bijih nikel, serta timah.

Aturan soal royalti ini nantinya keluar sejalan dengan aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) serta aturan Bea Keluar Batu Bara dan Nikel, yakni Juni 2026.

"Kalau ini kayaknya Juni deh. Tergantung ini, tergantung berapa cepat PP-nya diproses. Tapi diskusi sudah selesai," katanya.

Berbeda dengan Purbaya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan usulan kenaikan tarif royalti untuk komoditas mineral, termasuk emas, tembaga, nikel, hingga timah masih sebatas tahap uji publik. Sehingga belum menjadi keputusan final pemerintah dan harus ditunda.

Bahlil mengakui bahwa beberapa hari terakhir pihaknya memang melakukan exercise dan sosialisasi terkait rencana perubahan tarif royalti. Hak ini dilakukan untuk menjaring masukan dari para pelaku usaha sebelum aturan resmi diterbitkan.

"Jadi gini, saya ingin mengatakan bahwa beberapa hari lalu teman-teman tim melakukan exercise. Amanat undang-undang itu adalah setiap peraturan yang akan kita buat diawali dengan exercise dan sosialisasi untuk mendapatkan feedback dari pelaku," katanya ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Senin (11/5/2026).
Bahlil lantas membeberkan pemerintah telah menerima berbagai tanggapan dari pengusaha maupun publik terkait rencana tersebut. Oleh sebab itu, Bahlil akan mengevaluasi kembali formulasi kebijakan agar tidak memberatkan pelaku usaha.

"Dan saya setelah mendengar masukan dari publik dan teman-teman pengusaha juga saya dapat masukan, maka ini saya pikir saya akan pending untuk membangun formulasi yang baik, yang saling menguntungkan. Negara untung dan pengusaha harus untung," tegas Bahlil.

Ia pun memastikan pemerintah akan menunda pembahasan lebih lanjut untuk mencari formulasi yang dianggap lebih tepat bagi seluruh pihak. Hal ini sekaligus menjawab apakah aturan ini akan diberlakukan pada Juni mendatang.


5. Penjualan Mobil Meledak

Penjualan mobil nasional mulai menunjukkan tanda pemulihan setelah sempat lesu pada periode Lebaran. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat distribusi mobil dari pabrik ke dealer atau wholesales mencapai 80.776 unit pada April 2026. Angka itu melonjak 55% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya 52.108 unit.

Lonjakan tersebut sekaligus membalikkan kondisi pada Maret lalu ketika pasar otomotif terpukul akibat panjangnya masa libur Idulfitri. Pada bulan Maret lalu, penjualan mobil tercatat turun 13,8% dibanding bulan sebelumnya karena aktivitas pembelian masyarakat dan distribusi kendaraan melambat.

Secara bulanan, penjualan wholesales April tumbuh 31,8% dibandingkan Maret 2026 yang berada di level 61.271 unit.


Sementara penjualan ritel atau distribusi dari dealer ke konsumen juga ikut membaik menjadi 75.730 unit, naik 13,7% dibanding bulan sebelumnya sebanyak 66.595 unit.

Pemerintah memutuskan untuk memberikan insentif Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) atau pajak 0%. Insentif tersebut terbagi menjadi tiga tahap yang akan dievaluasi per tiga bulan. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Bukan hanya dibanding bulan sebelumnya, penjualan ritel juga mencatat pertumbuhan tahunan yang cukup kuat. Retail sales April 2026 naik 30,2% dibandingkan April tahun lalu.

Hal ini membuat penjualan mobil nasional sepanjang Januari-April 2026 ikut terkerek. Dalam empat bulan pertama tahun ini, total wholesales mencapai 289.787 unit atau tumbuh 12,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 257.647 unit.

Dari sisi retail sales, penjualan kumulatif mencapai 287.581 unit atau naik 6,9% dibandingkan capaian Januari-April 2025 yang sebesar 268.940 unit.

Gaikindo sendiri menargetkan penjualan mobil nasional sepanjang 2026 mencapai 850.000 unit. Target tersebut naik sekitar 5,8% dibanding realisasi penjualan sepanjang 2025 yang tercatat sebanyak 803.687 unit.

6. Inflasi China Melonjak

Harga di tingkat pabrik (factory-gate) China terus pulih pada April, sementara inflasi konsumen naik secara moderat, menurut data resmi pada Senin.

Indeks harga produsen (PPI), yang mengukur harga di tingkat pabrik, melanjutkan tren ekspansinya untuk bulan kedua dengan kenaikan 2,8% secara tahunan pada April 2026, naik 2,3 poin persentase dari Maret 2026. Pada Maret, indeks ini kembali tumbuh setelah 41 bulan berturut-turut mengalami penurunan.

Data Biro Statistik Nasional (NBS) menunjukkan harga di sektor pertambangan dan pengolahan logam non-besi naik 38,9% secara tahunan pada April, sementara sektor peleburan dan pengolahan logam non-besi naik 22,5%. Kedua sektor ini menyumbang sekitar 1,58 poin persentase terhadap pertumbuhan PPI.

Menurut NBS, kenaikan PPI terutama didorong oleh naiknya harga komoditas global serta meningkatnya permintaan di sejumlah industri domestik, termasuk sektor yang terkait dengan kebutuhan komputasi yang berkembang pesat.

Selain itu, persaingan di pasar domestik menjadi lebih tertata, dengan harga di beberapa industri naik atau mengalami penurunan yang lebih kecil, seiring upaya pemerintah mengurangi persaingan berlebihan.

Secara bulanan, PPI naik 1,7% pada April, meningkat 0,7 poin persentase dari bulan sebelumnya.

Sementara itu, indeks harga konsumen (CPI) China naik 1,2% secara tahunan pada April, lebih tinggi dibanding 1,0% pada Maret.

Harga barang konsumsi industri naik 3,5% secara tahunan, menjadi penyumbang utama kenaikan CPI dengan kontribusi sekitar 1,06 poin persentase. Sebaliknya, harga pangan turun 1,6%, dengan harga daging babi anjlok 15,2% dan menjadi salah satu penekan utama inflasi.

Secara bulanan, CPI naik 0,3% pada April, berbalik dari penurunan 0,7% pada Maret, terutama didorong kenaikan harga energi dan jasa perjalanan.

Secara kumulatif, inflasi konsumen China pada empat bulan pertama 2026 naik 0,9% dibanding tahun sebelumnya.

7.Penjualan Eceran Indonesia

Pada hari ini, Selasa (12/5/2026), BI akan merilis data penjualan eceran Indonesia untuk periode Maret 2026.

Pada Februari 2026, penjualan eceran mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 6,5%, yang merupakan laju tercepat sejak Maret 2024 akibat kuatnya belanja rumah tangga selama Ramadan.

Pertumbuhan ini dipimpin oleh sektor suku cadang dan aksesori otomotif yang melonjak 13,1%, sektor makanan, minuman, dan tembakau sebesar 8,8%, serta pakaian sebesar 4,9%. Barang budaya dan rekreasi juga berekspansi 10,1%.

8. Inflasi Amerika

Pada Selasa pekan ini, fokus utama global akan tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat untuk April 2026. Pada Maret, tingkat inflasi tahunan melonjak menjadi 3,3%, menandai level tertinggi sejak Mei 2024.

Kenaikan ini utamanya didorong oleh lonjakan biaya energi sebesar 12.5%, dengan harga bensin meroket 18,9% dan bahan bakar minyak melambung 44,2% sebagai dampak dari perang dengan Iran.

Bersamaan dengan inflasi umum, data inflasi inti Amerika Serikat yang mengecualikan komponen makanan dan energi juga akan dirilis untuk periode April 2026. Pada Maret 2026, inflasi inti tercatat naik secara moderat ke level 2,6%.


Inflasi masih tergolong tinggi untuk layanan yang tidak termasuk layanan energi di angka 3%, mencakup biaya tempat tinggal sebesar 3%, layanan transportasi 4,1%, dan layanan perawatan medis 3,7%.

Pada Rabu pekan ini, AS akan merilis data indeks harga produsen (PPI) April 2026. Pada Maret 2026, PPI tercatat inflasi 4% (YoY) dan 0,5% (secara bulanan).

..

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features